Kristiana Muki; Saya Jadi Cabup TTU, Tidak Mau Didikte Suami Saya Sendiri

oleh -4.406 views
Kristiana Muki (Calon Bupati Timor Tengah Utara) yang didampingi Yosef Tanu (Calon Wakil Bupati Timor Tengah Utara).

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Periode 2020-2024 kian memanas. Masing-masing pasangan calon terus melakukan upaya konsolidasi untuk meraih dukungan dari akar rumput. Demikian pun dengan pasangan Kristiana Muki dan Yosef Tanu yang didapuk oleh Partai Nasdem untuk bertarung di Pilkada TTU 9 Desember mendatang sebagai Calon Bupati TTU dan Wakil Bupati TTU. Kristina Muki yang adalah seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dapil II NTT ini menjadi representasi kaum perempuan di Bumi Biinmaffo untuk meraih kursi 01 TTU. Sedangkan Yosef Tanu adalah perwakilan orang muda TTU yang memiliki segudang prestasi dalam birokrasi. Seperti apa komitmen Kristiana Muki dalam kontestasi politik ini? Simak hasil wawancara Media SULUH DESA (MSD) bersama Kristiana Muki (KM) di kediamannya di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Selasa (25/08/2020) petang.

MSD; Bagaimana anda awalnya ditunjuk oleh pihak Partai Nasdem untuk menjadi Calon Bupati TTU Periode 2020-2024?

KM; “Saya tentunya tidak menginginkan. Yang pertama, itu berbicara dari hati nurani. Karena sesuai dengan yang saya sudah sampaikan dalam pernyataan saya di media tahun lalu sekitar Bulan Oktober dan November, bahwa saya tidak akan balik lagi (mencalonkan diri menjadi Bupati Kabupaten TTU, red). Apa yang sudah saya sampaikan ke masyarakat, itu yang saya lakukan. Saya konsisten. Tetapi diluar dugaan kita, beberapa waktu yang lalu kurang lebih Bulan Maret, setelah saya kembali untuk melakukan reses di TTU bersamaan dengan kegiatan Pak Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dalam rangka Tanam Jagung Panen Sapi, sehingga saya juga mendampingi beliau. Sementara berada di ruang Bupati TTU, Pak Gubernur berkata, beliau Ibu Kristin ini siap sudah untuk maju di Pilkada TTU. Waktu itu saya mengatakan, Kak, jangan saya. Kalau bisa orang lain saja. Intinya bukan saya. (Karena disitu dalam pikiran saya terbersit pikiran bahwa, orang akan berbicara ini Pak Ray rakus jabatan, sehingga habis dia sekarang istrinya lagi yang mau jadi Bupati TTU. Ini kira-kira ada sesuatu yang terselubung di baliknya). Waktu itu saya langsung katakan, sebaiknya jangan. Berikan saja kesempatan untuk orang lain. Jadi beliau jawab begini. Jangan. Ini berdasarkan hasil survey. Hasil survey untuk sementara Ibu Kristin yang unggul. Jadi dari Partai juga melihat hasil survey yang telah terjadi ini. namun saya menjawab Pak Gubernur. Itu betul hasil survey. Akan tetapi lebih baik dan bijaksana kalau itu diberikan ke orang lain supaya kami jangan menjadi bulan-bulanan orang. Nah karena keputusan Pak Gubernur yang tetap berkeras, ya kami jalani saja. Setelah pulang tugas dari desa-desa, Pak Gubernur sampaikan lagi. Di TTU ini, tahun ini kami dari Partai Nasdem dorong perempuan untuk maju jadi Bupati. Salah satunya ya ini. Ibu Kristina Muki ini. akan tetapi saya masih menjawab, jangan saya Pak Gub. Kalau orang lain saya akan kerja habis-habisan untuk dukung. Saya all out untuk orang yang akan menjadi Bupati itu. saya juga akan kerahkan semua hal untuk memenangkan siapapun yang diusung untuk menggantikan Pak Ray. Nah, sambil berjalan, saya juga tidak berpikir lagi soal itu. apakah harus kembali untuk menjadi Bupati TTU. Dan pemikiran saya, apapun yang terjadi, baik itu keputusan Partai Nasdem atau dorongan masyarakat, maka saya siap dicalonkan jadi Bupati TTU. Saya kemudian berpikir, saya harus siap jika saya harus kembali ke TTU. Oleh karena itu saya bergulat dan bergumul minta petunjuk Tuhan. Sehingga baru akhir Bulan Juni, lewat virtual Ibu julie Laiskodat menyampaikan bahwa untuk Pilkada TTU itu Ibu Kristin yang harus maju jadi Bupati TTU. Karena didesak terus menerus oleh Pak Gubernur dan diminta oleh DPP Nasdem, maka saya membuat keputusan. Apapun itu yang diputuskan, saya siap maju dalam Pilkada TTU kali ini. sehingga SK-nya keluar tanggal 10 Agustus 2020 lalu, mau tidak mau saya harus kerja. Akan tetapi dalam perjalanan ini saya baru sampaikan ke keluarga-keluarga saja di kota dan beberapa desa.”

