oleh

Romo Dalsi Saunoah, Pastor yang Turun dari Altar dan Jadi Petani

KEFAMENANU, suluhdesa.comPandemik Covid-19 membuat berbagai aktifitas kita terganggu. Sekolah-sekolah diliburkan, pekerjaan kantor diberlakukan sift-siftan alias bergantian, mobilitas di keramaian atau tempat-tempat umum dikurangi, singkatnya, segala hal yang berkaitan dengan perhimpunan manusia, baik dalam skala besar maupun kecil ditekan seminimal mungkin.

Demikian juga dengan kegiatan keagamaan. Di Gereja Katolik sendiri, pimpinan Gereja sudah mengumumkan untuk tidak ada perayaan Ekaristi atau Misa bersama umat selama masa pandemik ini. Hal ini berimplikasi pada kegiatan pastoral seperti Misa bersama umat, atau kegiatan-kegiatan gerejani yang lain menjadi sangat terbatas.

Menyikapi situasi ini, Romo Dalmasius Saunoah, Pr, atau yang populer disapa Romo Dalsi Saunoah, mencoba “banting stir” dengan menjadi petani. Tentu saja istilah “banting stir” ini tidak diartikan meninggalkan imamat, tetapi maksudnya mengisi waktu luangnya yang cukup banyak itu dengan bertani. Romo Dalsi bertugas di Paroki Lurasik, Dekenat Mena, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Menjadi Petani Tomat

Kisah menjadi petani ini berawal dari sering bertemunya Romo Dalsi dengan Om Robby, Pegawai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang rumahnya dekat dengan pastoran Paroki Lurasik. Menurut Romo Dalsi, selain menjadi tenaga Penyuluh, Om Roby juga rajin bertani, sekaligus memberi bimbingan bagaimana cara berkebun atau bertani untuk para petani.

“Kami di pastoran ada tiga Pastor, satu Fater TOP (Calon Imam Katolik yang lagi praktik), dan tiga anak asrama. Jadi, musim hujan baru-baru ini kami olah sawah paroki untuk tanam padi. Kami tanam padi satu hektar saja karena curah hujan tidak baik. Makanya sering bertemu Om Robby di sawah. Setelah tanam padi, Om Robby ajak saya untuk kerja sama dengan Bapak Markus. Bapak Markus adalah salah satu umat paroki juga. Bapak Markus ada lahan tapi tidak ada modal. Sedangkan untuk tanam tomat sebanyak 5 ribu pohon saja, paling kurang kita membutuhkan dana kira-kira 10 an juta. Makanya setelah sepakat dengan Bapa Markus, saya ke koperasi untuk pinjam uang dan kami mulai kerja,” tutur Romo Dalsi dari Keuskupan Atambua ini kepada Media SULUH DESA, pada Selasa (11/08/2020) lewat telepon.

Baca Juga:  APD Terbatas, Paramedis ‘Bunuh Diri’ Selamatkan Korban Corona

Romo Dalsi juga menjelaskan bahwa, mereka menanam tomat pada tanggal 30 Mei 2020, sebanyak 5.500 pohon. varietas yang ditanam ada dua jenis, yaitu, Varietas Betavila F1 Cap Panah Merah dan Varietas Gustavi F1 Cap Panah Merah.

“Kami semaikan bibit selama 18 hari, lalu pindahkan ke bedeng, untuk tanam itulah yang terhitung dari tanggal 30 Mei,” jelas Romo Dalsi.

Menurut Romo Dalsi, luas lahan yang diolah adalah 24 are. Sedangkan untuk kebutuhan air, Romo Dalsi dan Bapak Markus memanfaatkan air yang ada di kali di Desa Hauteas, menggunakan pompa air. Di samping itu yang mereka adalah Tenaga PPL dari Kecamatan Biboki Utara.

“Selama ini yang membantu kami sebagai pendamping itu dari Pegawai Dinas Pertanian yaitu para Petugas PPL di Kecamatan Biboki Utara. Bapak Robby Aunsuni (Om Robby) sebagai PPL di sini sangat membantu kami. Selain itu, Petugas PPL Kecamatan juga sering datang ke lokasi ini untuk memberi arahan atau masukan tentang cara menanam tomat,” jelas Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini.

Lulusan Seminari Lalian Atambua ini menambahkan, “ada juga saudara-saudara kita yang kerja di Perusahan Panah Merah dan Nufarm datang ke lokasi pertanian ini untuk memperhatikan pertumbuhan tomat dan memberi masukan untuk pemupukan dan pencegahan hama. Yaaa, sejak Covid-19 ini, ketika ada larangan dari Pemerintah dan Gereja untuk tidak berkumpul, terutama dari Gereja, tidak ada pelayanan Ibadat atau Misa, saya turun ke lahan utk kerja.”

