Tambang di Matim; Hitung Rakyat Dapat Berapa, Jangan Hitung Pemda Dapat Apa

oleh -281 views
Diskusi virtual yang digelar Ultras Victory tentang Dinamika Pertambangan di NTT pada Jumat (10/07/2020) pagi di Aston Hotel, Kota Kupang.

KUPANG, suluhdesa.com – James Adam, salah satu peserta dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, yang hadir dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Ultr4s Victory di Hotel Aston Kupang, Jumat (10/07/2020, dalam sesi tanya jawab mengungkapkan bahwa tambang tidak akan pernah menyejahterakan rakyat.

Diskusi dengan topik, Dinamika Pertambangan di NTT: Polemik Rencana Pendirian Pabrik Semen dan Tambang Batu Gamping di Kabupaten Manggarai Timur itu dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, seperti Akademisi, LSM, dan media massa. Adapun narasumber yang hadir adalah Bupati Manggarai Timur Agas Andreas, Kadis ESDM NTT Yusuf A. Adoe, perwakilan WALHI Umbu Walang, Pengamat Pembangunan Pius Rengka, dan perwakilan AMARRA (Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya) Kupang.

“Saya akan mulai dari yang paling luas dulu ya. Switzerland dan Belanda itu tidak ada tambang, tapi itu negara maju. Indonesia  tambangnya banyak tapi tidak maju. Coba bapak ibu pikirkan, analisis sendiri. Pertumbuhan ekonomi di NTT tidak akan meningkat dengan mendapat support dari sektor pertambangan. Hidupnya kita berasal dari tiga sektor yakni pertanian, perikanan, dan kehutanan. Jangan bermimpi  kalau membuka banyak pertambangan di NTT lalu hidup kita akan sejahtera,” jelasnya.

Baca Juga:  Mahasiswa FKM Undana Kupang dan Panti Asuhan Sonaf Maneka Lakukan Ketahanan Pangan

Lebih lanjut Adam memaparkan bahwa, dalam jangka pendek pertambangan bisa memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat, itupun sedikit. Tapi dalam jangka panjang tidak akan pernah memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Adam juga memberi contoh tambang- tambang besar yang tidak memberikan kesejahteraan pada masyarakat yang berada di sekeliling tambang-tambang itu.

Menurut Adam, “jika memang mau buka tambang di Manggarai Timur, kita hitung dulu rakyat dapat berapa, jangan hitung pemdanya dapat apa, atau investornya yang diutamakan. Mestinya rakyat yang diutamakan, bukan pemda atau investornya.”

Baca Juga:  Kehadiran Industri Semen di Lingko Lalok, Bupati Matim Agas Andreas Tidak Jujur Dengan Warga

Di ujung pembicaraannya Adam mengajukan satu pertanyaan, “apakah pemerintah sudah membuat analisis, tentang dampak yang akan terjadi pada masyarakat? Apakah dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang masyarakat Manggarai hidupnya masih seperti sekarang atau berubah jauh? Dari perspektif pemerintah oke, dari sosiologis oke, dari perspektif ekonomi saya yakin jauh dari harapan.”

Berkaitan dengan hal itu Adam juga mengajak semua peserta diskusi untuk melihat contoh-contoh dampak tambang yang ada di NTT.

“Coba kita lihat yang dekat-dekat dengan kita seperti di Molo dan Sukun, bagaimana nasib mereka sekarang? Tambangnya sudah tutup tetapi masyarakat hidupnya tidak berubah. Atau yang lebih dekat lagi dengan kita, pabrik Semen Kupang yang kita bangga-banggakan itu. Selama 34 tahun, hanya satu tahun pemerintah mendapat deviden yakni di tahun 2017. Makanya kita mesti membuat kajian, karena jabatan bupati akan berakhir besok, kepala dinas ESDM akan berakhir lusa, tapi bagaimana dengan nasib anak-anak dan cucu-cucu kita?,” sergahnya.

Baca Juga:  Terima kunjungan Parmusi NTT, Ini Pesan Danrem 161/Wira Sakti

Tambahnya, “dalam jangka pendek tambang mungkin menguntungkan, tapi dalam jangka panjang tambang itu merusak, karena lahan yang dipakai untuk tambang tidak mungkin bisa dipakai lagi oleh anak-anak dan cucu-cucu kita.” (Joe Radha/JR)