MSD; Setelah itu apa yang anda lakukan?

KM; “Setelah saya bergumul dan menyanggupi untuk maju, saya pergi menyampaikan ke semua keluarga. Yah, kurang lebih baru 6 titik yang saya pergi sampaikan niat saya ini. tetapi teman-teman di desa-desa juga sudah lakukan konsolidasi lewat Gerakan Perempuan. Sesungguhnya saya berat juga ya. Tetapi di sisi lain, malah perempuan-perempuan itu juga yang membentuk tim sendiri untuk mensupport masyarakat sendiri. Mereka sendiri yang melakukan konsolidasi, bahwa kali ini harus perempuan yang jadi Bupati TTU. Sehingga saya juga heran ya, kok bisa banyak sekali dukungan untuk saya.”

MSD; Apa yang anda mau buat di Kabupaten TTU sedangkan posisi anda sudah bagus di Senayan?

KM; “Bawaan saya kalau bicara harus kembali ke TTU, saya pasti akan selalu menangis. Karena memang saya berpikir, mengapa? Tetapi saya harus kuat. Banyak perempuan di TTU yang ternyata membutuhkan perhatian. Nah saat saya kembali ke TTU ini, perempuan-perempuan yang merindukan ini, membentuk tim sendiri untuk menyosialisasikan Paket KITA SEHATI. Ternyata banyak perempuan yang mendukung saya. Makanya saya harus kuat karena saya yang mewaliki mereka dalam pilkada ini. saya harus tegar dan berani. Ada banyak isu miring, mengapa saya harus maju menjadi Bupati TTU? Ya mau bilang apa. Keputusan partai sudah jelas ya mau bagaimana. Saya harus maju. Apalagi saya didampingi Adik Yosef Tanu. Mengapa tidak? Saya juga kuat karena seorang Yosef Tanu. Yosef Tanu itu pekerja. Ditambah lagi karena kami juga pekerja, maka hati saya yakin untuk maju dalam pilkada ini.”

MSD; Anda yakin bahwa anda mampu memimpin di Kabupaten TTU?

Baca Juga:  KPU NTT: Pemilu 2019 Angka Partisipasi 80 Persen

KM; “Saya yakin TTU bagus di tangan kami. Walaupun banyak yang bilang kami masih abu-abu, masih gelap. Keyakinan tersendiri kalau memang Tuhan mau pake saya, yah saya terima. Saya menjadi pribadi yang lebih tenang lagi tidak seperti awal-awal sebelumnya. Apalagi adik Yosef Tanu sudah bekerja all out, teman-teman perempuan juga mereka all out bekerja, mereka menyosialisasikan sendiri tentang Paket KITA SEHATI. Mereka mendukung saya. Mereka mendukung harus perempuan. Akhirnya saya berpikir ya maju saja  Buat saya jadi semangat, jadi saya berpikir kenapa tidak? Yah kita maju saja. Kita  berharap setelah pembukaan pendaftaran tanggal 4, 5, dan 6 September ini, kita rencana daftar yang terakhir sekalian rencana terima SK dari DPP sekalian deklarasi.”

MSD; Ada yang sampaikan bahwa anda “turun kelas” dari Senayan ke TTU. Tanggapan anda?

