Ray Fernandes; Pagi Jadi Bupati TTU, Sore Urus Kebun dan Ternak

oleh -13.161 views
Bupati Timor Tengah Utara, Ray Fernandes setiap sore hari menekuni pekerjaannya sebagai petani dan peternak di lahan miliknya sendiri.

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Namanya Ray Fernandes. Sosok Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara ini lahir di Desa Noemuti, Kefamenanu, empat puluh delapan tahun yang lalu. Bupati Ray pernah viral saat ia dan orang tuanya, Margaretha Manhittu dan Yakobus Fernandez, diundang oleh stasiun televisi Trans7 untuk tampil dalam acara Hitam Putih yang dipandu oleh Deddy Corbuzier beberapa waktu lalu. kedua orang tuanya diundang ke acara tersebut terkait kehidupan sederhana dari kedua orang tuanya, meskipun dirinya telah menjadi Bupati TTU. Dalam acara tersebut, mereka mengulas lebih dalam tentang kehidupan sehari-hari dari kedua orangtuanya yang masih aktif bekerja sebagai petani dan menjual hasil pertanian di pasar layaknya petani lainnya, padahal dirinya pernah melarang ayah dan ibunya untuk bekerja karena sudah memasuki usia tua, tapi larangannya tidak diindahkan.

Saat Tim Media SULUH DESA menyambanginya di rumah pribadinya di KM 5 Jurusan Atambua, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (01/07/2020) pukul 20.00 Wita, dari penampilannya tidak nampak bahwa ia adalah Bupati TTU dua periode. Ia sangat sederhana. Kesan pertama yang muncul adalah ia seperti laki-laki Timor pada umumnya. Bahkan saat bersalaman dengannya, telapak tangannya terasa kasar. Akan tetapi ketika berbicara, suaranya berwibawa dan dalam sebagai seorang pemimpin. Sorot matanya tajam menukik.

“Adik kamu lihat ini, saya kotor sekali. Saya baru saja pulang dari kebun, saya menyiram tanaman dan memberi makan ternak-ternak saya. Saya pergi kerja di kantor bupati itu pagi. Kalau siang sampai malam saya di kebun. Bahkan para tamu yang datang untuk urusan kantor juga saya layani di kebun sambil beri makan kambing, babi, sapi, dan kuda atau sambil siram tanaman. Jangan marah ya karena saya sendiri belum mandi. Kita harus kerja supaya bisa makan,” katanya sambil mempersilahkan Tim Media SULUH DESA untuk menikmati kopi panas yang baru saja diseduh. Sedangkan ia sendiri, dengan gaya “orang kampungnya” mulai menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Obrolan pun berlanjut. Siapa sangka, pria yang pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten TTU ini memiliki kisah hidup yang unik dan panjang. Dalam setiap narasi yang diucapkannya, terselip kesahajaan namun memesona.

“Saya tidak pernah bercita-cita menjadi Anggota DPR, Wakil Ketua DPR, Wakil Bupati, dan menjadi Bupati TTU apalagi sampai dua periode ini. Saya bahkan usai menyelesaikan perkuliahan saya, memiliki tekad untuk menjadi petani sukses. Sebab orang tua saya petani. Kalau orang tua saya petani dengan hasil yang sedikit sebab menggunakan cara tradisional di kebun, maka saya harus berhasil karena saya akan menggunakan cara modern yang dapat di bangku kuliah. Hanya memang saat saya masih SD, pernah ada kunjungan Bupati TTU waktu itu ke kampung saya di Noemuti. Seperti anak-anak kampung lainnya, saat rombongan bupati tiba dengan mobil, kami semua berkerumun bahkan sampai ada yang mencoba naik ke mobil bupati itu. Kami semua waktu itu diusir dan hampir dipukul Satpol PP yang mengawal. Nah spontan saya mengatakan ke teman-teman waktu kami melarikan diri dari kejaran Satpol PP tersebut. Saya sampaikan begini, teman, lihat saja nanti ya. Mobil yang sama yang dipakai Bupati TTU ini suatu hari saya juga akan duduk di dalamnya. Cerita ini pun berlalu begitu saja. Akan tetapi ketika saya dilantik menjadi Bupati TTU pada periode pertama, ini diungkapkan kembali salah satu teman saya yang datang. Itu kemudian menjadi membekas dalam hati saya. Rupanya Tuhan dan leluhur mendengar ucapan saya,” tuturnya.

