Sudah Berhenti dari ASN dan Kabag Umum TTU, Yosef Tanu Kini Kerja Kebun

oleh -4.772 views
Yosef Tanu (Mantan Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten TTU di bagian kanan) yang telah berhenti dari pekerjaan ASN dan jabatannya sedang mencabut rumput di Kebun Eden miliknya di Km 6, Maubeli, Kefamenanu, Kabupaten TTU, bersama Om Vikus dan Om Dolfus. Yosef Tanu kini menjadi Calon Wakil Bupati TTU mendampingi Kristiana Muki Calon Bupati TTU.

SOSOK, suluhdesa.com – Yosef Tanu yang menjabat sebagai Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sudah melepaskan jabatannya itu dan juga telah menyatakan berhenti dari Aparatur Sipil Negara (ASN). Pada Sabtu (29/08/2020) lalu, Kepala BKD TTU Fransiskus Tilis kepada wartawan mengungkapkan bahwa, pihaknya telah memproses surat pengunduran diri dari Yosef Tanu yang maju menjadi Bakal Calon Wakil Bupati TTU mendampingi Kristiana Muki Bakal Calon Bupati TTU dan diusung Partai Nasdem. Media SULUH DESA hari yang sama saat menghubungi Bupati TTU Raymundus Fernandes mendapat jawaban bahwa, surat pengunduran Yosef Tanu sedang diproses. Selain itu juga Yosef Tanu pada Kamis (06/08/2020) memutuskan untuk tidak dilantik oleh Bupati TTU sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa TTU.

Media SULUH DESA yang penasaran dengan aktivitas pria kelahiran Kampung Sipi ini usai berhenti dari jabatan Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten TTU dan pekerjaan pegawai negerinya mencoba mengintipnya pada hari Selasa (22/09/2020) pukul 05.00 Wita di Kebun Edennya di Km 6, Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari penginapan dekat Pasar Baru di Kelurahan Benpasi, Media SULUH DESA meluncur dengan kendaraan roda dua matic Yamaha Mio menuju Kebun Eden. Sebelumnya Media SULUH DESA telah melakukan janji dengan salah satu karyawan bernama Om Dolfus yang biasa membantu Yosef Tanu mengurusi kebunnya. Om Dolfus secara diam-diam mengirimkan pesan lewat WhatsApp kepada Media SULUH DESA pada pukul 04.30 pagi. Dari Om Dolfus diperoleh informasi bahwa Yosef Tanu sejak berhenti dari ASN dan jabatan Kabag Umum Setda Kabupaten TTU kembali berkebun dan hal itu dikerjakannya sejak pukul 5 pagi.

“Bapak biasa jam berapa turun kebun dari rumah itu?,” tanya Media SULUH DESA kepada Om Dolfus sehari sebelumnya, saat berjumpa di salah satu stand pameran di Lapangan Oemanu Kantor Bupati TTU.

Yosef Tanu dan pohon pepaya miliknya.

Kaka, biasanya Bapak Yosef itu bangun pagi langsung ke kebun jam 4.30 pagi. Kadang kami masih tidur Bapak Yosef sudah datang kasi bangun kami untuk siram pepaya,” jawab Om Dolfus.

Setelah mendengar keterangan singkat itu, Media SULUH DESA menyampaikan bahwa akan datang esok hari untuk memantau aktivitas Yosef Tanu, namun meminta pengertian Om Dolfus untuk tidak menyampaikan kepada Yosef Tanu tentang kedatangan media ini di kebunnya tersebut. Benarkah Yosef Tanu berkebun dan fokus dengan pertanian setelah dirinya tidak lagi berstatus ASN dan menjabat Kabag Umum Kabupaten TTU?

Benar saja. Di kebun yang luasnya 2 hektar itu tampak Yosef Tanu bersama Om Dolfus dan Om Vikus sedang bekerja. Udara pagi TTU yang dingin tidak menyurutkan semangat ketiganya untuk beraktivitas. Yosef Tanu yang mengenakan baju kaos kerah lengan panjang dan celana training biru nampak kaget saat mengetahui kedatangan Media SULUH DESA.

