Pilkada Ngada, Anyos Wea Bisa Jadi Kuda Hitam Petahana

oleh -1.678 views
Hermanus Yoseph Beo Wea, S.T atau Anyos Wea (AW) (Bakal Calon Bupati Ngada).

SOSOK, suluhdesa.com – Dinamika politik menyongsong pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Ngada hari ini memberikan warna dan corak yang pragmatis. Bagaimana tidak? Mendekati injury time, sebagian partai justru belum mampu menyodorkan kader dalam satu pasangan calon yang hendak dijual ke publik agar masyarakat memiliki deadline waktu yang cukup panjang untuk mendalami setiap kandidat yang hendak mereka pilih sebagai Bupati Ngada dan Wakil Bupati Ngada ke depan pada tanggal 9 Desember mendatang.

Gestur perpolitikan yang demikian menunjukan bahwa partai hanya sekedar saling menunggu dan mengukur kekuatan atau kelemahan lawan dalam satu paket sehingga bisa menentukan paket tandingan yang jauh lebih menguntungkan sehingga bisa memenangkan pertarungan. Watak perjuangan partai hanya sebatas mengadu kepopuleran figur. Padahal, baik dan buruknya pembangunan Ngada ke depan tidak sebatas memenangkan politik, melainkan lebih pada kualitas dan kapabilitas figur.

Para kader yang hendak maju pada akhirnya dibuat kebingungan bahkan kalah sebelum bertanding menghadapi watak pragmatis partai politik. Ada figur yang harus terhempas ke luar dan begitu juga dengan koalisi yang masih abu-abu akibat bongkar pasang Paslon.

Dari situasi tersebut, ternyata ada beberapa nama yang telah dicoba untuk dikawinkan dengan Petahana yang sudah berada di titik nyaman. Namun partai belum menentukan sikap secara tegas siapakah figur yang layak untuk dijual ke masyarakat mendampingi seorang Petahana. Sikap partai untuk mengulur-ulur waktu terhadap hal tersebut dapat juga dimaknai secara rasional.

Petahana yang hari ini tampil memiliki nama besar yang tidak segemilang seperti seorang Marianus Sae (MS). Persoalan progress pembangunan di Ngada yang berjalan di tempat setelah kepergian MS merupakan halangan besar bagi partai untuk bisa meraih kepercayaan publik kepada Paulus Soliwoa (PS).

Agar bisa menambal berbagai kelemahan tersebut mau tidak mau PS harus memilih Calon Wakilnya yang memiliki keunggulan memadai dan tidak cacat secara politik. Jika sudah tepat memilih calon pasangan yang potensial, hal tersebut bukan berarti PS tetap mudah merebut hati masyarakat. Persoalannya, lawan politik juga menggunakan strategi yang sama. Mereka akan menunggu siapa yang akan mendampingi PS dan menetapkan figur mana yang dapat melampaui elektabilitas calon wakil PS.

Dari berbagai nama yang menghebohkan dunia maya, ternyata ada satu nama yang nyaris tidak disebutkan di sana. Dia adalah Hermanus Yoseph Beo Wea, S.T atau Anyos Wea (AW), seorang PNS dengan jabatan Eselon 3 di level Provinsi Nusa Tenggara Timur. AW memang tidak disebut, tetapi posisi dan nilai tawar seorang Anyos Wea sangatlah besar dan berpengaruh untuk bisa menentukan kekuatan paket mana saja untuk bisa menang melawan Petahana. Tetapi AW bisa juga menjadi kuda hitam Petahana itu sendiri.

Pertimbangan ini bukan tidak beralasan. AW memiliki rekam jejak yang visioner sebagai seorang ASN. Meski memiliki jabatan strategis di Provinsi NTT, ia tetap konsisten untuk maju dan bertarung. Ia adalah kader muda Ngada yang potensial, progresif dan out of the box.

Komitmennya untuk maju memiliki sejumlah alasan yang kuat. Sebagai seseorang yang pernah berada di birokrasi Ngada, ia tahu persis berbagai masalah di tubuh birokrasi Ngada, dan tahu betul bagaimana mengubah tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih.

Baca Juga:  Bupati Malaka: Kami Tersanjung Dengan Kunjungan Kapolda NTT

AW juga memiliki pengalaman mumpuni di bidang infrastruktur karena ia adalah pelaku dalam urusan teknis, baik jalan, listrik, dan air. Meskipun begitu ia memiliki konsep besar terhadap masa depan Ngada. Hal itulah yang menjadi motif sehingga jiwa dan pikirannya terus menolak berada di zona nyaman dan siap keluar dari PNS.

