Mafia Tanah Rampas Tanah Ulayat Masyarakat Adat Sepang Nggieng di Mabar

oleh -179 views
Ilustrasi

JAKARTA, suluhdesa.com – Akhir-akhir ini telah muncul secara terbuka aksi mafia tanah yang berkolaborasi dengan oknum pejabat Kantor BPN Kabupaten Manggarai Barat, mereka secara melawan hukum telah menguasai dan menjadikan sebagian Hak AtasTanah Ulayat Masyarakat Adat Sepang Nggieng, sebagai miliknya, sehingga meresahkan Masyarakat Adat Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Praktik mafia tanah dimaksud secara tidak langsung akan merusak tradisi budaya lokal dan visi-misi negara untuk menjadikan Pulau Komodo sebagai destinasi wisata super premium, karena salah satu primadona Pariwisata Super Premium Pulau Komodo, selain Taman Nasional Pulau Komodo dan alamnya yang indah juga daya tarik aneka Tradisi Budaya Masyarakat Adat, yang dilindungi dengan UUD 1945 dan UU No.10 Tahun 2009, Tentang Kepariwisataan.

Hal ini disampaikan Petrus Selestinus (Ketua Presidium Kongres Rakyat Flores) dan Romo Beny Susetyo, Pr (Setara Institut) kepada Media SULUH DESA, Rabu (18/11/2020) siang.

Oleh karena itu, Menurut Petrus Selestinus dan Romo Beny Susetyo, Pr, kearifan lokal, tradisi budaya, adat istiadat masyarakat setempat dengan hak-hak tradisionalnya wajib dilindungi, sejalan dengan amanat pasal 18B ayat (2) UUD 1945, bahwa “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang” (telah banyak UU yang memberikan perlindungan).

“Dalam rangka mempertahankan eksistensi dan pemilikan Hak Atas Tanah Ulayat Sepang Nggieng, sesuai amanat UUD 1945 dan UU lainnya, maka para Pemangku Hak Ulayat telah melaporkan dugaan pidana penyerobotan, penggelapan, pemalsuan surat-surat tanah ke Bareskrim dengan Laporan LP/B/0100/II/2020/Bareskrim, tanggal 20 Februari 2020 dan telah ditingkatkan ke tahap Penyidikan berdasarkan Sprindik No. SP.Sidik/606.2a/ VI/2020/ Ditpidum, tanggal 4 Juni 2020, dengan menetapkan sejumlah orang termasuk oknum pejabat BPN Manggarai Barat sebagai tersangka,” ungkap Petrus Selestinus yang juga Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) ini.

Baca Juga:  Konser Virtual Oleh BPIP Lawan Corona Kumpulkan Dana 4 M

Hak Ulayat Sebagai Representasi Hak Menguasai Negara

Sedangkan Beny Susetyo, Staf Badan Pembinaan Ideologi Pancasila menambahkan bahwa, kedudukan hak ulayat mendapat legitimasi yang kuat dalam ketentuan pasal 2 ayat (4) UU No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, yaitu hak menguasai dari Negara, pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat.

“Artinya, negara mengakui hak ulayat dengan memberikan kedudukan yang setara dengan daerah swatantra atau (sekarang) daerah kabupaten, untuk melaksanakan fungsi hak menguasai dari negara dengan cara dikuasakan pelaksanaanya kepada masyarakat-masyarakat hukum adat dan daerah swatantra (ada kesetaraan wewenang),” jelas Romo Beny.

Keduanya pun menandaskan jika aktivitas jaringan mafia tanah yang terorganisir bekerja sama dengan oknum pejabat Kantor BPN Kabupaten Manggarai Barat, semakin hari semakin meresahkan masyarakat Manggarai Barat, terlebih-lebih dengan terbitnya tidak kurang dari 563 buku Sertifikat Hak Milik (SHM) setara dengan 700 Ha tanah di atas sebagian tanah Hak Ulayat Masyarakat Adat Sepang Nggieng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, sehingga berpotensi memicu konflik horizontal.

Kata Romo Beny dan Petrus Selestinus bahwa situasi tersebut sangat meresahkan karena terjadi peralihan hak dan penerbitan Sertifikat Hak Milik ke atas nama pihak ketiga, tanpa ada proses jual beli dengan Pemangku Hak Ulayat Sepang Nggieng dan tanpa disaksikan oleh pemangku hak ulayat serta diterbitkan tanpa didukung data fisik dan data yuridis yang sah sesuai ketentuan UU dan PP No. 24 Tahun 1997, Tentang Pendaftaran Tanah.

