Gereja Katolik Menghindari Main Pengkafir-kafiran

oleh -362 views
Diakon Yohanes Mikot Fios, OCD (Tugas di Paroki St. Joseph Bajawa)

RENUNGAN KATOLIK, suluhdesa,com – Kamis (22/10/2020), bacaan diambil dari Injil Lukas 12:49-53. Era pra Konsili Vatikan II (1962-1965), perhelatan akbar yang membuka jendela-jendela Vatikan terhadap angin segar mondernisasi, memegang erat keyakinannya: “di luar Gereja Katolik, tidak ada keselamatan (extra ecclessia nula salus).”

Berkat keterbukaan jendela-jendela Vatikan, arah rigit keyakinan tersebut berubah haluan. Gereja Katolik menghindari main pengkafir-kafiran. Pintu-pintu apologetis perlahan tertutup, dan meruang bersama dalam dialog harmoni persaudaraan. Sikap hormat terhadap kepercayaan lain.

Apakah Penginjil Lukas yang mengangkat analogi keluarga yang terpecah-pecah ditujukan bagi golongan percaya Kristus dan tidak percaya? Seakan minyak-air, seolah Kristus menyetujui kiblat pra Konsili Vatikan II? Tidak. Tidak.

Baca Juga:  Rm. Benny Susetyo; Gotong Royong, Roh untuk Bangsa Hadapi Corona

Api yang dilemparkan ke atas bumi, refleksi saya, tidak bermaksud memisahkan orang dalam (Gereja) dan orang luar (bukan Gereja). Api menyimbolkan kekuasaan Allah untuk memurnikan, menceraikan jalinan kompromistis antara ikatan baik dan jahat, ataupun percaya dan ragu.

Bisa juga api ilahi berfungsi membedah kekatolikan; untuk menguak benderang perbedaan warna antara katolik sejati dan katolik nonsense (katolik dusta).

Baca Juga:  KURE, Tradisi Kuno di Noemuti; Riwayatmu Kini (Bagian 1)

Kalau Tuhan itu Maha, mengapa harus ragu-ragu? Nista kepada Tuhan tidak harus menelanjangi-Nya, mencaci atau mengobral kekudusan-Nya.

“..besok kalau kau ragu memperoleh rezeki sehari saja, itu pun kau telah menghina Tuhan..”

Percayalah! Dan api bernyala masih tergenggam di tangan kasih-Nya. shaLom. (*)

Oleh : Diakon Yohanes Mikot Fios, OCD (Tugas di Paroki St. Joseph Bajawa)