AW ingin mewujudkan kemandirian masyarakat Ngada. Ia memiliki pandangan bahwa esensi dari pembangunan itu sendiri adalah manusia, infrastruktur, aset pertanian. Perikanan, dan kelautan, UMKM, BUMDes adalah sarana atau syarat yang harus dikerahkan untuk menciptakan kemandirian itu sendiri. Orientasi pembangunan tidak sebatas proyek dan menyerap anggaran, tetapi lebih dari pada itu harus ada parameter out come yang terukur, bahwa masyarakat sudah sejahtera.

Pariwisata harus menjadi lokomotif ekonomi yang berjalan sama dengan pertanian, perikanan dan kelautan, UMKM dan BUMDes. Tetapi yang menjadi pelaku dan penggerak utama harus masyarakat lokal agar mereka bisa menikmati hasil, bukan kapitalis.

Untuk itu ia bertekad, jika ia menang dalam Pilkada Ngada ini, dirinya sebagai pemerintah harus melibatkan Gereja. Pemerintah dan Gereja harus memiliki visi yang sama untuk dapat berjalan sama untuk mewujudkan kemandirian masyarakat sekaligus umat. Peran Gereja akan menjadi ujung tombak dalam membangun kemandirian masyarakat, Karena Gereja memiliki sistem yang hebat sejak dahulu melalui sistem-sistem kerja misionaris.

AW sendiri dalam satu kesempatan mengungkapkan kerisauan hatinya melihat masyarakat kecil Ngada yang terabaikan terlebih fai walu ana salo (para janda dan yatim piatu) serta kaum difabel. AW mengungkapkan bahwa keberpihakan secara total harus dilakukan untuk mereka ini.

“Untuk menjadi Bupati Ngada banyak sekali cara yang lebih baik, lebih terhormat, lebih menggambarkan dan mencerminkan bahwa kata dan perbuatan bisa konsisten dari awal hingga akhir.

Saya arsitek, satu site bisa menghasilkan banyak mode dan rancangan tergantung keinginan owner dan visi perancang. Saat ini saya hanya berusaha mengalahkan diri saya sendiri dan membuka hati untuk karya perutusan Tuhan. Biarlah Tuhan yang memimpin saya melawan dunia. Kebijakan pemerintahan saat ini sudah cukup baik. Tugas saya selanjutnya adalah harus bisa menata Ngada menjadi lebih baik dari sekarang. Untuk itu, langkah yang mau saya ambil ke depan adalah dengan membuat contoh yang lebih baik agar masyarakat kita akan memperoleh cara pandang baru. Berusaha menampilkan gaya atau cara politik yang bermartabat agar masyarakat kita mampu membandingkan. Satu contoh universal, yang diomong dan dibuat harus sama atau sekurang-kurangnya sejalan,” kata AW saat berbincang dengan Media SULUH DESA di sebuah warung kopi di sudut Kota Kupang, Sabtu (19/07/2020) malam.

Baca Juga:  Wakil Walikota Surabaya, Hadiri Acara Natal di Gereja St. Aloysius Gonzaga-Surabaya

AW menegaskan bahwa, ia selalu berdoa untuk menjawab rancangan Tuhan. “Saya tantang orang tua yang ego. Segala kekuatiran akan terjawab kalau dimulai dengan benar. Mengapa saya harus maju jadi Bupati Ngada sebab orang tua tidak bisa mengerti anak muda. Cara menyelesaikan masalah selalu lamban. Lalu saya mau mengatakan, anak muda Ngada kurang duduk bersama. Resiko idealisme anak muda harus keluar dari zona nyaman. Anak muda jangan kalah dalam tataran ide,” tegas AW.

Lanjutnya, membangun daerah Ngada butuh sinergitas. Politik tidak pada hanya bicara tetapi harus melakukan. Politik adalah berbuat hingga berbuah. Politik harus terlebur dalam situasi. Politik jangan ikutan.  Jangan berpikir sendiri dan jangan arogan. Politik saat ini hanyalah pengulangan. Politik harus menemukan identitas diri. Politik harus tahu menggunakan sumber daya.

“Kita harus tahu untuk apa. Ide dan konsep tidak boleh hanya saja di dalam kepala. Politik harus saling membantu. Politik harus melihat kondisi dan situasi orang lain. Politik itu butuh kuasa dan panggilan. Butuh ide tidak bisa untuk diri sendiri. Kuasa bukan untuk populer. Tetapi alat untuk melakukan demi kepentingan orang banyak. Saya mau jadi Bupati Ngada sebab saya tidak memiliki beban masa lalu. Saya lakukan atas perintah Kitab Suci Katolik. Pergilah Engkau diutus,” urai AW.

