KURE, Tradisi Kuno di Noemuti; Riwayatmu Kini (Bagian 3)

oleh -244 views
Frater Yohanes Mikot Fios, OCD. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)

BUDAYA, suluhdesa.com – Kristologi dalam Tradisi Kure. Kata “Kristus” sebenarnya bukan nama diri Yesus, melainkan sebuah “gelar” yang diberikan kepadaNya. Dalam perkembangannya, Kristus ditambahkan pada nama Yesus sehingga menjadi seperti nama lengkap Yesus: Yesus Kristus. Christos adalah kata Yunani, terjemahan dari  kata Ibrani Messiah: artinya dia yang diurapi. Dalam tradisi Israel, raja-raja diurapi oleh Allah sebagai tanda bahwa mereka diangkat Allah menjadi pemimpin bangsa Israel. Selain itu para nabi diurapi Roh Kudus untuk mewartakan Sabda Allah dan kehendak Allah kepada umat Israel.

Baca juga; 

https://suluhdesa.com/2020/04/20/kure-tradisi-kuno-di-noemuti-riwayatmu-kini-bagian-2/

Pada awal perkembangan Gereja, para rasul mengharapkan bahwa Yesus datang sebagai “Messias” atau “Raja” Yang Diurapi Allah untuk memimpin dan membebaskan Israel dari penjajahan Roma. Tulisan pada Salib Yesus, “Raja Orang Yahudi” (Markus 15:26), merupakan refleksi komunitas perdana tentang peranan mesianis Yesus. Yesus historis yang menderita dan wafat diberi gelar “Kristus” (yang diurapi). Refleksi iman umat perdana tentang Yesus sebagai Kristus menjadi  matang ketika para murid mengalami transformasi rohani pada hari Paskah dan terlebih lagi pada hari Pentakosta. Roh Kudus yang turun ke atas para Rasul menerangi iman dan budi mereka untuk mengimani, mengajar dan mewartakan kepada bangsa-bangsa bahwa Yesus adalah Mesias, Dia yang diurapi dengan Roh Kudus. Yesus juga adalah Pribadi Ilahi, Anak Allah yang mengurapi atau membaptis umatNya / Gereja dengan kuasa Roh Kudus.

Gelar King of kings Yesus dalam Kitab Wahyu 19:16 menunjukkan pribadi yang memiliki kekuatan sehingga bisa mengakses ke dalam pemerintahan atas seluruh kerajaan-Nya yakni seluruh ciptaan-Nya. Dengan menyatakan diri / dilihat sebagai Raja, maka semua kekuatan pemerintahan di luar kerajaan-Nya akan takluk di bawah-Nya. Tidak ada kerajaan-kerajaan lain selain kerajaan yang ditawarkan oleh-Nya. Kerajaan-Nya adalah mutlak dan selama-lamanya.

Agustinus Gianto, SJ dalam melihat Injil Yohanes 18.37 mengatakan bahwa Kristus diutus ke tengah dunia untuk menawarkan kebenaran. Pertanyaannya adalah apa itu kebenaran? Kebenaran adalah kehadiran Ilahi (Divine presence) untuk memberi terang kepada dunia yang pekat. Ia adalah terang. Terang inilah yang menempatkan, atau membuat Yesus pantas jadi Raja. Dengan mengikuti terang tersebut manusia dibukakan jalan tol untuk menelusuri hakikat dirinya sebagai pribadi terpanggil yaitu sebagai anak-anak Allah, citra Allah yang hidup. Dengan pengalaman terang itu, setiap orang diajak untuk menjadi saksi atau mewujudkan dirinya sebagai misionaris-misionaris untuk menyebarkan (spread out) Injil Kerajaan Allah kepada segala bangsa.

Baca Juga:  Terima Sembako, Pengelola Panti Asuhan: Terima Kasih PMKRI Maumere

Berkaitan dengan tradisi Kure yang dihidupi oleh umat Paroki Hati Yesus yang Mahakudus – Noemuti, saya menarik benang merah antara ritual tersebut dengan konsep Kristus sebagai Raja. Sebagaimana beberapa penjelasan yang sudah disinggung di atas, ritual Kure pun menggambarkan bagaimana kehadiran Kristus yang meraja bagi umat setempat. Kalau pada zaman Raja Sonbai masyarakat yang datang untuk “mengunjungi” raja mereka dengan membawa berbagai bahan-bahan persembahan, kini Kristus sebagai Raja yang datang untuk melawat umat-Nya melalui ritual berdoa dari Ume Uis Neno yang satu ke yang lainnya. Kristus sebagai Raja ingin mengumpulkan warga-Nya di bawah terang cahaya-Nya.

Di sini, Gereja menggunakan ritus / tradisi setempat untuk memperkenalkan Kristus yang diimani Gereja. Budaya, yang oleh Amallados disebut kreasi agung, dilihat oleh gereja sebagai tempat untuk mementaskan siapakah Kristus sebenarnya tanpa harus menghilangkan secara total sisi-sisi budaya masyarakat lokal. Saya mengatakan “tidak total” karena mungkin saja ada beberapa aspek yang berlawanan dengan nilai-nilai Injili yang harus dihilangkan, atau disamarkan dari budaya tersebut.

