Operator SDK Kada Diduga Lakukan Pungli, Kepsek; Tidak Ada Instruksi

oleh -396 views
Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Dasar Katolik (SDK) Kada, Clementino Amaral, S.Pd.

MALAKA, suluhdesa.com – Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Dasar Katolik (SDK) Kada, Clementino Amaral, S.Pd, ketika ditemui Media SULUH DESA di ruang kerjanya pada hari Selasa (21/07/2020), menerangkan bahwa, informasi terkait dugaan pungutan liar yang dilakukan oleh Operator Sekolah dengan inisial TB itu bukan atas instruksi dari Kepsek atau pihak sekolah, baik secara tertulis maupun lisan.

Ia menambahkan bahwa, sejak dirinya dilantik sebagai Kepala SDK Kada, tidak pernah mengeluarkan instruksi terkait tagihan uang untuk apapun secara lisan maupun tertulis.

“Saya tidak pernah perintah para guru termasuk operator untuk pungut uang dari orang tua siswa. Apalagi uang Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang didapat oleh siswa dan semua prosesnya berurusan dengan BRI. Dan terkait pungutan yang dilakukan oleh Operator SDK Kada yang disampaikan orang tua siswa kepada wartawan, saya sama sekali tidak tahu. Saya sudah panggil T (Operator SDK Kada) dan tanya terkait pungutan ini. Dia (T) mengatakan bahwa itu bukan pungutan, tetapi sukarela dari para orang tua untuk dirinya ,” beber Clementino.

Clementino menambahkan, “sekali lagi saya katakan, tidak ada instruksi dari saya dan kami sudah dipanggil Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) kemarin (Senin, 20/07/2020) untuk klarifikasi terkait masalah ini.”

Kepsek Clementino juga mengatakan jika dirinya telah memberikan “warning” kepada Operator T untuk tidak melakukan hal-hal yang diluar tanggung jawabnya dan tidak mengulangi lagi hal yang sama yang merugikan banyak orang, apalagi yang berkaitan dengan sekolah. Karena menurutnya ini sudah membuat nama SDK Kada tercoreng.

Baca Juga:  Gubernur NTT Perpanjang Masa "Dirumahkan" Bagi Satuan Pendidikan Cegah Corona

Sementara itu, pada hari Minggu (19/07/2020) Operator SDK Kada, T saat ditemui mengatakan bahwa yang disampaikan oleh orang tua siswa itu tidak benar, karena dirinya tidak pernah meminta atau menagih, apalagi menunggu orang tua siswa di BRI saat pencairan BSM tersebut.

“Saya tidak pernah minta di orang tua siswa, apa lagi saya tunggu langsung di Pintu BRI seperti yang diberitakan itu tidak benar,” katanya.

Toni menandaskan, dirinya hadir disana hanya untuk mendampingi siswa dan orang tua untuk membantu mengurus pencairan. Dia mengatakan memang saat itu orang tua siswa menyodorkan uang, tetapi dirinya menolak, sebab itu uang adalah haknya siswa.

“Saya menolak, bahkan mereka paksa untuk beri. Tetapi saya menolak karena nanti dinilai orang lain saya pungut uang dari orang tua siswa. Jadi saya juga tidak tahu, karena atas inisiatif para orang tua siswa, mereka kumpul lalu berikan ke saya,” jelasnya.

Secara terpisah, Sekretaris PKPO Kabupaten Malaka, Yohanes Bria Nahak, S.Sos ketika dikonfirmasi lewat pesan WhatsApp pada hari Senin (20/07/2020) terkait pungutan yang dilakukan Operator SDK Kada, apakah atas instruksi dari Dinas PKPO Malaka, karena ini menjadi keluhan orang tua murid terkait BSM, dirinya mengatakan sementara ia telah memanggil Kepala SDK Kada.

Baca Juga:  Rm. Yudel Neno; Apresiasi Polda NTT yang Tahan 8 Tersangka Proyek Bawang Merah

“Kami dari dinas sementara memanggil kepsek untuk memintai keterangannya. Terima kasih,” jawabnya singkat.

Untuk diketahui, BSM merupakan  bantuan bagi siswa miskin. Per semester sebesar Rp 225.000,- atau Rp 450.000,- per tahun.

Diberitakan oleh Media SULUH DESA sebelumnya bahwa, Operator Sekolah Dasar Katolik Kada, berinisial T diduga melakukan pungutan liar (pungli) terhadap uang beasiswa yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Wemasa. Hal ini disampaikan orang tua siswa AL dan MD ketika ditemui wartawan di kediamannya di Kada, Desa Lakekun, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Rabu (15/07/2020). Dugaan kuat, pungli oleh oknum operator sekolah itu sudah diketahui orang tua siswa yang lain hanya didiamkan saja.

Pengakuan MD dan AL, pungli itu berlaku untuk semua murid yang menerima beasiswa itu. Anehnya lagi, cara mengambil uang beasiswa di BRI Cabang Wemasa itu, operator tersebut menunggu langsung di depan BRI Unit Wemasa.

Dikatakannya, nominal pungutan bervariasi, sesuai nilai uang yang siswa terima. Siswa yang terima Rp 1.000.000 lebih dipotong sebesar Rp 200.000 sampai Rp 250.000, yang terima Rp 800.000 dipotong Rp 150.000 dan Rp 400.000 dipotong Rp 50.000.

“Operator minta uang semaunya saja di orang tua murid yang terima uang dari beasiswa itu, sedangkan jumlah penerima beasiswa untuk SDK Kada ada 100 lebih siswa yang terima,” katanya.

Baca Juga:  Bupati Malaka Perintahkan Dinas PUPR untuk Perbaiki Jalan Longsor

Sesuai dengan pengakuan beberapa orang tua murid ini, kelakuan operator ini bukan baru ini kali saja, tapi sudah berulang kali.

Kepada wartawan,orang tua siswa tersebut bertanya, kira-kira pemotongan uang ini ada perintah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka atau perintah dari kepala sekolah (kepsek)?

Dirinya menjelaskan, ketika mereka bertanya kepada oknum operator itu, alasannya, ia meminta uang tersebut sebagai uang lelah dari kerja semua administrasi.

“Ini aneh sekali, karena cara mengambil uang itu, si operator langsung tunggu di depan pintu masuk BRI dan dia tagih juga sesuai siswa yang terima dan lihat dari nilai uang yang diterima, bahkan ada yang terima Rp 800.000, ketika dia minta, orang tua siswa kasih Rp 50.000, dia tidak mau terima, katanya harus Rp 100.000. Sehingga kami sebagai orang tua siswa merasa tidak puas. Untuk apa uang yang diminta dari siswa tersebut, karena minta juga tanpa alasan yang jelas. Ini hak anak-anak bukan hak dari operator. apakah uang ini bisa potong atau tidak?kalau memang bisa, uang itu untuk apa,” ucapnya.

Mereka berharap, pihak SDK Kada memberikan penjelasan, sehingga, mereka tahu arah uang yang dipotong ini dilakukan untuk apa.

“Harapan kami, jelaskan saja uang yang kumpul itu untuk apa kalau memang ada keperluan lain jelaskan atau sampaikan saja dan terbuka untuk kami juga ketahui,” tuturnya. (fecos/fecos)