Kami pun terpaksa mengakhiri cerita awal yang menarik ini sebab ia harus menerima kunjungan tamu. Masih dengan penampilan yang sama. Sederhana, bersahaja, namun tegas dan berkarismatik.

Hari Kamis (02/07/2020) pukul 11.00 Wita, Tim Media SULUH DESA diajak berkeliling di lokasi kebunnya yang berada di Kampung Lulu, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu. Dari jalan umum sekitar 500 meter dan kebunnya ini adalah sebuah bukit besar penuh pepohonan yang telah disulapnya bersih dan penuh dengan tanaman hortikultura dan tanaman lainnya.

Dengan hanya memakai baju kaos oblong putih, bercelana pendek, sepatu kets, dan bertopi cowboy, pria yang pernah menjadi Wakil Bupati TTU ini bersemangat menunjukkan setiap sisi kebunnya yang bakal dijadikan agrowisata.

“Jaringan air saya sudah atur. Saya sudah instalasi. Instalasi air menjadi pusat kontrol di sini. Kemudian dialiri ke fiber-fiber lainnya. Pertama kita suplay dari cekdam, tetapi karena airnya tidak sanggup maka saya bikin lagi cekdam di ujung sana, tapi itu mungkin tahun depan airnya baru terisi penuh. Untuk sementara, saya masih suplai dengan mobil tangki. Ternyata untuk hortikultura sangat bisa. Saya sudah panen ketimun, panen lombok, dan itu sangat menjanjikan. Hanya semangka saja yang gagal. Kita siram atau kebutuhan akan air itu berdasarkan komoditi. Jadi kalau siram kita tidak bagi berdasarkan hari. Tetapi berdasarkan kebutuhan tanaman. Kalau jagung ini kan setiap empat hari baru satu kali siram. Untuk semua tanaman ini ada perlakuan khusus. Karena kalau tanah berbatu, lalu tidak dilakukan perlakuan khusus maka tanahnya tidak akan subur. Yang pertama ini batunya kita keluarkan terlebih dahulu. Saya sendiri ikut kerja untuk bongkar semua batu ini saat dibajak. Tinggal kita bentuk bedengnya lalu siram dengan pupuk kandang. Pupuk kandang kita ambil lalu campur semua di dalam tanah bedengan ini lalu kita tanam. Ini ada beberapa tanaman yang tidak tumbuh karena ayam yang saya lepaskan disini mengaisnya. Saya kalau memulai sesuatu itu harus berhasil. Makanya saya optimis bahwa ini semua akan menghasilkan,” katanya.

Baca Juga:  Gubernur NTT; Jakarta yang Umumkan Pasien Positif Covid-19, Pasien Meninggal Bukan Karena Corona

Ketua DPW Partai Nasdem Provinsi NTT ini mengisahkan bahwa, pilihannya terbalik. Sejak awal selesai kuliah, impiannya adalah menjadi petani. Ia mengatakan, menjadi Bupati karena kebetulan dipilih oleh masyarakat Timor Tengah Utara. Pertanian itu adalah pilihan utamanya untuk menjalani hidup ini. Karena tidak hanya menyuplai kebutuhan dirinya dan keluarga tapi juga bagi orang lain.

