Hidup Bermula dari Bunyi dan Berakhir pada Sunyi

oleh -387 views
Puitik Natur, akan merilis singel Song Poetry Kembali Ke Tanah Damai, Adonara Tanah Mahar Gading, Adrian Mere Featuring Bara Pattyradja.

SASTRA, suluhdesa.com – Puitik Natur, akan merilis singel Song Poetry Kembali Ke Tanah Damai, Adonara Tanah Mahar Gading, Adrian Mere Featuring Bara Pattyradja. Serial musik puisi ini mengusung konsep sinematografi dengan menyajikan folklor budaya dan kosmologi alam Lamaholot yang eksotis dan magic.

Melalui gema puisi dan nada nada ritmis, keindahan lekuk pesona alam Flores Timur dieksplorasi secara visual dan artistik.

Rudy Tokan, salah satu pendukung agenda kultural ini, menyatakan bahwa “puitik natur edisi song poetry ini telah secara sungguh-sungguh membentangkan jembatan imaji puak-puak Lamaholot untuk kembali meniti identitas lokal yang telah lamur digerus arus zaman. Semoga melalui seni dan budaya, kita kembali memanusia, kembali menjadi Ata Diken yang luhur dan luhung serta menanggalkan egoisme purba yang kadang menjadi sumber konflik horizontal.”

Baca Juga:  Aku Hanya Segenggam Debu

Si Kerongkongan Ajaib, Adrian Mere akan padu padat feat Bara Pattyradja dalam duet manis tembang puisi. Diiringi petikan dawai sang gitaris Pengki. Ina Bine Lewo Tanah dimodeli Tanti Atamukin & Dian Samsara. Penata rias Sumiyati & Nadien Atakoza. Koreografi akan menampilkan generasi milenial dari Komunitas Baca Masdewa Watololong.

Video Clip profesional ini didirect frame_project12 dinahkodai Wilfridus Ero.

Baca Juga:  Wakil Gubernur Ajak Masyarakat Mexico Kunjungi Pariwisata di NTT

Agenda kultural ini didukung secara swadaya personal oleh Frans Lebu Raya, AYOart&culture, Umar Ahmad (Bupati Tubaba, Lampung), Fahd Pahdepie (Amanat Institute), Apolonia Corebima, SuaraMIRAL, Rudi Tokan, Emanuel Kolfidus, Stef Ola Demon, Hasan Basri, Muhamad Mahlin dan Komunitas Baca Masdewa sebagai squadron Koreo Puitik Natur.

Bara Pattyradja, saat dihubungi secara terpisah mengungkapkan bahwa “semoga karya ini dapat memantik energi kreatif generasi muda NTT dan masyarakat Adonara khususnya dalam berkesenian.”

Baca Juga:  Semua Pihak Harus Menghapus Praktik Prostitusi di NTT

Bara menambahkan, “paling insidental, kita mengajak orang-orang bernyanyi dan berpuisi. Kita ajak orang-orang untuk mengambil jeda sejenak. Merefleksikan apa makna menjadi manusia Adonara, menjadi Lamaholot, menjadi Flores, menjadi NTT bahkan menjadi Indonesia.”

“Saya percaya, seni adalah sebuah jalan untuk menciptakan perdamaian. Sebab bersengketa bukan kodrat yang dilegacykan para leluhur di tanah ini,” tutup Bara Pattyradja. (fwl/viona)