Masyarakat Desa Usapinonot Terima Bantuan Sapi dari Kementerian Pertanian

oleh -327 views
Salah satu masyarakat Desa Usapinonot, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, mendapat bantuan ternak sapi dari Kementerian Pertanian RI pada Sabtu (24/10/2020).

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Masyarakat Desa Usapinonot, di Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, mendapat bantuan ternak sapi dari Kementerian Pertanian RI pada Sabtu (24/10/2020). Bantuan sapi betina itu diberikan kepada 3 kelompok ternak yang ada di Desa Usapinonot.

Kepala Desa Usapinonot, Serilius Yan Maumabe, kepada Media SULUH DESA hari Senin (26/10/2020) malam di Kota Kefamenanu mengatakan bahwa, program bantuan sapi betina itu berawal dari kelompok ternak yang terhimpun di semua kecamatan di Kabupaten TTU yang semula diinformasikan oleh Pemda TTU bahwa ada bantuan sapi betina dari Kementerian Pertanian.

“Sehingga  waktu itu kelompok ternak di Desa Usapinonot di Wilayah Kecamatan Insana Barat, memasukan proposal untuk permohonan bantuan. Awalnya kami diberitahu Pemerintah Kabupaten TTU bahwa ada program dari Kementerian Pertanian melalui beberapa dirjen terkait urusan peternakan untuk kami masukan proposal bantuan pengembangan ternak sapi betina. Saya sebagai Kepala Desa Usapinonot dan Ketua Kelompok Tani Sehati dan dua kelompok lainnya di desa kami  memasukan proposal itu. Pada Bulan Juli kementerian memverifikasi dan kami diinfokan bahwa 3 kelompok di desa kami sebagai penerima bantuan sapi betina di Kecamatan Insana Barat,” ucapnya.

Selain itu, tambahnya, Kementerian Pertanian juga memberikan bantuan sapi betina kepada dua kelompok tani di Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat.

“Hasil survei yang kami masukan adalah salah satunya harus punya pakan ternak, itu menjadi kategori awal diverifikasi ke kementerian untuk ditindaklanjuti sehingga ada proses-proses lain yang ada usaha di bidang peternakan dan pakan yang tersedia ini menjadi tolok ukur untuk kelompok tani penerima bantuan,” imbuhnya.

Ditambahkannya, waktu verifikasi dari kementerian dengan salah satu balai dari Sumatera Barat terjalin kerja sama.

“Balai sebagai penyedia bibit sapi betina dan sekaligus sebagai penyuplai pakan yang bekerja selama ini kira-kira sapi yang dibudidayakan di Sumatera apakah bisa dikembangkan di Timor, dia punya pakan dan lainnya bisa sinergi tidak dengan pakan yang ada di Kabupaten TTU khususnya di Insana Barat. Dari hasil survei sampai akhir Oktober sudah di-save Kelompok Tani Sehati dan salah satu kelompok tani di Bikomi Nilulat itu sebagai kelompok penerima bantuan sapi dan sapi itu diturunkan sabtu 24 oktober 2020. Sapi itu diturunkan di Kelompok Tani Sehati Desa Usapinonot sebanyak 20 ekor sapi betina yang siap diproduksi. Jadi bukan sapi yang ukuran satu atau baru lepas susu tetapi sapi yang disiapkan untuk kawin bahkan ada satu dua ekor sapi yang sudah bunting. Tiga Kelompok Tani di Desa Usapinonot yaitu Kelompok Tani Sehati, Kelompok Tani Uisneno dan Kelompok Tani Saramtuan. Itu yang sama-sama kami minta permohonan bantuan ke kementerian waktu itu. Pakan yang diberikan selama ini sebelum adanya bantuan, semuanya dari Anggota Kelompok Tani Sehati. Ada beberapa orang yang sudah memiliki ternak pribadi dan ada juga yang membiasakan menanam pakan di sekitar lahan atau kebun yang ada. Jadi kemarin verifikasi pakan yang sudah tumbuh di sekitar lahan perkampungan masing-masing anggota itu menjadi tolok ukur pakan yang bersangkutan untuk suplai makanan sapi yang diberikan kementerian sehingga itu bisa berkembang. Jadi pakan itu sudah ada dengan sendirinya di masing-masing anggota kelompok tani,” ungkapnya bangga.

Baca Juga:  Minyak Kayu Putih yang Diolah Loudovick dari Wini Terbaik di Indonesia

Dijelaskan juga jenis sapi yang didapat yaitu Sapi Bali murni. Sebab, dari 20 ekor sapi  yang  agak sedikit berbeda soal postur, cara kawin, produk IB atau inseminasi buatan (kawin campur) dan unggul.

Menurutnya, sebelum itu sudah ada bantuan yang bukan bersumber dari APBDes tetapi dari dana APBD Kabupaten, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat. Dari Pemerintah Pusat tahun 2017 melalui daya kreatif mendayagunakan migran yang selama ini bekerja di luar negeri untuk bisa balik ke kampung.

