Tak Dapat Bertemu Menkopolhukam, WNI Eks Tim-Tim di Belu Kecewa

oleh -159 views
WNI eks Timor-Timur di Belu yang juga mantan pejuang Pro Integrasi.

BELU, suluhdesa.com – Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) eks Timor-Timur (Tim-Tim) yang mewakili warga eks Timor-Timur lainnya, Canzio Lopez de Carvalho merasa tidak puas dan sangat kecewa lantaran tidak dapat bertatap muka dengan Menkopolhukam Mahfud MD dan Mendagri Tito Karnavian padahal aspirasi tertulis terkait nasib 4115 (Empat Ribu Seratus Lima Belas) pejuang dan puluhan ribu masyarakat korban politik yang kini berdomisili di Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur akan diserahkan oleh Bupati Belu Willy Lay kepada Menkopolhukam dan Mendagri dalam kunjungannya ke Atambua, hari Kamis (18/06/2020).

Dalam konferensi pers yang digelar di Atambua pada Kamis (17/06/2020) mantan Komandan Sektor C, Panglima Wilayah C Pasukan Pejuang Integrasi itu, di hadapan wartawan membeberkan alasan tidak  mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Menkopolhukam Mahfud MD dan Mendagri Tito Karnavian.

Baca Juga:  Gubernur VBL dan Bupati SBS Saat Menjawab Para Wartawan

“Kami merasa tidak puas karena kami tidak dapat bertemu dengan Menkopolhukam dan Mendagri untuk menyampaikan aspirasi kami. Kami tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Menkopolhukam dan Mendagri sedangkan pada tanggal 17 Juni 2020 kami sudah mendapat berita dari sebuah sumber resmi yang memberitahukan kepada kami bahwa tanggal 18 Juni 2020 akan ada kunjungan Bapak Menkopolhukam ke Atambua. Setelah mendengar kabar tersebut utusan kami datang menemui Bapak Bupati Belu Willy Lay untuk menyampaikan bahwa kami utusan pejuang dan korban politik Timor Timur 22 orang berkeinginan menemui Bapak Menkopolhukam untuk menyampaikan aspirasi kami. Bapak Bupati Willy menjawab bahwa, agenda kerja Bapak Menkopolhukam di Atambua telah disusun sebelumnya sehingga tidak bisa lagi diubah tetapi kami dianjurkan oleh Bapak Bupati Belu agar aspirasi kami dituangkan secara tertulis untuk kemudian disampaikan kepada Bapak Menkopolhukam,” ungkap Canzio.

Baca Juga:  DY. Bere, Tokoh Pembangunan Belu-Malaka Itu Telah Pergi

Canzio juga membeberkan semua aspirasi yang ingin pihaknya sampaikan dalam tatap muka dengan Menkopolhukam dan Mendagri itu.

Pertama, pihaknya memohon kepada Pemerintah Indonesia untuk dapat menjelaskan dan menyelesaikan status hukum 401 (Empat Ratus Satu) orang Pejuang Timor-Timur yang telah dituduh oleh Unit Serious Crime (Perserikatan Bangsa-bangsa) bahwa telah melakukan pelanggaran HAM berat pada tahun 1999.

Kedua, nama-nama 401 orang tersebut telah terdaftar dan diumumkan oleh Unit Serious Crime sebagai pelanggaran HAM berat, tetapi sudah 21 tahun 401 orang Pejuang Timor-Timur ini tidak diproses hukum atau diadili (status hukumnya masih tergantung/belum ada penyelesaian).

Ketiga, mengusulkan 4115 (Empat Ratus Lima Belas ) orang pejuang dan korban politik Timor-Timur kepada Pemerintah RI untuk mendapatkan suatu kemudahan khusus bagi para pejuang yang telah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi Veteran Republik Indonesia.

Baca Juga:  Ziarah ke Makam Raja Mandeu, Paket SEHATI Minta Restu di Pilkada Belu

Keempat, walaupun kalah politik, Timor-Timur terlepas dari Indonesia (kalah) tetapi di era perjuangan waktu itu di Timor-Timur tidak semuanya orang Timor-Timur memiliki keberanian untuk berjuang dan berkorban membela Merah Putih dan NKRI. Kini nasib Pejuang Timor-Timur dan puluhan ribu masyarakat Pro Integrasi di Indonesia membutuhkan perhatian dan suatu tindakan menyelesaikan yang tuntas, adil dan manusiawi.

Kelima, meminta Pemerintah RI memberikan bantuan kompensasi kepada pejuang dan korban politik Timor-Timur. “Tentang jumlah bantuan kompensansi kami serahkan sepenuhnya kepada Pemerintah dan Negara Republik Indonesia sesuai kemampuan keuangan negara.”

“Perlu diketahui bahwa 4115 (Empat Ribu Seratus Lima Belas) pejuang dan puluhan ribu masyarakat korban politik itu berasal dari 10 kabupaten eks Timor-Timur. Mereka berasal dari eks Kabupaten Dili, Liquiza, Aileu, Ermera, Bobonaro, Ainaro, Kofalima, Ambenu, Manufai dan Manatutu,” tutup Canzio. (jello/jello)