KM; “Menurut saya di pusat atau di daerah bagi saya itu adalah panggilan. Ada yang mengkategorikan kelas di atas atau kelas di bawah, saya tidak melihat itu atau mengklasifikasi seperti itu. Saya melihat bahwa ini panggilan dan tanggung jawab baik di pusat atau di daerah. Oleh karena itu, saya tidak melihat sesuatu yang membuat saya untuk kerdil. Tetapi itu adalah semangat untuk saya bisa berbenah diri lagi untuk ke depannya. Ini adalah cambuk untuk bisa keluar dari situ. Saya katakan pada teman- teman, saya siap menjalani ke depan. Soal turun kelas saya tidak mau berkomentar seperti itu. Ini adalah amanah yang harus kita jalani.”

MSD; Lalu program kerja apa saja yang anda dan Yosef Tanu lakukan jika terpilih oleh masyarakat menjadi pemimpin TTU?

KM; “Program yang akan kami buat yaitu; yang minimal di setiap OPD ada program yang tidak bias gender. Kalaupun tidak ada kita minta harus ada. Pertama yang saya lihat masih banyak lintas OPD yang sangat ego ketika ada anggaran khusus yang diplotkan khusus perempuan. Beberapa waktu yang lalu saya mendorong teman-teman perempuan dan aktivis perempuan. Ini harus dilakukan melalui teman-teman di OPD yang atur. Saya mendorong supaya setiap OPD harus ada program yang tidak bias gender. Minimal pemberdayaan perempuan itu harus ada dan kita harus kawal. Bicara tentang pengalokasian dana, masih sangat kecil tetapi kalau untuk kelompok perempuan, tenun ikat anggarannya sangat kecil. Saya menginginkan ada kelompok anak-anak muda yang minimal habis kuliah jangan hanya menambah jumlah pengangguran saja tetapi ketika ada lapangan pekerjaan kelompokan mereka sesuai minat dan bakat mereka lewat OPD terkait sehingga anggaran terserap. Jangan sampai kita hanya mengajarkan tetapi kita tidak menyiapkan fasilitas. Ini kita berusaha untuk memfasilitasi mereka sesuai apa yang diinginkan masyarakat. Kita juga menginginkan di Kabupaten TTU membuka atau membangun satu gedung sehingga bisa kita minta untuk melakukan pelatihan-pelatihan berdasarkan apa yang dimiliki perempuan- perempuan. Kedepan, dengan gedung yang sudah ada kita memfasilitasi untuk mereka lebih maju lagi.”

MSD; Sekarang saatnya TTU butuh sentuhan tangan seorang perempuan dan seorang ibu. Tanggapan anda?

KM; “Yah kalau melihat persoalan-persoalan yang terjadi, sebagai seorang ibu, saya harus sanggup dan bisa melihat semua apapun yang terjadi. Minimal kita memberikan respon yang baiklah untuk mereka (masyarakat, red) sehingga mereka pulang dengan harapan. Sebagai seorang ibu tidak mungkin bawa anak-anak masuk jurang. Yang pasti terbaiklah yang kita berikan.”

MSD; Sebagai seorang ibu di dalam rumah tangga dan sebagai seorang istri, anda sanggup membagi waktu jika terpilih sebagai Bupati TTU?

KM; “Kalau soal membagi waktu itu sudah biasa. Belajar dari pengalaman Bapak Ray selama 2 periode ini tentu membagi waktu harus bisa untuk semua. Di sisi lain sebagai istri dan ibu di dalam keluarga tentu saya harus bisa memanage dengan baik sehingga waktu yang diberikan untuk masyarakat itu tidak boleh kurang. Itu harus menjadi prioritas. Baik di rumah maupun di masyarakat harus jadi prioritas. Saya bersyukur punya suami dan anak-anak yang tidak terlalu ribet mengurus diri sendiri. Tanpa ada saya atau tidak adapun mereka dapat melakukannya sendiri. Saya belajar dengan ketidakhadiran saya, waktu saya di senayan berjalan seperti biasa. Bagi saya tidak terlalu ribet dalam urusan membagi waktu. Buat saya masyarakat harus menjadi prioritas dan utama.”

MSD; Pernah terpikirkan sebelumnya bahwa anda akan menjadi Anggota DPR RI dan saat ini menjadi Calon Bupati TTU?