“Ada program pemberdayaan bagi mereka karena mereka menetap di desa. Waktu budi daya ada sehingga mereka tidak berpikir untuk kembali keluar negeri sebagai TKI atau TKW. Itu berupa kambing yang setiap kelompok ada 5 orang dan masing-masing mendapat 1 ekor kambing betina dan 1 ekor jantan. Jadi sementara produksi kambing  sudah menjalar di desa. Kalau dulu yang punya kambing hanya satu atau dua orang saja tetapi sekarang kambing sudah bertumbuh pesat di desa dan agak lumayan. Ada juga gandengan kambing dari pemerintah provinsi melalui bantuan Dana Anggur Merah tahun 2015 itu merupakan pengembangan paronisasi sapi jantan. Kelompok Tani Sehati juga sudah menerima pengembangan sapi jantan paronisasi,” urainya.

Sementara itu kelompok peternak yang ada di Desa Usapinonot sudah berjalan dari tahun 2017-2019.

“Ada pengembangan, juga kenapa saya memilih utamakan ternak karena masyarakat sekarang lebih membutuhkan hal bantuan ekonomi. Paling tidak dengan beternak setiap rumah tangga dapat mengupayakan kekurangan, baik itu ternak kecil maupun besar, dan kemarin ada anggaran dana desa untuk menyuplai kambing jantan, sapi betina. Dari dana desa yang suplai ke masyarakat ada juga babi pedaging, babi lokal kepada masyarakat yang selama ini sudah berjalan,” tandasnya.

Diceritakannya, bantuan sapi yang didapat tanggal 24 Oktober 2020 itu merupakan hasil verifikasi untuk Kelompok Tani Sehati lalu informasi sebagai penerima bantuan adalah pada Bulan Juli.

“Info benar-benar kami terima hari Sabtu, tanggal 24 Oktober 2020. Jadi kemarin yang kami dapat sudah ada yang bunting dan siap diproduksi untuk menghasilkan anak sapi. Kehidupan masyarakat Desa Usapinonot ini 95 persen terdiri dari bertani dan beternak yang selama ini menjadi mata pencaharian. Dengan beternak, baik ternak kecil maupun ternak besar, karena lahan di Desa Usapinonot cocok untuk perkembangan ternak,” kisahnya.

Terkait dengan adanya pagar untuk kandang ternak warga, ia mengakui bahwa selama ini  belum ada satu aturan yang mengikat sehingga di antara warga masyarakat terjadi benturan.

“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami memberi pencerahan kepada masyarakat yang mengelola lahan pertanian maupun lahan pengembangan ternak  dengan satu aturan yang mengikat,  sehingga saat musim tanam, pasca musim tanam sampai panen tidak  terjadi benturan dengan kejadian-kejadian  yang selalu jadi kendala besar antara peternak dan pemilik kebun soal faktor kenyamanan. Itu kalau tidak dijaga akan menimbulkan persoalan,” terangnya

Baca Juga:  Satgas Pamtas RI-RDTL Berikan Kado Televisi untuk Masyarakat Perbatasan

Untuk itu ternak sapi yang dibagikan ke masyarakat tidak dilepas bebas tetapi dibuatkan kandang.

“Berdasarkan pengalaman mungkin sapi yang diikat pada malam hari dan siang dilepas yang  menimbulkan masalah tetapi dengan adanya  sapi bantuan yang kami dapat, kami buatkan kandang kolektif di basis tertentu yang bersangkutan  sehingga para  penerima bantuan atau peternak  hanya menyiapkan pakan yang sudah dipotong lalu diberikan kepada ternak di kandang yang sudah kita siapkan. Ini untuk mengurangi permasalahan dan untuk kenyamanan para peternak yang terbiasa melepas ternak untuk bisa mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya

Terkait pembuatan kandang untuk ternak sudah diterapkan sebelumnya sehingga pada tahun 2015 sudah dibuatkan lagi aturan desa untuk membenahi masalah yang sering terjadi di tengah masyarakat.

“Sejauh ini Perdes untuk mengandangkan ternak  sudah ada. Yang kami buat waktu itu sesuai peraturan desa sebelumnya dan pada waktu saya masuk sebagai Kepala Desa tahun 2015 saya terapkan, karena saya kutip ada beberapa hal yang tidak sesuai aturan desa. Kebetulan saat saya kepala desa, BPD masih sama jadi kami padukan peraturan kepala desa waktu itu,” ujarnya.

Tetapi kendalanya, pemberlakuan secara manajemen itu sudah ada di wilayah Desa Usapinonot dan itu sudah aman tetapi yang menjadi kendala dan hambatan adalah desa tetangga yang menggembakan sapi di hamparan.

