Tidak Pulang Kampung, Kesadaran Moral Perangi Corona

oleh -133 views
Frids Wawo Lado (Pemimpin Redaksi Media SULUH DESA/www.suluhdesa.com)

SUARA REDAKSI, suluhdesa.com – Saya mendapat kiriman video ini dari sahabat saya yang adalah seorang Jurnalis sebuah media nasional dan tinggal di Jawa. ia mengirimkannya pada pagi hari ini Kamis (23/04/2020) pukul 08.00 Wita. Pada saat yang bersamaan ia mengirimkan kalimat mengapresiasi anak-anak muda (para mahasiswa) asal NTT yang berada di Provinsi Jawa Tengah khususnya di Kota Semarang yang memilih untuk tidak pulang kampung saat libur Idul Fitri ini akibat pandemi Covid-19. Kalimat yang lain ia mengapresiasi Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengunjungi para mahasiswa asal NTT tersebut entah di sebuah asrama untuk memberikan dukungan moril dan sebagai bentuk perhatian orang tua kepada anak-anak yang ‘numpang’ mencari hidup di rumahnya.

Ini Videonya;

Iseng-iseng saya membuka video itu dan menontonnya. Di dalam video, nampak sejumlah mahasiswa asal NTT yang sangat gembira dan bahagia saat disambangi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Saya menyaksikan semangat hidup dari anak-anak ini walaupun harus tetap berada di tempat rantau mereka. Nampak mereka menyanyikan lagu Flobamora dengan sukacita, nyanyian kerinduan dan doa untuk keluarga tercinta di NTT, diiringi suara Bapak Gubernur Ganjar Pranowo yang memberikan mereka dukungan serta penguatan. Mengharukan. Dalam kondisi seperti ini, akibat Covid-19 yang masih mewabah para mahasiswa ini memilih untuk tidak pulang kampung. Mereka memilih tinggal di kost, di kontrakan mereka, walaupun mereka sendiri memiliki kerinduan yang membuncah. Kerinduan untuk pulang libur dan bertemu dengan orang-orang terkasih mereka di kampung. Kerinduan untuk bertemu dengan opa, oma, bapak, mama, kakak, adik, serta semua yang ada di NTT Manis se..

Sambil menonton video tersebut, saya membayangkan, para mahasiswa ini yang dalam kondisi wabah virus corona, mengalami kesulitan akses terutama uang yang sangat mereka butuhkan untuk membeli makan, dan membayar kost. Namun di tengah pergulatan itu, para mahasiswa ini membunuh ego mereka untuk pulang kampung dan sangat percaya pada pemerintah untuk mengurusi mereka. Di tengah keinginan mereka untuk mengisi liburan di kampung, mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Mereka sadar hanya dengan cara ini orang-orang terkasih mereka selamat dari gempuran virus ini. Apalagi mereka berada dan tinggal di zona merah. Mereka boleh sehat, kuat, dan bugar. Tetapi jika mereka pulang kampung, bisa saja mereka menjadi inang pembawa virus. Mungkin saja mereka terpapar di bandara, di jalan, atau di tempat umum lainnya yang ramai.

Baca Juga:  Penyaluran dan Penggunaan Dana Bantuan Covid-19 di NTT, Masyarakat Harus Awasi

Di saat seperti ini, para mahasiswa ini di hadapan Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa, mereka juga sedang menggalang bantuan berupa masker, dan lainnya untuk semua warga di NTT. Tindakan yang mulia. Para mahasiswa yang kadang harus ‘ikat perut’, susah di saat wabah ini, jauh dari orang tua, masih membunuh ego mereka dan memikirkan keselamatan orang-orang mereka di NTT.

Kembali ke tidak pulang kampung. Data Kementerian Kesehatan RI, per hari ini yang positif Covid-19, 7.418 orang, yang meninggal 635 orang, yang sembuh 913 orang. Bayangkan bagaimana kalau semua orang dari zona merah ramai-ramai untuk pulang libur di kampung. Tentu akan menambah jumlah penderita Covid-19. Semua orang di desa, di kampung-kampung juga akan terpapar virus ini. Kita di NTT tentu tidak mau menambah angka positif Covid-19 lagi. Hingga Rabu malam data dari Dinas Kesehatan 22 Kabupaten/Kota se NTT menyebutkan OTG 80 orang; OTG saat ini 57 orang, OTG selesai di pantau 23 orang. Jumlah ODP, PDP dan konfirmasi 1579 orang. ODP 1535, selesai pemantauan 861, yang di rawat: RSUD TC Hillers 5, RSU Karitas 1, RSUD Ben Mboi 1, RSUD Kefamenanu 1. Karantina Mandiri 625, Karantina Terpusat 40, kondisi saat ini 673, Meninggal 1. Sedangkan jumlah. PDP sebanyak 43 orang,  dirawat di Rumah Sakit 6 : RSU Boromeus 1, RSUD Soe 1, RSUD Kalabahi 1, RSUD Ende 1, RSUD Umbu Rara Meha Waingapu 1, RSUD Waikabubak 1. Dirawat di rumah : Kabupaten. Alor 7, Kabupaten  TTS 1, Kota Kupang 1. Sembuh 23 orang. Sampel yang dikirim 75, hasil laboratorium (negatif) 43 sampel, hasil laboratorium (positif) 1 sampel, belum ada hasil 31 sampel (data gugus tugas percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi NTT.

