Paul Edmundus Talo; Pelaku Kriminal Asal NTT di Bali Bikin Malu Kita

oleh -3.056 views
Tokoh asal NTT di Bali, Paul Edmundus Talo.

DENPASAR, suluhdesa.com – Provinsi Bali menjadi salah satu tujuan bagi para migran perantau asal Nusa Tenggara Timur. Mereka datang dengan berbagai tujuan antara lain untuk bekerja atau meneruskan pendidikan tinggi. Sayangnya akhir-akhir ini berbagai tindakan kriminal yang terjadi melibatkan para migran perantau asal Nusa Tenggara Timur. Tindakan mereka telah mencoreng nama baik Nusa Tenggara Timur di Pulau Bali.

Para tokoh asal Nusa Tenggara Timur di Bali merasa prihatin dengan meningkatnya tindakan kriminal yang pelakunya berasal dari  Provinsi Nusa Tenggara Timur. Salah satu tokoh yang mengaku sangat prihatin bahkan merasa malu dengan ulah para perantau asal NTT itu adalah Paul Edmundus Talo.

Dihubungi Media SULUH DESA pada hari Kamis (12/03/2020), pria asal Bajawa-Ngada yang sudah empat puluhan tahun menetap di Bali ini mengatakan “ketika aksi kriminal dengan pelaku asal NTT terjadi seakan diulang, diulang dan diulang lagi akhirnya sesama kita sampai pada titik kehilangan kesabaran. Jengkel, marah karena malu, malu dan malu. Citra orang NTT terpuruk karena perbuatan adik-adik kita itu. Saya alami. Di kampus hal ini dibicarakan di sana.”

Baca Juga:  Ibu-Ibu Bertelanjang Dada di Besipae Bisa Laporkan Penyebar Video Dengan UU ITE

Menurut Paul, mereka yang melakukan tindakan kriminal agar sepenuhnya diserahkan kepada hukum. Namun bila berulang kali melakukan kesalahan yang sama sebaiknya dipulangkan saja ke kampung  halamannya.

“Mereka makan RW hasil mencuri hewan orang, minum moke sampai mabuk-mabukkan. Kita yang lain makan dan minum rasa malunya saja. Enak di dia, tidak enak di kita,” ujarnya tegas.

Lebih lanjut dikatakan pria yang sudah malang melintang di dunia pariwisata termasuk pariwisata Nusa Tenggara Timur ini, pembinaan terhadap para migran perantau NTT di Bali tidak cukup dilakukan di tempat rantau. Pembinaan itu dimulai dari rumah tangga sendiri di tempat asal, di kampung halaman dan di daerah asal mereka.

Baca Juga:  Semua Pihak Harus Menghapus Praktik Prostitusi di NTT

”Para kades, camat dan bupati di tempat asalnya sana harus tahu itu. Harus melakukan pembinaan itu,” katanya mendesak.

Untuk maksud itu Paul mengusulkan beberapa hal. Setiap pendatang baru yang berasal dari NTT harus memiliki Kartu Penduduk, alamat yang dituju harus lengkap dan jelas. Selain itu bila ia ke Bali untuk kuliah maka persyaratannya harus lengkap.

”Ikatan keluarga Besar (IKB) Flobamora dapat mengusulkan kepada pemerintah Provinsi NTT atau Kabupaten dan Kota di NTT agar setiap pendatang harus membayar uang jaminan hidup selama 1 (satu) tahun. Uang itu dikembalikan setelah yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa dia sudah bekerja atau kuliah di sini. Peraturan seperti ini pernah diterapkan di Ibukota Jakarta dan saya melakoni itu tahun 1976,” jelasnya.

Baca Juga:  NTT Serius Kembangkan Pertanian dan Peternakan dengan Sentuhan Teknologi

Lebih lanjut Paul katakan, dirinya sangat mencintai pulau Bali, menghormati orang Bali, menghargai adat budaya setempat dan menghargai sesama perantau khususnya dari NTT. Hidup di Bali telah lebih dari 40 tahun, dirinya sangat merindukan suasana kerukunan tempo doeloe yang saling menghormati, saling menjaga nama baik tanah dari mana berasal dan menghormati Tanah Bali dan orang Bali.

”Imbauan saya, mari anak-anak muda asal NTT, adik-adik saya, mari mengikuti contoh orang tua-orang tua kita yang sebagian besar sudah tiada itu. Mereka telah meninggalkan nama harum Flores, Timor, Sumba atau Flobamorata di Bali ini,” pungkas Paul. (agust g thuru/agust)