E mari sini adik. Aduh kenapa tidak kasi tau kalau mau datang. Terus kenapa pagi sekali. Kalau info mau datang kan kita bisa duduk saja minum kopi di rumah,” ucap Yosef Tanu sambil mengucapkan selamat pagi sambil bersalaman dengan Media SULUH DESA usai memarkir motor matic itu di depan pondok yang di tengah kebunnya.

Yosef Tanu yang pagi itu tersenyum ramah nampak kotor dan tangannya berlumuran lumpur. Ia menjelaskan kalau sedang menggemburkan pohon pepaya dan pisang sambil menyiram tanaman tersebut dengan air.

Media SULUH DESA sungguh merasakan keheningan yang mendalam di kebun tersebut. Sesekali beberapa ekor burung hinggap di pohon-pohon pepaya yang berbaris rapih dan berjumlah ratusan di kebun itu. Buahnya besar dan bergelantungan hingga menyentuh tanah. Sesekali juga sambil bercicitan riang mengimbangi mentari yang memerah tersembul dari ufuk timur, burung-burung itu hinggap di 1400 pohon pisang yang juga berjejer indah. Ada puluhan pohon yang sudah mengeluarkan tandannya.

“Kakak, sudah berhenti dari ASN dan berhenti dari Kabag Umum Setda TTU, aktivitas setiap hari apa?,” tanya Media SULUH DESA membuka percakapan.

Baca Juga:  Satgas Pamtas RI-RDTL Bersama SMAN Mutis Tanam Pohon

“Saat ini sudah dalam proses berhenti dari Pegawai Negeri Sipil dan berhenti dari jabatan Kepala Bagian Umum, jadi aktivitas harian adalah jadi petani. Saya kembali menekuni hobi saya yang selama ini saya jalani. Jadi yah, pagi saya bangun, lalu sarapan dan langsung menuju kebun ini layaknya para petani dan mencabut rumput di kebun, atau membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu pohon pepaya. Setelah itu jika ada jadwal pertemuan atau konsolidasi, saya lanjutkan dengan kegiatan konsolidasi tersebut. Jadi yah saya sekarang sudah fokus untuk mengurus keluarga, dan mengurus pertanian. Karena memang aktivitas kantor sudah tidak ada lagi. Jadi memang saat ini saya fokus ke situ, terutama bertani. Karena saya sudah punya waktu luang saat ini,” jawab Yosef Tanu sambil mengambil selang yang airnya sedang mengalir dan menyiram keatas pohon pepaya di hadapannya.

Yosef Tanu juga melanjutkan, kemudian dengan jadwal lagi pada hari Rabu (23/09/2020) akan ada penetapan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati oleh KPU TTU, setelah itu jadwal akan sangat padat sebab mulai dengan kegiatan kampanye, ia juga tidak akan meninggalkan aktivitas pertanian dan tidak merasa capek.

“Begini, sesuatu yang dilakukan dengan keinginan atau semangat rasa capek itu tidak biasa ada. Secara fisik ya mungkin rasa capek. Tetapi ketika spirit itu muncul dari dalam atau sesuatu yang kita kerjakan dengan hati biasanya hanya melewati sebatas rasa capek dan lain-lain. Jadi saya mau sampaikan, waktu saya masih sebagai pegawai, masuk kantor harus jam 7 pagi dan keluar jam 3 sore itu saja saya masih bisa bertani dan menghasilkan banyak uang dari hasil pertanian itu. apalagi saat ini. Ya mau jadwal tahapan pemilihan kepala daerah ini walaupun satu dua hari ini (tanggal 23 September 2020) sudah penetapan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati TTU, tetapi kan kebanyakan jadwal pertemuan itu mungkin siang ke sore. Pagi begitu saya tetap bertani dan berkebun. Jadi bagi saya tidak mengganggu sama sekali. Kemarin masih pegawai juga saya bertani. Sekarang sudah terjun di politik praktis juga saya tetap bertani seperti biasa,” urai bungsu dari empat bersaudara itu.