“Di Desa Usapinonot kami menerapkan aturan bagi pemilik ternak tetapi desa tetangga mengatakan kami belum ada aturan, itu yang jadi soal. Persoalan dari tahun ke tahun timbul itu yang jadi hambatan. Awal tahun kami diskusi bagaimana bisa padukan di antara sekian banyak desa yang ada di wilayah hamparan. Kebetulan ada 5  desa yaitu Tuanlele, Lapeom, Nifunenas, Oelbikase dan Usapinonot karena  lahan perrtanian dan peternakan berada di hamparan yang sama,” lanjutnya.

Untuk itu lima desa yang mempunyai lahan pertanian dan peternakan harus ada pemberlakuan dan bentuk satu aturan sistem  untuk bekerja sama agar tidak  timbul masalah di tahun mendatang supaya meminimalisir persoalan dan aman.

Hasil yang diperoleh masyarakat dari beternak, kata dia, baik ternak kambing maupun ternak babi sudah dinikmati masyarakat.

“Yang saya terapkan program bantuan dana desa saat itu ada kambing betina. Diwajibkan kepada masyarakat, dan induknya tidak boleh dijual. Contohnya baru satu kali beranak terus induknya dijual, itu  tidak boleh. Karena aturan yang saya sosialisasikan sebelum bantuan turun, orang yang menerima bantuan harus komitmen untuk tidak menjual induknya sebelum dua kali kambing beranak, paling tidak ada hasil dulu baru dijual jangan sampai populasi hilang dan berkurang, tunggu ada hasil dulu dan akhir tahun kita hitung,” tambahnya.

Baca Juga:  Harapkan Pro March’C Masuk Agenda Harjakabpro

Serilius Yan Maumabe juga menyampaikan jikalau dana hibah  mendongkrak pendapatan ekonomi anggota kelompok masing-masing, memberikan kontribusi pengembangan terhadap kelompok tani yang bersangkutan.

“Yang bisa kita nikmati ini semua tertuang di dalam AD/ART kelompok tani karena kemarin bantuan yang kita dapat membantu mendongkrak pendapatan asli desa dan satu harapan kami yang kami buat adalah AD/ART untuk persyaratan. Kemarin itu akumulasi presentase baik tetapi akan kami tinjau kembali bahwa semua ternak akan mendapatkan hasil. Di situ kami akan diskusikan bersama untuk bagaimana kontribusi terhadap orang atau individu yang bersangkutan di dalam kelompok tani, terutama kontribusi terhadap PADes. Itu harapan kami,” harapnya.

Sapi betina yang dihibahkan kepada masyarakat diharapkan untuk dapat dipelihara sebagaimana mestinya sehingga dapat berkembang. Sapi-sapi yang diberikan kepada masing-masing individu mestinya dikembangkan sehingga tidak hanya mendapatkan laporan angka kematian sapi, tetapi mendapat laporan angka perkembangan. Masyarakat diharapkan memiliki pakan yang cukup untuk mengembangkan sapi-sapi betina ini.

“Dari dana desa itu kemarin awalnya sudah ada tetapi sampai dengan sekarang saya baru alokasikan dana untuk pengembangan sapi betina itu tahun 2019. Ada 132 ekor sapi betina kepada 128 KK, tetapi yang dapat hanya 108 KK saja karena 20 KK saya sedikit mengevaluasi kembali karena yang bersangkutan waktu itu sanggup bersedia dalam pengembangan sapi betina yang ada tapi dalam pelaksanaan itu terakhir ada 4 ekor yang mati jadi saya tarik kembali. Sekitar 24 ekor saya tambahkan ke orang-orang mana yang pakannya bisa mencukupi untuk ternak sapi. Bukan saya yang tiadakan orang yang pertama tadi, tetapi dapat satu pembelajaran awal agar dia harus punya pakan yang cukup dan kemudian dia harus bisa merawat dan mengembangkan pakan ternak yang bersangkutan. Tetapi kalau dia anggap ini bahan yang tidak punya apa-apa, itu pikiran yang tidak berhasil. Jadi kita berikan saja kepada orang-orang yang mau kembangkan. Untuk sementara 1 ekor dari 108 ekor itu sapi yang sementara bunting, itu dari dana desa,” bebernya.

Serilius Yan Maumabe juga menjawab soal intervensi Pemda TTU untuk peternakan.

“Dalam hal ini kebetulan di Insana Barat ada satu penyuluh peternakan yang selama ini selalu membantu kami sehingga kami memperoleh hasil yang baik di tingkat desa maupun kecamatan. Pemda TTU juga membantu kami lewat Inseminasi Buatan secara gratis. Jadi setiap saat bila ada sapi betina yang minta kawin hari ini juga kami komunikasikan dengan dinas bersangkutan, maka mereka akan datang untuk selidiki soal persiapan untuk kawin dan hari itu juga sapi langsung diberi hormon dan bantuan ini gratis. Kami komunikasikan kepada semua komponen masyarakat untuk memiliki nomor handphone mantri ternak ini agar bisa segera turun dan mengatasi sapi yang minta kawin dan segera diambil tindakan,” tutupnya. (fwl/fwl)