Anak Bupati TTU Kerja Kebun dan Dapat Uang Jajan Dua Ribu Rupiah

oleh -8.802 views
Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara, Ray Fernandes bersama anak-anaknya saat di kebun.

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Memiliki kedua orang tua yang sukses tidaklah membuat anak-anak dari Bupati Timor Tengah Utara, Ray Fernandes dan Maria Kristina Muki yang menjadi Anggota DPR RI untuk menjadi terlena dan duduk berpangku tangan. Hal ini nampak dalam diri putra sulung mereka Agustyno Mario Fernandes (23) yang saat ini sedang kuliah di Universitas Timor (Unimor) di Kota Kefamenanu. Selain kuliah Rio sapaan akrabnya menggeluti peternakan dengan beternak ayam unggulan. Agustinho Mariano Fernandes (19) putra kedua Bupati Ray juga menggeluti dunia peternakan dengan beternak ayam, bebek, angsa, kalkun di rumahnya. Hasil yang didapatkan selain untuk kebutuhan sendiri, sebagian untuk menabung. Demikian juga dengan Ignazio Marko Fernandes (17) putra ketiga ini memiliki pekerjaan yang sama dengan kedua kakaknya, yakni beternak ayam. Semua hasil dari kerja keras didapatkan untuk membiayai diri sendiri dan pendidikan mereka.

Saat Media SULUH DESA berkunjung ke lahan pertanian milik Bupati TTU ini pada hari Kamis (02/07/2020) siang, di Kampung Lulu, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu, nampak beberapa anak kecil yang sedang menggali lubang yang akan ditanami kelapa. Karena penasaran, Media SULUH DESA mencoba berkomunikasi dengan anak-anak ini. Wajah mereka terlihat menyembunyikan perasaan malu saat mengetahui bahwa yang sedang mengajak mereka berbicara adalah Wartawan. Betapa terkejutnya Media SULUH DESA saat mengetahui bahwa dari beberapa anak yang ada, ternyata ada tiga orang anak Bupati Ray Fernandes. Bagaimana tidak? Wajah mereka berkeringat dan hitam karena sengatan matahari siang yang panas, pakaian yang dikenakan penuh tanah kering yang menempel, bahkan tangan dan kaki mereka penuh debu.

Adalah Junior Dominik Meo Fernandes. Biasa disapa Junior dan merupakan murid Kelas 6 SDK Leob, Kota Kefamenanu yang juga putra keempat Bupati Ray Fernandes dan Kristina Muki. Selain Junior, ada Anselma Patradevi Fernandes (10) anak kelima yang bersekolah di SDN Kenari, Kota Kefamenanu kelas 6, dan Raymunda Elshiada Fernandes (9) kelas 4 SD.

Baca Juga:  Peringati Hari Infanteri, Satgas Pamtas RI-RDTL Gelar Pameran Alutsista di Perbatasan

Ketiganya setiap hari usai pulang sekolah dan selama Covid-19 ini saat belajar dari rumah, pada sore harinya, mereka membantu orang tua bekerja di kebun. Tidak ada yang istimewa dari penampilan mereka bertiga. sederhana, kotor seperti anak-anak lainnya saat berada di kebun.

Saat ditanyai Media SULUH DESA, apakah Junior tidak malu bekerja di kebun padahal ia seorang anak bupati? Ia dengan spontan  menjawab tidak malu kerja kebun.

“Pulang sekolah langsung ke kebun. Bapak tidak pernah suruh, tapi saya yang suka membantu bapak di kebun bersama kedua saudara saya Anselma dan Munda. Di kebun kami siram sirih, pikul pupuk, ambil anakan. Saya yang mau sendiri dan saya rasa tidak cape. Jika ada teman-teman yang omong anak bupati maka saya jawab biar saja. Besar nanti saya tidak mau jadi bupati tetapi saya  mau jadi petani sukses,” katanya polos.

Baca Juga:  Polres Sumenep Amankan Truk Bermuatan 10 Ton Beras Oplosan

Junior dan kedua saudaranya tidaklah seperti anak-anak pejabat lainnya yang jika berlibur akan pergi berwisata ke luar negeri, berbelanja, atau tinggal di hotel mewah.

“Ketika berlibur kami hanya libur di Kupang saja. Itu juga hanya beberapa hari. Selebihnya banyak menggunakan waktu untuk bantu bapak di kebun,” ucap Junior.

Dari cerita pengasuh mereka, disampaikan bahwa, mereka sangat luar biasa. Tidak mengeluh jika berada di kebun. Mereka akan siram tanaman, menggembur tanah, menggali lubang untuk tanam kelapa sama-sama.

“Uang yang menjadi upah itu didapat secara adil dan sama rata dengan karyawan. Contohnya ini mereka gali lubang untuk tanam kelapa. Nah satu lubang itu 10.000 rupiah. Saat dibayar  jumlah ini sama dengan karyawan lain yang turut serta menggali. Lalu, uang yang didapatkan  itu untuk menabung dan jika ke sekolah orangtua hanya memberikan uang jajan sebesar dua ribu rupiah. Keseharian mereka di rumah adalah membereskan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, sapu rumah, dan sapu halaman meskipun di rumah banyak saudara-saudara dari kampung yang tinggal bersama,” ceritanya.

Melihat putra-putrinya ini yang bekerja untuk mencari uang sendiri, Bupati Ray Fernandes mengatakan, “banyak orang melihat dan berpikir bahwa saya bupati dan ibu anggota dewan di pusat pasti memiliki finansial yang bagus dan semuanya aman termasuk untuk anak-anak saya, tetapi  bagaimana cara saya mendidik anak- anak saya supaya bisa terlibat bekerja di kebun atau mengurus ternak. Saya mengajarkan kepada mereka untuk hidup sederhana dan jika ingin mendapatkan sesuatu harus bekerja tidak boleh enak- enak saja. Sehingga mereka mulai termotivasi untuk bekerja. Makanya ada yang pelihara ayam, kerja kebun, dan itu saya beri upah sama seperti karyawan yang lain.”

Baca Juga:  PMKRI Kupang Kecam Oknum DPRD TTS yang Ancam dan Maki Pastor

Lanjut Bupati Ray, “mereka tidak boleh memanfaatkan hasil kerja orang tua begitu saja. Mereka juga turut serta merasakan bagaimana mereka bekerja. Sebab ini bukan untuk saya tapi ini untuk nilai hidup mereka di masa yang akan datang. Tapi sebagai bapak, saya kadang melarang mereka untuk  jangan bekerja kalau libur, akan tetapi mereka protes dan menangis. Anak- anak minta mereka harus diizinkan ke kebun. Saya mengajarkan kepada mereka untuk tidak terlena dengan kemewahan orang tua. Pada awalnya, anak-anak, saya latih kalau hidup itu keras, harus disiplin, dan tidak berpangku tangan. Mereka harus bekerja mandiri tanpa mengandalkan apa yang dimiliki orang tua.”

Salah satu warga kampung yang menjadi karyawan di lahan tersebut memberikan kesannya secara mendalam tentang sosok Bupati TTU, Ray Fernandes.

“Kesan saya terhadap Bupati Ray adalah dia sangat luar biasa. Bupati itu saat upacara dinas. Tapi kalau di luar dia adalah petani dan kita semua sama. Itu yang selalu dia omong ke kami di kebun ini,” pungkasnya. (fwl/vrg)