Sartre Bertutur Kebijaksanaan Tapi Frigid Pada Wanita Seranjangnya

oleh -160 views
French writer and existentialist philosopher Jean-Paul Sartre (1905 - 1980). (Photo by Express Newspapers/Getty Images)

HARUS KAMU TAHU, suluhdesa.com – Biografi Jean Paul Sartre sangat menarik. Tarikan historia hidup dan gaya berpikirnya memungkinkan seseorang untuk meragu; menidak pada Yang Ilahi, takut menoleh pada masa lalu dan segudang pengalaman negativitasnya.

Ia bermata juling. Bertubuh pendek. Ketika kecil, sepulang dari barber shop, ia tersadar dan menemukan dirinya berwajah jelek. Tapi sejak itu ia membangun struktur pemikirannya dan melahirkan apa yang diyakininya, ‘yang lain adalah neraka.’

Karena itu, sebagai seorang pencetus eksistensialisme ia tidak percaya pada cerita di balik adanya manusia. Teologi penciptaan ditiadakan, sejak ia membenamkan diri ke dalam samudera berpikir yang keras. Untuk orang-orang beragama, ia tergolong kejam. Absurd. Sesuatu ada begitu saja, tiba-tiba.

Baca Juga:  COVID-19; Sebuah Situasi Batas Manusia

Kebetulan ia lahir dan menikmati kultur Prancis dan tradisi pendidikannya, ia pun mengajar filsafat di SMA. Katanya pada suatu ketika, di depan murid-muridnya, “merokoklah.” Anak murid yang baik mematuhi perintah sang guru. Mereka merokok, dan Sartre mengajar sambil merokok. Ia tak sungkan mengecam kaum borjuis. Tapi warna suara dan keyakinannya tak selamanya konstan, lebih tepatnya naik-turun dan ia mengakuinya enteng.

Setiap hari ia berangkat ke sekolah untuk mengajar filsafat. Mendidik anak-anak yang membawa otaknya dan melupakan buku-buku di kamar. “Jangan pergi ke sekolah dengan buku filsafat, datanglah dengan otak terbuka,” kata sang guru yang bermata juling itu.

Segala hal-ikhwal yang mengekang segera diceburkan ke dalam samudera ketiadaan. Terbawa penat sejarah dan deru gelombangnya. Filosofinya, “membebaskan kebebasan orang-orang yang takut bebas.” Dalam urusan cinta pun ia tidak terikat, ia setia pada setiap wanita pujaannya. Dan tak ada yang bertahan lebih lama, kecuali Simone pasangan tanpa ikatan gereja ataupun moralitas zamannya.

Baca Juga:  Aku yang Berpikir Tentang Aku Ada

Sartre pandai bertutur tentang kebijaksanaan. Sartre piawai berkata-kata dan mengatur dinamika suaranya untuk merayu wanita. Tapi di atas ranjang, kata Bianca pasangannya yang lain, Sartre menimbulkan frigid pada wanita seranjangnya.

Persoalan cinta pun dipetakan semaunya. Ada 2 jenis cinta: amour necessaire (cinta yang perlu dan dibutuhkan) dan amour contingens (cinta yang bisa berubah-ubah sewaktu-waktu). Keyakinan ini tidak terpenjara dalam kepala dan angannya. Cerita hidupnya, orang yang menemukan kejelekan dirinya ini, sering bergonta-ganti wanita. Bahkan kadang-kadang ia bermain trio. Trio itu nikmat, untuk novel-novelnya.

Baca Juga:  Peduli Istri Prajurit, Ny. Hetty Andika Perkasa Gelar Pemeriksaan Kanker Payudara

Sartre mengusung penuh konsep dan gaya hidup bebas. Kebebasan adalah indeterminasi diri. Untuk itulah jangan membiarkan yang lain menatap dan memenangkan hati dan pikiranmu. Tatapan orang lain merampok habis kebebasanmu. Kebebasan ia jalani. Larangan, kata yang melekat pada kaum tiran, dihapus dari kamus hidupnya. (*)

Jogja, 27 April 2020

Oleh; Frater Yohanes Mikot Fios, OCD. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)