oleh

Calon Bupati yang Janji Kasih Kunci Rumah atau dengan Perabot Itu Omong Kosong

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Kristiana Muki Calon Bupati Timor Tengah Utara (TTU) bersama Yosef Calon Wakil Bupati TTU dari Paket KITA SEHATI nomor urut 1 melakukan kampanye di Kelurahan Benpasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada hari Sabtu (07/11/2020) pukul 17.00 Wita. Dalam kesempatan kampanye itu hadir Ketua DPW Partai Nasdem NTT, Ray Fernandez yang juga Bupati Timor Tengah Utara.

Pada saat memberikan sambutannya, Ray Fernandez mengatakan bahwa, orang yang senang tidak salah dalam memilih pemimpin, sedangkan orang yang takut, cemas, khawatir pasti keliru dalam memilih.

“Saya ingin menyapa bapak mama semua untuk mari kita menentukan pilihan yang tepat untuk 5 tahun ke depan berikutnya. Memilih yang tepat dan benar pasti bapak mama tidak kecewa. Ada informasi yang miring di media sosial itu yang menyerang Paket KITA SEHATI tidak usah percaya, karena kami melihat hanya dengan hati sehingga paket yang kita usung adalah Paket KITA SEHATI. Sebab dengan hati kita dapat merasakan apa yang dialami oleh rakyat. Kalau kita mengandalkan kemampuan, pengetahuan intelektual lebih banyak, kita lupa. Sehingga saya mengharapkan bapak mama semua yang ada di Benpasi bisa membandingkan antara sebelum 10 tahun terakhir ini dan dibandingkan dengan saat ini, bisa memandang banyak pekerjaan yang harus kita lakukan dan tidak mungkin semudah membalik telapak tangan bahwa bim salabim semuanya akan selesai,” ungkapnya.

Menurutnya, Daerah TTU penuh kesulitan. “Maka dengan segala kesulitan bapak mama semua hanya bisa dilakukan pendekatan dengan hati untuk menggunakan yang sedikit ini menjadi kepentingan banyak orang. Kalau kita lakukan tidak dengan hati pasti yang banyak juga akan jadi sedikit tetapi kalau kita lakukan dengan hati yang sedikit akan lebih banyak,” tambahnya.

Mantan Wakil Bupati TTU ini menyebut dirinya sudah hampir 25 tahun berpolitik dan sehingga strategi yang pernah diajarkan tentu ia sendiri tahu kunci matinya.

“Saya sudah lama di politik dan bukan baru. Sudah cukup lama di panggung politik, hampir 25 tahun. Langkah dan strategi politik yang dilakukan oleh teman-teman itu saya yang ajar. Dulu saya yang ajar dan sekarang mereka mempraktikkan itu. Kita punya strategi sendiri lagi karena kalau yang saya ajarkan saya tahu kunci matinya. Yah, oleh karena itu saya tidak usah buka kunci matinya seperti apa, dan mereka semua yang sekarang ini, dulu bersama-sama dengan saya makan, minum, tidur di sofa yang kemudian sofa menjadi hitam semua. Mulai dari rumah yang sekarang sudah dirubuhkan yang ada waktu itu hanya dua titik lampu dan mengurus mereka ada yang jadi PNS, ada yang jadi pengusaha dan politisi. Semua berawal dari sofa yang hitam itu. Tapi sayang mereka sudah tidak ingat lagi. Kemudian makan kangkung dua tiga batang setiap pagi sambil berebutan itu mereka sudah tidak ingat lagi. Biarlah itu menjadi saksi sejarah bagi kita dalam menjalani hidup ini di TTU. Saya menampung semua,” lanjutnya.

Ray mengisahkan tentang seorang yang sahabatnya yang saat ini merupakan pensiunan dan pernah bersama melakukan aksi demo.

“Titik pertemuan yah di rumah itu. Berawal semua dari sana. Oleh karena itu hanya dengan hati kita merasakan itu. Kalau kita lihat orang dan kita caci maki, kemudian juga menghujat orang seolah-olah kita tidak pernah bercermin apakah saya sudah mandi atau belum. Kita gampang menilai orang lain bahwa dia belum mandi. Maka itu akan terlahir pemimpin yang tidak akan memperhatikan dan cenderung melempar kesalahan kepada orang lain. Kalau kita cenderung melihat kesalahan orang lain, kita berkeyakinan bahwa pertentangan itu selalu terjadi,” jelasnya.