Baca Juga:  Lapak Sabda Gelar Bincang dan Baca Buku Setiap Malam Minggu

Mengapresiasi para mahasiswa NTT yang ada di Jawa Tengah dan di provinsi lain yang memilih untuk tidak pulang kampung, kamu semua adalah pahlawan. Selain tim medis, TNI-Polri, Jurnalis, kalian juga merupakan garda terdepan yang memberikan edukasi dan pemahaman kepada semua orang untuk turut menyelamatkan orang lain. Pulanglah jika sudah aman, NTT selalu menanti kalian semua. Menanti seluruh buah pikiran kalian dari tanah rantau. Menanti oleh-oleh bernas yang kalian bawa dari bangku kuliah. Kalian menyadarkan kami semua yang saat ini begitu menggebu-gebu ego kami untuk pulang kampung. Sesungguhnya, jangan pulang dulu, jangan pulang kampung merupakan ide yang humanis dan memiliki nilai moral yang tinggi.

Jangan Pulang Dulu, Tanggung Jawab Moral

Saya mengutip pernyataan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang mendukung sepenuhnya larangan pemerintah untuk tidak melakukan mudik untuk seluruh masyarakat yang merantau pada lebaran tahun ini. Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Romo Antonius Benny Susetyo, Pr menjelaskan bahwa larangan mudik ini merupakan kebijakan yang tepat ditengah pandemi virus corona.

“Larangan mudik sangat bijak karena untuk mencegah penyebaran virus corona salah satunya adalah membatasi kerumunan massa dan lebih penting adalah kesadaran bahwa tidak mudik kita menyelamatkan orang kita cintai,” tegas Romo Benny saat dihubungi Media SULUH DESA pada hari Selasa (21/04/2020) pukul 18.00 Wita lewat WhatsApp.

Dengan tidak mudik berarti masyarakat telah menjalankan kesadaran moral untuk kebaikan bersama. Kuncinya pada kita semua untuk memiliki kesadaran moral sebagai perintah kebaikan. Tidak mudik berarti kita  menjalankan kesadaran moral  menjadi perintah dalam diri kita masing untuk taat pada kebaikan bersama. Ini butuh kerjasama melawan virus corona dari pemerintah dan masyarakat serta solidaritas kemanusiaan harus semakin kuat. Di harapkan solidaritas kemanusian semakin terlihat dan kuat baik itu dalam bentuk berbagi makanan, kebutuhan dasar menjadi gerakan di tingkat RT dan RW dan lainnya.

Baca Juga:  Koramil 0820/23 Gading Bagi Masker Untuk Masyarakat Cegah Covid-19

Sebelumnya keputusan larangan mudik ini disampaikan oleh Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video, Selasa (21/4/2020). Jokowi beralasan masih banyak masyarakat perantauan yang bersikeras untuk mudik. Padahal ini dikhawatirkan akan menjadi medium penularan Covid-19 di desa-desa sebab para perantau dianggap merupakan orang yang tinggal di epicentrum virus corona di Indonesia.

Sayangi Keluarga

Jangan pulang dulu, jangan pulang kampung, ingat semua orang di kampung yang kita sayangi. Jangan sampai kepulangan kita bukan membuahkan kebahagiaan tetapi kedukaan. Jangan sampai yang semula nikmat berbuah kesengsaraan. Sayangilah keluarga, oleh karena itu, jangan pulang dulu sampai wabah corona ini aman.

Bagi yang sudah terlanjur pulang dari zona merah, janganlah cuek, malas tahu, berpikir tidak akan terjadi apapun, lekaslah kalian melakukan karantina mandiri, dan melaporkan ke kepala desa, lurah atau petugas setempat jika ditemukan tanda-tanda yang mengarah ke Covid-19. Jangan jadi pembunuh untuk orang yang kamu sayangi.

Untuk semua yang berada di desa, di kampung, jika ada yang pulang dari zona merah, atau dari luar daerah lain jangan kucilkan mereka. Terima mereka dengan memperhatikan protap kesehatan. Berikan pengertian supaya mereka pun menjalani karantina dengan baik dan benar. Dengan demikian anda menyelamatkan ratusan bahkan ribuan orang di sekitarmu.

Akhirnya kepada siapapun yang membaca tulisan sederhana ini, marilah kita menjadi pejuang untuk menyelamatkan sesama kita dengan cara mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap melakukan social distancing, physical distancing, selalu memakai masker, tetap di rumah jika tidak ada hal yang mendesak yang harus dilakukan di luar rumah, selalu mencuci tangan dengan sabun, dan berdoa minta pertolongan Tuhan supaya wabah ini cepat berlalu dari bumi ini. Seperti kata Gubernur Jawa Tengah dalam video itu, marilah tiada henti kita terus memberikan edukasi. Edukasi kepada sesama kita untuk tetap sadar dan memiliki tanggung jawab moral dalam perang melawan Covid-19 ini. (*)

Oleh; Frids Wawo Lado (Pemimpin Redaksi Media SULUH DESA / www.suluhdesa.com)