Perempuan November, Puisi Geztha Fallo

oleh -374 views
Geztha Fallo (Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Undana Kupang, Jurnalis Media SULUH DESA)

SASTRA, suluhdesa.com – Puisi-puisi ini adalah tulisan Geztha Fallo. Baginya puisi adalah roh yang paling dicintai selain senja dan kopi dalam balutan awan jingga dan asap rokok mengepul. Mari tuangkan puisi-puisi indahmu bersama Media SULUH DESA. Publik butuh asupan berita yang faktual dengan diselingi cerita-cerita indah puisimu. Salve!

****************

Perempuan November (01)

 

1//: Jikalau senyum mewakili cinta yang mendesak sesak di dada, maka puisi adalah tukang pos yang setia kayuh sepeda tuanya sekedar merayumu paham degup jantung ini.Antara peluh dan pilu merangkak ke pelataran istanamu. Bertandang dan bertanding merebut pusaka yang rapih kau tanam di relung rapuh tawamu.

 

2//: November menopangmu dalam utas-utas kisah setentang Bunda. Ada air mata dan tawa mengiring kala diam menjadi keraguan dan keluguan. Tak lupa pula lesung pipit menerawang jauh hingga ke katup tangan Bunda. Yah, berdoa satu kali semalam.

 

3//: Hujan mengingatkan kita kepada jalan panjang menuju hatimu. Basah dan berlumpur apabila sekedar basa basi tanpa kasih. Entahlah, aku yang basah atau penantianmu yang kering.Gigil dan gerah disuguhkan bathin. Bahkan untuk bertanya apa kabar harus dimulai dari bait-bait alasan. Sehingga luka dan kaku tak dirayakan serupa syukur yang bakal gugur dari bibirmu.

 

4//: Perempuan November.Mencintaimu tak selucu menadahkan ember bocor di bawah talang air hujan matamu. Agar basah angan menjadi selembut sepoi angin. Dan jatuh hati kita sekedar menepuk sebelah tangan.Kau tahu dandanan paling asin dari syukur adalah mendoakanmu tiga kali rindu. Lebih daripada itu hanyalah penantian akan kemungkinan yang sukar dipastikan. Nanti juga tawa dan canda meliput gamang puisi yang lupa keriput.

Baca Juga:  Kepada Roh Leluhur

 

5//: Perempuan November. Tiba di bait ini, aku menunggumu tertatih melatih hati untuk jatuh. Yah, jatuh cinta kepada gelisah doa-doaku yang sibuk menanak rindu kedatanganmu. Jika ingin, tibalah sejenak di sisiku dan seruput betapa rinduku dingin.

 

Kefamenanu, November 2020

 

Perempuan November (02)

 

Lembaran kalender sebentar lagi disibak

Mengganti rupa november dalam ringkas memori silam

Kau dan rindu menjelma pusara bagi kenang di kening

 

Tentang cara melepasmu melanglang, aku ikhlaskan

Kepada semoga yang rumpang dan tunggu yang bakal rampung

Toh, anak-anak hujan lebih fasih meratapmu hingga terapung

 

Usai sudah usia lesung pipitmu menakar ingatanku

Mengurangi kehadiran untuk penjumlahan luka-luka

Bahwa membagi waktu seandai perkalian rindu

 

Perihal menunggu kabar adalah sabar menyaksikan camar

Yang rendah mengibas senja nan manja dari pelupuk kopi

Agar sepi bukan alasan dari sekedar tapi

 

Perihal kau, perempuan november

Lembar tenang pada kalender hampir tersibak

Meregang puisi dalam diskusi hujan dan kursi

Sejak sajak jejakmu diajak beranjak

 

Perempuan november; aku mencintaimu di bait terakhir puisi ini

Sebelum kenangan mempersuntingmu dari baris-baris doaku

Kefamenanu, November 2020

 

Baca Juga:  Sajak-Sajak Milik Yohan Lejap

Perempuan November (03)

 

Kita mencintai hujan sebagai renang mata di remang

Menjelang basah di lembar pertama diarymu

Halaman berikut cinta tak sempat sampai

Mengetuk batuk dan mengutuk kantuk yang tak sabar

 

Kita pecinta hujan bukan?

Aku mendungnya dan kau jatuhnya

Sungai dan laut tak mengenal kita bagai sepasang air mata

 

Lembar terakhir pada baris kesekian

Aku menemukan hujan berdoa

Menghadirkan pelangi untuk beberapa amin sebelum musim bertolak

 

Kefamenanu, November 2020

 

Mencintaimu dan Luka

:nn

Kalaupun mencintaimu serupa kembang dua lesung pipit

Aku ingin tahu arti senyum yang menempel di selimutku

Sehingga tidur adalah pertengkaran mimpi dan ilusi

 

Dengan doa sejenak ketika pagi menjenguk

Luas arti hadirmu adalah perkalian panjang namamu dan lebar tawamu

Sehingga menjumlahkan kau dan sepiku adalah jatuh cinta

 

Aku tahu hasil dari mencintai sama dengan luka

Setidaknya memenangkan dan menenangkan sudah cukup menyenangkan

Akhir kisahnya serupa luka dan patah tak mengapa

 

Singkatnya yang paling menggetirkan pada cinta

adalah terhempas sebagai kenangan

Agar melupakan menjadi sosok mengerikan ketika hujan sebelum tidur

 

Jika saja mencintaimu serupa puisi

Maka menulis dan membacanya tak mungkin sesulit mengenang

Apa lagi menghapusnya harus dengan air mata, rokok, dan kopi bergelas-gelas

Lalu alurnya seputar api dan sepi

 

Kefamenanu, November 2020

Mata

 

Akan ada dua mata merindukanmu

Baca Juga:  Merantau ke Desa

Selain matahari

Dan akan ada dua rindu memimpikanmu

Selain mata hati

 

Kefamenanu, November 2020

 

 

 

 

Gadis Hujan

:nn

 

1//: Hujan dan kenangan adalah basah kelopak matamu. Merupa air yang berlari kecil menjejak tandus pipi. Singgah sebentar melengkungi pelangi di lesung yang lesu menahan senyum. Dan menamatkan riwayat sebagai air dalam genggam tisu pada surut cerita masa lalu. Andai kau tak hadir sebagai gerimis, mungkin aku tak sebasah ini. Manakala Tuhan menitipmu dalam rahim hujan yang menjadikan kata seperti kita.

 

2//: Hujan dan kata-kata tentang kita. Pegawai mengutuknya semacam penghambat tiba di kantor. Petani mendoakannya umpama berkat Tuhan. Dan aku memilikinya utuh sebagai kau, kenangan, dan banjir air mata. Sebenarnya kau terlampau mewah untuk diringkas sekedar doa. Sebab tak mungkin doa merupa kutuk atau suntuk berkat. Doa itu kewajiban yang tidak tinggal pada tanggal-tanggal ulang tahun. Sebentar saja bersyukur dan selebihnya anggur kepayang.

 

3//: Untung saja kau dan doa kupejam serupa obat lambung. Yang meski sedikit, namun sedikit-sedikit doakan kau. Sehingga amin adalah nyenyak tidurmu kala hujan, doa, dan kenangan yang meremukkan histeris tangis. Gadis hujan, Nathalia.Jika mendung belum tentu hujan. Dan doa belum tentu amin. Ingat saja rinduku tentu kau.

Kefamenanu, November 2020

 

*Penulis: Geztha Fallo (Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Undana Kupang, Jurnalis Media SULUH DESA)