Mahasiswa FKIP Biologi Unwira Kupang Bagi Hand Sanitizer untuk Kaum Difabel di Lasiana

oleh -640 views
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Program Studi Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang foto bersama Rikardus Herak, S.Pd., M.Pd yang merupakan Dosen Pendamping Lapangan dan Pengurus Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia di Lasiana-Kota Kupang, NTT.

KUPANG, suluhdesa.com – Merebaknya virus Corona membuat mahasiswa-mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang semester VII dari Jurusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kelompok II yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia Lasiana, melakukan kegiatan dengan membuat hand sanitizer sendiri menggunakan bahan alami.

Saat ditemui Media SULUH DESA di Bimoku, RT 26 RW 07, Kelurahan Lasiana, Kota  Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Senin (18/08/2020) pukul 11.00 Wita, Rikardus Herak, S.Pd., M.Pd yang merupakan Dosen Pendamping Lapangan, menjelaskan bahwa, kegiatan ini dilakukan karena direncanakan kampus.

“Seharusnya kegiatan ini secara nasional tetapi karena pandemi Covid-19 maka tempat ini yang kami pilih. Selain itu agar jangkauan lebih muda dan kebetulan salah satu mahasiswa kami berasal dari sini dan sudah komunikasikan dengan Ketua Yayasan Difabel, Ibu Ela Naikofi, juga Ketua RT dan Ketua RW, maka kami lakukan disini,” urai Dosen yang mengajar Ilmu Biologi ini.

Dijelaskannya, kegiatan pembuatan hand sanitizer oleh anak-anak mahasiswa ini, juga penanaman tanaman hortikultura akan diberikan kepada kaum difabel di tempat mahasiswa-mahasiswi Unika Kupang melakukan KKN dan juga diberikan kepada masyarakat sekitar.

Menurut Rikardus, ada 70 botol hand sanitizer dan 60 masker yang dibagikan.

Ditambahkannya juga bahwa, membuat hand sanitizer dari bahan alami ini lebih aman, baik itu untuk kulit atau organ tubuh lainnya. Bahan alami juga tidak sulit didapatkan. Bahan yang dibutuhkan yaitu: daun sirih, lidah buaya, jeruk nipis dan alkohol.

Yohanes Gone Ndoje dan Maria Agustina Danus sebagai Koordinator Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang mengungkapkan, selama satu bulan mereka bekerja sama dengan teman-teman difabel tidaklah menemui kesulitan.

Baca Juga:  Waspada, Sudah 431 ODP Covid-19 di Provinsi NTT

“Kami bekerja sesuai jadwal Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kami bisa menyesuaikan diri bersama teman-teman difabel, juga dengan Ketua Yayasan Ibu Petronela,” jelas Yohan dan Maria Agustina.

Selain itu, menurut Yohan dan Maria Agustina, proses pembuatan hand sanitizer tidak terlalu sulit.

“Pertama, daun sirih dimasak. Ambil dan saring airnya, lalu lidah buaya dibersihkan kulitnya, dicuci dan gel lidah buaya yang diperlukan diblender. Proses penyaringan juga sampai 3 tahap yakni: setelah lidah buaya dicuci bersih, disaring lalu pisahkan dari air tinggal gel dan diblender 2 kali,” ujar Maria Agustina.

“Kami harapkan pembagian hand sanitizer hari ini bisa dimanfaatkan oleh teman-teman difabel dan bisa terbantu dengan produk kami. Secara tidak langsung ini membantu perekonomian teman-teman difabel, mengurangi untuk beli di toko,” kata keduanya.

Sementara itu Petronela Sau Naikofi, S.E, Ketua Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia yang didampingi Agnes Afoan sebagai Bidang Kerohanian dan Bernadus Wule Lede sebagai Anggota Yayasan, mengungkapkan, disabilitas bukan sebagai obyek sehingga yayasan yang dipimpinnya memberdayakan kaum disabilitas yang memiliki potensi agar bisa berpartisipasi terhadap masyarakat, bangsa dan negara.

“Teman-teman FKIP Biologi yang KKN di tempat ini, kehadiran mereka menjadi pembelajaran dan mereka juga belajar tentang kami penyandang disabilitas. Dalam kekurangan kami, penyandang disabilitas bisa hidup mandiri apabila diberdayagunakan, apabila diberi kesempatan untuk terlibat langsung. Karena yang kita tahu, kami dipandang bahwa tidak bisa,” tutur Alumni Unika Widya Mandira Kupang ini.