“Kalau kita hanya hidup bermanfaat untuk diri kita sendiri kan tidak ada arti untuk itu. Lahan ini saya mulai baru buka bulan Maret 2020 waktu Covid-19 dan saat pemerintah membuat kebijakan untuk bekerja dari rumah. Saya berpikir daripada saya lebih banyak tidur makanya saya memutuskan minta eskavator mulai membongkar lahan ini. Ini hutan dan berbatu semua, dan pada awalnya orang-orang disini bilang saya gila. Tetapi karena tekad yang kuat saya mulai bongkar pelan-pelan. Ini juga belum selesai. Di timur ini kita masih tata dulu bedeng namun belum ditanami karena kita harus tata dari sebelah batas bedeng ubi itu. kalau sudah panen ubi, maka kita atur lagi bedengannya untuk ditanami. Bedeng ini saya buat keliling bukit. Ini saya akan lepas karena space untuk dibuat kolam renang. Saya sedang merancang semacam mini water boom itu untuk tempat pariwisata disini. Saya mau jadikan ini tempat agrowisata. Memang orang bilang saya menghayal karena air tidak ada sama sekali. Tetapi saya jawab mereka bilang, saya akan coba. Saya sudah deteksi dengan menggunakan alat, di tempat berbatu ini ada sebelas titik sumber air di kedalaman 70 meter. Akhir bulan juli ini sudah mulai kita bor,” ungkapnya.

Lahan tersebut berbatu dan kering. Akan tetapi dari pengakuannya, ia tidak takut sebab hidup ini adalah tantangan. Kalau setiap orang dikuasai rasa ketakutan, maka dia tidak akan pernah memulai. Oleh karena itu, tantangan tersebut harus dihadapi. Prinsipnya begini, setiap tantangan yang dialami dalam hidup ini tidak boleh dihindari apalagi lari. Tetapi harus dihadapi dengan kreasi, dengan pikiran yang murni untuk menyelesaikan masalah.

“Banyak jenis tanaman yang ditanami disini. Konsep saya awal itu adalah, saya melihat agrowisata itu monokultur seperti tanaman apel yang ada di Malang, Jawa Timur. Lalu dari situ saya mencoba untuk lebih dari itu. tidak hanya satu jenis komoditi. Jadi saya sudah mulai tanam anggur, naga, klengkeng, pepaya, jeruk, pohon ara, cabai, sirih untuk kebutuhan lokal, dan tanaman jenis lainnya. Sejauh ini yang hortikultural sudah menghasilkan. Kita sudah panen kacang hijau dengan hasil 48 juta rupiah. Sedangkan gaji saya sebagai bupati hanya 5,9 juta rupiah sebulan. Itu baru satu jenis tanaman. Belum tanaman yang lain yang sekarang menunggu waktu untuk dipanen. Sebenarnya, petani itu lebih kaya kalau dibandingkan dengan yang lain. Hanya orang kita tidak sadar itu. saya belajar dari orang tua saya yang memang petani. Walaupun dengan tingkat pendidikan yang minim tetapi bisa menjadikan kami anak-anak itu sarjana semua. Itu kan sesuatu hal yang luar biasa. Walaupun sekolah tidak ada, tapi mengolah pertanian secara tradisional dan membuat kami bersaudara itu jadi manusia semua. Artinya apa? Menjadi petani itu bisa. Yang penting mau kerja keras. Karena pertanian itu jelas bersentuhan dengan fisik kita. Banyak orang kita tidak mau menjadi petani sebab kerja berat dan bikin capek. Orang lebih mau yang pragmatis dan maunya cepat, mau hanya dapat uang untuk hari ini,” urainya.

Saat ditanya, mau buat apa saat masa jabatan Bupati TTU berakhir yang tinggal beberapa bulan lagi? Ia menandaskan, setelah pensiun ini, sesuai dengan konsepnya adalah sebagai pensiun petani. Ia mau jadi petani yang sukses dan kaya.

