Dua Srikandi Baca Puisi dalam Festival Jeritan Awololong di Polda NTT

oleh -311 views
Pada aksi yang terjadi di hari Jumat (14/08/2020), ada dua orang mahasiswi, Adelya Leyn dan Ati D yang menyuarakan pendapat mereka dengan membacakan puisi.

KUPANG, suluhdesa.com – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam OKP AMPPERA Kupang dan Front Mata Mera menyuarakan aspirasi soal proses hukum kasus dugaan korupsi dalam mega proyek destinasi wisata (jembatan titian, kolam apung, restoran apung, pusat kuliner, dan fasilitas lainnya) di Pulau Siput Awololong, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Proyek destinasi wisata di Awololong diduga merugikan uang negara/daerah Kabupaten Lembata miliaran rupiah. Untuk diketahui, proyek senilai Rp. 6.892.900.000 (enam miliar lebih) itu telah terjadi proses realisasi anggaran sebesar 85% namun progres fisik 0%.

Media SULUH DESA yang turut menyaksikan aksi mahasiswa di depan kantor POLDA NTT, sempat merekam aktivitas mahasiswa dalam aksi tersebut. Pada aksi yang terjadi di hari Jumat (14/08/2020), ada dua orang mahasiswi, Adelya Leyn dan Ati D yang menyuarakan pendapat mereka dengan membacakan puisi. Puisi yang merupakan hasil karya mereka sendiri itu dibacakan dengan penuh perasaan dan tubuh gemetar.

Ketika ditanyakan soal ekspresi mereka yang begitu menghayati puisi yang dibacakan, Adelya Leyn dan Ati D menjawab bahwa mereka memang sangat marah terhadap situasi yang ada sehingga saat membacakan puisi-puisi itu mereka terbawa perasaan, bahkan sampai menangis.

Baca Juga:  Kontroversi Non Job Sekdis Kebudayaan dan Pariwisata Lembata, Ahmad Azis; Uji Ke PTUN

“Ada banyak perasaannya abang, ada marahnya, terharunya, kecewanya, karena puisi ini lahir dari bentuk kegelisahan saya terhadap kepedulian saya akan kasus Awololong yang tidak ada ujungnya dari tahun 2019,” keluh Adelya saat ditanya perasaannya waktu membacakan puisi Awololong Di Ujung Kegelisahan.

Sementara itu, Damasus Lodolaleng, salah satu orator dari AMPPERA, kepada Media SULUH DESA, mengatakan bahwa mereka mendesak Polda NTT untuk segera menetapkan tersangka kasus Awololong. Pasalnya, sejak terbit Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) namun proses penyidikan dinilai lamban sehingga belum gelar penetapan tersangka.

Kegiatan hari Jumat (14/08/2020) merupakan rangkaian kegiatan Festival Jeritan Awololong yang dilakukan selama empat hari, dimulai pada hari Rabu (12/08/2020) dan berakhir pada hari Sabtu (15/08/2020).

Berikut dua puisi yang dibacakan pada saat aksi berlangsung:

 

Jeritan Ina Lautan Purba

(Oleh Ati D.)

 

Dengarkan puisiku ini

Jeritan luhur moyangku

yang berhembus dalam syair sakral

Mengekal dalam ksatria lewo tanah

 

Lihatlah di pinggir jalan ini

Bersama orang-orang yang tersingkir oleh kesintinganmu

Kami meratapi ranjang kekuasaan yang kau jalangi dengan rupiah

 

Kemarilah tuan,

setubuhi aku di pinggir jalan ini dengan kebenaran

 

Kemarilah…

Kita mesti telanjang

Menguak segala jalang di balik tembok tanah yang malang ini

 

Dengarlah jeritan ina lautan purba

Awololong…

Yang tenggelam dalam kecup bilur biru kebijakan

Pada setiap payudara yang di peras

Dicabik paksa seluruh daging-daging putih

Diganti tiang pancung

 

Oh, gadis bermata nanah

Meraung di atas bulir-bulir  pasir

Menyisir setiap luka

Rahim dikotori tai tikus berdasi

 

Kemarilah.

Setubuhi aku dengan keadilan

Jamah dadaku yang berkecamuk

dalam ratapan siput yang malang

Merangkkak di antara tutur sakral yang dipenjara pariwisata

 

Dengarlah tuan

Jika puisi paling jalang ini berani aku kibarkan

Itu artinya aku telah muak

 

(Kupang, 2020)

 

 

Awololong Di Ujung Kegelisahan

(Adelya Leyn)

 

Mari sejenak dengarkan caraku bersyair

Pesan di langit senja sudah kukabarkan

 

Tuan penguasa…

Kemarilah duduk bersamaku sebentar saja

Kita lepaskan sejenak lelah

Memandang ke pulau siput Awololong

Ibuku sudah menunggumu Tuan,

Bersama sepiring jagung titi dan lawar siput yang menggugah rasa

 

Sini, kemarilah sejenak Tuan…

Banyak yang harus kukisahkan bersamamu

Janganlah menolak!

Betapa panjang penantianku menunggumu Tuan…

 

Tuan penguasa…

Lihatlah anak pantai saling berkejaran di pesisir,

Menggauli ombak dengan akrab,

Sembari menunggu Ema membawa siput dari pulau Awololong.

 

Tuan…

Lihatlah senyum anak pantai,

Betapa tulus dalam kepasrahan,

Mereka tunas muda negeri ini

Kelak di tangan merekalah

Negeri ini mereka genggam

Membangun untuk perubahan

Hingga di teruskan ke anak cucu mereka.

 

Tuan…

Ibuku mendendangkan lagu rayuan pulau kelapa

Dan anak pantai itu menangis dengan sepiring siput lawar di tangannya,

Apakah dapat kau pahami tiap tetesan air matanya?

Tataplah anak pantai dengan mata hatimu,

Rasakan dan maknai linangan air matanya,

Pikirkan tentang nasib anak negeri ini kelak Tuan.

 

Bangunlah Tuan…

Jangan duduk terlalu lama

Aku takut pasir pantai ini

Mengotori seragammu

Mari kita kembali ke rumah

Dan esok sampaikan ratapan anak pantai itu

Kepada sahabatmu

Sebab perjalanan ini masih panjang Tuan,

Anak pantai menitip harap di pundakmu.

 

(Kupang14 September 2019). (Jr/Jr)