Pemda Rote Ndao Gelar Orientasi Program Gizi Remaja Cegah Stunting

oleh -144 views
Gizi remaja aksi bergizi bersama Wakil Bupati Rote Ndao Drs. Stefanus M. Saek, M.Si.

ROTE NDAO, suluhdesa.com – Pemerintah Kabupaten Rote Ndao bekerja sama dengan UNICEF dan Pokja Stunting Provinsi NTT melakukan kegiatan Orientasi prorgam Gizi Remaja “Aksi Bergizi.” Kegiatan ini telah dilakukan di Kabupaten Kupang dan kini dilakukan di Kabupaten Rote Ndao bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Bappelitbang, dan Dinas PKO.

Kegiatan ini dilaksanakan di Auditorium Ti’i Langga Permai, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu (13-14/11/2020).

Peserta kegiatan ini antara lain Guru UKS, Petugas Gizi Puskesmas dan perwakilan dari Dinas PKO, Bappelitbang dan Dinas Kesehatan.

Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk orientasi bagi calon fasilitator di kabupaten. Setelah itu peserta kegiatan akan menjadi fasilitator untuk kegiatan pelatihan yang akan dilakukan secara luas pada tingkat kabupaten dengan melibatkan guru-guru di Kabupaten Rote Ndao yang selanjutnya mereka akan menyampaikan sesi literasi Aksi Bergizi kepada remaja putra dan putri di tingkat SMP/SMA/SMK sederajat seminggu sekali selama 30 menit.

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Bupati Rote Ndao, Drs. Stefanus M. Saek, M.Si. Dalam pembukaan kegiatan, Wakil Bupati Rote Ndao turut menyambut baik kegiatan ini.

Baca Juga:  Kunjungi BNPB, Wapres Ma'ruf Amin Minta Semua Warga Taati Imbauan Pemerintah

“Kita mempersiapkan secara baik dan secara dini bagi remaja supaya ketika mereka berumah tangga, maka mereka bisa sehat dan melahirkan bayi yang sehat sehingga terhindar dari masalah stunting,” ucapnya.

Wakil Bupati Rote Ndao juga menyatakan bahwa kesehatan ibu dan anak sangat penting untuk diperhatikan guna menangani stunting.

“Walaupun ibunya sehat, tapi kalau anaknya sakit, maka pertumbuhan dan perkembangan fisiknya terganggu. Sebaliknya, walaupun anaknya sehat, tapi kalau ibunya tidak sehat maka bisa meninggal. Nah ini perlu dipersiapkan secara baik, baik ibu maupun anaknya supaya mereka sehat. Dan ini perlu dipersiapkan sejak remaja,” ungkapnya.

Menurut Wakil Bupati Rote Ndao intervensi pada remaja bukan hanya pada remaja putri, tetapi juga pada remaja putra.

“Anak remaja ini tidak terbatas pada perempuannya, tetapi juga pada laki-laki. Karena dalam hal kontribusi pada produktivitas kedua-duanya punya peran. Karena itu dua-duanya harus sehat dan ini perlu disiapkan secara dini,” imbuhnya.

Koordinator Program Gizi UNICEF, Blandina Bait, saat mempresentasikan kegiatan ini di depan Wakil Bupati Rote Ndao menyatakan bahwa bahwa, Aksi Bergizi lahir dari hasil survei baseline kuantitatif, kualitatif, dan landscape yang dilakukan UNICEF pada tahun 2017 di dua kabupaten terpilih, yaitu Klaten (Jawa Tengah) dan Lombok Barat (NTB).

Baca Juga:  Kementerian Kominfo Raih Opini WTP Empat Kali Berturut-turut

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aktivitas fisik di sekolah jarang lebih dari 90 menit dalam seminggu dan sedikit waktu yang dihabiskan oleh remaja karena banyak remaja yang tidak aktif secara fisik/sedentary.

Keragaman diet remaja juga ditemukan sangat minim. Meskipun remaja makan paling tidak sekali dalam sehari, hanya seperempatnya yang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, folat dan zat gizi mikro lainnya seperti makanan hewani dan sayuran.

Selain itu ditemui bahwa intervensi gizi sebagian besar menyasar 1000 hari pertama kehidupan, namun menurut Blandina, “sesungguhnya 1000 hari pertama kehidupan sudah terlambat bagi 500.000 remaja putri yang hamil di Indonesia setiap tahunnya dan tidak cukup untuk digunakan mengatasi masalah kekurangan dan kelebihan gizi secara memadai.”

“Sudah saatnya untuk memposisikan gizi remaja sebagai strategi utama dan mengarusutamakannya dalam rencana, strategi dan kebijakan sektor kesehatan dan non kesehatan,” lanjutnya.

Menurut Blandina ada 3 (tiga) komponen utama Aksi Bergizi, yaitu sarapan bersama dan minum Tablet Tambah Darah (TTD) setiap minggu, sesi literasi terkait gizi spesifik dan gizi sensitif menggunakan pendekatan kecakapan hidup, dan Komunikasi Perubahan Perilaku Sosial (SBCC).

Baca Juga:  Merebaknya Corona, Pelaksanaan Pesparani Provinsi NTT akan Diinformasikan Lagi

Program ini dirancang sebagai program yang responsif gender dan disampaikan melalui mobilisasi sekolah dan masyarakat, memperkuat koordinasi multi-sektor, kampanye media cetak dan media sosial dan mengembangkan sistem pemantauan dan evaluasi.

Di masa pandemi ini terdapat gangguan dalam pembagian TTD bagi remaja putri karena pembatasan aktivitas belajar mengajar di sekolah. Mengingat populasi remaja yang besar dan mobilitasnya yang tinggi maka dipandang penting untuk remaja putri tetap mengkonsumsi TTD di masa pandemi COVID-19.

“UNICEF Bersama Pokja Stunting Provinsi NTT mendukung beberapa kabupaten di Provinsi NTT dalam mengoptimalkan pembagian TTD bagi remaja putri di masa pandemi serta memperkuat komunikasi perubahan perilaku melalui pendekatan Aksi Bergizi,” tambah Blandina.

Dalam rangka scaling up kegiatan Aksi Bergizi pada tahun 2021, maka Bappelitbang mendukung perencanaan kegiatan Dinas Kesehatan dan Dinas PKO yang menyasar pada perbaikan gizi remaja di Kabupaten Rote Ndao sebagai salah satu upaya pencegahan stunting sejak masa remaja. (fwl/msd)