Baca Juga:  Semua Perempuan di Kecamatan Bikomi Tengah Dukung Kristiana Muki

Hasilnya, kata Romo Dalsi, lumayan memuaskan. Setiap pohon tomat minimal menghasilkan 50 buah tomat, sedangkan maksimal atau yang paling lebat sebanyak 80 buah.

Misa Syukur

Menurut Romo Dalsi, pada hari Jumat nanti (24/08/2020), mereka akan melakukan kegiatan panen. Sebelum panen, terlebih dahulu akan diadakan misa syukur panen di lahan tomat itu.

Ketika ditanya tentang perkiraan keuntungan yang bisa diperoleh dari kebun tomat itu, Romo Dalsi menjawab bahwa dirinya belum tahu.

“Aduh kaka, harga sekarang anjlok, satu ember 20 ribu bahkan turun sampai 10 ribu. Di sini kita jual per ember bukan hitung kilo. Yah, ini juga harus ada perhatian dari pemerintah. Saya juga belum tahu pasti dapat hasil berapa, tapi saya sudah kontak papalele di Atambua untuk ambil ini tomat sampai habis, kaka. Saya sudah bertemu juga dan tidak omong harga. Kami kasih tomat dan papalele mau kasih kami berapa kami terima dengan tulus. Saya tidak akan omong harga untuk papalele, nanti kalau dia beritahu harga berapa, yah, terserah papalele saja. Saya senang karena hasil tomat ini bagus, pohonnya subur dan buahnya lebat. Untuk penjualan, tentunya kami berharap supaya bisa bayar kembali pekerjaan kita selama ini, juga supaya Bapa Markus juga bisa dapat keuntungan sedikit. Tetapi untuk saya yang paling membahagiakan itu karena bisa menanam, merawat, dan melihat tomat yang ditanam bertumbuh dengan subur dan berbuah,” paparnya.

Romo Dalsi juga menuturkan, sebagai Pastor dirinya sangat bahagia karena dengan bertani dirinya masih bisa berjumpa dengan banyak orang.

“Saya sebagai Pastor juga sangat bahagia karena dengan turun ke lahan, saya bertemu banyak umat, dari anak kecil sampai yang sudah lanjut usia. Pernah juga Bapak Bupati, Kadis Pertanian Kabupaten Timor Tengah Utara , Kabid PPL Pertanian, dan lain-lain, datang sampai di lahan. Prinsip saya, kalau kita bersahabat dengan orang-orang kecil (para petani), maka akan ada kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang besar, tetapi kalo kita hanya berteman atau bersahabat dengan orang-orang besar, kita akan sulit bersahabat dengan orang orang kecil,” pungkasnya.

Baca Juga:  Yosef Tanu Urus PJU Maka Kota Kefamenanu Saat Malam Jadi Terang Bikin Nyaman

Cerita Bapak Markus

Sementara itu, Bapak Markus, pemilik lahan yang ditanami tomat, saat dihubungi oleh Media SULUH DESA, mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran Romo Dalsi yang bersedia bekerja bersama dirinya.

“Saya senang sekali Pak, apalagi setelah tanam tomat ini kita lihat hasilnya sangat bagus. Selain itu, dengan bekerja dengan Bapa Romo ini, banyak sekali orang yang datang, Pak Bupati, para pejabat yang lain, para suster, pokoknya banyak sekali orang yang datang,” tuturnya.

Menurut pengakuan Bapak Markus juga, dia bersama kakaknya sudah menyiapkan lahan seluas 40 are untuk diolah bersama Romo Dalsi. Bapak Markus menjelaskan bahwa lahan 40 are itu sudah dalam proses pengolahan, cuma belum ditanam karena masih menunggu selesai panen di lokasi yang pertama. Para Suster juga sudah mengajak Bapak Markus untuk bekerja sama jika ada lahan yang masih tersedia.

“Bagi kami, ini adalah sesuatu yang luar biasa Pak. Romo Dalsi ini jadi Pastor yang turun dari Altar mau rela hati urus kebun. Kami sangat bahagia dengan kehadiran Romo Dalsi yang mau bekerja bersama kami. Semoga ke depan, apa yang kami lakukan ini menjadi contoh yang baik supaya kami bisa bertani dengan target yang jelas,” tandas Bapak Markus. (Jr/Jr)

Komentar

News Feed