Masyarakat Sagu Butuh Edukasi di Tengah Covid-19 Bukan Diintimidasi

oleh -202 views
Bambang Juamang, S.Pd (Aktivis pemerhati Lewo Tanah dan Mantan Ketua Komisariat HMI Ahmad Dahlan)

OPINI, suluhdesa.com – Ada Apa Dengan Sagu Atumatan Tanah Kota Dolu Wewa? Pasca Pengumuman Hasil Swab Test oleh Satuan Tugas Gugus  Covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menyatakan bahwa pasien Covid-19 Klaster Gowa dari Kabupaten Flores Timur dinyatakan positif, maka publik di jagat Flotim melalui media on line, media sosial Facebook, WhatsApp baik secara pribadi maupun group menjustifikasi hingga mengecam berbagai pihak yang dinilai mengabaikan protokol kesehatan dan anjuran pemerintah. Parahnya lagi berkembang opini yang menyatakan ada dugaan rekayasa Pasien 01 Flotim dengan sejumlah argumentasi dan data yang disampaikan. Sikap sejumlah kalangan di media sosial seakan tidak sadar telah mencederai rasa kemanusiaan sebagai sesama Anak Flotim yang menjunjung tinggi budaya Lamaholot.

Ancaman Covid-19 kian nyata di mata masyarakat Flotim dan semakin mengkhawatirkan khalayak karena dalam penelusuran Satgas Covid-19 Kecamatan Adonara ada sekitar 22 masyarakat Sagu terindikasi berinteraksi dengan pasien klaster Gowa. Anehnya dalam rilisan berita media selatanindonesia.com terdapat 22 warga menolak melakukan rapid test. Bahkan Wakil Bupati Flotim Agustinus Payong Boli mengundang secara khusus Kepala Desa Sagu untuk hadir di Apb Chanel dengan tema seksi yakni hasil swab diduga rekayasa.

Baca Juga:  Desa-Desa di Kecamatan Kobalima Bentuk Posko Covid-19

Respon publik terhadap hasil swab Covid-19 masyarakat Sagu terutama di media sosial semakin mempengaruhi psikologi masyarakat Sagu. Kita sepakat bahwa waspada terhadap penyebaran Covid-19 adalah ikhtiar bersama seluruh elemen masyarakat namun kita juga tidak sewenang-wenang membangun opini liar yang pada ujungnya menciderai nurani warga Sagu. Padahal pemahaman kita tentang Covid-19 jauh dari standar jika dengan pendekatan epidemiologi.

Baca Juga:  Empat WNA Ilegal Asal Tiles Dideportasi, Kapolres Malaka Bantu Antar

Riakan di media sosial yang menyerukan kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk menutup semua akses dari dan ke Sagu, mengawasi pergerakan arus barang dan manusia dengan label Sagu bahkan hingga meminta tentara sebagai alat kekuasaan untuk turun ke Sagu semakin menciptakan kegaduhan sosial. Masyarakat itu butuh edukasi di tengah pandemi bukan diintimidasi dengan cara keji yang tidak berprikemanusiaan. Sikap masyarakat Sagu menolak untuk melakukan rapid test perlu diminta penjelasan secara detail sembari memberikan penjelasan dengan pendekatan ilmu kedokteran bukan digiring dan digoreng menjadi isu santapan publik.

Peristiwa pandemik Covid-19 dan situasi kebatinan masyarakat Sagu dalam menghadapi ancaman wabah Covid-19 memberi arti dan pembelajaran bagi kita bahwa sikap peduli dan empati secara spontan untuk membantu sesama yang tengah mengalami musibah. Begitu banyak aksi sosial yang dilakukan sebagai bentuk keterpanggilan dan kepedulian dengan sesama sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing.

Baca Juga:  Cegah Corona, Danrem 081/DSJ Ajak Forkopimda Kota Madiun Jemur di Panas Matahari

Covid-19 bukanlah ajang untuk komersialisasi apalagi sekedar menaikan elektabilitas dan popularitas dengan cara memvonis sesama anak Lewo Tanah dengan cara yang primitif. Semoga wabah Covid-19 segera berlalu. Kami hanya punya modal sosial untuk berempati pada Sagu karena kami tidak punya modal kapital. Sagu adalah kita.(*)

Oleh; Bambang Juamang, S.Pd (Aktivis pemerhati Lewo Tanah dan Mantan Ketua Komisariat HMI Ahmad Dahlan)