ODP Covid-19 di Probolinggo 103, 1 Meninggal Dunia

oleh -223 views
Perkembangan penyebaran virus corona (Covid-19) di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.

PROBOLINGGO  suluhdesa.com – Perkembangan terkini kasus Corona Virus Disease (Covid-19) di Kabupaten Probolinggo hingga Sabtu (28/3/2020), untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 103 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 4 orang dengan keterangan 1 orang masih dalam perawatan, 2 orang sembuh dan 1 orang meninggal dunia.

Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Satgas Penanggulangan Bencana Non Alam dan Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto. Menurutnya, PDP balita usia 3 tahun asal Desa Sukapura Kecamatan Sukapura masih menunggu hasil swapnya. Tetapi karena kondisinya sehat dan kapasitas Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang penuh, maka yang bersangkutan dipulangkan dan dirawat di RSUD Waluyo Jati Kraksaan.

“Sementara PDP balita usia 3,5 tahun asal Desa Watuwungkuk Kecamatan Dringu dari 2 kali swap hasilnya negatif dan sudah dipulangkan. Yang bersangkutan ternyata sakit infeksi saluran pernafasan. Sama dengan PDP asal Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan yang sudah dipulangkan karena hasil swapnya sudah negatif. Pasien ini bukan sakit dugaan Covid-19, tetapi sakit biasa,” katanya.

Baca Juga:  Jaga Kebugaran Warga Karantina, Babinsa Koramil 0820/26 Tegalsiwalan Pimpin Senam

Menurut Anang, dari 3 PDP yang ada di Kabupaten Probolinggo, maka 2 PDP sudah dinyatakan negatif dan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Tetapi tetap akan dilakukan pengawasan dari pihak puskesmas.

“Dengan demikian tinggal 1 PDP asal Desa Sukapura Kecamatan Sukapura yang masih dirawat di RSUD Waluyo Jati Kraksaan sambil menunggu hasil swapnya,” jelasnya.

Baca Juga:  Kapolda Kepri Sambut Kunker Presiden RI ke Pulau Galang

Anang menerangkan walaupun hasil swap PDP dari Kecamatan Dringu dan Kraksaan negatif, tetapi datanya tetap muncul dan tidak berubah. Hal ini dikarenakan secara prosedur untuk pelaporan atau tampilan data, memang harus dimunculkan tapi dengan keterangan apa sembuh, berapa sembuh dan berapa positif.

“Seperti di Jakarta sama misalnya sampai 500-an, padahal ada yang sembuh harusnya dikurangi tetapi yang muncul tetap 500-an. Nanti di total angka kesakitan tidak dihapus. Protokol surveilansnya memang seperti itu,” pungkasnya. (Azizah/Senopati)