Film Luka Beta Rasa; Kisah Kombatan Anak Saat Konflik di Maluku

oleh -454 views
Para penonton Film Dokumenter "Luka Beta Rasa" foto bersama usai nonton film ini di Komunitas Film Kupang di Komplek Fsquare hari Sabtu (07/03/2020) pukul 18.00 wita.

KUPANG, suluhdesa.com – Media baru yang didirikan Najwa Shihab, Narasi, bekerja sama dengan Lembaga riset Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina merilis film dokumenter berjudul Luka Beta Rasa. Dokumenter berdurasi 34 menit ini berkisah tentang para mantan kombatan anak saat konflik paling berdarah di Maluku terjadi tahun 1999 – 2002.

Dikisahkan dalam dokumenter tersebut, Ronald Regang, seorang mantan salah satu pemimpin pasukan anak Agas dan anggota tim Cichak, mencari kembali teman-teman masa kecilnya yang juga tumbuh dengan trauma perang. Ronald tentu tidak sendiri, konflik sektarian antara Kristen dan Islam melibatkan anak-anak usia 7 – 15 tahun. Dari sejumlah dokumen yang beredar, jumlah mereka diperkirakan mencapai 4.000 anak.

Setelah diputar terbatas kepada publik untuk pertama kalinya pada Sabtu (29/02/2020) lalu di Studio Narasi, Jakarta, Luka Beta Rasa diboyong ke Kupang. Kota Kupang menjadi kota pertama di luar Jakarta yang disinggahi film ini. Pada hari Sabtu (07/03/2020), film Luka Beta Rasa diputar di Gedung Pertemuan GMIT Paulus dan menyusul kemudian, pada sore harinya dilakukan pemutaran dan diskusi bersama Komunitas Film Kupang di Komplek Fsquare.

Diskusi bersama Komunitas Film Kupang turut menghadirkan empat narasumber di antaranya, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon; Peneliti PUSAD Paramadina, Ali Nur Sahid; Eksekutif Produser Narasi, Adeste Adipriyanti; dan peneliti sekaligus penulis buku “Keluar dari Ekstremisme”, Sri Lestari Wahyuningroem.

Baca Juga:  Gubernur: NTT Menjadi Contoh Kehidupan Bertoleransi di Indonesia

Sebelum diskusi dimulai, Nikson, seorang saksi konflik Ambon yang pada waktu itu berusia sembilan tahun turut membagikan kesaksian dan pengalamannya. Beberapa penonton yang hadir tak hanya memberikan testimoni dan apresiasi terhadap Luka Beta Rasa, tapi juga turut ambil bagian, berbagi pengalaman dan ingatan mereka terhadap trauma konflik.

Membaca dan Berefleksi terhadap Kerentanan Indonesia Hari Ini

Dalam diskusi, Pendeta Mery Kolimon menuturkan bahwa film ini perlu ditonton oleh para pemimpin agama. “Agama-agama di Indonesia harus diakui turut menyumbang kekerasan dan harus membayar utang agar Indonesia tetap ada. Masing-masing agama harus memeriksa kembali tafsirannya. Perlu bertanya apa yang harus kita lakukan dan mengecek kembali komitmen bersama bahwa Indonesia merupakan rumah bersama,” ujar Mery.

Ia juga mengingatkan pentingnya anak-anak muda belajar dari cerita konflik. Bercerita tidak selalu berarti membuka kembali luka lama, bercerita juga punya kekuatan untuk menyembuhkan trauma. “Korban dan pelaku perlu didengar dan diakui. Komitmen bersama untuk kejadian masa lalu tidak terulang itu penting. Mutual trust sangat penting,” lanjutnya.

Pdt. Mery Kolimon kepada Media SULUH DESA di akhir nonton bersama mengatakan bahwa, Peran agama dalam Film Luka Beta Rasa harus ada kata ‘Cukup Sudah’, dan ini harus menjadi suara peradaban yang terus terus digaungkan. Agama saat ini di dunia belum secara utuh memperhatikan dialog trauma. Agama memposisikan diri sebagai apa? Orang akan bikin apa saja jika agamanya disentuh. Apa agama mampu meredam kebencian yang dilahirkan karena membela agama?

Baca Juga:  Mahasiswa dan Seluruh Anak Muda NTT Harus Membaca Buku

“Kami menjaga Indonesia dari NTT. kita harus melihat kembali cara tafsir terhadap agama. Film ini membantu kita untuk melihat kembali masa lalu sebagai pelajaran agar jangan terulang lagi. Trauma akan sembuh jika anda mendengar secara serius terhadap luka yang ada. Aspek lain adalah ada ruang untuk meratap. Menangisi yang telah terjadi,” tegas Pdt. Mery.

Sri Lestari Wahyuningroem atau yang akrab disapa Ayu turut merespons film dengan menelaah kembali kerentanan Indonesia menjadi daerah konflik karena pluralitas. “Hampir semua agama besar dunia ada di Indonesia. Konsekuensinya perbedaan yang plural menciptakan relasi kuasa yang hierarkis, ada yang mayoritas dan minoritas.”

Diakui pula oleh Ali Nur Sahid bahwa fenomena yang terjadi adalah  pengentalan terhadap intoleransi hari ini. Politisasi agama memperparah hal tersebut. Karena itulah upaya bina damai yang dilakukan Pusad menekankan bagaimana pentingnya membangun ketangguhan komunitas.

Baca Juga:  PERMATA Kupang Lakukan Kegiatan GENTA, Kades Lerek; Terima Kasih

“Damai perlu dibangun dengan relasi sosial. Ruang perjumpaan perlu diciptakan. Mediumnya bisa lewat apa saja, film, makan bersama, diskusi, dan lain-lain,” katanya.

Riset yang Menjelma Jadi Film Dokumenter

Hal ini pulalah yang kemudian dilakukan PUSAD Paramadina bersama Narasi. Adeste Adipriyanti juga menekankan pentingnya bagi segala kerja riset untuk dibumikan menjadi sebuah produk yang populer, misalnya film. Kerja-kerja riset tentang resolusi konflik, narasi-narasi perdamaian perlu didukung. Luka Beta Rasa menjadi bukti bahwa sebuah riset yang dituangkan dalam buku bisa dikembangkan menjadi medium baru yang diharapkan bisa merangkul audiens lebih luas lagi.

Selain itu Adeste juga berharap agar film dokumenter ini tak hanya berhenti sebagai produk akhir, tapi mampu memantik diskusi dan juga merangsang pihak lain untuk melengkapi narasi yang belum tersentuh dan menemukan kisah-kisah baru lainnya.

Luka Beta Rasa merupakan bagian dari seri dokumenter The Invisible Heroes yang digulirkan Narasi tahun ini dan akan ditayangkan di kanal Youtube dan website Narasi pada Rabu (11/03/2020). Proses nonton bareng dan diskusi film ini akan terus berlanjut di Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya. (Narasi/Fwl/Red)