KITA SEHATI akan Libatkan Komunitas Adat Dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

oleh -464 views
Calon Wakil Bupati Timor Tengah Utara dari Paket KITA SEHATI nomor urut 1, Yosef Tanu melakukan kampanye pada Senin (26/10/2020) di Desa Fatutasu, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Calon Wakil Bupati Timor Tengah Utara dari Paket KITA SEHATI nomor urut 1, Yosef Tanu melakukan kampanye terbatas pada Senin (26/10/2020) di Desa Fatutasu, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Calon Wakil Bupati TTU Yosef Tanu dalam kesempatan melakukan kampanye terbatas hari ke-26 mengunjungi dua lokasi di Desa Fatutasu. Lokasi pertama yang dikunjungi yakni RT 08/RW 04, Desa Fatutasu tepat pukul 12.00 Wita.

Pantauan Media SULUH DESA, masyarakat telah menanti rombongan di depan tenda kemenangan untuk menyambut kedatangan sang idola politik. Tetua adat merestui kehadiran Yosef Tanu dalam tuturan takanab yang diserukan sambil sahut-sahutan di antara masyarakat. Sementara itu, mama-mama menitipkan sebuah tanda mata kepada sang calon wakil bupati dengan mengalungkan seutas selendang. Saling berjabatan tangan terjadi di antara masyarakat dengan calon pemimpinnya saat melangkah menuju tempat cuci tangan. Usai mencuci tangan dan mengukur suhu tubuh, Yosef Tanu melangkah agung menuju tempat yang disediakan dalam tenda kampanye terbatas.

Sebagai tanda hormat kepada masyarakat setempat dan sebagai atoin meto yang diikat oleh budaya, Calon Wakil Bupati Yosef Tanu menyerahkan kabi nok tua kepada tetua adat yang mewakili. Kabi nok tua yang diserahkan kepada tetua adat dimaksudkan juga untuk mengundang masyarakat turut hadir dalam pesta Pilkada TTU pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Tetua adat menghormati calon pemimpinnya dengan menyerahkan kabi sebagai tanda terima dengan ikhlas hati. Yosef Tanu menerima penyerahan kabi dengan khidmat sembari dilumuri doa dan berkat leluhur dan Tuhan yang diucapkan oleh tetua adat.

Di RT 03/RW 02, Desa Fatutasu masyarakat menyambut kedatangan Calon Wakil Bupati Yosef Tanu pada pukul 16.00 Wita. Tetua adat menuturkan takanab sebagai doa restu menyambut kehadiran sang jagoan politik. Sedangkan mama-mama mengalungkan seutas selendang sebagai tanda mata untuk mengingatkan pemimpinnya akan kampung kecil di Miomafo Barat.

Baca Juga:  Pilkada Ngada: Warga Belum Terima Informasi Siapa yang Bakal Dipilih

Dipandu oleh masterof ceremony Melkisedek Bukifan, Calon Wakil Bupati TTU Yosef Tanu menyerahkan kabi nok tua untuk menghormati masyarakat dan sebagai tanda ikatan janji dengan masyarakat. Kabi nok tua diserahkan juga sebagai undangan kepada masyarakat untuk menghadiri pesta Pilkada tanggal 9 Desember 2020.

Pada kesempatan itu, terjadi saling tukar kabi nok tua yang dilakukan tetua adat kepada Yosef Tanu. Tetua adat sebelum menyerahkan kabi nok tua kepada Yosef Tanu menyerukan kepada Yosef Tanu bahwa mereka semua akan mendukung dan memenangkan pasangan Kristiana Muki dan Yosef Tanu pada pilkada 9 Desember mendatang.

“Kami sangat mendukung sebab memang kami menyukai pasangan calon ini. Akan tetapi kami ada permintaan, jika sudah terpilih, tolong lanjutkan program pembangunan yang telah dilakukan Ray Fernandez Bupati TTU bersama Alo Kobes Wakil Bupati TTU. Semua kami di tempat ini sangat mendukung Paket KITA SEHATI karena disini juga kampung asal Kristiana Muki dan Ray Fernandez. Sekali lagi, pembangunan yang dibuat oleh Ray Fernandez itu sangat bagus dan kami masyarakat sangat terbantu, jadi tolong lanjutkan,” pinta tetua adat yang hadir kepada Yosef Tanu yang sesekali menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

Kemudian, dalam pemaparan visi dan misi Paket KITA SEHATI, Yosef Tanu mengatakan, “untuk menghadapi ekstrimnya perubahan iklim dan peduli terhadap lingkungan hidup, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri sehingga kita akan melibatkan komunitas adat atoin meto. Dalam hal ini suku-suku yang ada  di TTU untuk bersama-sama bahu membahu untuk menjaga kelestarian lingkungan. Programnya itu pengakuan dan penguatan lembaga adat atoin meto dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di TTU. Bentuk kegiatannya kita akan melibatkan suku-suku yang ada di Kabupaten TTU untuk masing-masing membantu pemerintah dalam melestarikan sumber air pemali (oe kanaf) dan batu pemali (faut kanaf) yang dimiliki.”

