oleh

SMA Negeri Insana Tengah, Awal Dinding ‘Bebak’ Kini Berprestasi di TTU

-Berita, Daerah-606 views

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Di zaman ini pada profesi apapun dan posisi apapun orang harus kreatif menyiasati keadaan.Tidak terkecuali di dunia pendidikan. Meskipun ada alokasi anggaran, namun waktu untuk menyelesaikan proses masih memerlukan waktu panjang.

Hal ini disampaikan Dominikus Leu, S.Pd, Kepala sekolah SMA Negeri Insana Tengah, Desa Maubesi, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (14/11/2020).

Kepada Media SULUH DESA, ia mengisahkan bagaimana dirinya harus memutar otak untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi kegiatan belajar mengajar (KBM). Syukur, Puji Tuhan, berkat kerja sama masyarakat bersama orang tua murid sehingga anak-anak di desa Maubesi dapat mengenyam pendidikan dengan baik.

Ditemui Media SULUH DESA di sela-sela kegiatan sosialisasi Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan oleh Ketua Penyelenggara Akreditasi Kabupaten TTU, Drs. Pius Thall, M.Pd. Dominikus mengisahkan, semula SMA Negeri Insana Tengah berdiri sejak tahun 2011. Pembangunan gedung sekolah ini dimulai dari nol dan masih menggunakan gedung sekolah SMPK Maubesi. Baru pada tahun 2013 orang tua siswa yang ada di Desa Oeleu menyerahkan tanah seluas 4 hektar dan uang 167 juta rupiah untuk membangun gedung sekolah tersebut.

Perlahan-lahan Pengelola SMA Negeri Insana Tengah membangun gedung sendiri meski dalam keadaan darurat memakai dinding bebak. Akibatnya, mereka harus menahan kencangnya tiupan angin serta tempiasnya air hujan. Ruangan ini tidak memiliki listrik akhirnya diatur masuk bergantian. Tantangan yang dihadapi Dominikus cukup berat lantaran sekolah ini siswanya banyak dan Dominikus sebagai staf pengajar.

Sebelumnya sekolah ini dipimpin oleh Pjs. Paulus dan Tahun 2013 Dominikus ditunjuk sebagai Kepala SMA Negeri Insana Tengah.

Di bawah kepemimpinannya, SMA Negeri Insana Tengah terus berbenah. Sebagai seorang putera asli daerah itu ia tahu persis langkah-langkah apa yang harus dilakukannya bersama staf pengajar dan pegawainya. Mereka memiliki satu visi dalam memajukan SMA Negeri Insana Tengah di Kabupaten Timor Tengah Utara.

“Yang kami terapkan di sekolah ini adalah kebersamaan dan keterbukaan sehingga seluruh guru dan pegawai merasa seperti keluarga besar. Kita harus mengomunikasikannya dengan baik,” katanya.

Untuk meneruskan program kelembagaan, sejak menjabat Kepala SMA Negeri Insana Tengah berbagai prestasi sekolah tersebut semakin meningkat dengan bukti di antaranya meraih berbagai prestasi seperti di bidang kesenian meraih Juara I Lomba Tata Rias terbaik seluruh NTT di Kabupaten Alor, tahun 2017. Juara terbaik I untuk tingkat Kabupaten TTU tahun 2018, dan juara umum I terbaik untuk tarian tahun 2019.

Bagi Dominikus, semua prestasi tersebut berkat kerja keras, perjuangan seluruh staf pengajar, untuk melakukan melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu.

Untuk saat ini, SMA Negeri Insna Tengah memiliki 530 siswa dengan 18 rombongan belajar. Proses pembelajaran, kelas X, XI, XII terjadi hari Senin, Rabu dan Jumat untuk kelas IPA, sedangkan untuk hari Selasa, Kamis, dan Sabtu untuk kelas IPS dengan jumlah guru 33 orang ditambah pegawai 8 orang di SMA Negeri Insana Tengah.

“Target kami tahun depan jumlah siswa harus lebih banyak lagi. Kalau bisa mendekati 1000 siswa, karena kami menargetkan SMA Negeri Insana Tengah  menjadi sekolah yang besar, baik dari sisi jumlah, kuantitas maupun kualitas. Mudah-mudahan kita menjadi sekolah yang terbaik yang ada di Kabupaten TTU,” ungkapnya.

Untuk mencapainya, Domi sudah menetapkan berbagai program dengan sarana prasarana seperti Laboratotium Bahasa, Laboratorium IPA Biologi, dan yang akan dilengkapi laboratorium IPA Fisika dan Kimia.

