DBD di Sikka; Bupatinya Gagal, Menkes Sebut Ini Kehendak Tuhan

oleh -245 views
Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia dan Advokat Peradi.

OPINI, suluhdesa.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sikka, merupakan sebuah peristiwa yang memilukan, karena di satu sisi DBD telah menimbulkan korban 2.697 dimana 1.190 yang menderita sakit terjadi di Maumere dan yang meninggal 32 orang dan 14 orang terjadi di Sikka. Ini sebagai peristiwa memilukan karena telah membawa penderitaan dan kesedihan bagi seluruh warga NTT khususnya Kabupaten Sikka. Pada sisi yang lain, pertanda Bupati Sikka, gagal mewujudkan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Sikka di bidang kesehatan. 

Kegagalan untuk hal yang paling sederhana adalah penyadaran kepada masyarakat untuk hidup bersih sebagai kunci untuk hidup sehat. Hidup bersih dan sehat itu dua hal paling sederhana yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap kehidupan manusia, biaya murah, tidak butuh anggaran besar dan tidak perlu berdebat seru dengan DPRD, cukup dengan Pemerintah memberi contoh bagaimana membangun wajah Kota Maumere yang bersih, maka disitulah cermin budaya masyarakat dan pemerintah ingin hidup sehat.

Tingginya jumlah korban menderita DBD di Sikka sudah memprihatinkan bahkan memalukan karena jumlahnya mencapai hingga  1.190 penderita pada Maret 2020 dengan jumlah 14 orang meninggal, tertinggi untuk 22 Kabupaten atau Kota di NTT. Sementara wajah Kota Maumere yang tidak bersih, sampah-sampah kota bertumpuk bahkan berserakan di setiap sudut kota, dibiarkan. Ini menjadi bukti bahwa Bupati Roby Idong belum menjadikan  bidang kesehatan masyarakat sebagai skala prioritas.

Baca Juga:  TPDI; Tolak Rancangan Perpres Tentang Peran TNI Atasi Aksi Terorisme

Bupati Roby Idong gagal menjadikan hidup bersih dengan lingkungan yang bersih menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa?  Karena persoalan mendasar kesehatan warga adalah pada budaya hidup bersih yang dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah abai, lebih asyik pada persoalan hilir yaitu membangun Rumah Sakit dan Puskesmas dengan Dokter dan Perawat yang hebat-hebat, namun abai terhadap persoalan di hulunya yaitu membudayakan masyarakat hidup dengan pola dan lingkungan hidup  bersih.

Dalam soal budaya hidup bersih, Pemerintah membiarkan masyarakat jalan sendiri, LSM bidang kesehatan dibiarkan jalan sendiri. Padahal Pemerintah seharusnya menjadikan LSM sebagai mitra kerja dengan  gerakan massif membangun pola hidup bersih lingkungan untuk kesehatan, bukan pidato membanggakan penanganan DBD dengan sebuah Instruksi kepada semua elemen masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk di saat mayoritas warganya tengah menderita DBD.

Saling Memuji Untuk Menutupi Kegagalan

Masyarakat justru bingung membaca sikap Bupati Roby Idong dan Kadis Kesehatan Provinsi NTT dr. Dominggus Mere, karena di saat warga masih berduka karena 32 warganya meninggal akibat DBD dan 2.697 yang menderita sakit DBD, pejabatnya saling memuji sebagai orang hebat, tanpa ada pernyataan duka cita dan prihatin di tengah warga Sikka yang berjumlah ribuan orang menderita DBD.

Baca Juga:  Virus Korupsi di Pemerintahan Paulus Soliwoa Lebih Berbahaya dari Covid-19

Bupati Roby Idong gagal mewujudkan warganya untuk hidup bersih, gagal mewujudkan wajah kota Maumere yang bersih dan sehat, namun Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Dominggus Mere, justru memuji Bupati Roby Idong dalam sambutannya di hadapan Menteri Kesehatan, mengapresiasi kebijakan Pemkab Sikka yang mewajibkan semua elemen warga Sikka untuk terlibat aktif dalam gerakan massal mengatasi DBD. Ini jelas upaya menutupi kegagalan atas tanggung jawab Pemerintah di bidang kesehatan.

Padahal kondisi persebaran DBD di NTT selama periode Januari hingga memasuki pekan kedua Maret 2020 ini meningkat drastis dengan jumlah kasus sebanyak 2.697, dan 32 orang di antaranya meninggal dunia. Ini adalah fakta dimana Sikka menjadi Kabupaten dengan korban terbanyak, dengan wajah Kota Maumere yang paling jorok dan warga kurang peduli terhadap budaya hidup bersih sebagai salah satu syarat penting mewujudkan kesehatan masyarakat.

Perilaku saling memuji di hadapan Menteri Kesehatan di tengah kegagalan membangun budaya hidup bersih, memanipulasi kegagalan dengan saling memuji, sebagaimana dr. Dominggus Mere mengapresiasi Bupati Roby Idong hanya karena Roby Idong dengan bangga menyatakan Pemkab Sikka telah mengeluarkan instruksi kepada semua elemen warga Sikka untuk terlibat aktif dalam gerakan massal “Pemberantasan Sarang Nyamuk” (PSN). Apakah ini sebuah prestasi?

Baca Juga:  TPDI; Yayasan Sta Elisabeth Keuskupan Maumere Layak Dipidanakan

Begitu pula dengan dr. Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan justru mencoba melempar tanggung jawab atas 32 warga NTT yang meninggal akibat DBD dengan pernyataan bahwa 32 warga NTT yang meninggal sebagai kehendak Tuhan. Bayangkan dari 22 kabupaten dan Kota di NTT, Kabupaten Sikka menempati urutan pertama kasus DBD dengan jumlah kasus 1200 orang menderita sakit dan 14 di antaranya meninggal dunia.

Meningkatnya kasus DBD belakangan ini diharapkan dapat menyadarkan Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungannya sendiri, budaya hidup bersih harus ditanamkan. Tingginya kasus suatu penyakit endemis adalah cerminan dari faktor-faktor internal, termasuk kewaspadaan masyarakat terhadap penjagaan lingkungan tempat tinggal masih rendah.

Pembuangan, penampungan, dan penumpukan sampah dan barang bekas, dapat menjadi lokasi yang kondusif mendukung perkembang-biakan nyamuk Aedes. Terutama saat ini memasuki musim hujan dimana peningkatan terjadinya genangan air tak terhindari. Masyarakat harus secara gotong-royong bertindak sendiri untuk memelihara lingkungan, jangan tunggu pemerintah atau pelayan kesehatan untuk turun tangan membereskan sampah yang tumpuk di lingkungan sendiri. (*)

Oleh; Petrus Selestinus, Koordinator Tpdi Dan Pengamat Masalah Sosial Di NTT