TERESA AVILA; Feminis Gender, Membidani Kelahiran Buku Bagi Gereja untuk Belajar Doa

oleh -513 views
Santa Teresa Avila.

TOKOH, suluhdesa.com – Abad 16, Teresa Avila mengayunkan langkah kakinya di antara energi patrilineal yang menindih-nindih. Umumnya, masyarakat pada zaman tersebut menumbuhkan ‘kekalahan’ ke dalam diri perempuan. Perempuan terbentur pada tembok besar yang dibangun kaum yang lain, laki-laki, dan itu artinya perempuan sebatas ada untuk laki-laki dan berhenti pada ruang mampat ‘the second class.’

Termasuk otoritas Gereja melalui kaki tangannya yang bernama Inkuisisi. Memang badan ini tidak hanya menyapu bersih perempuan, tapi berbekal palu kerasnya menghantam pula setiap orang yang ‘dicurigai.’ Inkuisisi mengonstruksi citranya sebagai tameng penjaga purifikasi tubuh Gereja. Setidaknya Teresa pernah diperiksa. Tulisan-tulisannya diambil, diteliti dengan debar hati-hati dan tatapan penuh curiga.

Inkuisisi mendaku bekerja demi Tuhan. Di zaman itu segala keniscayaan sejarah ditarik-tarik menuju Tuhan sebagai sentrum (Supraja, 2018: 20). Gereja berdiri teguh sebagai agen yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, atau Tuhan dengan manusia. Kata ‘providensia’ menggema, dan itu artinya memotong kreativitas manusia. Perempuan dan laki-laki yang bernalar kritis pun patut ‘mencurigai’ kata itu, providensia, sebagaimana otoritas Inkuisisi menguntit dari belakang siapa pun yang dicurigai mengotori iman dan altar Gereja.

Baca Juga:  Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang Adakan Pelatihan Membuat Renungan

Teresa harus berhadapan dengan orang-orang Inkuisisi. Tidak hanya itu, Teresa pun harus berdiri tegak di depan siapa saja yang berarus balik dengannya. Termasuk internal ordo. Termasuk nafsu-nafsu rendah diri dan sentuhan kedagingannya dan kekerasan, atau siapapun yang menindas selalu teridentifikasi berasal dari energi maskulin. Maka, ketika Teresa bergerak di antara kekuatan-kekuatan demikian sebenarnya bisa dibaca sebagai sikap perlawanan Teresa terhadap maskulinitas. Teresa melawan, ia kokoh berjalan.

Gambaran hitam-putih yang terkatakan di atas menunjukkan bahwa Teresa Avila, kalau tidak berlebihan, merupakan seorang feminis gender. Atau ia meletakkan dasar-dasar feminisme di dalam Gereja bahkan untuk yang awam akan Gereja. Feminisme gender bertitik tuju pada perilaku dan harapan yang dipelajari secara sosial yang membedakan antara maskulinitas (baca: inkuisisi dan segala hal anonim yang membelenggu) dan feminitas (baca: Teresa, atau siapapun yang memperoleh tatapan menakutkan) (Karim, Fikrah Juni 2014: 62-63).

Kualitas-kualitas maskulinitas seperti rasionalitas, ambisi dan kekuasaan menempati panggung utama. Sedangkan kualitas feminitas seperti emosional, kapasitas dan kelemahan bagai serpih-serpih terabaikan. Bisa dikatakan bahwa perempuan merupakan receh dari segala receh. Tetapi Teresa Avila dengan segala kepiawaian dan leadership yang menonjol ia ‘berperang’ melawan struktur dan hirarki gender yang membelit kreativitas dan daya juang perempuan.

Baca Juga:  Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (1); Jejak Misionaris SVD di Maghilewa

Beberapa dalil yang bisa digunakan untuk menunjukkan usaha berkualitas Teresa di bidang gender misalnya ia adalah perempuan satu-satunya yang mereformasi Gereja dari dalam dengan mendirikan Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) baik untuk pria maupun untuk wanita. Ketika perempuan dianggap sebagai hawa lunglai, Teresa justru membidani kelahiran beberapa buku yang kemudian menjadi rujukan bagi Gereja untuk belajar tentang doa. Atau belajar berdoa. Teresa Avila adalah sang guru doa. Lebih dari 20 tahun, atau bahkan lebih lama dari itu, ia jatuh bangun di dalam ruang-ruang doa untuk mengarungi puri jiwanya. Puncak perjalanan mistiknya berupa perkawinan rohaninya dengan Sri Baginda (sapaan khas Teresa untuk Tuhan) dan walaupun Teresa hidup dalam disiplin tinggi kontemplasi ia justru berani mendirikan kurang lebih 17 biara OCD Putra-Putri. Teresa memiliki kemampuan berdiplomasi tinggi dengan pemerintah dan Gereja.

Baca Juga:  Rayakan HUT Ke 52, OMK Paroki Ruto Gelar Berbagai Perlombaan

Berkaca dari dalil-dalil tersebut, secara tak langsung Teresa Avila mengangkat sensitivitas isu gender. Kaum feminis gender menghasrati adanya pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam arena kehidupan yang dianggap milik laki-laki. Teresa mendobrak kemapanan kaum laki-laki yang membanggakan ‘maskulinitas’ sehingga menyebabkan subordinasi terhadap perempuan. Ia menginginkan pluralisme cair; perempuan dan laki-laki berbagi panggung dan kasih.

Seseorang menulis, atau mungkin Teresa sendiri yang menggoreskan jeritan jiwanya: “ketika Tuhan datang dan mengelilingi dunia, Ia tidak pernah meremehkan wanita.” Kelak, ketika ajal mendekat, Teresa berujar hangat “Aku ingin menghadap Sri Baginda sebagai Putri Gereja.” (*)

Jogja, 07 Mei 2020

Oleh; Frater Yohanes Mikot Fios, OCD. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)