Kisah Kristiana Muki Menikah dengan Ray Fernandez Hingga Jadi Calon Bupati TTU

oleh -2.474 views
Kristiana Muki Calon Bupati Timor Tengah Utara dari Paket KITA SEHATI nomor urut 1.

SOSOK, suluhdesa.com – Kristiana Muki Calon Bupati Timor Tengah Utara (TTU) dari Paket KITA SEHATI nomor urut 1 lahir di Kefamenanu pada tanggal 03 Oktober 1974. Ia terlahir dari pasangan Almarhum Bapak Markus Muki dan Almarhumah Mama Theresia Nahas. Kristiana memiliki enam saudara laki-laki dan perempuan hanya Kristiana sendiri. Oleh sebab itu, kesehariannya hanya bergaul dengan anak laki-laki saja. Namun Kristiana sendiri mengaku lebih merasa nyaman kalau ada di dekat mereka. Kesehariannya lebih banyak bergaul dengan laki-laki, alasannya kalau laki-laki hampir tidak pernah bergosip dibandingkan dengan perempuan.

Calon Bupati TTU Kristiana Muki ketika ditemui Media SULUH DESA di rumahnya beberapa waktu lalu saat ditanyai tentang bagaimana awal sampai bisa menikah dengan Ray Fernandez yang menjadi Anggota DPRD TTU, Wakil Bupati TTU, hingga menjabat Bupati TTU dua periode, mengaku, dirinya tidak pernah memasang kriteria untuk laki-laki yang mau jadi suaminya.

“Siapapun dia yang datang, baik sopir, baik petani, ataupun pegawai akan diterima dengan sepenuh hati dengan satu syarat yakni harus menafkahi keluarga,” ungkap pemilik nama panggilan Irna ini sambil tersenyum malu-malu.

Dengan pemikiran seperti itu, Kristiana sendiri tidak pernah menyangka suaminya Raymundus Sau Fernandez akan membawanya sampai ke titik yang sekarang.

Masa-Masa Sekolah

Kristiana Muki menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDK Yaperna Leob pada tahun 1988. Selanjutnya pada tahun 1991 Kristiana Muki tamat dari SMPN 1 Kefamenanu dan kemudian lanjut lagi Sekolah Menengah Atas Kefamenanu. Tahun 1994 Calon Bupati TTU ini tamat dari SMAN 1 Kefamenanu.

“Setelah tamat, saya mencoba untuk mengikuti Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) dengan berdasarkan pada nilai-nilai raport, dan ternyata nilai saya memenuhi syarat sehingga saya lulus di Kedokteran Hewan UGM, sama juga ikut di Udayana Bali, saya lulus di Kedokteran Hewan. Namun karena terlalu jauh, maka almarhum kedua orang tua menganjurkan untuk pergi ke Denpasar biar lebih dekat. Sehingga setelah tamat SMA pada tahun 1994, saya langsung ke Denpasar sampai tahun 1998 baru saya kembali,” ujar Kristiana Muki sambil menatap nanar ke luar ruang tamu.

Selanjutnya, Calon Bupati Perempuan Pertama TTU ini mengatakan, “sekembalinya dari Denpasar, saya istirahat sekitar setahun dan kemudian saya memilih untuk menikah muda. Saya menikah dengan Pak Ray pada tahun 1999. Dan syukur puji Tuhan, kami dikaruniai 6 orang anak, yakni 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.”

Awal Mula Rumah Tangga Raymundus Sau Fernandez dan Kristiana Muki

Raymmundus Sau Fernandez dan Kristiana Muki yang menikah pada tahun 1999 ini tidak pernah membayangkan suatu saat nanti kehidupan keluarganya bakal seperti sekarang ini. Ketika menikah dengan Ray Fernadez, usia Kristiana baru menginjak 25 tahun. Kristiana itu memilih untuk keluar dari rumah mengikuti suami, sekalipun orang tua melarang karena ia anak perempuan satu-satunya, sehingga punya hak untuk tetap tinggal di rumah orang tua.

“Saya tidak pernah berpikir kalau nanti suatu saat saya akan seperti sekarang ini. Karena saya selalu mengatakan kepada orang tua bahwa siapapun dia yang saya pilih, entah dia petani, atau entah dia itu sopir sekalipun, dia yang saya pilih menjadi calon suami itu tidak pernah memakai kriteria tertentu. Saya sudah bertekad siapapun dia yang saya pilih tidak perlu dilihat latar belakangnya seperti apa. Waktu itu Pak Ray belum jadi anggota Dewan sehingga kami masih tinggal dengan orang tua, tetapi masak sendiri. Saya hanya mau melihat apakah suami saya bisa menafkahi saya ataukah masih bergantung pada orang tua. Kalau masih bergantung, maka saya akan memilih stop sekalipun sudah menikah. Tetapi saya bersyukur temukan Raymundus yang orangnya juga tidak malu untuk bekerja. Apapun itu pasti dia kerjakan, yang penting dia bisa bawa sesuatu buat saya di rumah,” kisah Kristiana sembari memamerkan lesung pipi dari balik senyumnya.

