Mantan Kades Uzuzozo di Ende Punya Kebun Cabai Hasil Ratusan Juta Rupiah

oleh -837 views
Damianus Nangge atau Tomi, mantan Kepala Desa Uzuzozo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang fokus membangun kebun cabai bersama kelompok tani yang dibentuknya. (Foto oleh Yovita Nata/Intan)

ENDE, suluhdesa.com – Setelah menjadi Kepala Desa Uzuzozo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur selama kurang lebih empat belas tahun, Tomi, demikian Damianus Nangge, disapa, memutuskan untuk tidak lagi mencalonkan diri menjadi kepala desa. Padahal dirinya masih memiliki kesempatan untuk memimpin desa selama dua periode lagi.

Desa Uzuzozo terletak persis berada di tepian hutan lindung Kezi Kasa. Desa itu memiliki beberapa anak kampung, Kampung Gomo, Kampung Kapeka, Kampung Pareno, Kampung Ndetukedho, dan Kampung Ndetuwaru. Tomy tinggal di Kampung Gomo bersama isteri dan dua orang anaknya. Selain menjadi kepala desa, Tomy juga Mosazaki (tokoh adat sekaligus tuan tanah) di kampung itu.

Sebelum mekar, Desa Uzuzozo adalah bagian dari Desa Jegharangga. Akses jalan dari pusat desa (sebelum mekar) terbilang cukup sulit. Hal itu mempengaruhi akses informasi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Atas dasar pertimbangan itu, Tomy dan warga yang lain mengajukan proposal pemekaran desa. Setelah memenuhi syarat, proposal itu diterima. Maka terbentuklah Desa Uzuzozo dengan himpunan beberapa kampung.

Sejak awal perintisan menjadi desa persiapan, hingga menjadi desa definitif, Tomi lah yang selalu dipercaya untuk memimpin warga.

Sebelum menjadi desa definitif, sempat terjadi polemik antara warga desa dengan Pemda Kabupaten Ende, karena Surat Keputusan (SK) yang dinanti-nantikan tak kunjung diterbitkan. Bahkan Tomi sendiri sempat memimpin warga untuk melakukan aksi di depan Gedung DPRD Ende yang saat itu dipimpin oleh Marsel Petu (Almarhum) untuk meminta kejelasan soal SK. Tidak lama setelah aksi itu SK desa definitif Desa Uzuzozo pun keluar.

Saat pemilihan Kepala Desa (definitif) Uzuzozo, Tomi lah yang dipercayai sebagai kepala desa. Namun setelah kurun waktu kurang lebih empat belas tahun (mulai dari desa persiapan hingga desa definitif), Tomy merasa bahwa tongkat kepemimpinan harus berpindah kepada kader muda. Oleh karena itu dirinya tidak lagi mencalonkan diri untuk maju sebagai kepala desa meskipun masih memiliki kesempatan dua periode lagi.

“Bukan berarti saya jenuh atau apa, tapi saya merasa bahwa kader-kader muda mesti didorong untuk mengambil tampuk kepemimpinan di desa, sehingga proses regenerasi itu tidak terputus,” ungkap Tomi kepada Media SULUH DESA saat dihubungi hari Kamis (24/07/2020) lewat telepon.

Baca Juga:  Robertus Take Lemaking; Menjual APD Lengkap Namun Tidak Mencari Untung

Kembali Bertani

Sebelum menjadi kepala desa, Tomi yang lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas – Boawae ini adalah seorang petani. Orang tuanya mewariskan lahan pertanian yang sangat luas sehingga Tomi bebas memilih lahan untuk bertani. Sebagaimana warga desa yang lain, Tomi juga menanam tanaman umur panjang seperti kakao, kelapa, atau cengkeh.

Namun pada saat menjadi kepala desa, rupanya Tomi melihat ada peluang yang lain. Saat menjadi kepala desa, Tomy berhasil membangun beberapa embung. Dengan embung yang ada Tomi berpikir untuk membuka lahan yang kosong menjadi perkebunan cabai dan sayur. Maka jadilah lahan seluas kurang lebih lima hektar miliknya menjadi kebun cabai.

Untuk membuka lahan miliknya itu Tomi mengajak orang sekampung, juga orang dari kampung yang lain tapi masih satu desa. Bersama-sama, bahu membahu, mereka membentuk kelompok dan mengerjakan lahan itu secara bersama-sama. Bahkan kelompok yang terbentuk tidak hanya berlaku untuk mengerjakan kebun.

“Saat ini, karena kekurangan sumber daya, kami masih mengolah tiga hektar. Mudah-mudahan ada bantuan entah dari pemerintah atau para donatur terhadap kelompok tani kami ini,” kata Tomi.

Hal lain yang dikeluhkan Tomi adalah soal sertifikasi organik. “Cabai dan sayur yang kami produksi semuanya pakai cara organik. Namun harga di pasaran sama saja dengan cabai dan sayur non organik. Sedangkan untuk bikin sertifikat organik harganya sangat mahal,” keluh Tomi.

Meski demikian, Tomi dan kelompoknya tidak putus asa. Mereka tetap semangat mengolah lahan yang ada dengan penuh sukacita, hingga menghasilkan ratusan juta rupiah. Apalagi, selain membuka kebun itu bersama-sama, Tomi juga merancang skema sederhana untuk menghimpun dana pendidikan anak-anak mereka yang sedang, dan akan bersekolah, terutama yang hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sehingga di antara anggota kelompok itu bisa saling menopang satu dengan yang lain.