Bupati TTU dua periode ini mengisahkan, “saya teringat tahun 2014 menjelang pemilihan tahun 2015 itu saya di Lurasik. Orang Benpasi mengatakan kalau orang lain yang datang di Benpasi kami tolak. Saya terpaksa pulang bertemu bapak mama semua di Benpasi dan melakukan kampanye setelah itu makan bersama. Oleh karena itu yang saya alami bersama tidak mungkin saya lupa, memang saya tidak mengunjungi satu persatu dari rumah ke rumah tetapi yang pernah ikut terlibat dalam hidup saya pasti saya tidak akan lupa. Maafkan segala kekurangan yang saya lakukan selama 10 tahun, mungkin hanya ini yang bisa saya lakukan, saya mohon izin kepada bapak mama semua untuk mereka melanjutkan yaitu Ibu Kristiana Muki dan Pak Yosef Tanu.”

Ia menandaskan, untuk semua pekerjaan yang dilakukan masih panjang. Salah satunya di Benpasi ini masih menunggu bronjong karena masih banyak rumah yang tergerus banjir dan lain sebagainya.

“Kita butuh untuk keberlanjutan ini. Jalan sebagian besar sudah ada. Beberapa kepala keluarga yang jalan di belakang setengah mati tapi itu saya memahami betul. Saat ini kita mengalami musibah karena Corona. Saya juga berharap tahun 2021 yang akan dilanjutkan oleh Ibu Kristiana dan Pak Yosef. Pekerjaan itu dilanjutkan untuk mengurangi segala persoalan yang ada di kabupaten ini. Kalau menyelesaikan semua tidak mungkin bahwa waktu 5 tahun untuk lakukan itu semua tetapi kalau mengurangi beban bapak mama saya yakin bisa,” katanya.

Ray Fernandez yang hobi berkebun ini menjelaskan di hadapan ratusan warga Benpasi yang hadir bahwa, perempuan biasanya lebih teliti dibandingkan dengan laki-laki.

“Sebagai contoh, beras dua kilo dia akan pikir bagaimana untiuk bisa dinikmati semua anggota keluarga dan bagaimana cara mendapatkan lagi. Itu hal sederhana bagi kami laki-laki. Kami menilai itu hanya sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Itu adalah kemampuan-kemampuan seorang perempuan untuk mengatur semuanya itu. Kalau sentuhan itu bukan dengan rasionya tetapi menghitung dengan hati. Saya yakin kabupaten TTU akan baik,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Ray Fernandez mengatakan, dirinya bersyukur karena TTU sudah keluar dari daerah tertinggal.

“Daerah Timor ini hanya ada Kabupaten TTU dan Kota Kupang. Kita bersyukur itu bukan hanya kerja semata-mata satu orang tetapi seluruh masyarakat TTU yang bekerja sama dengan pemerintah sehingga kita keluar dari daerah tertinggal. Ini tugas berat yang harus dipertahankan 5 tahun berikutnya. Jangan sampai turun lagi jadi daerah tertinggal. Kita perlu bangga karena kita sudah sama-sama berjuang keluar dari daerah tertinggal. Padat Karya Pangan kita sudah buat, Sari  Tani kita sudah lewat. Sekarang kita masuk dengan rumah layak huni yang akan dilanjutkan oleh Ibu Kristiana dan Pak Yosef untuk 5 tahun berikut,” jelasnya.

Menurut kalkulasinya, Ray Fernandez meyakini Paket KITA SEHATI bakal menang dalam perhelatan Pilkada TTU yang tengah memanas ini.

“Mengapa saya yakin mereka yang akan jadi bupati dan wakil bupati? Saya kalkulasikan begini, politik itu sederhana. Politik itu harus punya basis. Kalau politik tidak punya basis kita melayang saja. Kita bereuforia, bergembira. Bagaimana orang yang sama kita pikul dari kampung ke kampung untuk mengikuti kampanye. Jurkam lebih banyak daripada masyarakat yang datang mendengar. Semua rekaman video ada di saya. Saya melihat wajah yang sama dan yang tidak sama itu jumlahnya lebih sedikit. Satu titik itu terkumpul dari satu kecamatan, mobil pick up muat mereka datang dan klaim mereka dari desa ini. Oh, tidak,” tandasnya sambil tertawa.

