Didi Kempot; Menulis Lirik Memikat, Menjogeti Kegalauan Hati

oleh -308 views
Dionisius Prasetyo; The Godfather Of Broken Heart.

SOSOK, suluhdesa.com – Tiba-tiba namanya melambung tinggi di tengah musik tanah air yang dipenuhi kompetisi, gengsi dan tampang. Tiba-tiba pula, ia pergi meninggalkan panggung yang membesarkan namanya tersebut. Itulah wajah paradoks seorang Didi Kempot, penyanyi campursari yang konsisten melangkah di jalur genre musiknya. Ia pergi secepat momen ia menyanyikan lagu-lagu patah hati karyanya di atas panggung. Tapi di hati para penggemarnya, panggungnya abadi. Ia mengekal di hati para Sobat Ambyar.

Berkat media internet, Lord Didi merebut hati kaum milenial. Setiap kali ia pentas, anak-anak muda berjoget dan terbawa arus gema dan lirik-lirik lagunya. Anak-anak muda yang mungkin seusia anak-anak biologisnya, berjingkrak-jingkrak. Tak sungkan-sungkan melelehkan air mata. Air mata merupakan bahasa purna untuk merayakan kepedihan hati.

Heidegger menuliskan bahwa ketika seseorang dilahirkan ia terlampau tua untuk mengalami kematian, sebuah gambaran terhadap kegagalan terbesar manusia agar jadi kekal. “Demikianlah manusia,” tulis seseorang. Terminologi tersebut menggambarkan akhir dari ziarah hidup manusia. Demikianlah manusia, sejak awal keterlemparannya ke dalam dunia manusia berpotensi untuk gagal mempertahankan hidupnya. Demikianlah Lord Didi.

Baca Juga:  Gadis Maluku Utara Jadi Sopir Ambulans untuk Pasien Corona di Jakarta

Mengapa Didi Kempot akrab dengan lagu-lagu yang patah hati? Dan dengan demikian, orang-orang pun jatuh cinta padanya? Lebih tepatnya, tersentuh lirik-liriknya? Sobat Ambyar sekalian kiranya memahaminya dengan mengarungi dua level pengalaman Didi; level biografis-literer dan level diskursif-psikologis.

Pada level biografis-literer, Sobat Ambyar bisa membaca ‘sesuatu’ dari kisah hidupnya. Ketika diundang di acara Kick Andy, Didi Kempot bercerita bahwa ia berasal dari keluarga yang broken home. Ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah, dan ia dititipkan kepada kakek-neneknya. Ia kemudian mengamen di jalanan, dan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Beberapa tahun kemudian ia hijrah ke Jakarta. Terhitung sejak ’89, Didi Kempot berkiprah di dunia musik tanah air. Lirik dari setiap lagunya tak jauh dari cerita patah hati. Ambyar…

Baca Juga:  Begini Pedoman Pengurusan Jenazah Covid-19 Menurut Fatwa MUI

Sedangkan pada level diskursif-psikologis, terlihat dampak dari pengalaman masa kecil dan sesudahnya. Tiap peristiwa hidup yang dialami secara langsung oleh subyek tertentu selalu dan senantiasa menubuh dalam kesadaran sang subyek. Kisah perpisahan kedua orangtuanya, dan mungkin juga cerita perceraian orang tua dari teman-teman sesama pengamen jalanan membentuk struktur berpikir serta kontur kesadarannya. Bangunan traumatis masa lalunya tersebut yang memformatnya untuk menuliskan lirik-lirik memikat plus nada yang mengentak setiap pendengarnya untuk ‘menjogeti kegalauan hatinya.’ Kata Didi, “daripada ditangisi, lebih baik dijogeti saja.”

Berkaca dari sepotong pengetahuan tentang kisah dan pribadi Didi Kempot, Sobat Ambyar dapat merayakan nilai-nilai luhur yang ia wariskan. Memang, secara objektif manusia tidak seharusnya ada, ia adalah gairah tanpa guna (Wibowo, dkk., 2011:130). Walaupun demikian, sebagai pribadi yang bebas manusia dapat memberi makna lewat kebebasannya agar hidupnya menjadi mungkin. Riilnya dari kisah Didi Kempot, hal yang traumatis di masa lalu benar-benar disadarinya dan kemudian ia ubah menjadi sesuatu yang positif; bermakna bagi dirinya dan orang lain. Baginya, keputusan untuk menulis lagu merupakan pengharapan. Hal itu berarti, ia pun mati di dalam pengharapan.

Baca Juga:  Seragam Satpam akan Mirip Seragam Polri

Selamat jalan Dionisius Prasetyo; The Godfather Of Broken Heart. Lagu-lagumu akan terus menjiwai hidup sobat ambyar Indonesia. (*)

Jogja, 05 Mei 2020

Oleh; Frater Yohanes Mikot Fios, OCD. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)