Suami dari Frydolin Marlin Dhae ini mengungkapkan juga aktivitas di kebunnya dari pagi saat ditanya oleh Media SULUH DESA.

“Pagi saya mengurus tanaman, seperti menyiram semua pohon pepaya, menggembur tanaman, mencabut rumput, merawat tanaman mungkin ada yang kena hama, saya merancang pupuk organik untuk pertumbuhan tanaman karena memang sejauh ini saya menggunakan pupuk organik. Dengan menggunakan pupuk organik ini kita ingin membiasakan pertanian yang murah dan ramah lingkungan. Jadi jangan sampai orang berpikir bertani itu harus mahal, beli pupuk kasi keluar uang banyak, padahal pupuk organik ada di sekitar kita. Tinggal kita ramu dan kita jadikan bahan untuk menyuburkan tanaman. Tidak perlu harus beli,” ujarnya.

Kepada Media SULUH DESA ia menceritakan kondisi kebunnya hari ini terutama hasil pertanian sambil mengangkat tumpukan rumput yang baru saja dicabut oleh Om Vikus sambil meminta Om Dolfus untuk mengecek pohon-pohon pepaya yang digerogoti semut.

“Saya kira untuk hasil pertanian ini sangat menjanjikan. Kami satu keluarga sudah merasakan dan mengalami sendiri hasil kebun kami ini. Karena kalau dikelola dengan baik, maka rejeki itu akan sangat baik. Saya ambil contoh, ketika saya menjabat Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten TTU, kurang lebih satu bulan gaji saya itu 5 juta rupiah. Tetapi kalau hasil dari pertanian ini yang saya geluti, yang ada selama ini rejekinya jauh lebih baik,” ucap Ayah dari 3 anak ini.

Yosef Tanu menyampaikan bahwa, hasil panenan buah pepaya setiap hari kalau rata-rata hasil dari penjualan itu 700.000 rupiah sampai 1.000.000 rupiah.

Baca Juga:  Cegah DBD, Satgas Pamtas RI-RDTL Bentuk Tim Juru Pemantau Jentik

“Maka kalikan saja selama 30 hari. Bisa tiga kali lipat dari gaji PNS saya. Itu baru pepaya, belum dari pisang, sayur-sayur, dengan yang lain. Jadi pertanian ini sangat baik kalau dikembangkan oleh masyarakat TTU sebab memiliki prospek yang sangat bagus kedepannya. Saya kira kita di TTU masih terbuka peluang besar sekali, karena dimana-mana itu banyak lahan tidur milik masyarakat,” urainya.

Pemilik nama lengkap Yosef Tanu Naibobe ini menegaskan, jika ini merupakan tanggung jawab moral untuk orang yang mengerti untuk bisa memotivasi saudara yang lain dan memberi teladan.

“Karena saya mau sampaikan dan perlu diingat bahwa, orang TTU ini kalau hanya omong sa dia akan dengar pakai telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Tetapi kalau dia lihat kita buat dulu, pasti dia akan ikut. Nah, kalau mau jadi pemimpin dan hanya bisa omong, lebe bae na barenti. Untuk mengubah karakter masyarakat kita itu sangat sulit kalau hanya diomong-omong sa. Kan begini, orang TTU ini sering orang istilahkan orang TTU sebagai kelompok Thomas, yang seperti di dalam Alkitab itu tidak percaya sebelum lihat dulu. Orang TTU ini kalau hanya mau dengar pemimpin yang hanya jago main kata itu sulit mereka ikut. Yah, puji Tuhan, kebetulan aktivitas pertanian yang kita lakukan selama ini yah tentu ini menjadi hal baik untuk saya harus lanjutkan terus. Bukan berarti karena berpolitik terus meninggalkan hal yang sudah saya lakoni bertahun-tahun. Saya tetap lanjutkan ini,” tegasnya.

