Pilkada Ngada; Paket GUD-ATR Sengaja Dibubarkan?

oleh -1.045 views
Damianus Loni (Orang Muda Asal Ngada, Pemerhati Isu Sosial Politik)

OPINI, suluhdesa.com – Persaingan paket politik daerah Ngada menuju PILKADA Ngada tanggal 9 Desember 2020 kian memanas. Hal ini diwarnai dengan aksi saling bongkar pasang paket sebagai syarat mutlak untuk menggalang kekuatan politik. Politik memang selalu memainkan kemungkinan untuk menciptakan peluang, dan peluang politik adalah residu sebuah design. Sudah jamaknya, politik saling bongkar pasang pemain. Selain untuk menghasilkan sebuah design yang menarik agar diminati masyarakat, juga karena didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Begitu halnya yang terjadi dengan salah satu paket pasangan Bakal Calon Bupati Ngada dan Bakal Calon Wakil Bupati Ngada, Greg Upi Dheo-Anis Tay Ruba yang memiliki singkatan nama paket “GUD-ATR”.  Paket GUD-ATR dinahkodai oleh dua kader terbaik Ngada yang dinilai publik merupakan kombinasi terbaik karena merepresentasikan suara masyarakat Ngada secara keseluruhan baik dari kalangan muda maupun kalangan tua. Tidak hanya sebatas itu, keduanya memiliki kemampuan yang mumpuni untuk memimpin Ngada karena berasal dari latar belakang hukum dan pertanian yang juga ditunjang dengan pengalaman dan prestasi. Salah satu hal yang membuat paket ini begitu dicintai oleh masyarakat Ngada adalah bahwa mereka pendatang baru yang bebas dari dosa politik masa lalu.

Isu di balik bubarnya paket GUD-ATR sontak menjadi perbincangan hangat masyarakat Ngada. Ada masyarakat yang mengatakan bahwa ini hanya sekadar gimmick politik dengan maksud menarik simpati publik. Ada sebagian masyarakat yang menaruh empati terhadap paket tersebut namun tetap mendukung langkah yang ditempuh selanjutnya baik oleh GUD maupun ATR. Sebagian masyarakat yang lain mengatakan bahwa ini memang sudah diprediksi sebelumnya sehingga lebih memilih untuk mengadu domba GUD dan ATR. Terlepas pro dan kontra masyarakat Ngada terhadap langkah yang ditempuh oleh GUD dan ATR, pada prinsipnya aksi bongkar pasang paket politik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya butuh proses dan pertimbangan yang matang.

Baca Juga:  Ini Tolok Ukur Keberhasilan Dalam Latihan Menurut Danrem 081/DSJ

Narasi politik yang dibangun oleh masyarakat Ngada saat ini akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa “jika GUD yang menjadi dalang pembubaran paket GUD-ATR maka dia akan dibenci dan kehilangan pendukung ATR”. Demikianpun sebaliknya “jika ATR yang menjadi dalang pembubaran paket GUD-ATR maka dia akan dibenci dan kehilangan pendukung GUD”. Pertanyaannya adalah apakah paket GUD-ATR sengaja dibangun untuk dibubarkan di tengah jalan ataukah memang karena ada pertimbangan-pertimbangan lain yang sudah disepakati bersama antara GUD dan ATR? Politik itu dinamis dan cakupannya tidak hanya sebatas pada sebuah silogisme perspektif. Ada beberapa pertimbangan yang dapat diulas dari kejadian tersebut.

Pertama, syarat dukungan partai politik. GUD dan ATR sama-sama bukan kader partai politik. Oleh karena itu ketika komunikasi politik dibangun oleh keduanya maka mau tidak mau mereka harus mencari partai politik. Untuk koalisi partai sedikitnya harus didukung dua puluh persen atau sekitar 5 kursi di DPRD dari total 25 kursi DPRD di kabupaten Ngada. Hal ini mengindikasikan bahwa paket GUD-ATR harus memiliki modal dua partai pengusung atau 5 kursi di DPRD. Sampai saat ini paket tersebut baru mengantongi satu partai pengusung yaitu partai Demokrat sehingga harus melakukan lobi politik ekstra keras untuk mendapat partai pengusung yang lain.

Baca Juga:  Pilkada Malaka, DPP Golkar Resmi Berikan SK Kepada Pasangan SBS-WT

Koalisi partai menjadi faktor utama sekaligus penentu dalam mengusung paket politik. Banyak paket bermunculan yang diusung lewat partai politik. Keadaan ini mengisyaratkan bahwa bisa saja ada paket tertentu yang tidak lolos karena tidak memenuhi syarat dukungan partai politik. Paket GUD-ATR bisa saja sudah mengukur perolehan mereka akan syarat dukungan partai sehingga harus segera mungkin mencari alternatif-alternatif lain yang bisa ditempuh sebagai solusi.

Kedua, kekuatan finansial. Untuk mendapatkan syarat dukungan partai politik maka paket GUD-ATR harus memiliki kekuatan finansial. Mungkin saja ini menjadi salah satu penyebab paket tersebut harus bubar. Kekuatan financial penting untuk menggerakan mesin paket politik termasuk partai. Bayangkan saja, jika paket GUD-ATR memaksakan diri untuk tetap maju dalam PILKADA Ngada.  Berapa banyak finansial yang harus mereka siapkan untuk mendapatkan partai pengusung, melakukan sosialisasi, dan membiayai tim pemenangan? Politik di Ngada memang sudah menetapkan standar politik dengan biaya yang tinggi. Untuk membalikan keadaan ini memang cukup sulit. Dan ini tentunya harus menjadi pekerjaan rumah partai politik, kader partai, relawan, dan seluruh masyarakat Ngada untuk melakukan edukasi politik “biaya murah” guna menekan terjadinya KKN dikemudian hari.

Baca Juga:  Hasil Rapimda DPD Hanura NTT Desak DPP Gelar Munas: OSO Sebagai Ketua

Ketiga, setingan kelompok tertentu untuk menggagalkan langkah politik GUD-ATR. Ketika paket GUD-ATR dinyatakan bubar, banyak narasi yang berkembang di masyarakat. Ada yang menilai bahwa langkah politik yang ditempuh GUD-ATR sangat brilian karena mengingat dukungan partai dan kekuatan finansial dalam memperoleh partai koalisi. Mereka lalu menyatakan dukungannya kepada GUD dan ATR tanpa ada embel-embel politik. Namun ada yang mengecam bahkan menghina khususnya kepada GUD karena dinilai sebagai pecundang dan tidak berintegritas. Narasi dan diksi negatif yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu disinyalir merupakan setingan kelompok tertentu yang hanya mau menggagalkan langkah politik GUD. Kelompok yang masuk dalam klaster tersebut berada dalam lingkaran politik GUD yang hanya ingin memanfaatkan isi ATM-nya.

Ketiga hal tersebut menjadi pertimbangan yang mungkin saja membuat GUD dan ATR bersepakat untuk tidak melanjutkan komitmen politik mereka. Lantas, kemana GUD akan melangkah setelah melewati proses perceraiannya? Apakah GUD akan dipinang oleh Mosa Ngada? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak, karena politik sangat dinamis. Satu hal yang pasti adalah GUD kader muda pemberani, cerdas, visioner, peduli dan telah menjadi rebutan banyak orang baik elit politik maupun masyarakat Ngada. GUD adalah Petarung Muda yang unggul. (*)

Oleh; Damianus Loni (Orang Muda Asal Ngada, Pemerhati Isu Sosial Politik)