Cegah Covid-19, Pemkab Lembata Harus Antisipasi Arus Masuk

oleh -221 views
Marianus Wilhelmus Lawe (MWL) yang berasal dari Lembata dan bekerja sebagai Chief Engineer (Pelaut) yang bekerja di Abu Dhabi, Senin (23/03/2020).

LEMBATA, suluhdesa.com – Wabah Virus Covid-19 mengguncang dunia. Indonesia pun sedang berjibaku dengan wabah virus itu. Tidak ketinggalan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai sebuah provinsi kepulauan, tantangan paling besar dalam mengatasi wabah Covid-19 justru dihadapi oleh pemerintah kabupaten.

Kabupaten Lembata sebagai salah satu kabupaten pulau di NTT, juga harus menghadapi wabah ini. Sebagai sebuah kabupaten pulau, Lembata terbuka terhadap orang yang masuk ke Lembata melalui pelayaran. Salah satunya adalah Kapal Pelni yang secara rutin membawa penumpang dari Batam dan Malaysia kembali ke Lembata, Adonara, Solor, dan Flores Daratan (Flores Timur).

Hal itu yang menjadi tantangan serius Pemkab Lembata dan warga Lembata dalam menangani ancaman wabah Covid-19.

Bagaimana Pemkab Lembata dan warga Lembata menyikapi ancaman wabah Covid-19 yang mungkin saja masuk ke Lembata melalui arus pelayaran masuk ke Lembata?

Berikut ini wawancara dengan Marianus Wilhelmus Lawe (MWL) – yang berasal dari Lembata dan bekerja sebagai Chief Engineer (Pelaut) yang bekerja di Abu Dhabi, Senin (23/03/2020).

Baca Juga:  Pemkab Bekasi Segera Realisasikan Anggaran Cegah Corona, Perhatikan Juga Pers

Apakah Lembata sebagai kabupaten pulau terhindar dari ancaman wabah Virus Covid-19?

MWL:  Justru tidak terhindar. Masuknya virus Covid-19 yang paling potensial ke Lembata adalah arus pelayaran ke Lembata dari empat arah masuk. Pertama adalah dari daratan Larantuka dan Adonara, dari Kupang dengan Kapal Ferry, dari Kapal Pelni, dan dari Alor. Pelayaran dari Kupang, Larantuka, Adonara, serta Kapal Pelni masuk ke Pelabuhan Lewoleba. Sedangkan dari Alor masuknya ke Wairiang. Mesti dicek lagi, apakah juga ada pelayaran masuk ke Pelabuhan Balauring. Pemkab Lembata harus mengantisipasi arus masuk orang ke Lembata dari empat arah masuk itu. Orang-orang yang turun di Pelabuhan Lewoleba dari kapal dan motor jumlahnya sangat banyak. Jumlah penumpang yang turun dari Kapal Pelni saja mencapai jumlah ribuan. Dengan jumlah yang demikian, siapa yang bisa menjamin bahwa para penumpang bebas dari paparan Covid-19? Hal ini menjadi tantangan serius bagi Pemkab Lembata dan warga Lembata.

Apa kira-kira yang harus dilakukan oleh Pemkab Lembata sebagai antisipasi?

Baca Juga:  Masyarakat Desa Wederok Minta Kades Transparan Terkait Dana Covid-19

MWL: Saya pikir Pemkab Lembata sudah mengantisipasi. Tetapi menurut saya, Pemkab memang harus berpikir secara serius dan mengambil langkah yang tepat. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah mengatur bagaimana para penumpang turun ke darat. Biasanya para penumpang turun berdesak-desakkan dan tidak berjarak sama sekali. Untuk itu Pemkab Lembata bisa mengontak pihak ASDP Ferry, kapal motor, dan kapal Pelni untuk memberlakukan sebuah skenario protokoler, supaya para penumpang yang turun dapat mengambil jarak aman antara satu dengan yang lain. Hal yang sama berlaku juga di pintu masuk Wairiang dari arah Alor.

Bersamaan dengan itu, di area pelabuhan baik di Lewoleba dan Wairiang, Pemkab Lembata sudah menyiapkan sarana kesehatan untuk pemeriksaan kondisi para penumpang. Bila ada penumpang yang terindikasi, petugas medis segera mengambil tindakan pertama. Supaya semua proses bisa berjalan lancar, Pemkab bisa melibatkan warga Lembata sebagai relawan untuk membantu penanganan hal tersebut.

Bagaimana menangani penumpang yang kemungkinan terpapar Covid-19? Apakah harus diisolasi?

Baca Juga:  Kunker ke Sikka, Gubernur VBL Harapkan Kerja Sama Gereja Dengan Pemerintah

MWL: Di Lembata, ada beberapa rumah sakit dan puskesmas. Ada RSUD, RS. Bukit, RS. Damian dan beberapa puskesmas. RSUD dan puskesmas-puskesmas tidak terlalu sulit menjalankan perintah Pemkab karena merupakan perangkat dan fasilitas kesehatan milik pemerintah. Tetapi untuk rumah sakit-rumah sakit swasta, Pemkab perlu membuat perjanjian kerja sama waktu tertentu untuk menangani penumpang yang terpapar Covid-19. Saya kira rumah sakit-rumah sakit swasta mau bantu Pemkab mengatasi masalah tersebut. Rumah sakit-rumah sakit dan puskesmas bisa menyiapkan ruangan-ruangan isolasi bila ada penumpang yang harus diisolasi dulu sebelum kembali ke rumahnya di kampung.

Apa yang harus dilakukan warga Lembata di sana?

MWL: Seperti himbauan dari pemerintah pusat dan provinsi agar membiasakan hidup sehat, terlebih menjaga stamina tubuh. Untuk konteks Lembata, itu hal yang paling minimum yang dapat dilakukan oleh warga Lembata. Dengan begitu, kalaupun ada penumpang yang baru turun dari kapal terpapar Covid-19, penularannya bisa diantisipasi lebih awal. Harapan saya adalah tidak ada penumpang yang terpapar Covid-19. (Alex A.A/Red)