KM; “Saya tidak pernah membayangkan bahwa satu saat saya akan seperti ini, tetapi saya selalu percaya kepada Tuhan bahwa, ketika Tuhan mau mengirim seseorang, Dia sudah mencatat semuanya. Sehingga mau cepat atau lambat semua akan sampai ke arah situ. Saya dikirim ke sini suatu saat  akan mengarah ke sana karena ini semua rencana Tuhan.”

MSD; Bagaimana anda melihat persoalan kepemimpinan perempuan di TTU secara khusus?

Baca Juga:  Dr. Yohanes Bernando Seran, SH., M. Hum; Tidak Ada Larangan Bagi ASN untuk Berpolitik

KM; “Saya berpikir semua perempuan di TTU punya kemampuan dan talenta. Siapapun dia tinggal bagaimana caranya orang itu mengembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan. Dalam artian, ketika saya diberi kesempatan oleh masyarakat TTU untuk memimpin TTU ke depan, yang kita lakukan juga adalah kuota perempuan dan laki-laki minimal harus berimbang. Kita memberi kesempatan atau porsi buat mereka (perempuan, red) karena saya yakin siapapun dia akan bisa. Yang laki-laki ketika diberi tanggung jawab juga bisa. Apalagi perempuan. Kita jangan sampai perempuan makan perempuanlah. Jangan  sampai kita diberi kesempatan kita mendiskreditkan kaum kita sendiri. Kita berikan kesempatan kepada mereka, kalau salah kita ingatkan mereka. Satu kali berbuat salah kita ingatkan. Kita melihat sampai kapan dia berubah. Ini menjadi cambuk untuk saya mengubah itu. Saya yakin semua perempuan bisa.”

MSD; Majunya anda dalam bursa Pilkada TTU memantik reaksi banyak pihak yang menjadi rival anda. Banyak yang mengungkapkan bahwa ini membuat dinasti politik di TTU. Yang lain bahkan mengatakan bahwa anda mau meneruskan kekuasaan Pak Ray Fernandes. Tanggapan dan sikap anda?

KM; “Kalau saya, berbicara soal dinasti, saya mau katakan seperti ini, setiap kabupaten berdiri atau terbentuk dengan regulasi aturan undang-undang. Berbeda dengan satu kerajaan. Yah tentunya setelah raja, pasti istrinya, anaknya, adiknya dan langsung dikukuhkan hari itu dan tidak ada yang memprotesnya. Bagi saya itu yang dinasti. Kalau ketika dikaitkan dengan politik yang sekarang, lalu orang katakan dinasti, itu berbeda. Karena saya melihat berdasarkan rujukan regulasi dan aturan. Lain halnya setelah Pak Ray langsung tunjukkan ke saya dan dilantik. Ini kan tidak. Saya ini mengikuti proses dan saya ikut dalam kontestasi ini. Lain halnya saya tidak pernah mengikuti dan langsung dilantik. Ini kan tidak. Saya mengikuti proses tahap demi tahap dalam pesta demokrasi untuk menentukan satu pilihan yang terbaik. Kalau orang lain mengatakan dinasti, tidak mau turun dari kekuasaan. Kalau saya adalah orang yang tidak mau didikte oleh orang lain walaupun itu suami saya sendiri. Saya ingin menjadi pribadi yang mandiri dengan segala kemampuan yang saya miliki. Saya dilengkapi dengan Adik Yosef Tanu. Kami saling melengkapi. Kalau kami tidak bisa, tentu kami dibantu dinas teknis terkait soal visi-misi kami.”

MSD; Bisa anda lebih konkrit dan memperjelas?

