Pulau Sumba Positif Malaria Terbanyak di NTT, Rentan Kepada Ibu Hamil

oleh -248 views
Dari kiri ke kanan : Dece Mery Pay, S.K.M., M.Kes (Staf P2PM Dinas Kesehatan Provinsi NTT), Agusthina Rosphita, S.Gz., M.M (Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Malaria (P2PM) Dinas Kesehatan Provinsi NTT), Yane Ndapaole, S.K.M., M.Sc, Antoninho Soares, S.H.

KUPANG, suluhdesa.com – Tiga kabupaten di Pulau Sumba yakni Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Sumba Barat tercatat sebagai daerah merah atau daerah dengan kasus positif malaria terbanyak dibandingkan Kabupaten lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Hal ini disampaikan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Malaria (P2PM),  Agustina Rosphita, S.Gz., M.M kepada Media SULUH DESA, Senin (27/07/2020) di ruang kerjanya di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya, upaya penanggulangan malaria yang dimotori Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dilakukan melalui konsorsium eliminasi  malaria untuk mempercepat eliminasi malaria di Kabupaten Sumba.

Baca Juga:  NTT Serius Kembangkan Pertanian dan Peternakan dengan Sentuhan Teknologi

“Semua bupati dari setiap kabupaten di NTT dilibatkan untuk  upaya pengendalian penyakit malaria atau menjadi leading sektor dengan melibatkan berbagai stakeholder sesuai kondisi masing-masing kabupaten, dan untuk mengajukan eliminasi ke Menteri Kesehatan adalah bupati,” jelas Rosphita.

Di sisi lain, sesuai laporan Dinkes NTT, sampai tahun 2020 ini, kasus positif malaria di Pulau Sumba masih tinggi yakni  terdiri dari 3.660 kasus untuk Kabupaten Sumba Barat Daya, 2.367 kasus di Kabupaten Sumba Barat, 1.094  kasus di Kabupaten Sumba Timur, dan 55 kasus di Kabupaten Sumba Tengah.

“Kabupaten Sumba Tengah terjepit di antara 3 Kabupaten di Pulau Sumba yang masih tinggi angka penyakit malaria. Ini menjadi tugas kita bersama untuk itu kita sepakat untuk menurunkan angka penyebaran penyakit malaria di Sumba,” imbuhnya.

Baca Juga:  Kadiskes NTT Diminta Hitung Biaya APD

Selanjutnya, Staf Seksi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Malaria (P2PM) Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dece Mery Pay menjelaskan, upaya percepatan eliminasi malaria harus menjadi gerakan masyarakat, karena itu perlu dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat yang nantinya menjadi spirit dan energi utama keberhasilan eliminasi malaria di daerah itu.

“Penyakit ini tidak bisa diselesaikan oleh orang kesehatan saja. Masyarakat harus menjadi subyek dari perubahan itu. Kemandirian masyarakat menjadi kunci keberhasilan eliminasi malaria, pengendalian malaria harus dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

Baca Juga:  Wakil Gubernur Ajak Masyarakat Mexico Kunjungi Pariwisata di NTT

Menurut Dece, penyakit malaria rentan terhadap ibu hamil, bayi, dan anak-anak. Penyakit malaria dapat menyebabkan anemia. Selain itu merupakan salah faktor terjadinya stunting.

Dece mengharapkan untuk membebaskan Pulau Sumba dari penyakit malaria. “Kita semua harus bergandengan tangan bersama. Daerah ini sudah ditetapkan sebagai daerah destinasi wisata baru. Saya berharap dengan Pulau Sumba bebas penyakit malaria, akan berdampak positif dalam promosi pariwisata Pulau Sumba yang semakin aman dan nyaman bagi wisatawan,” tutupnya. (vrg/vrg)