“Semua kampung di TTU sudah saya datangi, saya bisa  membedakan motif kain ini kain dari desa mana, saya bisa bedakan itu semua. Oleh karena itu biarlah mereka bernyayi di media sosial tapi melalui yang datang mendengar kampanye itu yang saya mengerti bahwa ini dari Insana. Apakah Insana Barat, Insana Tengah. Kita bisa membedakan dari cara ikat kain, motif kain itu walaupun sama Insana tapi berbeda antara satu dan yang lain, kita bisa membedakan. Apalagi di Miomafo saya bisa membedakan dari Mutis sampai Manamas dari Haekto sampai Fonain saya bisa bedakan dengan motif dan cara menggunakan kain. Oleh karena itu, saya bukan hanya sekadar meyakinkan bapak dan mama sekalian tetapi berdasar kalkulasi- kalkulasi politik, hitungan-hitungan, survei yang sudah kita lakukan. Tapi survei ini tidak mungkin saya publikasikan keluar karena ini rahasia. Titik mana yang lemah kita akan masuk ke sana. Bedanya terlalu jauh. Kita berkeyakinan satukan tekad kita untuk memenangkan tanggal 9,” ajaknya.

Berkaitan dengan aturan pencoblosan, Ray Fernandez mengatakan, “teknisnya kita cek sudah ada KTP atau belum. Kalau yang belum punya KTP elektronik hubungi teman-teman di dinas untuk dibantu supaya segera cetak KTP karena kalau tidak punya KTP tidak  terdaftar di DPT, maka kita tidak punya hak untuk mencoblos. Surat keterangan sudah tidak berlaku lagi tapi harus memiliki KTP elektronik sebagai warga TTU. Kita memang punya hak tapi di balik hak kita harus memberi untuk TTU 5 tahun ke depan. Kalau kita tidak mencoblos jangan minta jalan, jangan minta listrik, suruh bangun sekolah, bangun fasilitas lain yang didanai oleh pemerintah karena kita tidak punya hak meminta kepada orang yang sudah tidak pilih dia. Tetapi kalau kita memilih dan mencoblos maka kita punya hak untuk menuntut kepada yang kita pilih untuk memperhatikan yang namanya fasilitas umum. Kalau kemudian kita tidak mencoblos  kita teriak-teriak. Banyak orang yang teriak tapi tidak mencoblos mereka ada di Jakarta, di Oekusi, di Ngada. Kemarin di Ngada saya ingin ketemu dan ngobrol bagaimana mereka punya cara berpikir tentang TTU yang baik itu seperti apa. Tapi saya coba kontak yang di Ngada nomornya tidak aktif. Oleh karena itu, melihat dari luar belum tentu sempurna dengan melihat dari dalam. Melihat dari luar kita hanya mendengar informasi sepihak oleh orang-orang yang berseberangan yang berbeda pendapat maka yang diberi informasi adalah informasi yang tidak benar, tapi kalau kita melihat dari dalam kita akan obyektif untuk membandingkan.”

Ray Fernandez menjelaskan kondisi Kabupaten TTU tinggal 2 desa dan 22 dusun yang belum memiliki listrik.

“Memang ada perubahan. Siapa yang bilang TTU tidak ada perubahan. Kita harus jujur mengakui seluruh NTT, TTU rasio listriknya  yang paling tinggi. Tinggal dua desa dengan 22 dusun saja. Seluruh NTT, Kabupaten TTU yang paling tinggi yakni hanya 2 desa yang belum memiliki listrik yitu desa Sainiup dan Desa Susulaku A. 22 dusun saya bisa sebut satu persatu dari Tualelo kemudian datang di Biboki. Oelmuken, ada satu dusun yang desa pemekaran yaitu Fatunisuan kemudian Maubesi. Itu Seumbam juga belum. Ada 22 dusun yang belum ada listrik dan mereka tidak tahu kalau saya tidur dari kampung ke kampung.  Tidur bersama masyarakat di desa dan mengerti tentang kondisi yang ada di sana,” tegasnya.

Selanjutnya, Ray Fernandez juga menyebut orang yang tidak pernah tidur dari desa ke desa itu tentu tidak tahu kondisi riil yang terjadi di tengah masyarakat.

