oleh

Yosef Tanu, Kabag Umum Kabupaten TTU yang Tidak Malu Berkebun

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Kisah yang menginspirasi kali ini datang lagi dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Sosok Yosef Tanu, Kepala Bagian Umum (Kabag Umum) Kabupaten TTU layak diapresiasi. Yosef Tanu yang adalah Alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Bandung ini memiliki segudang prestasi dan kesehariannya usai berkantor adalah bergumul dengan kebun miliknya sendiri. Sama seperti Bupati TTU, Ray Fernandes yang memperoleh miliaran rupiah dari hasil pertanian dan peternakan yang ditekuninya, demikian pula Yosef Tanu, sosok pemuda Insana yang ramah ini.  

Saat Tim Media SULUH DESA berkunjung ke kebunnya di Maubeli, KM 6, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, hari Rabu (05/08/2020) pagi, suasana kebun itu nampak sepi. Hanya ada dua karyawan yang sedang menyiangi daun-daun pada rumpun pisang yang berjejer rapi di lahan yang berukuran dua hektare itu. Sesekali kendaraan roda dua melewati jalur yang membelah pada lahan tersebut. Di sisi selatan terlihat sangat rapih pepohonan pepaya California yang buahnya sudah mulai ranum dan menggoda rasa siapapun yang memandangnya. Sedangkan di bagian bawah jalan yang melintasi kebun itu, berdiri sebuah pondok kecil tempat para karyawan berteduh dan dikelilingi pohon anggur dan pohon sirih yang sangat banyak.

Oleh salah satu karyawannya, Yosef Tanu dihubungi dan diinformasikan bahwa Tim Media SULUH DESA sedang berkunjung ke kebunnya. Tidak menunggu lama, sekitar 15 menit, ia pun datang dengan mengendarai mobil Avanza putih. Yosef Tanu yang saat itu masih mengenakan baju putih hitam dengan name tag yang masih terpasang di dada, menyapa sumringah.

“Halo selamat siang, maaf tadi saya masih di Kantor. Tapi maaf e, teman-teman datang lalu kita ngobrol di kebun ini,” sapanya sambil mengajak untuk Tim Media SULUH DESA duduk di naungan pohon asam tinggi yang ada di tengah kebun itu.

Ia pun mulai berkisah, “bertanam itu menjadi hobby saya sejak tamat STPDN tahun 2004. Saya sejak muda itu juga sudah berkebun dan mengerjakan sawah dengan tanah satu bidang. Yang saya kerjakan model begini, itu sejak tahun 2016. Pada mulanya kebun ini ditanami lombok semua.”

Suami dari Fridolin Marlyn Dhae ini mengungkapkan bahwa, masyarakat di Kabupaten TTU masih bertani dan terbenam dengan slogan bekerja untuk makan. Orang itu belum terpikir untuk hidup, maka mereka cari hutan-hutan besar untuk tebang hanya supaya bisa bertanam jagung, ubi, labu, dan kacang, serta yang lainnya.

“Tahun depan mereka tebas lagi yang lain. Sementara untuk berpikir lalu tanam budidaya yang punya nilai ekonomis hampir belum. Awalnya saya serius, tetapi tahun 2013 saya pergi sekolah S2. Pulang S2 tahun 2014. Tahun 2015 mulai persiapan buat ini lagi. Tahun 2016, saya mulai serius dengan tanaman lombok 14.000 pohon. Tahun 2016-tahun 2017 di tengah harga lombok meningkat, waktu itu saya hanya menjual per kilo 60.000 rupiah. Di TTU ini saya tanam sendiri. Sore-sore, bisa lihat 6 juta rupiah sampai 7 juta rupiah. Tahun 2016, saya masih di Dinas Lingkungan Hidup, Tahun 2017 saya menjadi Camat tetapi saya tanam lombok. Tahun 2018 saya dipindahkan kembali masuk menjadi Kepala Bagian Umum. Disitu sulitnya. Akhirnya saya berpikir ada tanaman apa supaya saya tetap eksis di pertanian dan itu saya tidak malu sama sekali. Jadi saya mulai berpikir untuk menanam pepaya dan mulai tahun 2018 saya panen. Di Kefa ini saya menjadi pemain tunggal,” ungkapnya.

Baca Juga:  Diduga Tim Paket Fresh Hadang Bupati TTU Saat Ikut Acara Adat di Oeolo

Ia menyampaikan, hasil berbuah awal itu sangat lebat. Saking lebatnya, kalau kita melewati pohon-pohon pepaya tersebut harus berhati-hati, kalau tidak buah pepaya bisa jatuh terlepas terkena kaki kita sendiri.