Pengadaan hand sanitizer dari bahan-bahan yang mudah didapat apalagi pandemi ini, menurut Ela Naikofi, banyak dampak ekonomi.

“Saat Covid begini, untuk menjadikan satu sabun saja masyarakat tidak mampu. Dengan adanya bahan baku yang mudah didapat kami bisa praktikan. Kami juga senang sebab teman-teman ini selama satu bulan di sini melakukan kegiatan pembersihan lingkungan di dalam lokasi ini, di RT dan RW di lokasi ini. Kami juga bangga, teman-teman yang KKN ini melakukan bakti sosial berupa pembuatan hand sanitizer. Selain itu juga mereka mendaur ulang barang-barang bekas untuk dapat digunakan. Kita saling melengkapi secara ekonomi, kita saling belajar dan bisa menghasilkan sesuatu yang mendatangkan uang,” ucap Ela yang berharap supaya Unika Kupang dapat menjadi universitas inklusif untuk penyandang disabilitas.

Baca Juga:  WKRI Keuskupan Atambua Bagikan Sembako untuk Warga

Ela melanjutkan, banyak disabilitas yang sudah diterima dan kuliah di Unika Kupang tetapi belum ada akses untuk kaum disabilitas secara baik.

“Informasi yang kami terima tahun ini bahwa sudah ada akses seperti lift. Saya belum tahu apakah sudah ada ram atau bidang miring yang sesuai dengan peraturan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Didalam UU ini dijelaskan bahwa, pemerintah atau perusahaan yang mempekerjakan karyawan lebih dari 100 orang, disitu harus menerima kaum disabilitas,” tegasnya.

Ela berharap, kedepan Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia dan Unika Kupang bisa menjadi mitra. “Unika semoga menjadi universitas inklusif,” pintanya.

Saat ditanya mengenai para mahasiswa yang melakukan KKN di tempatnya, Ela berkata, saya bangga sebab mereka tidak saja hanya mengejar nilai di kertas tetapi ilmu yang mereka dapat di bangku kuliah bisa diterapkan di masyarakat.

“Adik-adik ini belum terbiasa juga dengan kaum difabel.Tetapi mereka sangat respek dengan teman-teman difabel atau disabilitas,” puji Ela.

Ela pun berpesan kepada teman-teman difabel untuk jangan pernah putus asa dengan keterbatasan fisik.

Baca Juga:  Banyak Kasus Kematian Tidak Wajar Warga NTT, Menjadi "Dark Number" di Polda NTT

“Di dalam keterbatasan fisik itu kita mampu berpartisipasi. Mari kita bersama-sama membuktikan kepada masyarakat bahwa kita bisa berkontribusi di tengah masyarakat, pemerintah, agama, juga kepada diri sendiri.Jangan merasa minder dengan keterbatasan fisik, karena didalam hidup, ini bukan pilihan kita untuk menjadi difabel. Jadi penyandang disabilitas atau difabel karena rencana Tuhan,” ucap Ela sambil menahan haru.

Pantauan Media SULUH DESA, pembagian hand sanitizer dan masker tersebut kepada semua Anggota Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia dan kepada beberapa warga sekitar terjadi pukul 11.00 Wita dan berakhir pukul 12.00 Wita.

Tentang Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia di Lasiana-Kota Kupang

Yayasan ini berdiri sejak tanggal 6 januari 2016 oleh seorang Pastor Misionaris di Timor Leste bernama Romo Adrianus Ola Duli, Pr. Yayasan ini beranggotakan penyandang disabilitas 15 orang yang bertempat tinggal di Kota Kupang. Selain anggota penyandang disabilitas, ada juga anggota relawan non disabilitas yang bergabung.

Jumlah Anggota Yayasan Transfigurasi Tabor Mulia ada 25 orang bersama relawan atau non difabel. Model pemberdayaan dalam yayasan ini yaitu pemberdayaan ekonomi dengan skill masing-masing dan ada advokasi untuk menghilangkan pandangan negatif dari masyarakat kepada penyandang disabilitas.

Sesuai UU Nomor 8 Tahun 2016 penentuan hak-hak disabilitas, ekonomi dengan skill masing-masing, seperti ada yang dapat menjahit, usaha salon, usaha kecil menengah lain (jual jagung goreng atau beternak) dilibatkan untuk bermitra dengan pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Yayasan ini mengadvokasi semua kebutuhan penyandang disabilitas dengan kemampuan masing-masing supaya kaum difabel atau disabilitas tidak dipandang sebagai obyek dan dipandang sebelah mata. (fwl/vrg)