Ziarah Ingatan, Migrasi Epik ke Masa Silam

oleh -298 views
Bara Patyradja (Mantan Ketua IMM Cab. AR Fakhruddin Yogyakarta).

Opini, suluhdesa.com – Bayangkan wajah negeri kita, peradaban Timur Indonesia, pada sekian abad lampau sebagai Jawa (gigantik) di masa lalu. Bahwa laut kita, dermaga, dan pulau pulau kita yang eksotik tak sepi sepoi. Jalur rempah membuat kawasan Sunda Kecil sangat magnetik dan dipadati lalu lintas perdagangan.

Menyusuri Jembatan Imajiner

Persilangan manusia dari berbagai suku bangsa datang memenuhi bandar-bandar untuk memburu kayu manis, cendana, cengkeh dan pala yang dibarter dengan guci, sutra,  emas, perak, gading dan benda-benda berharga lainnya.

Arab, China dan Gujarat adalah bangsa asing yang lebih dulu membangun mitra papa lele dengan leluhur kita. Sementara Spanyol, Portugis dan Belanda baru datang kemarin sore, di awal abad ke 16 M.

Sekali lagi, bayangkan bahwa negeri kita, berabad silam adalah sebuah keriuhan. Gegap gempita yang megah. Detak kota yang telah bertumbuh, menyala dan bercahaya.

Kita adalah Jawa masa lalu. Bukan barbarian sebagaimana yang ditulis Penyair Italia Pigafetta (8-25 Januari 1522) dalam buku hariannya yang salah telak menggambarkan hasil observasinya bahwa daun telinga manusia Galiau selebar payung hingga dapat dilipat untuk dijadikan bantal saat tidur hanyalah dongeng historis belaka. Sebuah dusta politis pada dunia. []

*

Narasi berikut adalah sepenggal kisah. Sepotong jejak yang saya kristalkan dari berbagai data penelusuran sejarah, khususnya kutub Gapi dan Solor Watan Lema. Sebuah riwayat epik, tentang para leluhur. Sebentuk genealogi genetik dan kultural.

Selamat berlayar ke permukaan masa silam.[]

*

Invasi Kultural Bahtera Tum’aninah 1519 M. Dan bahtera Tum’aninah itu pun berarak meninggalkan pantai. Angin sakal berhembus. Debur ombak menghilir di buritan. Lamat laun bayangan Kedaton Kesultanan Gapi makin samar di mata Boi Gugu.

Punggung Gamalama membiru di kejauhan. Di bawah awan menggantang, layar terkembang. Sebuah armada dilepas pergi Sultan Bolief untuk mengumandangkan Qalam ke negeri-negeri fasal.

Delapan belas tahun sebelumnya, pada fase ekspansi Ternate,  tepatnya 1511 M, Sultan Bolief telah mengutus Samarau menduduki pulau Sula. Lalu ia diangkat menjadi Salahakan (Gubernur) di kota Ambon pada tahun 1512 M.

Dari Samarau inilah lahir Rubohongi yang kelak menjadi ujung tombak Sultan Babullah dalam berbagai peperangan melawan kaum penjajah bersama Kapita Lao Kapalaya, Ksatria Gong, sang penakluk pantai timur Sulawesi, khususnya Buton.

Jauh sebelum keberangkatan Tum’aninah, dalam nujumnya, Sultan Bolief telah melihat sebuah realitas dunia baru.  Ia melihat orang-orang asing datang membawa panji perubahan di Tanah Gapi. Nujum metafisis ini turut  memengaruhi sikap politik dan kebijakan ekonominya yang kooperatif terhadap bangsa asing.

Baca Juga:  Kepada Roh Leluhur

Maka pada tahun 1512 M, Sultan Bolief, meneguhkan keyakinan itu lewat traktat perjanjian dengan Serrao. Sebuah pos dagang didirikan.

Inilah tonggak awal politik monopoli bangsa Barat cq Portugis dengan persetujuan penguasa lokal yang pada akhirnya memuncak di tangan VOC.

Sebagaimana Ayahnya Sultan Bua’lawa yang telah mendaku Islam sebagai agama resmi Kesultanan Gapi, Sultan Bolief adalah seorang cendikiawan. Sosok reformis yang telah mengaksentuasi nilai-nilai Islam ke tengah gelanggang kehidupan sosial dan kultural.

