Yosef Tanu, Sosok Cawabup TTU yang Penuh Daya Tarik dan Inovatif

oleh -1.576 views
Epiesty Xaritha Evinria Muda (Milenial TTU tinggal di Kefamenanu)

OPINI, suluhdesa.com – Sosok  Yosef Tanu Calon Wakil Bupati Timor Tengah Utara dari Paket KITA SEHATI nomor urut 1 adalah  seorang petani ulung yang bisa membangkitkan semangat dan menginspirasi masyarakat bumi Biinmaffo. Ia memiliki gaya kepemimpinan yang sangat populis, memiliki emosional yang meledak-ledak. Namun tidak jarang lembut dan menyukai keindahan. Sebagai seorang ayah, ia begitu menyayangi anak-anak yang tengah mengunjungi Istana rumah, dan kebun bermainnya. Tak segan ia menemani mereka berkeliling dan berinteraksi berbalut keriangan.

Sang petani handal ini membawa gaya orientasi kepemimpinan pada moral dan etika ideologi yang mendasari daerah atau partai. Sehingga sangat konsisten dan fanatik, cocok diterapkan pada era milenial ini. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dari diri Yosef Tanu adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif. Sosok yang memiliki nama lahir Yosef Tanu tersebut, juga kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada  bursa seleksi calon pemimpin yang akan datang ini, Yosef Tanu menjadi panutan dan sumber inspirasi gerakan perubahan dengan daya dobrak serta sifat optimisme, yang menguatkan pergerakan melepas ketergantungan.

Yosef Tanu adalah calon  pemimpin yang  kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah, rela berkorban demi persatuan dan kesatuan, serta meneruskan pembangunan Kabupaten TTU yang berkelanjutan. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ia pernah menjabat Kepala Seksi di Kelurahan Boronuabaen, ia pernah menjadi Kasubag Perlengkapan Bagian Umum Kabupaten TTU, dan juga pernah menjabat sebagai Kabid Lingkungan Hidup, serta pernah juga menjadi Camat Noemuti Timur. Dengan karakter yang penuh kesabaran dan cinta akan pekerjaannya maka Yosef Tanu diusung Partai Nasdem mendampingi Kristiana Muki. Demikian ternyata sosok Yosef Tanu mengarah pada figur sentral dan kultus individu.

Yosef Tanu termasuk figur pemimpin yang diharapkan kaum milenial saat ini, baik di dalam keluarga maupun untuk lingkup Kabupaten TTU meliputi semua suku-suku dan etnis di Bumi Biinmaffo. Kaum milenial TTU menginginkan pemimpin yang harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang daerah ini khususnya ada periode 2020 sampai 2025. Prinsip dan keputusan Yosef Tanu sangat  kokoh secara alamiah dan legal di Bumi Biinmaffo. Prinsip politik mempersatukan gaya kaum milenial. Sedikit mengutip filosofi Belanda politik kekeluargaan  adalah “alle leden van de familie aan een eet-tafel” (semua anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan), tanpa ia memperhatikan asal-usul daerah, suku, golongan,dan tidak membeda-bedakan.

Baca Juga:  Kampanye di Miomaffo Tengah, Kristiana Muki; Kita Lanjutkan Program Perumahan

Pilkada tinggal dua bulan ke depan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) TTU menetapkan cabup dan cawabup dari 3 kandidat figur politik berdasarkan pengusungan  (parpol). Jumlahnya kurang lebih 173,429 orang yang terdata dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS). Yang perlu diperhatikan bagaimana kualitas calon bupati dan wakil bupati yang akan dipilih masyarakat itu sendiri.

Namun yang jadi pertanyaan seperti apakah harapan kita akan kualitas para calon bupati dan wakil bupati mendatang. Ini harus kita tentukan sejak saat ini. Jangan sampai Pilkada mendatang hanya menjadi panggung politik para cabup dan cawabup tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat.

Saya kira untuk menentukan sebuah pilihan politik pada Pilkada, ada beberapa permasalahan yang akan dihadapi di antaranya, yakni yang paling penting adalah integritas. Saya kira persoalan sekarang adalah bagaimana menjatuhkan pilihan politik kita kepada calon bupati dan wakil bupati yang jumlahnya sangat banyak dengan program yang bagus-bagus. Dalam menentukan pilihan politiknya, masyarakat sekarang harus lebih cermat mempertimbangkan karakter jagoan politiknya.

Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah bahwa dalam memilih calon bupati dan wakil bupati  harus berkualitas. Berkualitas tidak hanya diukur dari popularitasnya. Sebab dari pengalaman beberapa Pilkada lalu banyak figur memiliki popularitas yang luar biasa, akan tetapi saat bekerja nihil hasilnya.