“Jangan mau jadi petani yang kerja sampai mati. Saya mau kerja petani itu yang menghasilkan. Petani kita di NTT ini mau kerja sampai mati karena harus banting tulang sampai akhir. Padahal menjadi petani itu mestinya menjadi boss untuk diri sendiri dan untuk kebunnya sendiri. Jadi petani jangan terjebak dengan kegiatan sosial yang menghabiskan waktu, uang, dan pertaniannya dijadikan urutan kedua dan ketiga. Apalagi pola hidup masyarakat kita di NTT ini pola hidup konsumtif yang sangat tinggi. Pola itu yang harus kita ubah. Produksinya sedikit, tetapi pengeluarannya besar. Itu proses pemiskinan yang diciptakan sendiri. Jadi gengsi itu menguasai mereka sehingga membuat tidak berdaya. Masyarakat kita butuh pionir yang dapat mengajarkan mereka untuk mengurangi budaya seperti ini. Jadi pionir itu harus ada di setiap desa untuk dia menjadi contoh. Budaya patriarkat inikan kita omong saja tidak bisa. Harus ada buktinya,” tegasnya.

Baca Juga:  Gelar Telekonferensi Bersama Gubernur NTT, Bupati Malaka Minta Hal Penting

Ia mengaku, sepuluh tahun menjadi Bupati TTU, ia menggerakkan pertanian ini. “namun kita baru sampai pada tingkat perluasan lahan. Belum sampai pada peningkatan produksi. Budaya orang Timor itu adalah satu lubang rame-rame. Itu dari aspek kearifan itu baik. Tetapi aspek ekonomisnya tidak baik. Aspek penyeimbang nutrisi tanah itu tidak bagus. Kalau sedikit masuk ke ketahanan pangan,karena semua jenis tanaman ditanami di lahan yang kecil akhirnya produksi itu sangat sedikit. Baru-baru ada Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan para pembantu rektor datang berkunjung ke rumah. Lalu dalam diskusi saya menjelaskan bahwa, saya adalah tamatan Undana yang mencoba menjaga nilai akademis yang saya peroleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan secara baik dan benar. Maka saya menyarankan supaya sistem perkuliahan diubah. Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan itu lebih banyak menciptakan manager. Bukan menciptakan peternak, bukan menciptakan petani. Ya, kalau tamat kuliah, adik-adik ini, saya perhatikan lebih banyak pegang ijazahnya lalu lamar kerja dimana-mana. Sangat jarang yang mau menjadi petani atau peternak,” tambahnya.

Mengenai semua bibit tanaman yang ada, pria yang ramah ini mengakui jika dirinya selalu mencoba untuk mencari yang terbaik. sangat unggul, dan dipesan dari luar daerah.

“Untuk urus kebun ini, kita harus punya kemauan, niat, dan kerja keras. Kalau semua itu ada, maka kita pasti sukses. Apapun, manusia ini kalau hadapi dan punya niat tertentu dan punya kemauan yang keras, itu pasti akan terjadi. Namanya mau memulai sesuatu pasti ada hambatan, ada tantangan. Semuanya itu tidak boleh dihindari tapi harus dihadapi. Kalau dihadapi kita punya keyakinan pasti jadi. Itu pengalaman yang saya alami selama ini. Itu juga menjadi komitmen dalam diri saya untuk memulai sekaligus menjawab apa yang menjadi konsep saya saat sedang menjabat sebagai Bupati TTU. Saya harus menyiapkan masa tua saya dengan menjadi petani sukses. Kalau petani itu tidak menyadari, pasti akan tetap mengalami masa yang sulit di saat masa tuanya. Karena orang menganggap itu hanya sebuah hal yang biasa. Maka itu yang mendorong saya untuk menunjukkan bukti dari konsep gerakan menjadi petani menuju pensiun petani dengan memaksimalkan lahan yang dimiliki untuk kepentingan hidup kita,” ucapnya.

Suami dari Kristina Muki yang menjadi Anggota DPR RI Periode 2019-2024 ini menceritakan jikalau yang membantunya bekerja di lahan ini adalah basudara semua dari kampung yang datang sekaligus belajar.