Ia mendorong kaum perempuan untuk menutup aurat, menginisiasi aturan perkawinan dan juga menolak gaya hidup konsumtif. Ia mempelopori dakwah kultural ke berbagai wilayah.

Maka diutuslah Tum’aninah. Tapi bukan untuk mengangkut kayu manis ke bandar-bandar megah. Tum’aninah adalah sebuah armada invasi kultural guna mewujudkan aneksasi ideologis yang sejak mula telah ditanam Pangeran Bua’lawa (1468—1500 M), setelah memetamorfosa gelar Kolano menjadi Sultan.

Boi Gugu termenung menatap warna laut yang pekat. Terbetik amanah di pundak mereka bukanlah sebuah perkara mudah.

Berekspansi tanpa hasrat berkuasa sebagaimana obsesi bangsa-bangsa kontinental.

Ya. Tum’aninah telah berlayar. Ini bukan perahu Jung China, bukan Juanga bukan pula Kerakah Portugis atau Spanyol yang mengitari bumi untuk menaklukkan dunia pasca manifesto Tordesillas 1494 M.

Tum’aninah semata bahtera syiar yang menembus derasnya ombak laut Banda, melewati gelapnya pulau-pulau di tanjung Kumba.

Tak ada senjata dibawa serta. Tak ada mesiu. Ada cuma al-Qur’an kulit kayu, pisau khitan dan tombak bilal sebagai bekal mengunjungi negeri-negeri baru.

Boi Gugu memandangi wajah Iang Gugu, Jou Gugu, Ilyas Gugu dan Kimalis Gugu serta para awak yang tertidur pulas di geladak.

Hari berangsur malam. Boi Gugu terus memegang kemudi menyusuri biru urat nadi lautan. Tak ada kompas penunjuk arah. Tapi di bentangan angkasa bercahaya, terhampar gugusan kerlap kerlip rasi-rasi bintang sebagai penanda mata angin. Sebuah ilmu astronomi kuno yang telah dikuasai oleh setiap nahkoda dari Timur Matahari.

Hari demi hari berlalu namun daratan belum jua tampak di pelupuk mata. Hingga pada sebuah petang yang gemilang, Tum’aninah berhasil memasuki Tanjung Bota dan berlabuh dengan muluk di tepi pantai Alila, Alor Barat Laut pada 1519 M.

Dahaga dan lapar mendera para klasi dan lima Gugu basodara. Sontak Lang Gugu menancapkan tombak bilal ke permukaan pasir. Mata air memancar. Sumber mata air itu diberi nama sumur Banda yang masih lestari hingga kini.

Baca Juga:  Pemda Sikka Jangan Biarkan Polisi Bekerja Sendiri Menyelamatkan Gading-Gading Dari Pencuri

Raja Baololong mendengar kedatangan lima Gugu basodara. Mereka disambut dengan ramah.

Untuk mengawetkan hubungan kekerabatan Lang Gugu dinikahkan dengan Bui Huki, saudari perempuan Raja.

Ternyata kedatangan armada Gugu dari kutub Al-Mulk bukanlah pintu masuk pertama Islam di bumi Kenari. Jauh sebelumnya, Islam telah bersemayam di negeri ini  melalui sentuhan ulama-ulama dari Solor.

Gerbong Al-Mulk adalah periodeisasi kedua syiar Islam di Alor lalu disusul para mubaligh dari Sulawesi.

Maka bersepakatlah Gugu basodara untuk menyebar ke lain penjuru. Djou Gugu ke Baranusa, Ilyas Gugu menetap di Tuabang, Kimalis Gugu ke Lerambaing, Lang Gugu ke Alor Besar sedangkan Boi Gugu kembali berlayar dengan Tum’aninah menuju Lamahala yang menjadi bagian dari Solor Watan Lema.

Boi Gugu juga membawa al-Qur’an kulit kayu yang masih terjaga dengan baik hingga tahun 1960-an.

Selain itu, keberadaan Suku Wadan (Pattyradja) selaku keturunan Boi Gugu  masih eksis hingga hari ini.

Dari letak geografisnya yang berada tepat di tepi pantai dengan kontur permukaan tanah berbukit, tampak bahwa Lamahala adalah sebuah kawasan dengan postur benteng pertahanan sipil. Sangat beragam suku bangsa yang memengaruhi pondasi kebudayaan di tanah ini.[]

*

Pamflet Budaya

Jika di negeri al-Mulk ada Maluku Kie Raha, maka di Nusa Nipa ada Solor Watan Lema.

