Pilkada Belu dan Sesat Pikir Para Pemain Opini

oleh -164 views
Lejap Angelo Mestius. S. Fil (Wartawan Media SULUH DESA, tinggal di Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur)

OPINI, suluhdesa.com – Akhir – akhir ini gaung politik jelang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak tahun 2020 terus menggema di sejumlah daerah di Indonesia. Mulai dari surat kabar, media online mainstream, media sosial (medsos), grup facebook dan grup  WhatsApp. Juga di warung-warung kopi dan tempat nongkrong dapat kita jumpai ada begitu banyak para pemain opini dan pegiat demokrasi mulai gemar memainkan narasi politik. Situasi tersebut tentu saja wajar. Sebab, pada 9 Desember 2020 mendatang, sebanyak 270 daerah di Indonesia akan menyelenggarakan pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak.

Menurut Kemendagri, pilkada serentak akan tersebar di 9 provinsi,  224 kabupaten dan 37 kota. Di Provinsi NTT sendiri, ada  9 kabupaten yang akan menggelar Pilkada 2020 yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Ngada di Pulau Flores, Sumba Timur, Sumba Barat di Pulau Sumba, Kabupaten Sabu Raijua, serta Belu, Malaka dan Timor Tengah Utara (TTU) di Pulau Timor.

Di Kabupaten Belu sendiri saat ini terlihat jelas bahwa, dalam menyongsong pilkada para pemain opini politik (seseorang yang mampu membuat gagasan-gagasan atau inovasi terkait politik)  masih dan semakin gencar melancarkan aksinya. Para pemain opini tersebut, ada yang berlatarbelakang dari partai politik dan ada juga yang berasal dari masyarakat biasa alias tim sukses yang mana semuanya cenderung mengunggulkan kandidat yang dijagokan. Tentu ini wajar dan sudah seharusnya demikian.

Keberadaan para pemain opini ini memang tidak dapat dianggap remeh. Dari mereka suara masyarakat bagi para kandidat itu diperoleh. Dari mereka tongkat kepemimpinan kekuasaan untuk kandidat itu didapat. Bagi para kandidat  keberadaan pemain opini politik itu sangat penting. Mereka adalah panglima perang yang mana pendapatnya selalu senjata ampuh untuk menaklukkan lawan. Para pemain opini, biasanya memiliki strategi yang mumpuni dan juga pengikut yang tidak sedikit. Apalagi di era digital yang mana hampir setiap orang dan setiap rumah dapat dipastikan memiliki smartphone untuk dapat dengan mudah mengakses segala informasi terkait pilkada. Pernyataan para pemain opini  selalu ditunggu-tunggu oleh pengikutnya dan menjadi pengganggu yang dapat memengaruhi bagi penantangnya.

Salah satu strategi yang biasa digunakan oleh para pemain opini adalah strategi Fallacy Argumentum. Atau dengan kata lain argumen yang menyesatkan nalar. ‘Fallacy Argumentum’ berasal dari kata bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Secara akademis Fallacy sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep yang dibuat secara sengaja maupun tidak sengaja demi tujuan tertentu.

Ada dua pelaku fallacy yang terkenal dalam sejarah filsafat, yaitu mereka yang menganut Sofisme dan Paralogisme. Mereka melakukan sesat pikir dengan cara sengaja menyesatkan orang lain, padahal si pengemuka pendapat yang diserang tidak sesat pikir. Disebut demikian karena yang pertama mempraktikkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung. Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggung jawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya atau biasa disebut dengan istilah paralogisme.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu. Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam penalaran. Secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.

  1. Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (forma) penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (hukum-hukum silogisme).
  2. Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat terjadi karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi).
Baca Juga:  Ziarah ke Makam Raja Mandeu, Paket SEHATI Minta Restu di Pilkada Belu

Berikut ini adalah beberapa jenis fallacy dari jenis “Kesesatan Relevansi” (Kesesatan Material) yang sering dilakukan oleh kaum sofis sejak masa Yunani kuno hingga kini dimainkan juga oleh para pemain opini dalam Pilkada Belu:

  1. Fallacy of Dramatic Instance, yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan menggunakan satu-dua kasus saja untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalization).

Contoh: “Semua yang menentang Pasangan Calon  (Paslon) A adalah pelaku atau pendukung tidak adanya perubahan ke arah yang lebih baik perkembangan di Kabupaten Belu.”

Pembuktian Sesat Pikir: Satu-dua kasus yang terjadi terkait kepentingan pribadi kita dalam satu lingkungan tertentu tidak bisa dengan serta merta dapat ditarik menjadi satu kesimpulan umum yang berlaku di semua tempat.

  1. Argumentum ad Hominem Tipe I (Abuse): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi justru menyerang pribadi yang menjadi lawan bicara.
Baca Juga:  Ini Tolok Ukur Keberhasilan Dalam Latihan Menurut Danrem 081/DSJ

Contoh: Saya tidak ingin lagi memilih Paslon B, karena ia seorang yang tidak pandai berbicara. Orang yang tidak pandai bicara adalah orang yang tidak mampu memimpin.