Selain itu, Tomi juga berencana untuk menyemaikan bibit cabai untuk dibagikan kepada semua warga desa, juga desa-desa tetangga yang ingin menanam cabai di kebun atau di pekarangan rumahnya.

Baca Juga:  Bagi BLT, Kades Lakekun Barat Minta Masyarakat Sisihkan Uang di Rekening

Tomi juga berharap semoga semakin banyak kelompok tani yang terbentuk sehingga kelompok – kelompok itu bisa mandiri dan keluarga-keluarga yang tergabung dalam kelompok tani bisa mandiri secara ekonomi.

Embung Mulai Rusak

Lahan pertanian (kebun cabai dan sayur) milik Tomi dan kelompok taninya memang sangat terbantu dengan adanya embung yang dibangun Tomi semasa dirinya masih menjadi kepala desa. Namun, Embung itu tanggulnya sudah mulai tergerus dan terancam jebol karena sebagian tembok penahannya sudah terkikis air.

Menurut Tomi, sebetulnya bisa juga biaya perbaikan tanggul embung itu melalui dana desa, namun karena biaya perbaikan yang dibutuhkan cukup besar, sedangkan kebutuhan prioritas yang lain masih banyak sehingga usulan perbaikan tanggul itu tidak pernah lolos.

Tomi berharap agar ada pihak-pihak yang mempunyai kewenangan berkaitan dengan kebijakan anggaran bisa mendengar keluhan warga Uzuzozo. Apalagi jika tanggul itu jebol, akan sangat membahayakan keselamatan warga yang tinggal berdekatan dengan tanggul itu.

Desa Ekowisata

Saat masih menjabat sebagai kepala desa, Tomi sudah berusaha membangun beberapa infrastruktur vital, seperti jalan, embung, dan instalasi air minum bersih. Jalan, misalnya, meskipun masih rabat beton menggunakan dana desa, dan masih ada beberapa lokasi yang belum  terhubung semuanya, tapi sudah sangat membantu mobilitas masyarakat yang hendak menjual hasil pertaniannya ke kota. Jalan yang sama juga amat membantu warga desa lain yang kebetulan lokasi kebunnya berada di lintasan jalan menuju kampung-kampung di Desa Uzuzozo.

Dengan infrastruktur jalan yang telah dibangunnya pula, masyarakat yang ingin berwisata di Tiwu Ape, salah satu destinasi wisata yang berada di Desa Uzuzozo itu bisa dijangkau.

Sejak viral di media sosial, Tiwu Ape memang cukup ramai dikunjungi, baik oleh warga di desa sekitar, juga oleh warga yang berdatangan dari Kota Ende, bahkan dari luar Kabupaten Ende.

Tentang Tiwu Ape

Tiwu Ape adalah susunan bebatuan alami di kali yang berbentuk terasering. Tiwu artinya genangan air, sedangkan Ape secara harafiah berarti petak yang biasa dibuat oleh petani di lahan yang miring untuk menahan tergerusnya tanah.

Baca Juga:  Pemdes Sukaraja Bangun Infrastruktur Jalan Cor Beton dengan DD

Tiwu Ape sendiri menjadi amat menawan karena terbentuknya bebatuan dalam beberapa undakan sehingga membentuk air terjun mini yang amat indah.

Dalam kaitan dengan visi pariwisata itulah Tomi dan kelompoknya ingin membangun kebun cabai dan kebun sayurnya. Tomi memiliki gagasan besar untuk membentuk ekowisata di kampungnya. Namun dirinya mengungkapkan bahwa dia tidak bisa berjalan sendirian. Tomi sangat mengharapkan kerja sama pihak pemerintahan desa juga pemerintah Kabupaten Ende.

Tomi juga amat bersyukur karena Dinas Pertanian Kabupaten Ende amat responsif ketika dirinya mengajukan pinjaman untuk beberapa peralatan, seperti traktor dan cultivator.

“Saya sangat bersyukur karena teman-teman di dinas pertanian sangat membantu., Saya bisa pinjam traktor dengan mudah dan gratis. Mereka juga sangat mendukung kegiatan kelompok kami. Tapi saya amat berharap semoga ada bantuan peralatan yang kami butuhkan sehingga kami bisa lebih fokus bekerja untuk meningkatan pendapatan. Dengan demikian keluarga-keluarga yang terhimpun dalam kelompok ini bisa terbantu ekonominya,” papar Tomi.

Tomi juga memimpikan bahwa suatu saat Desa Uzuzozo akan menjadi desa wisata yang ramai dikunjungi. Selain bisa mandi di Tiwu Ape, warga yang datang bisa menikmati kebun sayur yang indah dan segar.

“Sebetulnya tidak jauh dari kebun itu ada juga lokasi air panas. Namun akses jalan ke sana masih susah. Kami berharap pemerintah desa yang baru bersama Pemerintah Kabupaten Ende bisa bekerja sama dengan baik untuk membangun ekowisata di desa ini,” jelasnya.

Sementara itu, Theresia Dwiaudina Sariputri atau Dini, seorang Bidan Desa yang bertugas di Uzuzozo, mengungkapkan bahwa Uzuzozo memang punya potensi yang sangat bagus untuk dijadikan Desa Ekowisata.

“Saya sering wara-wiri di desa ini. Saya suka sekali ke Tiwu Ape dan ke kebun cabainya Om Tomi dan kelompoknya. Indah sekali Om. Semoga ada banyak pihak yang membaca ulasan ini dan tertarik untuk berinvestasi, atau memberi bantuan yang dibutuhkan oleh Bapak Tomi dan kelompoknya,” demikian ungkap Dini. (JR/JR)