APD Terbatas, Paramedis ‘Bunuh Diri’ Selamatkan Korban Corona

oleh -1.002 views
Petugas medis di Kabupaten Bogor terpaksa menggunakan jas hujan sebagai alat pelindung diri saat bertugas. Foto: Istimewa - tayang di radarbogor

OPINI, suluhdesa.com – Alat Perlindungan Diri (APD) seperti menjadi saksi bisu bagi tenaga kesehatan bagaimana mereka berperang dengan virus corona atau Covid-19 tanpa ada pertahanan sama sekali. Ibaratnya menghantar diri kepada musuh yang tak kasat mata dengan tangan kosong. Dokter dan paramedis berjibaku melawan virus corona, namun satu per satu gugur di medan perang akibat minimnya senjata berupa APD ini.

Persediaan APD yang dikenakan dokter dan perawat untuk menangani pasien infeksi virus Corona di Indonesia sangatlah minim. Mereka mempunyai kewajiban untuk menangani pasien tetapi mempunyai hak juga untuk melindungi diri. Bagaimana mau melindungi diri, kalau APD nya saja masih terbatas bahkan tidak merata di berbagai daerah.

Dokter dan paramedis dihadapkan dengan persoalan yang dilematis, menolong meskipun berisiko dan nyawa jadi taruhannya. Penyebaran wabah Covid-19 atau corona sudah sangat serius. Setiap hari jumlah korban terus bertambah, begitu pula wilayah penyebarannya.

Sementara itu sesuai dengan data posko Gugus Tugas penanganan virus Covid- 19 pada hari Senin (30/03/2020) sampai pukul 22.00 Wita, jumlah Orang dalam pemantauan (ODP) di NTT telah mencapai 558 orang dengan tingkat penyebaran di seluruh Kabupaten dan kota di NTT. Dari jumlah tersebut, 9 orang masuk dalam daftar Pasien Dalam perawatan (PDP) dan kini tengah menjalani perawatan di sejumlah Rumah Sakit di NTT.

Baca Juga:  18 PDP di Kabupaten Probolinggo Masih Tunggu Hasil Swab

Sedangkan data untuk seluruh Indonesia sudah banyak orang meninggal akibat ganasnya virus ini. Dari yang meninggal tersebut, sebanyak enam dokter menjadi korban akibat tertular virus corona. Salah satu alasannya karena APD yang terbatas. Sangat disayangkan hal ini terjadi, mengingat begitu besar perjuangan yang dilakukan oleh garda terdepan kita ini. Bekerja tanpa mengenal lelah dengan istirahat di luar dari batas wajar.

Menahan rindu yang begitu sesak, ingin bertemu dengan keluarga tapi takut menularkan Covid-19. Bahkan banyak dari mereka yang menangis, tapi tidak tega meninggalkan pasiennya seorang diri. Bukannya mendapat kebahagiaan dari kesembuhan pasiennya, mereka malah harus bertarung menangkal virus corona yang tertular kepadanya. Miris memang, demi melaksanakan tugas mulia, mereka bekerja sampai akhir.

Virus Corona bagaikan malaikat pencabut nyawa, yang membunuh tanpa syarat, tanpa melihat siapa, kapan, dan dimana. Ia menyerang sistem pernapasan manusia, merogoti seluruh tubuh hingga akhirnya kematian yang menjadi saksinya.

Surat terbuka pun dilayangkan oleh para tenaga kesehatan, bukan untuk provokasi melainkan untuk mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyediakan APD, apapun caranya, karena hal itu sangat penting. Semakin banyak pasien, akan semakin sulit dokter dan paramedis menanganinya apalagi dengan keterbatasan SDM, alat, ruang isolasi dan APD sendiri.

NTT adalah salah satu daerah yang tidak luput dari penyebaran virus corona. Meskipun belum ditemukan kasus positif corona, tetapi angka ODP di NTT sudah meningkat dari hari ke hari. Hal yang sama juga dikeluhkan oleh tenaga kesehatan di NTT mengenai minimnya fasilitas dalam menghadapi Covid-19, satu diantaranya adalah APD yang sangat terbatas.

Baca Juga:  FPN; Kinerja Pemdes Naitimu Amburadul dan Tidak Transparan

Misalnya, di RSUD WZ Yohannez Kupang yang merupakan salah satu RS rujukan pemerintah untuk kasus Covid-19, dimana hingga saat ini APD menjadi barang yang langka. Banyak fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang mengakali kelangkaan dengan menggunakan barang substitusi seperti jas hujan, bando, mika (masker wajah dari plastik), penutup kepala dari perlak, kaos tangan dan sepatu boot.

Saking terbatasnya APD, para tenaga kesehatan harus mencuci ulang dan menyetrika masker yang mereka gunakan. Mereka juga meminta sumbangan kepada masyarakat untuk membantu pengadaan APD. Ini yang terjadi di RS. TC Hillers Maumere yang juga merupakan satu diantara sekian rumah sakit rujukan. Sungguh menyedihkan. Namun inilah yang terjadi, pertanyaannya, kenapa hal ini bisa terjadi? apa yang salah? Apakah karena penanganan yang dilakukan pemerintah lamban atau memang karena stok APD yang terbatas?

Para tenaga kesehatan mendesak pemerintah menyediakan APD dan peralatan dasar penanganan Covid-19 seperti VTM (Viral Transport Medium) yang biasa digunakan untuk mengambil swab dan thermal gun untuk mengukur suhu tubuh.

Baca Juga:  Gandeng IMMALA Kupang, CD Bethesda YAKKUM Malaka Gelar Penyemprotan Desinfektan

Bagaimana tenaga kesehatan bisa menghadapi wabah virus corona tanpa membawa senapan? Bergabung ke medan perang melawan virus corona untuk merebut nyawa seseorang dari cengkeraman malaikat maut adalah “misi bunuh diri”.

Tenaga kesehatan juga hanyalah manusia bukan malaikat. Keselamatan para tenaga kesehatan bergantung pada ketersediaan APD. Jika hal itu tidak dipenuhi maka keselamatan masyarakat yang dipertaruhkan. Minimnya APD untuk daerah TTT (Terdepan, Terluar, Tertinggal) khususnya NTT dapat menyebabkan tenaga kesehatan di wilayah tersebut sangat berisiko terpapar Covid-19, yang akhirnya bisa membuat mereka sakit sehingga tidak bisa melanjutkan pengobatan bagi mereka yang terpapar dan risiko lainnya adalah menambah korban jiwa.

Harapannya pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi NTT lebih cepat menanggapi kondisi ini dan terus mengupayakan persediaan APD, karena sekali pakai maka memerlukan persediaan yang banyak dan distribusi yang proporsional untuk memenuhi perlindungan tenaga kesehatan. Selain pemerintah, masyarakat juga bisa membantu tenaga kesehatan dengan memberikan donasi atau sumbangsih untuk pengadaan APD karena untuk mengatasi wabah virus corona ini, dibutuhkan kerja sama dari semua pihak. Bukan hanya dokter dan paramedis, bukan hanya pemerintah, tapi kita semua bersama-sama. (*)

Oleh; Malthidis Dolvina Dona dan Maria Magdalena Bon (Mahasiswa Semester VI FKM Undana Kupang)