KM; “Yang jelas saya mengikuti proses ini. Saya ikut kontestasi dan masyarakat yang akan menentukan tanggal 9 Desember nanti. Apakah saya lolos atau tidak? Saya  mau bertanya letak dinasti sesunnguhnya itu ada dimana? Kalau hanya surat rekomendasi saya dengan Pak Ray tidak menginkan untuk kami maju. Tetapi  kembali lagi pada hasil survey oleh  lembaga-lembaga yang ditunjuk. Atas dasar survey itu maka partai menunjuk dan kebetulan yang ditunjuk itu istri dari bupati. Untuk saya bukan mau meneruskan kekuasaan. Untungnya apa? Saya berpikir praktis. Bulan Juli saya diberitahu oleh Ibu Julie Laiskodat, saya dan keluarga menangis. Saya berpikir orang nanti akan berpikir begini, habis suami istri lagi. Tetapi setelah berjalan, saya mengatakan bahwa kecuali saya tidak mengikuti proses-proses dari tahapan pilkada ini. Saya mengikuti ini semua. Jadi kalau mau dibilang dinasti ini, dinasti yang seperti apa? Tolong tunjukkan ke saya. Jangan sampai hanya karena rekomendasi itu jatuh ke saya lalu orang mengatakan ini dinasti. Saya katakan, kalau tidak direkomendasi pun saya juga akan kerja.”

MSD; Mengapa kalau bicara tentang dinasti politik, anda selalu menangis?

KM; “Yah kalau berbicara dinasti mata saya berkaca-kaca karena saya merasa kenapa selalu diidentikkan dengan dinasti. Saya hanya mau minta teman- teman  tunjukkan. Ini pemilihan kepala daerah yang hanya karena bertepatan saat ini Pak Ray suami saya menjabat Bupati TTU lalu hasil survey juga kita yang tertinggi lalu rekomendasi juga ke kita, terus orang mengatakan itu dinasti. Saya bilang bisa saja protes ke DPP kan. Bagi saya tidak direkomendasi, saya tidak rugi. Bagi saya lebih baik memilih ada disana (di Senayan, red) karena saya juga belajar.”

MSD; Mengenai banyak isu miring yang menerpa anda selama ini?

KM; “Benar. Banyak sekali isu miring yang ada sampai muat di media. Nah saya mau sampaikan begini. Untungnya apa buat saya dan Pak Ray bekerja lalu ambil ini masuk kantong pribadi. Atau saya juga ikut sampaikan ke Pak Ray bahwa ini yang harus saya urus, saya tarik masuk ke saku saya seperti yang sekarang diberitakan. Saya bukan tipe perempuan seperti itu dan tentu hidup saya berbeda.”

MSD; Anda yakin akan dipilih masyarakat TTU?

KM; “Masyarakat yang akan memilih dan kalau masyarakat memilih saya, yah jangan marah saya, tetapi marah kepada masyarakat kenapa harus pilih dia? Artinya selama ini tentang saya dan Pak Ray masih membekas di hati mereka. Contohnya saat saya maju legislatif itu, saya bekerja setelah mama saya 40 hari. Tidak sampai satu bulan saya bekerja dan Pak Ray tidak membantu kalau untuk di TTU. Lebih banyak beliau membantu  di wilayah TTS. Saya lebih banyak jalan. Itu juga keluar dengan suara 46.000. Itu tidak sampai satu bulan. Itu artinya masyarakat tidak melihat orang seperti ini atau itu. tetapi kebaikan seseorang itu akan dihitung. Kalau saya prinsipnya sederhana. Saya menabur maka saya akan menuai di saat yang tepat. Hal sederhana tapi akan sangat membekas.”

MSD; Jika terpilih anda akan total bekerja untuk masyarakat dan pembangunan Kabupaten TTU?

Baca Juga:  Pilkada Ngada: Warga Belum Terima Informasi Siapa yang Bakal Dipilih

KM; “Kalau saya total untuk masyarakat. Walaupun orang melihat selama 10 tahun ini tidak buat apa- apa. Saya mengatakan kepada mereka bahwa apapun yang saya buat tidak perlu orang lain tahu. Tetapi apa yang saya buat berdasarkan program yang sudah diberikan kepada saya. Karena saya selama ini lebih banyak mendampingi Pak Ray sebagai bupati untuk PKK, Dekranasda, PMI. Maka mau tidak mau harus bergandengan tangan. Saya mau katakan, program kerja kami tidak diintervensi orang lain kami tetap bekerja dan berproses sesuai anggaran yang diberikan kepada kami dan lebih banyak itu kita berikan ke masyarakat. Biaya perjalan dinas juga kita kecilkan, pelatihan-pelatihan lebih banyak ke perempuan dan remaja putri dengan menjahit. Setelah itu kita beri mesin jahit, mesin obras, pelubang kancing, sehingga mereka bisa berkreasi. Saya sering beri motivasi untuk remaja putri sudah hampir 3,5 tahun. Saya lakukan seperti itu khusus kursus menjahit bagi anak-anak yang putus sekolah. Dengan pelatihan 2 sampai 3 minggu sampai betul-betul bisa. Kita fasilitasi untuk bisa mandiri. Jadi ini program yang rutin. Juga program pengolahan pasca panen itu juga kami lakukan. Kita mengidentifikasi di desa itu dia lebih banyak atau keunggulannya apa. Dari Dekranasda melakukan pelatihan. Jadi kalau orang bilang tidak pernah berbuat, coba kita turun ada kegiatan di desa ada banyak aneka olahan dan itu tidak mungkin dia belajar sendiri pasti ada dari tangan orang yang membimbing.”