Media SULUH DESA menyinggung jikalau banyak masyarakat yang menyampaikan bahwa kegiatan pertanian yang Yosef Tanu lakukan itu hanya sebuah pencitraan, dengan lucunya ia tertawa dan menjawab.

“Apa pencitraan? Hehehehehehe. Saya tertawa dulu adik. Hehhehehe. Saya dengar saya merasa lucu. Saya bertani dari saya masih bujang. Ketika baru tamat dari STPDN dengan umur waktu itu 24 tahun pada 2004 yang lalu, saya sudah jadi pegawai dengan posisi Golongan III, itu saya sudah mulai berkebun. Bahkan dalam media yang pernah menulis sebelumnya itu kan ketika setelah saya menikah ada rumah kontrakan yang saya kontrak itu penuh dengan padi dan kacang tanah. Itu semua hasil kebun yang saya olah bersama istri saya Frydolin Marlin Dhae,” kisahnya.

Putra dari Bapak Silvester Atini Naibobe dan Mama Elisabeth Nesi itu menceritakan, setelah ia menjual hasil pertaniannya, uang yang didapat sangat banyak sehingga ia dapat membeli tanah dan membangun rumah tempat ia tinggali bersama keluarga. Sisanya membayar yang lain dari hasil pertanian itu.

Mantan Camat Noemuti Timur ini menambahkwan, waktu ia masih bujang ketika baru tamat STPDN ia tidak merasa gengsi sedikit pun untuk berkebun. Menurutnya, mungkin yang lain akan merasa gengsi, apalagi pegawai muda dengan Golongan III mau raba tanah di kebun, tetapi baginya tidak. Karena memang dasarnya itu adalah hobinya.

“Itu tahun 2004. Lalu hari ini saya menikmati hasil yang sudah saya lakukan dan orang mengatakan bahwa itu pencitraan, masa saya lakukan pencitraan selama 16 tahun? Hehhehehehe. Itu lucu sekali ya. Itu kan kerja konyol hanya mau cari hal namanya. Kalau orang berpikir begitu kan itu mungkin otaknya yang penuh dengan hal pencitraan atau suka mencibir dengan hasil kerja orang lain. Lalu saya mengikuti tahapan pencalonan ini jadi Calon Wakil Bupati TTU mendampingi Ibu Kristiana Muki sebagai Calon Bupati TTU baru tahun 2020 ini. Masa sebut pencitraan untuk hal yang sudah saya lakukan bertahun-tahun lamanya,” ujarnya dengan tawanya yang berderai.

Saat disinggung mengenai tambak ikan miliknya di Pantai Utara Wini, Yosef Tanu menjawab, “kalau tambak ikan milik saya di Wini itu tidak perlu terlalu repot karena sudah berjalan alami. Tambak ikan itu setelah kita lepaskan ikan, atur pengairannya, sehingga tidak perlu merepotkan kita sama sekali. Hanya memang ada yang jaga disana. Saya urus tambak itu juga tetapi kalau waktu senggang baru saya kesana untuk kontrol. Yang perlu perhatian ekstra ya ini kebun saya. Karena memang pertanian ini tidak bisa setengah-setengah apalagi saat musim panas begini. Kalau kerja setengah-setengah saya pastikan semua tanaman mati dan tidak menghasilkan,” tandasnya.

Baca Juga:  Satgas Pamtas RI-RDTL Bersama Masyarakat Bangun Bak Penampungan Air Bersih

Calon Wakil Bupati TTU yang mendampingi Kristiana Muki sebagai Calon Bupati TTU tersebut menegaskan bahwa, jika terpilih menjadi Wakil Bupati TTU mendampingi Kristiana Muki sebagai Bupati TTU, antara waktu tugas memimpin roda pemerintahan dengan pertanian yang sudah digeluti ini, akan dapat mengatur dengan baik dan tidak akan meninggalkan kebunnya.