AW mengaku sikapnya dalam berpolitik lantaran merasa bangga dengan orang tuanya. “Mereka yang bentuk saya menjadi Katolik tulen dengan kuasa Roh Kudus. Saya hanya minta khidmat supaya memiliki kemurnian hati. Saya ingin mempersatukan keluarga Ngada yang tercerai berai. Kita harus bersatu. Kalau saya maju saya akan prioritaskan hidup orang banyak. Yang pertama itu membangun kemandirian. Saya bentuk manusia supaya memiliki otak. Kalau infrastruktur itu nanti terjadi karena otak sudah ada. Lalu saya adakan air. Ngada butuh air. Yang kedua, saya bangun telekomunikasi. Di Ngada belum maksimal alat telekomunikasi. Makanya salah pesan dan salah terima. Saya bangun itu untuk saya tahu informasi yang di update supaya saya bisa buat kebijakan. Yang ketiga, saya maksimalkan semua UMKM di Ngada terlebih di kampung-kampung,” ungkap AW.

AW menandaskan, pariwisata di Ngada menjadi simpul seluruh kekuatan. “Yang lain kita benahi. Sehingga yang lain itu menjadi tujuan akhir. Kalau pariwisata hidup, maka terjadi aktifitas ekonomi. Jangan omong wisatawan mancanegara yang datang masuk kampung lalu lupa kalau domestik butuh hiburan.  Ngada harus memiliki panggung pariwisata secara baik dan benar. Oleh karena itu, tradisi lokal harus diangkat secara total dan utama dengan BUMDes menjadi ujung tombak. Di Ngada harus ada penguatan kelembagaan. Saya memaksimalkan kekuatan Balai Latihan Kerja (BLK) bagi orang-orang muda. BUMDes pun harus swakelola bersama berbasis partisipasi. Jika saya maju jadi Bupati Ngada dan menang, saya sebagai Pemerintah harus dikritik,” tegas AW.

AW ingin roda ekonomi di Kabupaten Ngada bisa berkreasi. Bagaimana mengorganisir potensi? Jawabannya adalah dengan menjadi mandiri. Menentukan sendiri dan berbuat sendiri. “Saya fokus kepada sesuatu yang menginspirasi dan saya akan membuat untuk sebuah kebahagian masyarakat Ngada, Bicara tentang politik itu menarik. Karena bicara politik mengenai semua kepentingan. Saya maju maka saya harus mengakomodir kepentingan orang muda dan fai walu ana salo (para janda dan yatim piatu). Saya akan menggandeng semua pihak. Birokrasi ini mengenai tata kelola pemerintah. Bupati tidak boleh lari dari visi misi presiden, dan gubernur. Saya melihat membangun Ngada harus dari sosial bisa berkembang menjadi profit. Bagaimana ini bergairah. Jangan terlalu berkonsep. Tugas birokrasi lakukan. Harus ada ruang pelayanan yang memberikan petunjuk supaya iklim persaingan harus ada. Kita bicara tanam, jangan ajar petani. Tata kelola ini manusia yang atur. Hanya efisiensi dan produktifitas kerja harus dikawinkan dengan entrepreneurship,” tandas AW.

AW menambahkan, untuk Ngada, penataan Kota Bajawa harus sesuai dengan kultur Ngada. “Kita harus buat kawasan perkantoran dengan sistem yang terintegrasi. Ini akan menjadi sejarah. Pada suatu ketika kita tidak sibuk urus kantor pemerintah sehingga kita hanya urus kebutuhan masyarakat. Lalu situasi keterhubungan setiap kecamatan harus dilakukan. Jangan egosentrik, sebab kita punya potensi kelautan dan perikanan,” tutup AW.

Baca Juga:  Ini Tolok Ukur Keberhasilan Dalam Latihan Menurut Danrem 081/DSJ

Anyos wea adalah jawaban terhadap rasa kehilangan masyarakat Ngada terhadap sosok pemimpin. Anyos wea sudah menjadi praktisi. Tidak hanya bicara pada teori tetapi menguasai teknis dan strategi untuk membangun Kabupaten Ngada.

Riwayat hidup Anyos Wea (AW)

Nama: Hermanus Yoseph Beo Wea, S.T

TTL: Bajawa, 11 April 1980

Istri: Yosefina Gabriela Dopo

Anak: Claudio Carol DopoWea

Ayah: Simon Wea

Ibu: Yuliana Dopo

Mertua: Nikolaus Dopo Ngoe

Emiliana Ruu Dopo

 Pendidikan:

TKK Regina Pacis Bajawa

SDK Ngedukelu Bajawa

SMPK Seminari St. Yoh. Berchmans Todabelu Mataloko

SMUK Seminari St. Yoh. Berchmans Todabelu Mataloko

S1. Teknik Arsitektur Unika Widya Mandira Kupang.

Pekerjaan:

PNS Pemda Ngada Dinas Pekerjaan Umum

PNS Pemda Ngada Dinas Pertambangan dan Energi

Kepala Bidang Kelistrikan pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTT

Organisasi:

OSIS

KORPRI

Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) (om toki-toki/viona)