Bagi Eyang Soekarno, Ende Adalah Kota Gagasan

oleh -126 views
Bara Pattyradja (Warga Indonesia yang mencintai Pancasila)

OPINI, suluhdesa.com – Catatan untuk Eyang Soekarno.

Aku bukan SOEKARNO

Mengenal huruf mengenal nama

Mencipta SILA

dari pohon sukma moyangmu

Aku hanya PERINDU

Seorang Lelaki biasa

yang mabuk SUNYI

di kilometer tujuh belas

(Bidadari Kelimutu, 2016)

“Bara, saya rindu kembali ke Ende. Ke negeri leluhurmu. Tanah itu seperti terus melambai-lambai padaku, ujar Puti Guntur Soekarno dalam sebuah percakapan denganku.” Seketika saya tertegun. Menyimak metafora dari Mbak Puti yang mengandung banyak arti.

Ini kali saya pulang ke Ende. Saya menulis larik puisi di atas, ketika melintasi tebing-tebing batu yang hening. Menyusuri  mozaik sejarah yang terpendam di rahimnya.

Sejarah tentang Ko’ofai Nuwa Muri (Pemuda/Pemudi), Ata Polo Ata Bupu (Tokoh antagonis & protagonis)  yang melatari kosmologi Danau Kelimutu, tentang jejak Djari Jawa, tentang Bara Nuri yang heroik, tentang lukisan Basuki Abdullah yang memotret eksotisme Teluk Numba yang berada dekat Sungai Nangaba, hingga tentang ilham kelahiran falsafah bagi sebuah bangsa.

Baca Juga:  BPIP: Pancasila Harus Menjadi Roh Kebijakan Publik

Ende, di mata saya adalah kelok jalan menuju puncak kesunyian. Tanah ini, telah memanggil saya berulang. Pulang. Bertualang. Lagi dan lagi.

Barangkali karena medan kosmiknya yang natur itulah, Eyang Soekarno menubuh dengan alam semesta selama membumi di Ende. Eyang Soekarno bertadabur, mengenali lekuk-lekuk kultural, menyelami urat darah suku bangsa yang mengaliri anak sungai, meraba watak sosial yang berdetak di jantung masyarakat yang plural, memainkan lakon tonil, mengakrabi kearifan tradisional, berdialektika tentang pemikiran Islam melalui surat-suratnya dengan A.Hassan, hingga memperkaya alam pemikiran barat yang elementer dari persinggungan intelektualnya dengan para Misionaris.

Dengan kata lain, Ende, bukan semata zona transit, lokus buangan tahanan politik kolonial. Ende, adalah sebuah folklor yang telah membentuk genealogi gagasan sang Proklamator. Sebuah atmosfer. Ende adalah Kota Gagasan.

Baca Juga:  Rm. Benny Susetyo; Gotong Royong, Roh untuk Bangsa Hadapi Corona

Setiap pemikir pasti mengalami turbulensi dalam proses intelektualnya. Dan kita tahu bersama, Eyang Soekarno adalah kutu buku yang makan banyak gagasan besar mengenai ide-ide politik, demokrasi, filsafat, sastra, agama dan lain sebagainya. Dari pergulatan itu, pada suatu titik, ia mengalami peleburan. Membentuk weltanschauung atau pandangan dunianya tersendiri.

Al-Ghazali, misalkan, mengalami guncangan hebat saat berlayar dalam samudra pemikiran filsafat sebelum melebur ke dimensi tasawuf. Ia tuangkan pergulatan pengetahuan itu dalam magnum opus berjudul Thafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf).  Dan Ibnu Rusyd, filsuf polimatik di abad pertengahan menyanggah karya tersebut lewat bukunya Thafut at-Tahfuf (Kerancuan dari Kerancuan).

Pun Eyang Soekarno. Tidak memproduksi falsafah dari ruang kosong dialektika pemikiran. Dari ruang hampa sejarah pengetahuan. Pancasila adalah sintesa dari berbagai ide besar yang telah diperas Eyang Soekarno menjadi kumparan postulat. Menjadi epistem. Dan kita menerima itu sebagai legacy hingga hari ini.

Baca Juga:  DPRD Ende Usul Gunakan Dana Penyertaan Modal ke Bank NTT untuk Tangani Covid-19

Kita tahu bersama di masa itu Indonesia adalah “halaman depan dunia” yang seksi dari kutub Moskow, Beijing dan Batavia. Maka Paman Sam dan Negeri Beruang Merah berebut pengaruh. Hingga Eyang Soekarno jatuh ketika sosialisme sebagai wacana politik digeser menjadi wacana teologi. Maka tandaslah Nasakom.

Ini kali saya membayangkan Eyang Soekarno duduk di bawah rindang pohon sukun. Dan saya menulis puisi di samping patung Soekarno yang dipahat oleh sahabat saya Hanafi. Sebuah tiang Nol Kilo Meter yang menjengkal daratan Flores. (Taufik/*)

Oleh; Bara Pattyradja (Warga Indonesia yang mencintai Pancasila)