“Sampai saat ini saya yang menjual sendiri di Kefa. Sedangkan yang lain adalah milik Bupati Ray Fernandes. Saya panen sehari itu 75 kg. Saya jual murah setengah harga yakni 10.000 rupiah. Saya berpikir sederhana saja. Ada juga beberapa bedeng yang saya tanam untuk kebutuhan sosial seperti untuk burung makan, kelelawar, atau tupai, supaya dong jangan makan tanaman yang lain di kebun ini. selain itu, kalau ada tamu bisa disuguhkan. Karena setiap hari selalu saja ada yang datang berkunjung. Dari tahun 2018 selalu ada yang datang ke sini. Ini tujuan kita bukan untuk cari kaya. Tetapi memotivasi yang lain. Saya mulai aktif mengelola lombok. Teman-teman dari UNIMOR dan Politani Kupang datang untuk praktik di kebun lombok saya ini. Termasuk dengan tahun ini masih kirim mahasiswa. Itu kita sudah satu langkah maju yang luar biasa terutama anak-anak muda di TTU semangat untuk kembangkan tanaman hortikultura,” katanya.

Mantan Camat Noemuti Timur ini menyampaikan, kalau di Kefa sekarang ini telah banyak yang kelola lombok atau tomat.

“Yah rata-rata mereka yang pernah berkunjung ke sini pulang pasti melakukan sesuatu yang pendekatan di TTU agak beda. Saya tidak tahu di tempat lain. Kalau dia lihat, sesulit apapun akan dia ikut. Tetapi kalau omong itu nol, tidak bisa, sekalipun Professor yang menjelaskan pasti balik belakang. Eh lu omong lu ada buat apa. Kalau ada bukti nyata tidak perlu suruh. Dia akan cari tahu dan ini jadi bisa,” ucapnya.

Dirinya menceritakan bahwa, waktu start awal banyak orang yang nadanya agak miring. Tetapi ia berpikir untuk apa mendengar orang omong karena tidak penting. Mereka tidak paham. Dan puji Tuhan sampai hari ini, ia tergabung di beberapa Group WhatsApp Pertanian lokal dan menurut diskusi dan pemantauannya itu berkembang baik. Sebagai contoh, tomat melimpah ruah di pasar sampai satu ember cor itu paling mahal 10.000 rupiah. Sedangkan ember besar paling mahal 35.000 rupiah. Sehingga, menurutnya, ia berpikir ke depan, suka atau tidak suka harus ada pengolahan lanjutan. Katakan tomat ini bisa jadi saos dan seterusnya.

Baca Juga:  Asgar, Seorang Penjahit di Malaka Bagikan Masker untuk Para Wartawan

Dengan demikian, orang bisa menanam dengan lebih banyak lagi. “Macam pisang ini, kalau tanam hanya untuk konsumsi saja itu tidak bisa. Siapa yang mau beli siapa punya. Ini pun ke depan kita masih inisiasi pengolahan lanjutan. Contoh semacam minuman dari Timor Leste, Delos atau Sagiko. Jika Tuhan berkenan, saya yakin sekali bahwa kita akan buat pabrik pengolahan. Ini kita di tengah pusat Timor. Bisa didatangkan dari Malaka atau Belu untuk memenuhi kebutuhan itu. dengan demikian orang dapat menanam dengan skala yang lebih besar lagi,” tegas Ayah dari tiga anak itu.

Secara keseluruhan, ada tanaman pepaya 1300 pohon. Bagi Yosef Tanu itu sesuai untuk pasar lokal. Kalau pisang yang ada sekarang ini sekitar 500 an. Kalau yang di sebelah kali itu 1.400 pohon. Itu yang dihitung lurus. Tetapi ada tanaman yang belum maksimal. Pisang kurang lebih 2000 pohon. Yosef Tanu juga mengembangkan anggur dengan beberapa varietas anggur. Ada anggur merah, anggur hijau, dan anggur hitam. Ada juga pohon sirih.

“Kendala pasti ada. Yang pertama kita harus berkorban. Selain itu kita harus berkorban waktu. Saya harus bangun jam 05.00 pagi untuk bisa beraktifitas di kebun. Jam 06.30 pagi saya siap diri ke kantor. Sementara keluar kantor juga jam 03.00 sore. Setelah itu saya datang ke kebun lagi. Yang kedua mau turunkan gengsi atau tidak. Karena banyak yang sudah pegang ijazah S1 mau raba tanah juga masih pikir-pikir. Kami di TTU ini harus dengan contoh. Baru bisa yang lain ikut. Kalau kita hanya omong sulit untuk orang ikut,” ujar Yosef Tanu sambil mengajak Tim Media SULUH DESA melihat tanaman pisang yang ada.