Baca Juga:  Punya Tambak Ikan di Wini, Yosef Tanu Ingin Berdayakan Masyarakat

Menurut Paket KITA SEHATI, program ini merupakan satu modal sosial yang paling besar. Karena Kabupaten TTU ini terbentuk dari kumpulan suku-suku yang akhirnya ikut membentuk kabupaten ini.

“Jadi maksud kita bahwa semua sumber air hidup dan hutan-hutan sudah dimiliki oleh suku-suku. Masing-masing suku itu memiliki faut kanaf dan oe kanaf sehingga ketika kita berbicara tentang kelestarian lingkungan dalam hal ini sumber air dan hutan maka kita serahkan kepada masing-masing suku. Sebab setiap tahunnya pasti datang melakukan ritual tahunan di oe kanaf dan faut kanaf masing-masing suku. Sehingga ketika dana pemberdayaan diserahkan kepada mereka dan mereka yang merencanakan untuk penghijauan dan pemeliharaan berkelanjutan faut kanaf dan oe kanaf maka dengan sendirinya TTU ini akan lestari. Kabupaten TTU ini harus hijau dan alamnya harus kembali asli dan asri. Kalau lingkungannya sudah asri dan hijau, otomatis semua jenis hewan dan tanaman akan kembali ada dan bertahan. Ini juga salah bentuk mengembalikan semua jenis hewan dan tanaman yang hampir punah saat ini,” jelasnya.

Selanjutnya, Calon Wakil Bupati Yosef Tanu menjelaskan terkait lembaga-lembaga adat tidak difungsikan hanya untuk pelestarian dan penghijauan tetapi juga untuk menyelesaikan persoalan sosial yang biasanya terjadi di tengah masyarakat.

“Selain itu lembaga-lembaga adat tidak hanya untuk pelestarian hutan dan sumber mata air tetapi juga untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Contohnya ada persoalan mengenai batas tanah antara desa A dan desa B. Apabila diselesaikan melalui jalur pemerintah biasanya selalu mentah. Tetapi jika penyelesaiannya melibatkan struktur adat maka saya sangat yakin para pemangku adat yang membuat keputusan yang dimeteraikan dengan sopi satu botol dan ayam satu ekor. Hal ini mempunyai kekuatan mengikat yang sangat luar biasa. Dan yang namanya orang Dawan atau atoin meto tidak akan melangkahi itu karena akan ada akibatnya,” ucapnya.

Baca Juga:  Cawabup Malaka ini Siapkan Hadiah Bagi Masyarakat yang Tangkap Pelaku Politik Uang

Karena itu, lanjut Yosef Tanu, “ke depan kita akan menggandeng struktur adat atoin meto untuk bersama-sama dengan pemerintah untuk bergerak membangun daerah ini. Sehingga ini saya pikir akan menjadi sesuatu yang baru dan kita berharap upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan dalam hal ini sumber air dan daerah-daerah tangkapan air, sumber air, dan hutan milik suku akan lestari. Dan tentu dengan lestarinya sumber air dan hutan tersebut akan membawa dampak yang positif untuk kelestarian lingkungan.”

Mengakui kekuatan adat atoin meto, Yosef Tanu menambahkan, “kekuatan budaya atoin meto sangat luar biasa sehingga ketika secara adat mereka menaikkan banu atau larangan adat untuk sebuah kali atau sungai maka masyarakat tidak akan sembarangan menangkap ikan di kali atau sungai tersebut. Masyarakat tahu itu, sehingga ketika tiba waktu untuk menurunkan banu tersebut barulah masyarakat akan ramai-ramai tangkap ikan. Kekuatannya sangat luar biasa sehingga ke depan kita tidak bisa berjalan sendiri atau menyepelekan keberadaan struktur adat. Sehingga apabila Tuhan berkenan kita akan memulai modal sosial ini untuk bahu membahu bersama pemerintah membangun daerah ini terutama dari sisi kelestarian ingkungan hidup maupun penggunaan lahan tidur milik suku yang bakal digunakan untuk kepentingan penghijauan. Ketika mereka sudah setuju maka lahan-lahan kritis itu akan dengan mudah dibersihkan karena biaya pemberdayaannya itu kita serahkan kepada suku pemilik ulayat tersebut.” (Seko/Seko)