“Jika terpilih menjadi Wakil Bupati TTU mendampingi Ibu Kristiana Muki sebagai Bupati TTU, itu tugas yang bagi saya adalah amanat rakyat yang tidak bisa ditawar. Saya akan laksanakan tugas itu dengan maksimal. Tetapi minta maaf, untuk soal pertanian ini saya akan tetap lanjutkan. Bahkan, kemarin seandainya tidak terlibat dalam Pemilihan Kepala Daerah TTU ini pasti saya sudah menggarap kebun modern bernama Kebun Eden 2. Itu terletak di kampung saya, di Desa Nansean, ada lahan yang sudah kita siapkan sekitar 30 an hektar untuk kita garap. Hanya karena memang sudah terlibat disini, waktu sedikit terkuras untuk memulainya. Terpilih menjadi dalam pilkada ini atau tidak terpilih, Kebun Eden 2 pasti akan saya kerjakan sendiri. Pemilu ini kan tanggal 9 Desember 2020, setelah itu agak free kan. Nah saya akan kerjakan kebun itu,” tutur Yosef Tanu sambil mengajak Media SULUH DESA menikmati kopi pagi di tengah kebun itu yang telah diseduh Om Vikus di pondoknya.

Di akhir pembicaraan, Alumni STPDN Jawa Barat itu mengungkapkan kalau ia tidak malu jika sudah memiliki jabatan sebagai Wakil Bupati TTU nanti jika terpilih dan masih harus mengurus kebun.

Yosef Tanu sedang menyirami pohon pepaya miliknya.

“Ah itu biasa-biasa saja. Hehehhehee. Jadi Wakil Bupati TTU dan turun ke kebun setiap hari pegang pacul tanah malu untuk apa? Wakil Bupati TTU itu kan hanya jabatan sementara itu. itu kepercayaan sesaat dari masyarakat TTU. Bagi saya, melakukan hal yang positif tidak akan mengurangi sama sekali wibawa atau harga diri. Sama sekali tidak itu. Bagi saya juga itu kesempatan baik. Kalau Tuhan berkenan dan merestui saya bersama Ibu Kristiana Muki sehingga terpilih nanti, saya akan memaksimalkan potensi yang ada pada saya untuk bekerja bagi semua masyarakat TTU,” tekatnya.

“Optimis menang dalam pertarungan Pilkada TTU ini?,” tanya Media SULUH DESA.

“Ya kami optimislah. Masa saya maju bertarung untuk kalah. Hari ini boleh catat, saya punya perhitungan kami akan menang dengan skor 55 sampai dengan 62 persen. Silakan dicatat. Kalau nanti nilainya meleset dari situ, itu bisa lebih besar lagi. Paket KITA SEHATI akan menang di kisaran itu tertinggi 62 persen. Kecuali Tuhan tidak restui, tetapi hitungan manusia kita menang. Saya percaya bahwa ini jalan Tuhan. Karena saya dan Ibu Kristiana Muki tidak pernah mengemis atau pikul map dari partai ke partai. Ini penilaian bebas dari Partai Nasdem sehingga memilih kami berdua dan mencalonkan kami dalam proses pilkada ini. Bagi saya ini sebuah kehormatan yang harus saya laksanakan dengan maksimal, sehingga tidak akan mengecewakan kepercayaan besar yang telah diberikan kepada saya dan Ibu Kristiana Muki oleh Partai Nasdem dan masyarakat TTU,” pungkasnya.

Yosef Tanu juga berkata bahwa Paket KITA SEHATI lebih layak memimpin TTU. Pihaknya datang dengan hati untuk membangun TTU ini. Ketika diminta, yang muncul adalah tanggung jawab moral untuk bagaimana membawa daerah ini semakin maju kedepan. Yosef Tanu yakin sekali bahwa Paket KITA SEHATI (Kristiana Muki dan Yosef Tanu) yang terbaik untuk memimpin Kabupaten TTU ini. (fwl/fwl)