Baca Juga:  KPU Malaka Deklarasi Kampanye Damai Bersama Para Cabup dan Cawabup

Lebih lanjut Kristiana mengisahkan, “setelah itu kami pindah dan tinggal di kos. Itu kos juga pung parah ambil lai, kalau kita tidur di dalam, orang bisa lihat kita dari luar karena rumahnya terbelah harbabiruk. Tetapi saya nyaman tinggal di situ karena bagaimanapun itu adalah usaha awal kami. Waktu itu Pak Ray masih kerja di LSM. Beliau juga mengurus partai, bahkan ketika masih kuliah pun beliau sudah disuruh pulang untuk mengurus partai.”

“Setelah terpilih menjadi Anggota DPRD TTU pun kami masih tinggal di kos, sehingga saya bilang bahwa syukur kalau ada rumah dinas yang masih bisa kita tempati. Tetapi kalau tidak pun, kita bersabar sambil terus menabung untuk membangun sebuah rumah. Setelah satu tahun dilantik menjadi Wakil Ketua DPR, baru kami pindah dan tinggal di rumah kami yang sekarang. Kami renovasi pelan-pelan mulai dari samping hingga ditambah lagi ke belakang dan akhirnya bisa sampai terlihat seperti sekarang,” ujar pendamping hidup Raymundus Sau Fernandez Ketua DPW Partai Nasdem NTT ini.

Kristiana Muki tidak pernah membayangkan suatu kelak bakal menjadi istri seorang Bupati TTU. Sedari awal ia tidak pernah menuntut suaminya untuk menjadi pemimpin, jadi petani pun sudah menjadi berkat luar biasa. Esensinya bahwa suami dapat menafkahi keluarganya.

“Tapi kita tidak pernah tahu tentang hidup ke depannya Tuhan memberikan kepada kita seperti sekarang ini. Sehingga saya yakin Tuhan sudah bentuk Pak Ray sejak dari dalam kandungan Ibu Margaretha, yakni suatu ketika dia akan jadi seperti saat ini. Saya juga yakin Tuhan sudah membentuk saya sejak dari kandung Ibu untuk menjadi seperti saat ini. Saya juga bersyukur karena Tuhan itu luar biasa, karena atas berkat-Nya maka saya dan Pak Ray bisa seperti sekarang ini,” imbuh mantan DPR RI dari Partai Nasdem tersebut.

Karier Raymundus Sau Fernandez

Keluarga Raymundus Sau Fernandez senantiasa berserah kepada Tuhan. Segala sesuatu yang dialami kerap disyukuri sebagai berkat Tuhan yang melimpah atas keluarga. Piring pecah dan sendok patah dalam rumah tangga itu bagi mereka adalah suatu nada untuk melengkapi harmoni bahtera rumah tangga. Syukur dan pujian yang sering dipanjatkan kemudian berbuah bagi karier luar biasa yang diterima oleh keluarga Raymundus Fernandez.

“Saya selalu berpikir bahwa ini adalah campur tangan Tuhan, sehingga Pak Ray bisa terpilih menjadi Wakil Ketua DPR dan Anggota DPR. Itu semua dari Dapil Biboki Selatan yang sebenarnya merupakan dapil orang lain. Namun kita pergi ke sana dan ternyata Pak Ray mendapat 3000 suara lebih di sana. Sehingga bisa lolos dan baru pertama kalinya salah satu partai yang Pak Ray pimpin mendapat 8 kursi. Sebelumnya tidak pernah, tetapi mulai di tangannya Pak Ray, partai itu meraih 8 kursi. Sehingga Pak Ray dipilih menjadi Wakil Ketua DPR. Selanjutnya dipilih menjadi Wakil Bupati TTU, lalu dalam perjalanan Pak Ray dipilih lagi menjadi Bupati TTU dan sampai sekarang sudah dua periode,” jelas Kristiana Muki tertunduk menitikkan air matanya.

Karier Kristiana Muki

Kristiana Muki sendiri tidak habis pikir dengan karier yang dialami sepanjang hidupnya. Menjadi guru matematika, menjadi Ketua PKK, menjadi Anggota DPR RI, dan sekarang menjadi Calon Bupati TTU itu merupakan sesuatu yang tidak pernah singggah ke pikirannya sebelumnya.

