Martabat Guru Harus Dikembalikan, Jangan Ada Kejahatan di Dunia Pendidikan

oleh -315 views
Beny Mauko, S. Pd., M.Hum yang merupakan seorang Guru SMPN 11 Kupang yang juga Ketua Forum Peduli Martabat Guru bersama semua pihak yang peduli pada masalah ini membuat aksi malam refleksi dan menyalakan 1001 lilin sebagai tanda duka terhadap semua persoalan buruk dan kejahatan yang terjadi yang menimpa para guru. Aksi ini dilakukan di Bundaran Tirosa pada hari Rabu (11/03/2020) pukul 18.00 wita sampai selesai.

KUPANG, suluhdesa.com – Salah satu persoalan pendidikan di Indonesia khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur seperti guru yang dianiaya oleh oknum siswa di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung belum mendapat tempat yang utama untuk diperhatikan oleh pemangku kepentingan. Aturan dalam Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyebutkan bahwa perlindungan hukum mencakup dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain seolah tidak memiliki taring.

Persoalan yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Selasa (03/03/2020) di SMAN 1 Fatuleu, Kabupaten Kupang sangat mencoreng institusi pendidikan Nasional karena seorang guru yang bernama Yelfret Malafu (45) dianiaya hingga babak belur oleh tiga siswanya sendiri yang berinisial CYT (19), YCVPH (17), dan OK (19).

Menanggapi kejadian memilukan tersebut membuat Forum Peduli Martabat Guru mengambil sikap dan mendesak semua pihak untuk membela guru dan kembali mengangkat harkat serta martabat guru.

Beny Mauko, S. Pd., M.Hum yang merupakan seorang Guru SMPN 11 Kupang yang juga Ketua Forum Peduli Martabat Guru bersama semua pihak yang peduli pada masalah ini membuat aksi malam refleksi dan menyalakan 1001 lilin sebagai tanda duka terhadap semua persoalan buruk dan kejahatan yang terjadi yang menimpa para guru. Aksi ini dilakukan di Bundaran Tirosa pada hari Rabu (11/03/2020) pukul 18.00 wita sampai selesai.

Baca Juga:  Lawan Covid-19 di NTT, Masyarakat Jaga Keseimbangan Jasmani dan Rohani

Beny Mauko saat diwawancarai Media SULUH DESA menjelaskan bahwa aksi ini sebagai dukungan kepada Guru SMAN 1 Fatuleu yang dianiaya oleh murid-muridnya hingga babak belur.

“Ini bagian ke III untuk aksi kami dalam mendukung proses pidana. Aksi pertama di lokasi SMAN 1 Fatuleu. Kami langsung bertemu dengan korban dan berdiskusi lalu kami ke Polsek Fatuleu. Aksi Kedua di Bundaran Tirosa meminta dukungan publik.  Lalu aksi Ketiga pada malam ini dan hadir seratus orang dari semua elemen. Kami prihatin dengan situasi pendidikan saat ini. Saya bersedih hati karena wajah pendidikan kita rentan tekanan dan tindakan kejahatan terhadap guru. Siswa kepada guru. Orang tua terhadap guru, dan guru kepada siswa,” ucap Beny.

Beny juga meminta supaya kondisi seperti ini harus segera diakhiri. Guru sebagai garda terdepan harus memiliki peran penting untuk mengakhiri kekerasan di sekolah.

“Di samping itu kita membutuhkan kebijakan politik dari Pemerintah lewat regulasi. Jadi aksi ini sesungguhnya menyentuh seluruh elemen bangsa ini untuk bergerak bersama mengubah wajah pendidikan kita. Guru bisa melakukan tugas dengan aman dan nyaman. Sangat miris jika guru nyawanya terancam. Padahal guru mengamanatkan UU yakni mencerdaskan bangsa. Segera negara melahirkan UU Perlindungan guru. Untuk menjamin keselamatan guru dan kesejahteraan guru. Perjuangan kita muaranya untuk mengembalikan martabat guru. Kami minta juga Menteri Pendidikan untuk datang ke Kupang dan menyikapi persoalan ini,” tegas Beny.

