Pendidikan Seks Anak, Upaya Melawan Predator

oleh -402 views
Ilustrasi diambil dari blogbacaguru.blogspot.com

KUPANG, suluhdesa.com – Marak terjadinya kekerasan seksual kepada anak dibawah umur telah berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan secara fisiologis maupun psikis, berakibat fatal pada relasi dan adaptasi sosial. Kondisi ini cenderung mendapat pelabelan dan perlakuan tidak senonoh di antara kalangan. Oleh karena itu, segala unsur masyarakat harus berperan aktif, memberi pendampingan juga melindungi segala hak dan kewajiban anak-anak.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya di Kabupaten Ngada adalah lagu lama yang terdengar tiap saat. Bahkan terakhir, kasus pelecehan seksual diduga kembali terjadi dan dilakukan oleh oknum guru yang menjabat kepala sekolah, di kecamatan Riung.

Ironis bukan? Guru yang seyogianya menjadi pelopor budi pekerti, melekat tugas sebagai pengajar dan pendidik harus terjebak dalam pusaran nafsu birahi. Sungguh perbuatan tidak terpuji. Bagaimana tidak, predator anak itu justru muncul dari dalam lembaga pendidikan yang sejauh ini kita agungkan akan tugas mulianya.

Tercatat, penghuni narapidana di Lapas Kelas II Bajawa, tahun 2017 mayoritas pelaku melakukan pencabulan anak dibawah umur, sebanyak 27 orang (data tergabung Ngada-Nagekeo). Untuk kabupaten Ngada sendiri, tahun 2018 sebanyak 20 kasus. Sedangkan tahun 2019, seperti disampaikan Bupati Ngada, Paulus Soli Woa saat pembukaan Konferensi Anak Daerah (Konferda) tingkat Kabupaten Ngada pada tanggal 20 Februari 2020-21 Februari 2020 menyebutkan sebanyak 20 kasus.  Dari data yang ada, dapat dipastikan jumlah kasus terus akan bertambah bila tidak segera mengambil langkah melalui kebijakan strategis  dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat.

Baca Juga:  Danrem 161/WS Tekankan 4 Hal Saat Apel Pagi

Masalah di atas diuraikan tokoh muda yang bernama Ronaldus Muga, mantan Ketua HIPMAS-Kupang kepada Media SULUH DESA pada Jumat (20/03/2020) dini hari via Whatsapp berpendapat bahwa, kasus kekerasan anak tidak bisa dianggap sepele. Banyak faktor yang mempengaruhi kekerasan terhadap anak, seperti di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, pergaulan, dan kemajuan bidang teknologi informasi.

Ia mengemukakan, sesuai hasil studi yang dilakukan oleh lembaga End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia, menemukan fakta dan data bahwa kekerasan seksual terhadap anak faktor terbesarnya adalah dipengaruhi oleh adegan pornografi 43 persen, pergaulan 33 persen,  narkoba/obat (11 persen), pengalaman menjadi korban atau trauma masa kecil 10 persen, dan keluarga 10 persen.

Menurutnya, “kemudahan teknologi turut memberi dampak negatif terhadap perilaku anak. Melalui kemajuan teknologi siapa saja  dengan mudah mengakses apa saja yang diinginkan termasuk anak tanpa memperhitung dampak-dampak ikutan ditengah maraknya situs pornografi di beberapa platform media sosial. Dengan demikian anak akan mudah terjebak dan muncul penasaran dan rasa ingin tahu, pada titik tertentu justru mencoba tanpa perhitungan sebab akibat.”

Baca Juga:  MAWU dan Galeka Uyelewun Kupang Audiensi Dengan Satgas Covid-19 NTT

Oleh sebab Ronaldus Muga mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para orang tua dan para  guru agar memaksimalkan peran dedikasi dan edukasi dalam pembentukan karakter melalui gerakan sosialisasi, simulasi sejak dini termasuk pendidikan seksual.

“Bagi saya, ini hal yang penting. Sejauh ini masyarakat awam masih menganggap pendidikan seksual bagi anak itu adalah sesuatu yang tabu sehingga tidak diajarkan, padahal ini sangat penting  sebagai langkah awal dalam memberi pemahaman dan dampak-dampak  sosial terhadap perilaku seks dibawah umur. Dengan demikian, anak-anak mempunyai bekal mengawas diri. Di sisi lain, perlu pengawasan intensif dan membatasi penggunaan alat komunikasi,” tegas Ronal yang juga pemerhati anak.

Senada dengan itu, Bandri Ndari seorang Aktivis PMKRI Kupang menandaskan, “kasus kekerasan seksual dengan korban anak dibawah umur masih marak terjadi. Bahkan mengalami peningkatan tiap tahun. Ini menjadi persoalan serius dan menjadi pekerjaan rumah setiap unsur masyarakat baik pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, keluarga dan masyarakat,” ucap Bandri.

Baca Juga:  Dandim 1613/SB Terima Korp Raport Masuk Satuan

Bandri menegaskan, merawat dan menjaga anak sudah menjadi kewajiban. Pendidikan budi pekerti dan peningkatan kapasitas dan kualitas anak mesti dijalankan sejak dini, mulai dari keluarga, lingkungan dan segala unsur  jenjang pendidikan formal serta non formal.

“Ada aspek  A3K (asih, asuh, asah, kasih) harus menjadi pedoman yang harus dioptimalkan dan dilaksanakan secara simultan pada setiap jenjang dan fase pertumbuhan ditengah tantangan arus zaman. Saya mengajak kita sekalian untuk berperan aktif dalam melawan “predator anak”. Ia (predator) bisa muncul kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja tanpa kita ketahui. Untuk itu, anak perlu dibekali dengan pemahaman yang jernih dalam pergaulan dan relasi ditengah perubahan perilaku,” imbuh Bandri.

Kata Bandri, “penegakan hukum harus dijalankan secara objektif dan transparan dalam memberikan kepastian hukum guna memberi rasa keadilan bagi setiap orang, dan sisi lain memberikan efek jera terhadap pelaku. Maka kami mendesak agar Polres Ngada segera mengusut tuntas tuntas dugaan kasus pelecehan seksual yang terjadi di Kecamatan Riung, yang korbannya adalah siswa SD dan pelakunya seorang Kepala sekola,” pungkas Bandri. (oswin/fwl)