Pembuktian Kesesatan Berpikir: Argumen Anda menjadi benar, bukan dengan membodohi atau menganggap remeh orang lain, tetapi karena argumen Anda disusun berdasarkan kaidah logika yang benar dan bukti-bukti atau teori yang telah diakui kebenarannya secara ilmiah.

  1. Argumentum ad Hominem Tipe II (Sirkumstansial): Berbeda dari argumentum ad hominem tipe I, maka sesat pikir tipe II ini menyerang pribadi lawan bicara sehubungan dengan keyakinan seseorang dan atau lingkungan hidupnya, seperti: kepentingan kelompok atau bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.

Contoh 3: “Saya tidak mendukung Paslon B karena ia tidak berasal dari daerah kami.”

Pembuktian Kesesatan Berpikir: Ketidaksetujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi yang logis, tetapi karena lawan bicara berbeda tempat tinggal.

  1. Argumentum Auctoritatis: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika nilai penalaran ditentukan semata oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya.

Contoh: “Saya meyakini bahwa pendapat raja (Nai) itu benar bahwa Paslon A pasti menang dalam Pilkada Belu karena ia seorang raja.”

Pembuktian Sesat Pikir: Kebenaran suatu pendapat bukan tergantung pada siapa yang mengucapkannya, meski ia seorang raja sekalipun, tetapi karena ketepatan silogisme yang digunakan berdasarkan aturan logika tertentu dan atau berdasarkan verifikasi terhadap fakta atau teori ilmiah yang ada.

  1. Kesesatan Non Causa Pro Causa (Post Hoc Ergo Propter Hoc): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika terjadi kekeliruan penarikan kesimpulan berdasarkan sebab-akibat. Orang yang mengalami sesat pikir jenis ini biasanya keliru menganggap satu sebab sebagai penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akibat dari peristiwa pertama–padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Contoh: “Anda membuat satu strategi penggalangan massa dengan cara x untuk mendukung seseorang  yang anda jagokan dalam pilkades dan ternyata strategi Anda berhasil karena calon kades yang anda dukung kini menjadi kepala desa. Kemudian  strategi x itu anda gunakan untuk pileg, dan Anda berhasil juga. “Ini bukan sembarang strategi!” kata anda. “strategi ini mengandung keberuntungan.”

Pembuktian Sesat Pikir: keberuntungan itu bukan berasal dari strategi x yang Anda gunakan, tetapi karena anda menguasai dengan baik psikologi politik masyarakat yang dipengaruhi saat itu.

  1. Argumentum ad Baculum: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen yang diajukan berupa ancaman dan desakan terhadap lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya
Baca Juga:  Roy Tei Seran Maju Di Pilkada Malaka: Merupakan Panggilan

Contoh: “Jika Anda tidak memilih Paslon A yang saya katakan, maka Anda akan terkena azab Tuhan. Karena orang ini telah mendapat dukungan penuh dari pemimpin  agama yang kita yakini.”

Pembuktian Sesat Pikir: Tuhan tidak mengazab seseorang hanya karena orang itu tidak menyetujui pendapat Anda.

  1. Argumentum ad Misericordiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan atau keinginan tertentu.

Contoh: “Saya berasal dari keluarga miskin, sama seperti bapa dan mama sekalian. Dari dulu kita tidak dianggap, kita selalu dihina. Kita tidak diperhatikan dan selalu dibuang. Untuk itu saya anak dari bapa mama yang sama-sama dihina dan dilupakan oleh pemimpin sekarang  mau naik jadi Bupati. Maka, bapa mama sekalian mari dukung saya, supaya saya jadi Bupati, dan ketika saya jadi Bupati yakinlah bahwa  harga diri  kita tidak akan diinjak-injak lagi.

Pembuktian Sesat Pikir: Menjadi seorang pemimpin dalam hal ini bupati, tidak untuk memperhatikan kelompoknya sendiri tetapi untuk semua yang berada di bawah kepemimpinannya. Dengan kata lain ia harus melayani semua tanpa tanpa pilih kasih.

  1. Argumentum ad Ignorantiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika seseorang memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada oleh sebab kita tidak mengetahui apapun juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya.

Contoh: “Bupati itu tak ada gunanya, karena sampai sekarang kabupaten kita masih terus saja tertinggal.”

Pembuktian Sesat Pikir: Bupati dibutuhkan bukan ketika kabupaten kita sudah maju, tetapi justru saat kabupaten kita masih  dalam status tertinggal.

Dalam persiapan menyongsong pilkada di Kabupaten Belu pada tanggal 9 Desember mendatang saya berharap kepada para pemain opini agar dapat memberikan pengajaran politik yang baik kepada para pengikutnya dan juga lawan politiknya. Kepada masyarakat  saya juga berharap agar selalu cerdas ketika berhadapan dengan para pemain opini agar tidak terjebak dalam lumpur “fallacy” sehingga, pelaksanaan pesta demokrasi yaitu pilkada di Kabupaten Belu pada 9 Desember 2020 mendatang berjalan aman, lancar, jujur dan adil sesuai harapan Negara. (*)

Oleh; Lejap Angelo Mestius. S. Fil (Wartawan Media SULUH DESA, tinggal di Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur)