12 Poin Dokumen Abu Dhabi; Dokumen Persaudaraan dan Perdamaian Dunia

oleh -322 views
Sheikh Mohamed bin Zayed, Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, menyaksikan penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia oleh Paus Francis dan Imam Besar Al Azhar, Syekh Ahmed El Tayeb, pada 4 Februari di Abu Dhabi. (Foto Istimewa)

KAMU HARUS TAHU, suluhdesa.com – Pada tanggal 3 Februari 2019, Paus Fransiskus mengadakan kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab. Bersama Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmad el-Tayeb, Paus Fransiskus berbicara tentang toleransi dan dialog antaragama. Keduanya pun menandatangani “Dokumen Persaudaraan Manusia Untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama.”

Baik Paus Fransiskus maupun Syeikh Ahmad el-Tayeb meyakini bahwa setiap orang beriman selalu memandang penuh kasih kepada sesamanya. Di dalam kasih dan kemurahan Tuhan, setiap orang beriman bersaudara, bersahabat, saling mengasihi penuh sukacita dan tak henti-hentinya memberi dukungan dan merangkul satu sama lain.

Berdasarkan sehati sepikiran antara kedua tokoh dari dua agama besar tersebut, lahirlah 12 butir yang patut diperhatikan oleh setiap saudara perempuan dan laki-laki, oleh siapa saja yang beragama dan percaya kepada keberadaan Tuhan.

  1. Keyakinan yang teguh bahwa ajaran-ajaran autentik agama mengundang setiap orang untuk tetap berakar pada nilai-nilai perdamaian. Kita juga diajak untuk bersikap bijaksana dan adil serta mengasihi. Melalui nilai-nilai agama, diharapkan kepada orang-orang muda untuk untuk menghindari pemikiran materialistis, keserakahan dan ketidakpedulian.
  2. Mendorong setiap pribadi untuk menjunjung tinggi kebebasan; kebebasan berkeyakinan, berpikir, berekspresi dan bertindak. Bertolak dari keyakinan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia secara berbeda-beda, maka setiap orang pun diberi ruang untuk memiliki haknya sendiri secara bebas termasuk menganut agama dan budaya tertentu.
  3. Tiap pemikiran dan tindakan adil berlandaskan belas kasih demi kehidupan manusia yang bermartabat.
  4. Mengutamakan toleransi, keterbukaan dan hidup bersama secara damai sebagai jalan untuk mengurangi kemacetan ekonomi, sosial, politik dan masalah-masalah lingkungan.
  5. Membangun dialog antar umat beragama berarti berjalan bersama menuju keutamaan moral tertinggi yang menjadi tujuan agama-agama, sekaligus menghindari perdebatan-perdebatan yang tidak bernilai.
  6. Umat beragama wajib memberikan perlindungan terhadap tempat-tempat ibadah, baik tempat ibadah agama yang dianutnya maupun tempat ibadah agama-agama lain.
  7. Terorisme bukan merupakan ajaran agama tertentu. Persoalan terorisme lahir dari penafsiran yang keliru atas teks-teks agama dan juga dilatari oleh kelaparan dan kemiskinan, ketidakadilan dan Penindasan serta kesombongan. Oleh karena itu, semua pihak harus menghentikan dukungan dalam bentuk apapun terhadap gerakan terorisme. Puncaknya, terorisme merupakan tindakan terkutuk.
  8. Semua orang di dalam sebuah negara tertentu merupakan warga negara 100 % yang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengalami keadilan yang setara pula. Untuk itu, negara harus menjamin kemerdekaan setiap orang sebagai warga negara dan menghindari istilah minoritas yang terkesan diskriminatif dan merusak bangunan kehidupan bersama.
  9. Harmoni relasi antara Timur dan Barat sangat diperlukan sebagai jalan untuk saling memperkaya satu sama lain melalui kekayaan budaya masing-masing. Keduanya, Timur dan Barat, menjadi saudara dan sahabat satu sama lain untuk memerangi materialisme yang menjadi penyakit bagi kehidupan rohani dan agama. Inti dari relasi keduanya ialah bahu-membahu menemukan jalan menuju perdamaian.
  10. Membebaskan perempuan dari stigma negatif dan tindakan-tindakan tak manusiawi yang menyebabkan mereka hidup terbelenggu. Dalam point ini digunakan kata “harus” demi pembebasan perempuan yang terasing bahkan dengan dirinya sendiri. Orang yang beragama harus memastikan bahwa setiap perempuan di muka bumi ini pantas memiliki haknya secara utuh.
  11. Keluarga dan masyarakat bertugas melindungi hak-hak dasar anak untuk bertumbuh secara baik di dalam keluarga, gizi yang terjamin dan pendidikan. Pelanggaran terhadap martabat dan hak-hak anak merupakan tindakan tak manusiawi. Anak-anak juga perlu mendapatkan perhatian terutama berhadapan dengan dunia digital.
  12. Melindungi hak-hak orang lanjut usia, mereka yang lemah, disabilitas dan siapapun yang tertindas. Pihak-pihak yang berkompeten mendorong penerbitan undang-undang yang bertujuan untuk membela mereka.
Baca Juga:  Maryana Ose, Gadis Muslim Masuk PMKRI Kupang Untuk Bangun Toleransi

Keduabelas poin utama yang termuat dalam deklarasi Abu Dhabi ini menjadi sebuah undangan untuk rekonsiliasi dan persaudaraan di antara semua umat beriman, juga dengan mereka yang tak beriman dan di antara semua orang yang berkehendak baik. (*)

(Diringkas dari Dokumen Abu Dhabi tentang Persaudaraan Manusia Untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama)

Oleh; Frater Yohanes Mikot Fios, OCD. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)