“Saya sendiri juga tidak pernah berpikir bahwa saya akan masuk untuk menjadi salah satu Calon Anggota DPR RI. Saya hanya berpikir bahwa saya akan dicalonkan di Provinsi NTT atau Kabupaten TTU, tetapi ternyata saya dipilih untuk menjadi Anggota DPR RI. Saya juga bilang ke Pak Ray bahwa ini saatnya untuk bersungguh-sungguh karena dulu pada tahun 2009, saya diminta oleh PDIP juga untuk Dapil Kota, hanya saya bilang kalau memang kurang perempuan, yah sudah saya masuk saja, tetapi saya tidak menginginkan untuk jadi. Biarlah kita mencari tambahan suara sehingga teman-teman yang lain bisa masuk. Dan bersyukur ada teman-teman yang bisa masuk. Bahkan ada masyarakat yang bilang Ibu Kristiana ini hanya mau datang sosialisasi tapi habis itu Ibu Kristiana mundur. Tapi sebenarnya saya hanya ikut untuk menambah kuota perempuan. Sehingga saya tidak terlalu all out karena harus memberi kesempatan kepada yang lain,” cerita Kristiana sambil meneguk air mineral dari botolnya.

Baca Juga:  KITA SEHATI Ingatkan Masyarakat TTU Agar Tak Terima Uang Suap Jelang Pilkada

Kemudian Kristiana lanjut lagi dengan menjelaskan, “kemarin waktu diminta untuk masuk ke DPR RI, awalnya saya menolak karena saya berpikir tentang suami dan anak-anak. Mereka semua ada di sini dan saya tidak bisa hidup sendiri kalau jalan jauh. Tiap malam tidur saja juga tidak bisa sendiri, apalagi kalau saya jalan jauh. Saya akan kuat kalau anak-anak ikut dengan saya, tetapi Pak Ray bilang di sana nanti anak-anak merepotkan. Dan anak-anak juga memilih untuk tidak ikut dengan saya. Dan dalam perjalanan waktu, saya tidak pernah berpikir bahwa saya harus kembali karena sesungguhnya bila bicara dari segi kenyamanan, saya lebih nyaman tinggal di sana (di Senayan menjadi Anggota DPR RI) daripada saya harus kembali ke sini (menjadi Bupati TTU) dan menghadapi banyak pekerjaan. Tetapi makna dari itu adalah bahwa saya dipanggil kembali untuk lebih dekat dengan keluarga dan lebih dekat dengan masyarakat sehingga lebih banyak berbuat dan melayani mereka. Dan akhirnya saya harus menurut untuk pulang,” imbuh Kristiana Muki.

Kristiana Muki baru ikhlas menerima keadaan setelah deklarasi Paket KITA SEHATI pada tanggal 05 September 2020. Bahwa membawa 60.173 suara untuk menjadi DPR RI itu kemudian menjadi beban tersendiri kala menerima untuk kembali ke TTU. Namun, setelah direfleksikan dan dihaturkan dalam doa yang dipanjatkan setiap harinya, Kristiana merasa bahwa inilah saatnya untuk mendekatkan perhatiannya kepada masyarakat Timor Tengah Utara.

“Saya baru ikhlas untuk terima keadaan itu ketika setelah kita deklarasi. Sebelumnya saya merasa terbeban sekali karena kita mau silih mana tangkis mana. Banyak orang mencibir tentang kita. Tetapi saya harus menerima permintaan dari Partai Nasdem, sekalipun kita dicaci dan diejek di media sosial. Namun saya sudah belajar untuk kuat setelah deklarasi. Mau tidak mau saya harus fokus karena saya sudah mengundurkan diri dan saya harus berjuang  untuk menang,” ucap mantan Ketua PKK ini.

Prinsipnya bahwa harus berjuang sebab sudah separuh perjalanan yang dirajut bersama Yosef Tanu Calon Wakilnya. Perjuangannya bakal ditunjukkan kepada masyarakat TTU lewat regulasi dan pembangunan-pembangunan yang menguntungkan masyarakat. Tentunya dengan pertimbangan bahwa pasangan Calon Bupati TTU dan Calon Wakil Bupati ini merupakan perkawinan politisi dan birokrat murni.

