Mengapa Menulis dan Mengapa Harus Menulis?

oleh -298 views
Ilustrasi.

HARUS KAMU TAHU, suluhdesa.com – Mengapa harus menulis? Beberapa penulis populer mengiyai bahwa jalur menulis dipilih untuk menyalurkan selilitan hasrat yang terpendam padat di dalam jiwa. Dengan menulis, seorang penulis menemukan otentisitas diri dan juga mampu menentukan jalan-jalan historisnya. Melukis jejak-jejak sejarah di atas tanah bebatuan semesta.

Ketika spirit eksistensialisme masih menggema di tanah Perancis dengan menawarkan konsep ‘menidak’ demi kebebasan, menulis merupakan cara untuk berkontak dengan dunia. Maka menulis bagai titian yang menghubungkan subyek penulis dengan dunia tempatnya terlempar dan bernafas.

Dunia membantu penulis untuk merefleksikan dan menemukan makna; mengarah ke dalam, atau bergerak ke luar. Dunia dan penulis semacam membangun kontrak profesional antara keduanya, dan masing-masing berada di persimpangan penting. Hubungan relasional antara keduanya bersifat resiprokal; penulis terdorong untuk mengeksplorasi makna dunia menggunakan kata-kata, dan pada saat yang sama dunia pun sebagai lokus berarti bagi penulis.

Baca Juga:  GERNAS Baku dan Literasi Orang Tua

Problem rumit lahir bila pembaca yang menoleh sekilas pada kata-kata hasil kreativitas nalar dan rasa penulis, menemukan tulisan sekedar koleksi tanda-tanda. Kalau demikian, warta kebaktian penulis terlelap di dalam kebekuan sensitifitas pembaca. Maka cara untuk membangkitkan gairah pembaca agar menemukan ‘sesuatu’ lebih dari sekedar tanda, harus dihidupi melalui kekuatan diksi yang diedarkan penulis. Melalui energi diksi yang memikat, pembaca pun berhasrat untuk menemukan makna di dalam dunia sebagaimana penulis maksudkan.

Baca Juga:  Lamban Membayar Insentif Guru, Kadis P Dan K NTT Dinilai Tidak Mampu

Hanya memang, setiap tulisan dan kandungan maknanya tak pernah bergerak lurus dan mengendap ke dalam pembaca. Itulah yang dinamakan sebagai otonomisasi teks. Bahwasannya setiap pembaca selalu memahami secara subjektif tiap tulisan yang mengenai dirinya, atau berpapasan dengannya. Perkataan lainnya, makna dunia yang digali dan ditemukan oleh penulis akan luruh sebagian atau bahkan menyeluruh ketika tiba di atas meja pembaca.

Mengapa menulis? Sebagian orang ingin mencari popularitas, sebagian menjadikan lahan menulis untuk menafkahi hidup yang mandeg. Menulis berarti mencipta (create), atau mendaur ulang (re-create), atau membidani kelahiran ide dan gagasan baru. Pilihan untuk menulis memungkinkan diri tak terlupakan di tengah hingar-bingar sejarah. Tulisan itu menyejarah, dan menceritakan tentang subyek penggores kata-kata.

Baca Juga:  Mahasiswa STIPAS KAK yang KKN Harus Bawa Nama Lembaga

Oleh karena itu, alat utama untuk menulis adalah ide dan kebebasan. Maka yang lainnya akan ditambahkan; sebatang pena, melodi harmoni kreativitas dan gerak cepat literasi. Mengapa menulis? Di ujung sana, penulis mewariskan kata-kata padat nilai dan kualitas historis pribadinya. Melalui tulisan, pembaca tak pernah insyaf menghadirkan penulis berwajah kata di dalam lokus ingatannya yang tak bertepi. (*)

Jogja, 06 Mei 2020

Oleh; Frater Yohanes Mikot Fios, OCD. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)