“Yang tidak pernah tidur di desa-desa itu omong nilai jasmani dia paling pintar, paling hebat, dan paling tahu, tapi kondisinya mereka yang menolak kontrak daerah dan kemudian mereka yang lapor saya di Kejaksaan bahwa saya korupsi uang gaji guru honor daerah. Kejaksaan baru melaporkan bahwa laporan penyidikan tidak bisa dilanjutkan karena tidak punya cukup bukti sehingga pemerintah  memproses dan mudah-mudahan hari Senin ini sudah dibayar. Kemarin itu mereka yang menolak dan bahkan sampai konferensi pers. Saya masih simpan surat usulan masuk DPRD yang menolak kontrak daerah. Guru yang kurang ini siapa yang mau bayar padahal guru harus ada untuk mengajar anak-anak di sekolah. Kalau mereka mengajar lalu tidak diimbangi oleh pemerintah daerah maka bapak mama yang harus bayar uang komite. Saya tahu pendapatan kita belum memadai sehingga saya buat supaya kita tidak bayar uang komite, maka pemerintah ambil kesempatan itu sekaligus pemerintah membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak kita. Honor yang hanya dibayar satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur dengan tawaran-tawaran program yang mulk-muluk. Masyarakat diingatkan untuk kritis melihat kondisi APBD Kabupaten TTU sebagai pembanding dalam melihat pogram-program yang ditawarkan.

“Untuk rumah layak huni mereka juga omong kemana-kemana yaitu kasih kunci, itu omong kosong. Ada yang lengkap dengan perabot itu omong kosong. Aturan pemerintah tidak membolehkan, yang boleh ada perabot hanya Presiden, Gubernur dan Bupati, juga Pimpinan DPRD apabila ada rumah dinas tetapi untuk rakyat tidak. Rumah tidak layak huni di kabupaten TTU 48.000 rumah saya baru selesaikan 23.000 saja dan sampai selesai masa saya akan saya selesaikan.Coba dihitung 48.000 dikurangi 23.000 berarti masih ada 25.000. ini kalau kasi kunci satu rumah 75 juta rupiah. Coba dihitung 75 ribu rupiah kali 25 ribu rumah berarti 1,9 triliun rupiah. APBD kita baru 64 Miliar dan 668 M itu DAU  kita kemudian 60 % untuk gaji aparatur, 40 persen untuk belanja lain-lain. Tawaran yang tidak mungkin akan dilaksanakan tetapi kalau dari 25 juta rupiah naik jadi 40 juta rupiah seperti yang saya lakukan saya yakin pasti bisa. Sedangkan ada swadaya 75 juta rupiah ditambah pajak berarti 80 juta rupiah kali 25 ribu rupiah. Kadang mereka bicara tidak pakai data asal bunyi saja supaya bapak mama senang. Maka hari ini saya sampaikan untuk tidak boleh tergiur dengan itu. APBD ini akan dipakai pertama untuk program prioritas yaitu pendidikan dan kesehatan. Itu wajib setelah pendidikan minimal 20 persen dan kesehatan 25 persen. Kalau 668 M DAU dan 64 M PAD ditambah bagi hasil dengan 60 persen untuk gaji guru maka sisa berapa? Apakah ini bisa terlaksana? Saya berkeyakinan tidak, maka kalau ada dialogis saya ingin bertanya. Saya mau tanya ke teman-teman bahwa hitungannya seperti apa? Kalau kita pakai proyek maka harus ada perencanaan, ada biaya pengawas ada pajak, ada keuntungan untuk kontraktor maka yang didorong adalah rumah yang akan diterima oleh bapak mama adalah rumah yang campurannya 5 berbanding dibuat 10 berbanding 1. Kayu yang harus kayu jati dia pilih atau pakai kayu pudik supaya kontraktor bisa untung. Tapi kalau metode sekarang yang kita lakukan apa yang terjadi kalau kurang bapak mama sendiri yang tambahkan. Tapi kalau kita kasih kontraktor yang kerja siapa bilang kontraktor tidak mau untung. Pasti untung banyak tetapi kualitas menurun,” tandasnya.

Ray Fernandez juga mengajak masyarakat untuk mengkritisi setiap informasi yang diperoleh dan juga menjelaskan APBD Kabupaten kepada peserta kampanye terbatas.