MSD; Soal pemberdayaan kaum perempuan lewat tenun ikat di TTU. Apa yang akan anda lakukan?

KM; “Soal tenun ikat di TTU, kami bergandengan tangan dengan OPD terkait juga dengan teman-teman di Provinsi NTT. Kami  minta pelatihan pembuatan sepatu dengan motif NTT. Itu sudah berjalan dari tahun lalu. Kelompok-kelompok itu sudah berjalan. Ada pelatihan pembuatan asesoris atau tas walaupun hasil jual belum semua. Akses beli di kabupaten masih murah. Kita menjual dengan 200 ribu rupiah saja itu sudah mahal sementara kita bawa keluar kita jual dengan  250 ribu rupiah dikatakan sangat murah. Mengapa dijual murah. Ini kurang promosi. Sehingga setiap tahun kita bawa di pameran. Apapun yang dibawa, pulang pasti habis terjual. Saya selalu mendorong lewat Perindag untuk menyiapkan anggaran bagi teman-teman pengrajin. Kita bawa baik ke pusat, atau di luar negeri yang kita titipkan lewat Ibu  Julie Laiskodat.”

MSD; Mengapa anda memilih Yosef Tanu menjadi pasangan anda menjadi Calon Bupati TTU?

KM; “Saya memilih Yosef Tanu sebab dia itu cerdas, anak berwibawa, kebapaan tinggi, walaupun umur dibawah saya jauh. Itu saya melihat dia sejak Pak Ray jadi Wakil Bupati. Kala itu masih muda, bergerak cepat dan selalu siap jika dibutuhkan. Adik Yosef Tanu punya pemikiran loncatan. Ketika saya baru berbicara dia sudah duluan lakukan. Lalu dalam memimpin TTU ini, saya butuh tumpangan yang kuat. Kemudian Yosef Tanu ini dari hal-hal kecil dia serba bisa. Seorang Yosef Tanu bisa masak, mengurus anak, mencuci, setrika pakaian. Kalau urusan yang kecil di rumah tangga saja dia bisa, tentu urusan besar di masyarakat banyak beliau bisa. Yah kami saling melengkapi dalam segala hal.”

MSD; Anda yakin menang dalam Pilkada TTU 9 Desember mendatang?

KM; “Saya yakin menang. Karena saya tahu anak muda luar biasa akan  melihat yang terbaik sehingga saya optimis menang.”

MSD; Strategi politik apa yang tim anda sudah lakukan selama ini?

KM; “Strategi yang dibangun sederhana saja. Intinya kita mau bersama- sama dengan masyarakat. Kita mau memenangkan hati rakyat dengan cara bebuat hal yang kecil. Apapun akan membekas di hati mereka. orang akan melihat apa yang dibuat, jadi kebaikan seseorang itu akan dilihat. Tidak pernah ada yang tutup mata sehingga saya bilang dengan Adik Yosef, orang mau omong apa terserah intinya kita konsen. Apa yang dikeluhkan dan diminta oleh masyarakat itu yang kita harus sepakat untuk masukkan dalam visi misi. Kita masuk di program kerja yang sangat menyentuh akan terus dilanjutkan. Mungkin kita mengubah polanya. Yang belum kita lengkapi dan perbaiki dengan evaluasi. Sehingga kami bersepakat dengan tagline KITA SEHATI. Filosofinya kita harus bekerja dengan hati. Mencintai pekerjaan itu maka semunya akan kembali ke hati.” (fwl/vrg)