Motivasi Yosef Tanu waktu awal mengelola kebunnya adalah supaya jangan sampai untuk makan harus membeli.

“Macam anggur kan mahal. Setengah kilo gram 60.000 rupiah di Kefa ini. Satu kilo gram 110.000 rupiah. Kalau punya sendiri kita semua bisa makan. Sama saja seperti pepaya dan pisang. Kalau nanti ada orang yang mau beli ya itu kita persilakan. Untuk saat ini memang lebih banyak orang datang beli. Karena kalau mau makan berapa banyak sih. Motivasi saya yang lain, di TTU ini kan lahan produktif baru 30 persen yang lain lahan tidur. Saya tidak tahu ini lahannya yang tidur atau orangnya yang tidur. Jadi, dengan orang melihat, terutama generasi muda, bisa berbuat dan menghasilkan uang. Generasi sekarang kalau kita suruh buka atau tebas kebun atau fo’e tanah pasti tidak mau atau berat sekali. Banyak yang datang belajar dan saya tidak kikir ilmu,” tambahnya.

Baca Juga:  Bupati Malaka Minta Para Kades Agar Pembagian BLT Harus Tepat Sasaran

Untuk pengembangan lanjutan, pepaya California yang ada ia cangkok. Setelah dicangkok, baru dipindahkan. Kesulitan pepaya California ini, kata Yosef Tanu adalah jika beli satu bungkus, disemai bibitnya, maka hanya dapat puluhan pohon.

“Saya disini ada crew empat orang dengan sistem penggajian UMR. Kami kerja bersama. Lahan pertanian ini saya namakan Kebun Eden. Karena buat kebun ini, kalau di Bible atau Alkitab, di Taman Eden, Tuhan sudah siapkan segala macam makanan, buah-buahan untuk kebutuhan manusia. Nah di sini, kami menggantungkan banyak kebutuhan kami. Kalau sayur-sayuran kami tidak pernah beli. Ada kangkung, paria, dan yang lainnya. Kalau ada yang beli, bisa. Dan itu upah untuk anak-anak yang kerja,” tambahnya.

Alumni SMAN 1 Kefamenanu ini menyampaikan bahwa, dari masing-masing pepaya, rata-rata harian dari yang panen itu 50-75 kg, itu hasilnya 750 ribu rupiah. Dari pisang memang belum maksimal. Karena baru mulai berproduksi. Jika dihitung-hitung, pisang juga seimbang. Contoh pisang cavendish 25.000 per sisir. Kalau satu pohon ada 10 sisir, berarti 25.000 rupiah kali 10 sisir. Kalau 10 sisir ditaruh rata-rata 200.000 rupiah kali 1000 pohon, maka ia peroleh hasil bersih 200 juta rupiah untuk tahun pertama.

“Tahun kedua minimal pohon pisang tersebut menjadi dua atau tiga rumpun. Tinggal dikalikan sudah. Proses penanaman pisang baru bulan Oktober tahun 2019 dan sudah berusia 10 bulan. Pisang ini bisa dipanen setelah umur 8 bulan. Itu pun kalau bibitnya seragam. Ini pembenihan gado-gado. Saya membuat bonggol anak pisang dikuliti sedikit mata tunasnya lalu ditimbun di pasir. Nanti setelah dua atau tiga minggu, keluar banyak anakan pisang itu. setelah satu atau dua bulan agak besar bisa dapat lagi 7 sampai 8 anakan. Itu baru bisa ditanam lagi. Karena cari bibit itu susah maka saya upayakan cara tersebut. Kebanyakan ini yang saya kembangkan juga bibit lokal. Tetapi saya berupaya carikan cara pembibitan sendiri. Karena kalau beli bibit itu sangat lama hasilnya. Tetapi kalau cangkok bisa lebih cepat,” cerita Pria yang ramah ini.

Saat itu Yosef Tanu memberikan tips cara menanam pepaya California. “Awalnya persemaian harus bisa tahan banting. Karena di TTU, kita beli satu bungkus bibit itu 50.000 rupiah, itu 60 sampai 70 biji. Tetapi ketika disemai tumbuh hanya belasan pohon saja. Jadinya lama dan makan ongkos. Setelah itu, ketika awal saya tanam sekitar 200 pohon, saya coba tanam satu pohon saya dapat 5 sampai 6 cangkokan. Kalau beli anakan rata-rata 10.000 rupiah di Kefa ini. Jadi kita harus panjang sabar kalau mau mengembangkan lebih banyak. Kalau mau cepat ya harus butuh modal banyak,” pungkasnya. (vrg/fwl)

Komentar

News Feed