Baca Juga:  Peringati Hari Infanteri, Satgas Pamtas RI-RDTL Gelar Pameran Alutsista di Perbatasan

Hal itu disebabkan karena pada saat kampanye mereka hanya mengandalkan konsep, akan tetapi praktik tidak ada. Akibatnya, tidak bisa berbuat apa-apa ketika terpilih. Para calon bupati dan calon wakil bupati harus memiliki sejumlah kriteria penilaian yang terukur agar kita tidak terjebak dengan janji manis mereka. Ujung-ujungnya nanti kita hanya bisa mengeluh ketika biaya hidup tinggi, ketika menghadapi masalah sosial sedangkan, para pemimpin kita sibuk dengan studi banding ke luar negeri.

Saya kira untuk memilih calon pemimpin yang berkualitas, paling tidak kita memiliki beberapa kriteria penilaian, yaitu memiliki integritas intelektual, sosial dan moral.

Integritas Intelektual

Integritas intelektual calon pemimpin harus memiliki kompetensi keilmuan dan wawasan. Kemampuan ini tidak hanya dibuktikan dengan selembar ijazah atau gelar yang berderet panjang di depan atau di belakang namanya.

Karena banyak di negeri ini yang bergelar dan berijazah namun kualitas berfikirnya dipertanyakan. Pendidikan tinggi memang membantu memiliki kematangan integritas intelektual. Indikatornya adalah kemampuannya dalam menulis konsep, berbicara dan mendengarkan.

Kualitas intelektual para calon bisa dilihat ketika dia berpidato/kampanye. Apakah bahasanya baik dan berbobot, bisa menulis gagasan serta mau mendengarkan keluhan warga dan mencari jalan keluar.

Saya kira kebiasaan itu kelak akan menjadi wilayah kerja para calon pemimpin kita. Menurut saya integritas intelektual calon bupati dan calon wakil bupati berdampak pada output kebijakan pemerintah. Seperti kebijakan dan produk hukum yang tidak pro rakyat, banyak masalah publik yang terabaikan,anggaran yang tidak memihak kesejahteraan masyarakat. Padahal disisi lain, pihak eksekutif sudah terdidik dan terlatih dalam membuat kebijakan publik.

Integritas Sosial

Kriteria kedua adalah seorang calon pemimpin harus memiliki integritas sosial. Integritas ini untuk mengukur tingkat kepedulian para calon terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kepedulian ini tidak bersifat instan, ketika ada kepentingan politik menjelang Pilkada.

Baca Juga:  Kampanye di Miomaffo Timur, Masyarakat Cinta Kristiana Muki dan Yosef Tanu

Tetapi bisa dilihat kiprahnya di masyarakat, apakah sebelum dan sesudah menjadi calon bupati dan calon wakil bupati ada konsistensi perilaku kepedulian terhadap problem masyarakat.

Hal serupa bisa diukur bagi anggota DPR yang manggung, apakah sebelum dan selama menjadi anggota DPR tetap merakyat, memperjuangkan kepentingan umum atau tidak. Jika tidak, kesimpulannya dia bukan pejuang sejati tetapi seorang oportunis. Dengan kata lain, kita hanya sia-sia jika harus memilih kembali bupati, wakil bupati, atau caleg seperti itu.

Integritas Moral

Aspek lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah seorang cabup dan cawabup wajib memiliki intergritas moral. Persoalan moral erat kaitannya dengan pengamalan agama seseorang.

Seperti halnya kriteria bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa harusnya variable yang terukur, bukan sekadar bukti fisik Kartu Tanda Penduduk bahwa dia warga negara yang beragama.

Moral bisa dilihat dari pengamalan agamanya dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, masyarakat dan lingkungan kerjanya selama ini. Moral dalam kejujuran, keberanian membela yang benar, mengajak dan mengajarkan kebenaran, menegur dan mencegah kejahatan. Dengan sikap ini kita yakin seorang cabup dan cawabup akan konsisten memperjuangkan kebenaran demi kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh masyarakat Kabupaten TTU agar memanfaatkan kesempatan Pilkada mendatang memilih cabup dan cawabup yang betul-betul memiliki kapabilitas dan integritas yang tidak diragukan.

Coba bayangkan jika kita salah memilih lima tahun kita di Pilkada, maka lima tahun kita tidak mengharapkan apa-apa. Alangkah baiknya sebelum memilih calon bupati dan wakil bupati  terlebih dahulu memperhatikan kemampuan serta kapabilitas yang terukur. Oleh karena itu, seluruh kompetensi dan kapabilitas yang ada saat ini hanya pada Paket KITA SEHATI nomor urut 1, pasangan Kristiana Muki-Yosef Tanu yang diusung oleh Partai Nasdem. (*)

Penulis: Epiesty Xaritha Evinria Muda (Milenial TTU tinggal di Kefamenanu)