“Kami harus memiliki komitmen untuk menjadi yang terbaik dan dengan memiliki SDM yang baik, target kami akan tercapai,” tandasnya.

Untuk staf pengajar, menurut Dominikus memberikan kepercayaan penuh kepada mereka. Dengan kepercayaan yang diberikan, mereka akan berkerja sungguh-sungguh. Berkat kepercayaan, mereka akan selalu bergembira dan bekerja dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Kondisi ini akan berbeda  kalau staf selalu diawasi, dikontrol, dan lainnya.

“Kami memberikan kepercayaan untuk improvisasi. Tentunya dengan tetap saling berkoordinasi sehingga nyambung. Ini mungkin yang membuat akselerasi setiap SDM untuk mengeksploitasi kemampuannya secara maksimal,” imbuhnya.

Diungkapkan Domi, SMA Negeri Insana Tengah mendapat bantuan USB (Unit Satuan Baru) dengan dana 1,6 miliar  rupiah sesuai syarat yang telah dipenuhi dan disetujui.

“Sehingga kami dapat bantuan. Ada 4 gedung baru dan 1 ruangan dari pihak ketiga atau komite sekolah. Saat ini masih ada 7 bangunan yang masih darurat dan 5 bangunan sementara dikerjakan, tinggal finishing saja,” ucapnya.

Ke depan, Dominikus berharap agar pemerintah tidak menghentikan bantuannya demi kemajuan sekolah. Meskipun demikian, sebagai Pengelola Sekolah, ia bertanggung jawab atas bantuan yang diterima dan berusaha menjadi yang terbaik sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Intinya kami ingin pemerintah betul percaya bahwa tidak salah membantu SMA Negeri Insana Tengah. Saya ingin menunjukkan jika kami berhasil dan layak dipercaya,” tambahnya.

Dengan bantuan pemerintah, lanjut Domi, kelengkapan SMA Negeri Insana Tengah terus bekembang. Meskipun sekarang sudah melebihi sekolah lain, akan tetapi Dominikus terus merancang pengembangan sekolah pada tahun yang akan datang.

Sementara itu jarak anak-anak dari rumah ke sekolah kira-kira 10 kilometer dari desa sekitarnya

“Saya berinisiasi membuka asrama sekolah dengan biaya per bulan 200 ribu rupiah sudah lengkap, ada listrik dan air. Tetapi karena kendala Covid-19 jadi belum digunakan. Saat ini proses belajar mengajar tetap menggunakan protap kesehatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Akreditasi, Drs. Pius Thall, M.Pd mengatakan, SMA Negeri Insana Tengah adalah salah satu sekolah piloting. Di Kabupaten TTU ada 11 sekolah piloting.

“Untuk menguji instrumennya hasil dari sekolah itu betul diakreditasi, maka kami sebagai penanggung jawab akreditasi di Kabupaten TTU di tingkat SD, SMP, SMA, SMK mempunyai tugas untuk menyampaikan ke sekolah piloting agar mereka mempersiapkan diri dengan baik. Akreditasi sendiri akan dilaksanakan dalam dua bentuk assessment, yaitu  komponen relativ dan komponen mutlak.

Untuk komponen mutlak, yaitu sekolah harus memiliki izin operasional. Supaya nilainya baik, kepala sekolah harus bersertifikat calon kepala sekolah, sudah harus meluluskan siswa 3 tahun terakhir, dan ada jadwal pelajaran untuk menunjukkan kurikulum yang dipakai, SK pembagian tugas untuk mengecek guru yang mengajar harus sesuai dengan latar belakang pendidikan.

Sedangkan untuk yang relativ itu ada 9 yaitu bukti ijasah guru, presentase guru yang mengajar sesuai mata pelajaran pendidikan, berapa banyak guru yang sudah disertifikasi, keterpenuhan sarana prasarana.

“Lalu ada satu tambahan program yakni sosialisasi bullying, supaya para siswa tidak saling menghina atau mengolok satu sama lain. Selebihnya siswa dilibatkan untuk mengisi angket hanya untuk mengecek apakah sekolah itu sudah melaksanakan pembinaan. Tak terlepas juga dari masyarakat untuk menilai sekolah. Cara memperoleh data itu ada 4 yaitu observasi, wawancara, studi dokumen. Ini adalah cara untuk menggali kinerja di sekolah. Tugas saya sebagai KPA datang langsung ke sekolah untuk melihat situasi sekolah. Baik itu guru, murid, dan pegawai,” tutup Pius. (Vrg/Vrg)

Komentar

News Feed