“Dalam proses kerja ini kita bagi hasil. Lebih dari itu saya mau mengajar mereka untuk mengolah secara baik yang kemudian hasilnya juga bagus. Yang terjadi selama ini kan, yang penting kita kerja. Soal ada hasil atau tidak yang penting ada. Nah itu yang membuat mereka bahagia dari apa adanya. Tetapi kalau dia mengolah dengan teknologi pertanian, rawat secara baik, dan tanam dari bibit yang bagus maka hasilnya besar. Dan mereka sudah alami waktu saya panen kacang waktu lalu. Itu hampir dua bulan kita panen kacang tanah. Sedangkan kacang hijau itu hanya tiga kali panen langsung selesai. Saya juga sedang memotivasi dan mengajarkan mereka untuk tanam jagung di musim kemarau,” ceritanya.

Pengakuannya, tanah Timor yang tandus tidak menjadikan dirinya pesimis. Harus ada harapan dan lakukan secara tulus dengan cinta yang total maka akan tumbuh hijau dan subur seperti ini.

“Saya punya keyakinan diri yang kuat untuk berbuat sesuatu yang di mata banyak orang itu aneh tetapi itu sangat bernilai bagi orang lain dan diri kita. Saya yakin ini akan sama seperti Israel yang tanahnya tandus dan gersang akan berubah menjadi hijau dan subur. Tanah Timor dan tanah Israel tidak beda, sama-sama tanah ciptaan Tuhan. Kalau kemudian kitab suci mengatakan bahwa mereka itu pilihan Allah, namun saya berpendapat kita juga di NTT adalah pilihan Allah. Justru karena kita pesimis dan tidak mau berupaya maka kita hidup dalam tataran kemalasan. Oleh karena keyakinan tersebut, membuat saya tertantang untuk menjadikan bukit batu ini sama seperti Israel yang biarpun tandus dan berada di gurun namun saat ini menjadi pemasok pertanian terbesar. Lalu, sejauh ini bahkan belum ada hama yang belum mengganggu tanaman disini. Justru mengganggu adalah ayam yang saya lepas itu,” ujarnya sambil menambahkan, “banyak orang menyangsikan pekerjaan yang saya lakukan ini dan saya menjawab mari kita buktikan.”

Baca Juga:  Arnoldus Wea Bagikan APD untuk Puskesmas Inerie dan Aimere

Pria yang malang melintang di dunia politik ini menyampaikan, rumus khusus mengurus kebun itu. “Bagi saya adalah soal kemauan. Banyak orang pintar di bangku sekolah tapi tidak ada kemauan untuk membaca dan belajar dari berbagai hal. Saya dasarnya belajar peternakan kemudian saya beralih ke pertanian, saya mencoba belajar lagi tekniknya akhirnya saya bisa menanam seperti ini. Saya belajar banyak apa yang dibutuhkan tanaman itu, kelembabannya, yang ternyata bisa disiasati dengan berbagai cara. Selama ini saya banyak mengajarkan kepada masyarakat saya dan jika mereka serius mengikuti mereka tidak perlu bekerja di luar negeri sebagai TKI. Bahkan ada yang saya bantu bibit dari dana pribadi saya maupun peralatan kerja milik saya serta tinggal mereka kerjakan namun setelah saya mencoba lepas supaya mereka lanjutkan sendiri ternyata gagal. Itu akibat dari mau instant dan mau dapat hasil yang cepat. Padahal kalau mereka laksanakan dengan baik, dalam skala kecil itu memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari- hari. Mengapa orang pergi ke luar negeri untuk menjadi TKI? Sebab mereka tidak memiliki pengalaman menjadi petani. Mereka diwarisi sikap petani yang menyerah dengan iklim yang hanya bisa tanam di musim hujan. Nah disini kan tanahnya tandus, saya berharap ke depan ketika ini sudah banyak menghasilkan, dapat menjadi contoh bagi masyarakat TTU dan NTT.