“Dari jumlah 563 SHM atas sebagian Tanah Ulayat Sepang Nggieng yang diterbitkan oleh Kantor BPN Kabupaten Manggarai Barat, di atas Tanah Ulayat Masyarakat Adat Sepang Nggieng, Kecamatan Boleng, modusnya berupa memanipulasi data fisik dan data yuridis, misalnya data fisik obyek tanah yang hendak disertifikatkan terletak di Desa Tanjung Boleng, tetapi data yuridisnya diterbitkan oleh otoritas desa lain yaitu Desa Batu Tiga yang terletak di Pulau Boleng (di luar Pulau Flores),” ucap Romo Beny dan Petrus Selestinus.

Baca Juga:  Rm. Benny Susetyo; Gotong Royong, Roh untuk Bangsa Hadapi Corona

Pemilikan Tanah Secara Berlebihan

Di sini terdapat mata rantai kerja sama antara mafia tanah yang di dalamnya terlibat oknum pejabat BPN Kabupaten Manggarai Barat dalam satu sindikat mafia tanah dengan pihak ketiga, sehingga BPN Manggarai Barat tanpa ragu menerbitkan 563 SHM, dan dari 563 SHM itu terdapat 1 (satu) nama dengan pemilikan sebanyak 53 SHM dengan luas bervariasi tetapi ditotal keseluruhan seluas 100 Ha.

Romo Beny dan Petrus Selestinus menambahkan kalau seluruh SHM yang diterbitkan itu diyakini tanpa didukung data fisik dan data yuridis yang valid, terlebih-lebih tanpa diketahui oleh Kepala Adat (Tua Golo) dan Pemangku Hak Ulayat karena kepemilikan hak ulayat bersifat komunal yang tunduk pada hukum adat setempat dan sulit untuk dilakukan jual beli secara biasa.

“Praktik mafia tanah di atas, dilakukan secara berani, menginjak-injak harkat dan martabat Hak Ulayat Sepang Nggieng dan  secara tanpa hak telah mengalihkan sebagian hak atas tanah Hak Ulayat Sepang Nggieng kepada pihak ketiga yang tidak berhak dan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, dengan pemilikan secara berlebihan, merampas Hak Milik Komunitas Adat Sepang Nggieng,” lanjut keduanya.

Keduanya menegaskan, praktek mengalihkan hak atas tanah ulayat dengan cara mengingkari segala Hak, Kewenangan dan Kekuasaan Penguasa Hak Ulayat yang dijamin dalam konstitusi (pasal 18B ayat (2) UUD 1945) dan UU Pokok Agraria, sebetulnya cara-cara konvensional para mafia tanah, yang hanya bisa terjadi di daerah terpencil karena berbagai pertimbangan (akses informasi, pendidikan rendah masyarakat, penegakan hukum yang lemah, dan lain-lain).

Baca Juga:  Kak Seto Ajak Orang Tua Jadi Guru Bagi Anak Saat WFH Perangi Covid-19   

Oleh karena itu, ucap Romo Beny dan Petrus Selestinus, Pemangku Hak Ulayat Sepang Nggieng melalui perwakilannya telah melaporkan dugaan penggelapan, penyerobotan tanah, pemalsuan dokumen tanah sebanyak 563 SHM kepada Bareskrim Mabes Polri dan setelah dilakukan serangkaian Penyidikan, telah ditetapkan sejumlah orang termasuk oknum Pejabat BPN Manggarai Barat sebagai tersangka guna dimintai pertanggungjawaban pidana dengan segala akibat hukumnya.

Tuntutan Pemangku Hak Ulayat Sepang Nggieng

Oleh karena itu, para Tua Golo dan seluruh Pemangku Hak Ulayat Sepang Nggieng dan Presidium Kongres Rakyat Flores (KRF), menyatakan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bareskrim Mabes Polri, Cq. Dirtipidum Brigjen Ferdy Sambo, S.H., S.I.K., M.H atas prestasinya membongkar jaringan mafia Tanah Ulayat Labuan Bajo dengan motif politik, ekonomi dan budaya untuk menghancuran ekonomi dan budaya lokal dengan tujuan tertentu, termasuk untuk menjebol bank sebagai jaminan hutang, menuntut agar proses hukum terus dilanjutkan.

Untuk itu, Para Tua Golo dan Pemangku Hak Ulayat Sepang Nggieng dan Kami selaku Presidium Kongres Rakyat Flores (KRF), meminta kepada BARESKRIM POLRI agar ;

1). Atas 563 SHM yang telah diterbitkan itu, segera disita dan dimusnahkan;

2). Meminta kepada Kepala BPN Manggarai Barat untuk membatalkan secara administratif 563 SHM itu, karena telah mencaplok tidak kurang dari 700 Ha luas tanah dari keseluruhan Hak Ulayat;

3). Segera dikembalikan status tanah kembali ke Hak Ulayat Masyarakat Adat Sepang Nggieng.

4). Memblokir 563 SHM di Kantor BPN Mabar, Camat dan Lurah setempat. (fwl/fwl)