“Jika orang berbicara soal dinasti, yah kecuali Kabupaten TTU adalah kabupaten kerajaan. Tetapi Kabupaten TTU dibentuk dengan berbagai aturan dan Undang-Undangnya. Sehingga pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada Kabupaten TTU untuk melakukan pemilihan. Sehingga semua masyarakat TTU bebas untuk terjun ke dalam kontestasi ini. Sehingga dalam kondisi seperti ini dan orang mengatakan bahwa ini adalah dinasti untuk meneruskan apa yang Pak Ray lakukan saat ini, maka bagi saya itu tidak benar. Karena kita semua berproses melewati tahap demi tahap. Saya juga tidak pernah berpikir untuk kembali, bahkan survey saja nama saya tidak tercantum. Sehingga dengan berat hati saya kembali ke TTU sesuai permintaan dari pimpinan partai. Karena saya sementara masih menjabat di DPR RI. Dan pastinya orang-orang akan berbicara yang tidak baik terhadap kita dan ternyata benar orang berbicara demikian. Tetapi kita ambil nilai positifnya saja, karena saya berpikir bahwa saya sudah ikut dalam pertarungan ini. Sehingga kalau berbicara tentang dinasti itu tidak harus ikut proses lagi, karena sesudah Pak Ray pasti saya langsung ditunjuk untuk melanjutkan kepemimpinan, tetapi buktinya bahwa saya ikut berproses. Artinya bahwa saya ikut kontestasi Pilkada TTU ini. Dan tidak ada istilah dinasti di sini karena kita semua berproses hingga hari penetapan nanti,” jelas Kristiana Muki mengklarifikasi isu dinasti yang beredar di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Kristiana Muki; Gaji DPR RI Lebih Besar dari Gaji Bupati TTU

Dilematis Perhatian untuk Anak-Anak

Sebagai seorang istri, Kristiana Muki harus siap mengambil konsekuensi yang bakal menimpa dengan membangun komitmen yang kuat. Bahwa sebelumnya volume urusan di luar rumah sangatlah kecil tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa keadaan itu berubah 360 derajat. Kristiana Muki berpikir bahwa ia harus lebih bijak dalam mengatur waktu sehingga masyarakat selalu diperhatikan dan anak-anak juga tidak ditelantarkan. Namun, ia sendiri yakin suaminya sangat professional baik di dalam rumah maupun di dalam rumah sehingga itu tidak menjadi suatu ketakutan yang luar biasa.

“Itulah yang selama ini sudah saya mulai dan saya bersyukur bahwa Pak Ray itu bisa membantu mengatur waktu. Karena orang bilang dia bisa di luar rumah, bisa juga di dalam rumah. Dia bisa urus anak-anak dengan baik, terutama masuk ke dapur, masak dan menyiapkan makan seharian. Bahkan kami pernah tinggal sendirian di rumah dan harus menolak banyak tamu pada hari sabtu sehingga kami bisa cuci pakaian. Esok hari minggu, semua pakaian akan kami setrika untuk dipakai pada hari senin dan seterusnya. Jadi saya pikir ketika dia selesai dari Bupati TTU ini, tentunya itu bukan hal yang baru untuk membantu mengurus rumah tangga. Pokoknya yang terpenting adalah tidak mengorbankan masyarakat banyak, karena keluarga masih bisa ditoleransi untuk perbaikannya, tetapi masyarakat  tidak harus demikian,” tambah Kristiana Muki memuji suaminya.

Yosef Tanu Dimata Kristiana Muki

Mengenai pendampingnya di perhelatan Pilkada TTU nanti, Kristiana Muki menjelaskan bahwa Yosef Tanu itu pekerja keras dan cekatan. Dan kalau mau dibilang milenial, Yosef Tanu juga milenial karena masih sangat muda. Kristiana Muki berharap Yosef Tanu bisa mengisi kekurangan yang ada pada dirinya. Alasan Kristiana memilih Yosef Tanu adalah karena ia birokrat yang baik. Sekolahnya juga memang untuk jadi birokrat dan bukan sekolah yang setelah tamat harus ikut tes dulu baru jadi birokrat. Sehingga Kristiana yakin pasti tidak mengorbankan masyarakat, kecuali ketika sakit maka perlu istrahat satu dua hari untuk kembali pulih. Artinya bahwa semua yang datang harus dilayani secara baik.

“Dari sebab itu, saya optimis bahwa pasti menang. Karena ketika kami turun ke masyarakat itu untuk berkampanye, mereka sendiri yang menyediakan segala macam makanan untuk kebersamaan itu. Sehingga bagi saya itu tidak ada persoalan untuk menang. Saya dengan Adik Yosef tidak pernah memfasilitasi masyarakat. Orang-orang tua meminta untuk datang saja, kalau soal makanan itu aman. Di sana banyak jagung, ubi kayu, atau mau duduk kosong juga yang penting kami harus hadir. Sehingga kami merasa bahwa mereka punya rasa memiliki kami maka kami optimis menang. Dan ketika sudah optimis maka harus bekerja lebih banyak lagi. Dan ketika pekerjaan sudah maksimal maka penentu terakhir ada pada Tuhan. Maka harus diingat bahwa setelah terpilih harus bekerja untuk masyarakat bukan untuk pribadi saja. Tuhan sudah memberikan pintu gratis maka kita harus bekerja sungguh-sungguh untuk masyarakat,” tutup Kristiana Muki mengakhiri pembicaraannya sambil mengucap terima kasih. (seko/seko)