Angka Kematian Akibat Covid-19 Meningkat di Indonesia, Masyarakat Masih Santuy?

oleh -326 views
Oktaviana A. B. Abin, Mahasiswa Semester VI FKM Undana Kupang.

OPINI, suluhdesa.com – Angka kasus positiv virus corona baru (covid 19) di Indonesia semakin meningkat dalam tiga pekan terakhir. Data hingga Minggu, (29/03/2020) total pasien positif virus corona 1.285 kasus dengan 64 sembuh dan 114 pasien meninggal dunia (data situs resmi www.covid19.go.id 29 Maret 2020 pukul 13.00 Wib), sedangkan untuk NTT, hingga malam ini tanggal 29 Maret 2020 pukul 21.00 Wita jumlah ODP Covid-19 sebanyak 495 orang. Siang tadi berjumlah 460 orang. Itu berarti ada tambahan jumlah ODP sebanyak 35 orang. (sumber siaran pers Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT).

Bersyukur. Sampai saat ini di NTT belum ada kasus positif Covid-19 dan berharap tidak ada kasus positif Covid-19 di NTT. Jumlah kematian di Indonesia meningkat, artinya angka kematian akibat pasien Covid-19 lebih tinggi daripada angka kesembuhan. Wabah Covid-19 ini membuat pemerintah harus memikirkan berbagai upaya untuk mengatasinya.

Di awal kasus wabah corona, kita melihat sebuah ketidakkonsistenan Pemerintah Indonesia yang tampil dengan memandang virus corona sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti. Bahkan hingga memberikan subsidi diskon besar-besaran untuk tiket pesawat dalam mengundang para wisatawan untuk datang berlibur. Dikala itu dunia sedang dihebohkan dengan wabah corona namun tidak ada sedikit pula publik yang mencari tahu tentang corona.

Baca Juga:  Pemprov NTT ‘Sunat’ Dana BOS SLB Rp 11,5 M

Langkah kebijakan awal yang seharusnya ditempuh oleh pemangku kebijakan yakni mengedukasi publik untuk waspada terhadap wabah corona sebelum masuk ke wilayahnya dan menyebar luas lebih jauh.

Berbagai upaya pun telah dilakukan pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona seperti social distancing dan work from home. Namun apa boleh buat, masih ada saja segelintir orang diluar sana yang belum menyadari akan hal ini dan terus berkeliaran dimana-mana.

Baca Juga:  WKRI Paroki St. Petrus Rasul TDM Berbagi Kasih Kepada Umat Terdampak Covid-19

Masyarakat Masih Santuy/Anggap Remeh

Santuy/santai adalah istilah kondisi mental seseorang yang punya ketenangan dan tidak terpengaruh apapun dan mampu melewati bacotan netizen. Sungguh miris akan hal ini. Tidak berpikirkah mereka dengan para tenaga medis yang harus meninggalkan keluarga di rumah untuk berperang melawan Covid-19 guna menyembuhkan pasien yang terpapar?

Kita pun harus berpikir jika semakin banyak orang yang positif terkena Covid-19 maka kunjungan ke fasilitas kesehatan secara otomatis akan meningkat dan anggaran yang dibutuhkan untuk membeli alat-alat kesehatan pun besar.

Untuk mencegah hal itu terjadi maka ikuti saran dari pemerintah dengan menerapkan social distancing, work from home, ibadah dari rumah, hindari keramaian apalagi yang masih muda keluar rumah untuk sekadar bertemu pasangan.

Hal kecil yang dapat kita lakukan seperti cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, menerapkan etika bersin yang benar, olahraga dan istirahat yang cukup dapat membuat kita untuk terhindar dari serangan Covid-19. Jangan pernah menganggap remeh dengan Covid-19. Yang paling penting adalah ikuti instruksi dari pemerintah. Masyarakat diminta agar mematuhi segala kebijakan yang dibuat. Jangan melawan. Mari kita cegah Covid-19.

Baca Juga:  PERMATA Kupang Lakukan Kegiatan GENTA, Kades Lerek; Terima Kasih

Kita juga mesti menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah yang sudah berupaya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Para tenaga medis, tim gabungan Satgas pencegahan Covid-19 yang berjibaku melaksanakan tugas untuk mendeteksi setiap orang yang keluar masuk daerah.

Sampai saat ini, Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya. Masyarakat diharapkan untuk bersama dengan pemerintah mencegah Covid-19 dan melaksanakan imbauan serta aturan yang dikeluarkan, semua itu merupakan bentuk upaya pencegahan Covid-19 di Indonesia umum dan juga NTT khususnya. (*)

Oleh; Oktaviana A. B. Abin, Mahasiswa Semester VI Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana Kupang.