Baca Juga:  Menasihati Murid Agar Jangan Pacaran, Guru Pun Jangan 'Ganggu' Murid

Menurut Beny, pihaknya telah bertemu Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT dan Komisi V DPR V Provinsi NTT dan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT.

“Kita minta mereka lihat ini secara serius. Mereka pun mengutuk tindakan biadab, dan ini harus dikawal. Ada janji dari Komisi V DPRD NTT kalau mereka akan membuat regulasi,” jelas Beny.

Saat ditanya terkait pola pendekatan yang baik antara guru dan siswa, Beny menegaskan bahwa proses pendekatan antara guru dan siswa harus memiliki hubungan sebagai orang tua dan anak.

“Semua gap-gap yang terjadi secara formal harus ditiadakan. Emosi harus dibangun seperti orang tua. Guru jangan jauh dari siswa, dan siswa jangan jauh dari guru. Harus menjadi sahabat. Harus intens dibangun. Ini jaminannya,” tukasnya.

Informasi yang dihimpun Media SULUH DESA disampaikan bahwa Yelfret Malafu, Guru SMAN 1 Fatuleu tidak berdaya saat dianiaya oleh siswanya sendiri.

“Aduh e pak, syukur sa ada itu anak-anak nona dong  yang tahan dan melerai. Anak-anak nona ini juga yang berupaya melindungi Pak Yelfret dari serangan membabi buta mereka yang keroyok. Awalnya terjadi karena Pak Yelfret yang sedang mengawas ujian meminta mereka untuk mengisi daftar hadir sebagai syarat kalau mereka telah mengikuti ujian, namun saat itu langsung terjadi pemukulan kepada Pak Yelfret. Sebelumnya juga pelaku itu yang keroyok datang terlambat,” cerita sumber itu.

Baca Juga:  RD Sipri Senda Sharing Kitab Suci Bersama Umat Stasi Oekabiti

Sumber lain mengatakan bahwa Yelfret Manafu memiliki kaki yang pincang dan kelihatan lemah, sehingga ini selalu diremehkan dan menjadi bahan olok-olokan oleh para siswanya yang melakukan pengeroyokan itu. Yelfret Manafu pada saat dianiaya dipukul sampai jatuh, kepalanya diinjak-injak, dan dilempari kursi. Para pelaku yang adalah siswanya sendiri bahkan memaki-maki Yelfret Manafu dengan kasar.

“Ini kali kedua Pak Yelfret dipukul. Hanya ini yang paling parah. Pihak sekolah waktu itu hanya diam dan membujuk Pak Yelfret Manafu supaya memberikan maaf dan berdamai. Kali ini juga sebenarnya mereka bujuk Pak Guru Yelfret untuk berdamai dengan memberi kain adat dan uang satu juta. Tetapi karena memang kurang ajar sekali jadi ya kita desak supaya Polda NTT juga turun tangan untuk proses pelaku penganiayaan,” tuturnya.

Menurut sumber itu bahkan ada upaya dari pihak-pihak lain yang ingin agar proses pidana ini jangan dilanjutkan atau dihentikan.

“Padahal sudah ada Laporan yang terdaftar dengan nomor LP/ B/17/ III/2020.Sek Fatuleu. Ya memang sekarang mereka sedang diproses di Polsek Fatuleu. Tetapi kami minta supaya ini harus dikawal terus hingga para pelaku itu dapat dihukum sesuai dengan UU yang berlaku. Ini harus dilakukan oleh penegak hukum supaya ke depan jangan ada para guru yang jadi korban lagi. Yang membenci guru bahkan menganiaya guru adalah musuh pendidikan. Musuh kemanusiaan dan musuh peradaban,” tutupnya. (fwl/fwl)