Operator SDK Kada Selalu Potong Uang Beasiswa, Diduga Lakukan Pungli

oleh -1.124 views
Sekolah Dasar Katolik Kada di Desa Lakekun, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

MALAKA, suluhdesa.com – Operator Sekolah Dasar Katolik Kada, berinisial T diduga melakukan pungutan liar (pungli) terhadap uang beasiswa yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Wemasa. Hal ini disampaikan orang tua siswa AL dan MD ketika ditemui wartawan di kediamannya di Kada, Desa Lakekun, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Rabu (15/07/2020). Dugaan kuat, pungli oleh oknum operator sekolah itu sudah diketahui orang tua siswa yang lain hanya didiamkan saja.

Pengakuan MD dan AL, pungli itu berlaku untuk semua murid yang menerima beasiswa itu. Anehnya lagi, cara mengambil uang beasiswa di BRI Cabang Wemasa itu, operator tersebut menunggu langsung di depan BRI Unit Wemasa.

Dikatakannya, nominal pungutan bervariasi, sesuai nilai uang yang siswa terima. Siswa yang terima Rp 1.000.000 lebih dipotong sebesar Rp 200.000 sampai Rp 250.000, yang terima Rp 800.000 dipotong Rp 150.000 dan Rp 400.000 dipotong Rp 50.000.

Baca Juga:  Bupati Malaka Bantah Kumpul Massa Saat Pantau Tim Pencegahan Covid-19

“Operator minta uang semaunya saja di orang tua murid yang terima uang dari beasiswa itu, sedangkan jumlah penerima beasiswa untuk SDK Kada ada 100 lebih siswa yang terima,” katanya.

Sesuai dengan pengakuan beberapa orang tua murid ini, kelakuan operator ini bukan baru ini kali saja, tapi sudah berulang kali.

Kepada wartawan,orang tua siswa tersebut bertanya, kira-kira pemotongan uang ini ada perintah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka atau perintah dari kepala sekolah (kepsek)?

Baca Juga:  Cegah Corona, Bupati SBS Minta Polisi Tegur Masyarakat Malaka yang Masih ‘Kumpul-Kumpul’

Dirinya menjelaskan, ketika mereka bertanya kepada oknum operator itu, alasannya, ia meminta uang tersebut sebagai uang lelah dari kerja semua administrasi.

“Ini aneh sekali, karena cara mengambil uang itu, si operator langsung tunggu di depan pintu masuk BRI dan dia tagih juga sesuai siswa yang terima dan lihat dari nilai uang yang diterima, bahkan ada yang terima Rp 800.000, ketika dia minta, orang tua siswa kasih Rp 50.000, dia tidak mau terima, katanya harus Rp 100.000. Sehingga kami sebagai orang tua siswa merasa tidak puas. Untuk apa uang yang diminta dari siswa tersebut, karena minta juga tanpa alasan yang jelas. Ini hak anak-anak bukan hak dari operator. apakah uang ini bisa potong atau tidak?kalau memang bisa, uang itu untuk apa,” ucapnya.

Baca Juga:  Pembangunan Puskesmas Sarina Berstandar Nasional, Bupati Malaka Kagum

Mereka berharap, pihak SDK Kada memberikan penjelasan, sehingga, mereka tahu arah uang yang dipotong ini dilakukan untuk apa.

“Harapan kami, jelaskan saja uang yang kumpul itu untuk apa kalau memang ada keperluan lain jelaskan atau sampaikan saja dan terbuka untuk kami juga ketahui,” tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan, Oknum Operator SDK Kada belum berhasil dikonfirmasi. beberapa kali wartawan mencoba menghubungi lewat telepon, tidak direspon bahkan nomor handphonenya dinonaktifkan. (fecos/fecos)