oleh

Negeri Ini Butuh Pemimpin yang Berani Keluar dari Lingkaran Setan

JAKARTA, suluhdesa.com – Euforia atau semangat peringatan kemerdekaan Bangsa Indonesia ke 75 tahun masih tetap dirasakan oleh segenap masyarakat Indonesia walaupun di tengah situasi pandemi Covid-19 tahun ini.  75 tahun kita merdeka sebagai bangsa yang menghadapi persoalan paling mendasar, yakni bagaimana bangsa bisa keluar dari tantangan global seperti krisis ekonomi akibat pandemi Corona.

“Peringatan 75 tahun kemerdekan menjadi refleksi bangsa ini mewujudkan cita proklamasi yakni kedaulatan segala bidang, khususnya bagaimana mengolah pangan dan sumber ekonomi yang kita miliki. Pada dasarnya kedaulatan pangan lebih berfokus pada hak negara yang bisa secara mandiri menentukan kebijakan dan menjamin terpenuhinya pangan bagi seluruh rakyat indonesia tanpa terkecuali. Hal ini tentunya disesuaikan dengan kondisi bangsa, termasuk pada masa pandemi Corona seperti sekarang ini. Dengan kata lain, kedaulatan pangan merupakan salah satu bentuk dari kemerdekaan bangsa demi terwujudnya kesejahteraan bangsa,” tegas Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) saat dihubungi Media SULUH DESA pada hari Selasa (18/08/2020) pukul 09.00 Wita.

Baca Juga:  Pilkada Ngada; Paket GUD-ATR Sengaja Dibubarkan?

Ia menyampaikan bahwa, “sudah 75 tahun kita merdeka, namun kita belum juga paham memaknai artinya berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Sampai saat ini kita tidak menyadari bahwa kebergantungan tersebut yang membuat negara kita tidak juga mampu menyejahterakan rakyatnya. Orientasi pembangunan yang selalu dibiayai dengan utang dan tingginya kebergantungan hanya akan membatasi keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya. Karena kekuasaan ada pada si empunya uang, pelan tapi pasti, kedaulatan negara dibikin runtuh oleh titah si empunya uang.”

“Mengapa kita sulit berpikir jujur bahwa bangsa ini memiliki potensi luar biasa?,” tanya Rohaniwan ini. Kita sejatinya, kata Benny, bisa hidup mandiri tanpa melulu tergantung pada kekuatan asing.

“Kita bisa mengembangkan Sumber Daya Alam yang kita miliki sehingga sungguh-sungguh bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat semesta. Indonesia masih mempunyai Sumber Daya Alam yang bisa digunakan untuk menjalankan pembangunannya, yang sejauh ini belum optimal digunakan untuk kepentingan rakyat,” ungkap Benny.

Mantan Staf Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini menambahkan, dalam kehidupan bermasyarakat, visi kepala daerah yang memiliki kemampuan untuk mengkapitalisasikan produk lokal dan potensi daerah amat dibutuhkan untuk menciptakan kemandiran ekonomi lokal.

Baca Juga:  Indonesia Harus Jadi Poros Dunia Baru yang Penuh Perdamaian

“Negeri kita punya Sumber Daya Alam di seluruh kepulauan Nusantara. Negeri kita juga punya sumber daya energi alternatif yang melimpah. Nah dengan usia Indonesia sudah 75 tahun yang kita rayakan, negeri ini membutuhkan pemimpin yang berani keluar dari lingkaran setan kebergantungan asing dan kembali mengukuhkan kemandirian. Pemimpin itu mampu menggerakkan potensi rakyat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki bangsa ini. Pemimpin yang cerdas dan kritis, yang mampu berpikir dan berbuat melepaskan kebergantungan untuk menjadi mandiri,” harap Benny.

Keberanian untuk keluar dari lingkaran keperdulian terhadap kepentingan sempit dan politik bagi hasil, menurut Benny, adalah kunci bangsa ini mampu menjadi bangsa besar dan memiliki peradaban.

“Kuncinya satu saja. Kalau pemimpin mempunyai visi dan misi yang jelas  dalam menata keadaban publik dan keluar dari kepentingan politik bagi hasil. Adanya potensi bahkan dengan hal sederhana dapat kita lakukan untuk mengantisipasi krisis ketahanan pangan ini. Terpenting kini kesadaran tersebut perlu dibangun kembali dengan pendasaran kesadaran baru,” ujar Benny.

Bangsa Indonesia, lanjut Benny, memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat untuk menggerakkan kesadaran bersama.

Baca Juga:  Kampanye KITA SEHATI di Biboki Utara: Politik Harus Punya Basis

“Hal sederhana seperti mengolah tanah kosong dan pekarangan untuk di tanami sayuran, ubi, cabai, dan tomat. Ini bisa dijadikan salah satu cara untuk mengantisipasi krisis ketahanan pangan yang mungkin terjadi. Aksi gerakan menanam ini juga mudah dilakukan cukup dengan memanfaatkan bahan bekas seperti botol bekas, kaleng, dan dipadukan dengan sistem hidroponik. Gerakan merupakan wujud dari  aktualisasi. Dalam hal ini momentum pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada 9 Desember mendatang, kita berharap calon kepala daerah mampu memberikan pemikiran dan strategi yang mampu mengolah potensi lokal dan bahkan dapat menggali lebih dalam potensi-potensi besar yang belum digali di masyarakat,” jelas Benny.

Saat ditanya apa makna kemerdekaan yang dirayakan saat ini dengan usia Negara Indonesia 75 tahun?

Pria yang akrab disapa Romo Benny ini menjawab, “kemerdekan ini adalah momentum untuk menggerakkan semua potensi yang dimiliki untuk mengolah sumber alamnya dan kekayaan hayati. Dengan kekuatan lokal secara swadaya.” (fwl/fwl)

Komentar

News Feed