Nilai-Nilai Dalam Tradisi Kure

Bertolak  dari uraian tentang ritual Kure di atas, saya menemukan nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan orang Noemuti baik secara individual maupun komunal sehingga dapat pula berguna sebagai wadah  untuk menumbuhkembangkan iman. Melalui devosi kepada Kanak-Kanak Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yosef serta para Kudus Portugis yang ada dalam ume m’nasi masyarakat Noemuti dapat menjalin relasi dan komunikasi di antara mereka yang berlandaskan cinta kasih, sebagai transmisi nilai kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya dan menjadikan Kure sebagai milik dan kebanggaan bersama yang harus dijaga dan diajarkan nilai-nilai tersebut kepada siapa saja.

Baca Juga:  THS-THM Paroki Sto. Yakobus Bukapiting, Berorganisasi Lahir dari Motivasi

Ritus kure menekankan beberapa aspek nilai yang dapat menunjang dan mempererat kesatuan yang mutlak dalam kehidupan masyarakat  yang tampak dalam realitas yaitu:

pertama, nilai religiositas. Kure tidak lain merupakan ritual yang terarah pada prosesi religius. Artinya praktek kebudayaan Kure merupakan praktek kebudayaan devosional. Praktek ini terjadi di sekitar Gre (gereja) yang dikelilingi oleh ume m’nasi-ume m’nasi dimana ikon–ikon kudus ditempatkan. Praktek ini mengkonsistensikan warta dan kehidupan kristiani dalam kebudayaan manusia. Kure menjadi medium untuk mempertemukan manusia dengan Uis Neno Apinat ma Aklahat, sebagai wujud tertinggi. Pada dimensi ini ritual Kure menekankan persatuan antara manusia dengan wujud yang tertinggi.

Kedua, nilai moral. Ketika selesai upacara liturgi di Gereja, semua umat terlibat dalam upacara ritual Kure. Dengan demikian, setelah perayaan ekaristi umat seluruhnya mengisi waktunya dengan berdoa atau berdevosi bersama.

Ketiga, nilai kekeluargaan. Dalam aspek sosial, kure merupakan proses dimana keluarga dari setiap umem m’nasi berkumpul untuk mempererat tali persaudaraan. Disamping itu, dalam pertemuan ini para kerabat dari setiap kanaf (suku) mengumpulkan sebagian hasil usaha mereka berupa buah-buahan dan sirih pinang dan lain sebagainya sebagai lambang syukur atas kemurahan Tuhan sembari bersama-sama memohon penyertaan Tuhan untuk memberkati  usaha mereka selanjutnya. Selain itu, prosesi Kure juga memuat suatu sistem yang unik. Keunikan itu terdapat pada akhir kunjungan kepada setiap ume mnasi, dimana akan diberikan hasil bumi yang telah dikumpulkan sebagai bentuk  solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga:  Untuk Soverdi Yang Berusia 144 Tahun

Keempat, nilai politik. Ritual Kure sebenarnya menjadi hal menarik bagi pemerintah setempat baik pemerintah kelurahan hingga kabupaten dalam memperkenalkan tradisi ini. Dengan cara ini hubungan bilateral maupun multilateral antara pemerintah daerah sekitarnya dapat dibangun demi menunjang rencana pembangunan di daerah tersebut yang berhubungan langsung dengan penyejahteraan masyarakat. Sebagai salah satu budaya langka yang hanya ditemukan di Noemuti, ritual Kure menjadi lahan subur pengembangan pariwisata religius. Dengan gerakan ini Noemuti dapat diperkenalkan tidak hanya budayanya saja tapi juga objek pariwisata lainnya misalnya objek pariwisata alam, bahari dan sebagainya. Melalui gerakan ini pembangunan masyarakat di daerah tersebut pun dapat diperhatikan.

Akhir Kata

Bagi saya, energi Gereja benar-benar dibutuhkan untuk mewartakan imannya akan Kristus kepada segala bangsa. Pada setiap bangsa telah mengakar dalam-dalam sebuah budaya dan tradisi hidup turun-temurun, dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya. Kokohnya akar tersebut inilah yang menyebabkan sifat-sifat Injili Yesus Kristus membutuhkan energi dan waktu yang tidak singkat untuk masuk ke dalam konteks lokalitas tertentu. Hal yang sama pula terjadi dengan tradisi Kure yang dihidupi oleh umat di Noemuti. Walaupun Gereja, boleh dikatakan, berhasil mewartakan Kristus yang di imaninya di satu sisi tetapi pada dimensi yang lain Gereja harus tetap bijak dalam berkontemplasi dan bertindak yakni tetap mengakomodasi tradisi-tradisi setempat demi, paling tidak, menjaga ikatan sosial melalui kebudayaan. (*)

Jogja, 25 April 2020

(Sebagian besar tulisan ini disadur kembali dari tugas saya tentang Penelitian Budaya & Tradisi Kure, FFA Unwira-Kupang)

Oleh; Frater Yohanes Mikot Fios, OCD (Lahir di Bijeli (Noemuti), 12 Oktober 1990. Saat ini Studi di Fakultas Teologi Wedhabakti – Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Tinggal di Biara Karmel OCD St. Theresia Lisieux Jl. Kaliurang, Km. 10,9 – Sleman – Jogjakarta)