Meski kedua frase ini berbeda secara etimologis, akan tetapi dari segi terminologis mengandung makna filosofis yang sama, yakni merupakan representasi kesatuan kawasan kultural  yang mendukung suatu kesadaran kolektif untuk membangun peradaban berdasarkan model pemerintahan monarki yang bertumpu pada Raja atau Sultan.

Apakah keterhubungan portofolio gagasan ini hanya merupakan sebuah kebetulan dalam sejarah atau ada irisan kultural yang saling memengaruhi model gerakan politik antar suku bangsa di masa lalu?

Dalam pandangan saya, polarisasi institusional ini punya ayah ibu kebudayaan yang sama. Sebuah replika gagasan.

Kita tahu bersama—di tubuh kebudayaan kita mengalir berbagai DNA dari bermacam ras, bangsa dan puak.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa memori  kolektif kita pernah dipersatukan oleh satu cita-cita besar yang bernama Solor Watan Lema.

Itulah legacy yang telah diwariskan para tetuah, para Aulia yang dari merekalah kita dapat menghirup udara kebebasan.

Baca Juga:  Wagub NTT: Umat Muslim Berbagi Kepada Sesama dari Kekurangan

Dari mereka pula kita  mencecap nikmat cita rasa kue pedda, sanole, belawa (urap dari bahan mentah), dan koda kirin (oral tradition).

Dan kita, hingga zaman android ini, secara fundamental, masih teguh mengenakan jubah “kesucian” kultural itu dan tak goyah berpijak pada  leik makar (jalan) para founding fathers berdasarkan poksi dan fungsi kultural masing-masing.

Cukup bahwa kolonialisme pernah dengan begitu licik memecah belah kita hingga terbentang jarak antara satu dengan yang lain.

Sekian lama kita kehilangan intensitas. Kehilangan identifikasi. Hingga lambat laun genealogi identitas kultural kita sebagai sebuah kepaduan suku bangsa pun menjadi ilusif.

Hal ini semakin diperparah oleh berbagai polemik lokal. Intrik politik dan saling berebut hegemoni telah mencederai nalar dan nurani sejarah kebudayaan kita.

Hingga kita larut dalam kanal anti pati berabad-abad. Tenggelam dalam riuh dendam sektoral. Sektarianisme etnik dan golongan, sentimen suku serta kelompok, demi egosentrik untuk membuktikan apa dan siapa yang lebih megaloman, apa dan siapa yang lebih tua dan purba.

Maka lewat pamflet budaya ini, atas nama seluruh generasi yang akan datang dari masa depan, mari kita benamkan mata rantai historikal yang  gelap ke dalam sumur tanpa dasar.  Sebab para leluhur kita, terhubung secara ideologi dan bukan biologis apalagi hanya sekedar teritorial. Ada vision. Dan juga misi bagi kemaslahatan.

Begitulah. Sejarah, yang terucap maupun tertulis—senantiasa bersifat refrensial.

Sebagai generasi penerus, kita hari ini punya tanggung jawab intelektual  untuk menggenapi dan menjernihkan berbagai versi dan narasi yang obscure (kabur).

Selebihnya, soal kebenaran  sejarah—tak bisa kita hakimi, tak bisa kita adili, karena kita hanya penutur dan bukan pelaku.

Tugas kita hanya merinci peristiwa, apa adanya.

Sejarah memang tak luput dari ambivalensinya. Keagungan di satu sisi dan tragik di sisi lain. Horor sekaligus romantika yang telah mewarnai dan membentuk kronik setiap sejarah kebudayaan.

Maka Hero atau Pecundang—tetap patut kita catat.  Sebab semua punya tempat. Semua pantas dikenang.[]

*

Penjelasan Istilah:

  1. Gugu/Jogugu adalah sebutan bagi seorang Perdana Menteri, selalu dijabat orang-orang kepercayaan Sultan yang membawahi para Babato/Menteri dalam sistem birokrasi Monarki Kesultanan Gapi.
  2. Kapita Lau (Panglima Laut) adalah pimpinan militer yang selalu dijabat putra mahkota atau salah seorang putra Raja lainnya. (*)

====================

Oleh; Bara Patyradja (Mantan Ketua IMM Cab. AR Fakhruddin Yogyakarta)