“Saya mengajak kita harus kritis jangan telan bulat-bulat setiap informasi yang disampaikan kepada kita, kita harus kritis menilai. Apalagi Benpasi dekat dengan Kantor Bupati TTU jadi mereka akan tahu seperti apa, nomor HP saya semua tahu atau ada yang berpikir saya sebagai ketua DPW Partai Nasdem saya berpihak pada ibu Kristiana dan Pak Yosef maka boleh tanya Kabag Keuangan untuk tahu pasti jumlah APBD kita berapa. Tahun ini APBD kita 1,2 T itu terdiri dari DAK, dana bagi hasil, Silpa. Silpa itu adalah uang yang tidak dipakai pada tahun sebelumnya. 1,2 T dikurangi 60 persen gaji pegawai. Jumlah pegawai di TTU hampir 7000 orang. Setiap bulan kita bayar gaji pegawai hampir 40 M. Jadi kalau yang tidak memahami tapi omong lebih banyak tentang program ini saya memaklumi. Pensiun-pensiun yang mendengar mereka jadi lucu sendiri,” pungkasnya.

Mengingat kondisi masyarakat yang masih pas-pasan, Ray Fernandez menjelaskan apabila PAD ditingkatkan maka imbasnya adalah masyarakat. Bahwasannya masyarakat akan dibebankan biaya pajak sesuai aturan yang telah disiapkan. Tetapi hal itu dipending agar masyarakat tidak merasa dibebani dengan pajak.

”Kecuali terpikir bagaimana meningkatkan PAD tapi jujur akan memberatkan bapak ,mama, saya harus menaikkan pajak. Aturan sudah ada hanya saya belum sosialisasikan. Ukuran rumah berpengaruh terhadap nilai pajak rumah yang akan dibayar. Saya melihat dan menilai kalau ini saya naikkan pasti bapak mama terbeban. Ini makan belum cukup, pakaian belum layak ini kita kasih naik pajak pasti beban. Sehingga salah satu strategi untuk meningkatkan PAD 3 M sampai 7 M di saat 2010 adalah menginvestasi uang pemerintah di bank. Penyertaan modal itu yang kemudian menaikkan PAD. Uang tidak hilang tapi kita dapat keuntungan untuk daerah ini. Dan ini harus dilanjutkan dan tahun depan penyertaan modal 50 M di bank NTT. Sehingga paling tidak setiap tahun dari Bank NTT  kita dapat 40 M untuk biaya daerah. Kalau mau naikkan pajak terserah, bapak mama kalau mau kita naikkan pajak agar tahun ini saya naikkan tetapi semua kembali kepada bapak mama. Saya simulasikan luas tanah, luas bangunan bapak mama itu yang menjadi hitungan untuk bayar pajak. Makanya kalau rumah 2 lantai pasti pajaknya tinggi. Kita kena semua untuk itu kita pending dulu supaya makan cukup, pakai baik baru pajak kita naikkan,” jelasnya.

Suami Kristiana Muki ini juga mengingatkan masyarakat agar tidak menerima uang menjelang injury time mengingat banyak orang akan menempuh cara-cara haram untuk mewujudkan keinginannya.

“Kalau bapak mama setuju dengan pikiran ini mari kita pilih Paket KITA SEHATI nomor 1. Di mana-mana orang cari nomor 1 bukan 2 atau 3. Oleh karena itu pilihlah Kristiana dan Yosef untuk 2021 sampai 2025. Kalau ada yang menawarkan uang prinsipnya kalau kasih ya makan. Kalau dikasih 100 ribu rupiah ambil uangnya tapi jangan pilih orangnya, jangan tanda tangan, jangan foto tetapi lebih baik menolak godaan daripada pertaruhkan harga diri. Menjelang injury time orang akan menggunakan itu maka kita punya kewajiban menjaga kampung, bila ada kecurangan lapor Panwas supaya ditindak sesuai aturan yang berlaku. Jangan sampai uang mengalahkan hati nurani. Uang itu kita yang cari jangan sampai uang buat kita jadi hamba. Kita memilih yang punya hati bukan uang atau sopi. Semua bupati punya hasil kerja tangan tetapi banyak macam orang lain yang bilang bupati tidak kerja. Saya minta tim Paket KITA SEHATI untuk tidak terpancing, kita tidak boleh sama dengan mereka, kita damai-damai saja bukan maki-maki orang. Berpolitiklah yang santun,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah masyarakat. (Vrg/Seko)

Komentar

News Feed