Di lahannya yang lain di Naen, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu, saat memasuki kawasan kebun tampak begitu banyak tanaman pertanian seperti pohon pepaya California, tanaman lombok dengan jumlah kurang lebih 20.000 lebih pohon, kacang tanah sekaligus sebagai tempat produksi pupuk organik yang diolah sendiri dari berbagai tanaman yang ada di dalam kebun itu dengan bekal ilmu pengetahuan yang didapatinya di bangku kuliah.

Pria yang sederhana ini dengan setia selalu berada di kebunnya hingga larut malam untuk menyiram tanaman, mengolah pupuk dan meraciknya sendiri dibantu para pekerja yang merupakan sanak saudaranya.

Menjadi kebanggannya karena semua tanaman yang ditanami itu tidak menggunakan pupuk kimia, baik terhadap tanah maupun terhadap tanaman ataupun terhadap manusia yang bisa menimbulkan berbagai penyakit tetapi mencintai lingkungan dengan  menggunakan pupuk organik. Hasil laboratorium Universitas Nusa Cendana Kupang dua kali menunjukkan unsur yang seimbang dan dapat dijual suatu saat nanti.

Mengenai Peternakan

Jenis hewan yang ia pelihara adalah sapi, kuda, kambing, babi, dan unggas (itik, ayam, dan kalkun). “Jumlahnya banyak sehingga saya tidak hitung. Sejauh ini sudah banyak menghasilkan yakni dari hasil penjualan babi, sapi, kuda. Untuk kuda sendiri saya pelihara menjadi kuda pacu. Harga terendahnya adalah 300 juta rupiah. Beberapa Bibit ternak itu saya kawin silangkan sendiri dari tahun 2000 sampai tahun 2008 sehingga menjadi bibit unggul yang ketika saya jual sangat mahal harganya. Sebagai contoh dari tahun 2006 sampai tahun 2016 saya jual anak babi 10.000 sampai 12.000 ekor. Hasil yang saya peroleh bisa sampai 10 miliar rupiah sampai 12 miliar rupiah. Kalau saya ambil untuk biaya operasional ternak itu, bersih di tangan saya 6 miliar rupiah. Prinsip saya adalah merawat semua hal yang saya lakukan ini seperti beternak dan bercocok tanam ini dengan hati yang tulus, total, dan biarkan Tuhan yang bekerja,” urainya lagi.

Lanjut ke virus Afrika (African Swine Fever) yang menyerang semua ternak babi di NTT saat ini, Ray menjelaskan, “virus itu ada tapi kalau maintenance kita baik, kandang bersih, vaksin teratur, pemberian nutrisi seimbang, virus itu tidak akan menyerang ternak babi. Kiatnya sederhana yakni: kandangnya harus bersih, ventilasi kandangnya bagus, pencahayaannya bagus, pemberian makanan yang sehat akan membuat babi bertahan. Babi banyak yang mati karena kebanyakan orang kita memberi makanan sisa.”

Mantan Aktivis GMNI Kupang ini mengaku, ke depan jika di Provinsi NTT banyak anak muda yang sukses di bidang pertanian dan peternakan ia justru merasa senang dan bangga. Ia tidak merasa disaingi, bahkan dirinya akan memberikan apresiasi secara khusus. Karena, menurutnya, memang selama ini ia banyak mendorong anak muda untuk menekuni bidang ini.

Ayah dari enam orang anak ini memiliki filosofi hidup yang menarik, yakni biarkan hidup itu mengalir seperti air. “Air mau dibendung bagaimanapun masih ada celah untuk menetes keluar. Untuk mendukung itu maka buatlah yang terbaik. Kalau kita tidak berbuat baik hari ini maka besok kita akan menyesal sebab kita melewati hari ini. Maka persembahkan hari ini yang baik maka esok akan menjadi yang terbaik,” tutupnya sambil tersenyum. (fwl/vrg)