Dibalik Bersarung Tenun di Lingkup ASN Pemerintah Provinsi NTT

oleh -369 views
Gubernur dan Wakil Gubernur NTT dalam balutan budaya adat (Foto: HumasPro Provinsi NTT)

OPINI, Suluhdesa.com – Salah satu alasan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, memberlakukan aturan mengenakan sarung pada hari Selasa dan Jumat bagi ASN Lingkup Pemerintah Provinsi NTT  adalah untuk meningkatkan perekonomian penenun. Intensitas penggunaan sarung tenun semakin tinggi berarti semakin tinggi pula permintaan sarung tenun. Permintaan sarung yang tinggi akan berdampak langsung terhadap pendapatan  para penenun.

Pada dasarnya, menenun merupakan salah satu kegiatan ekonomi kreatif. Kegiatan ekonomi kreatif memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pulungan (2016) mengungkapkan Data Direktorat Industri dan Ekonomi Kreatif (2010—2015) bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional mencapai 7,38 % (2015) dimana Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif  mengalami peningkatan Rp. 852,24 triliun (2015) dari Rp. 525,96 triliun (2010). Di sektor ekspor, ekonomi kreatif menyumbang 12,88 % terhadap total ekspor nasional dimana nilai ekspor meningkat US$19,3 miliar (2015) dari US$13,5 (2010). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  ekonomi berbasis seni dan budaya seperti kegiatan menenun juga memberikan andil terhadap peningkatan atau pertumbuhan ekonomi  Indonesia.

Aktivitas menenun sebagai kegiatan ekonomi berbasis seni dan budaya karena sarung tenun itu sendiri merupakan produk dari kebudayaan.  Hal ini diperkuat oleh pendapat Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi yang mendefenisikan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa dan cipta manusia dalam wujud berupa teknologi dan kebudayaan kebendaan (Elvida, 2015). Dan, sarung tenun adalah salah satu produk kebudayaan dan peradaban leluhur.

Senada dengan  itu, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat,  menegaskan bahwa  sarung tenun NTT lebih dari sekadar kerajinan tangan manusia. Tenun merupakan manifestasi karya intelektual para leluhur  yang luar biasa. Karena itu karya tersebut (sarung tenun)  dilestarikan dan diperkenalkan kepada Indonesia dan seluruh dunia (Kupang.Online, 03/03/2019). Ini juga alasan lain, Gubernur NTT menerbitkan Surat Edaran Gubernur Nomor BO.165/III/2019 tentang Penggunaan Sarung Tenun Ikat Motif Daerah NTT bagi ASN lingkup Pemerintah Provinsi NTT yang bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan promosi pariwisata .

Baca Juga:  Golkar Minta Gubernur NTT Jelaskan Pinjaman Rp 1,5 T di RAPBD

Dalam Surat Edaran tersebut diatur pula tata cara berpakaian sarung tenun, yakni pakaian sarung tenun ikat motif dapat menggunakan atribut lengkap daerah Nusa Tenggara Timur selain senjata tajam. Pakaian sarung tenun ikat motif NTT untuk perempuan terdiri dari kemeja berkerah atau tanpa kerah. Sementara untuk laki-laki bisa memakai celana panjang hitam dengan dilapisi sarung tenun ikat motif NTT (Tempo.Co, 10/04/2019).

Meskipun  tujuan kebijakan ini untuk meningkatkan pendapatan pegiat ekonomi kreatif dan dalam rangka promosi pariwisata NTT,  tak berarti kita mengabaikan nilai-nilai budaya yang melekat dalam motif dan filosofi tenun tersebut.  Pewarisan budaya itu tak hanya produk atau kebendaaan (sarung tenun), pula tata cara penggunaanya. Karena setiap sarung tenun memiliki motif, makna dan nilai (filosofi) melekat padanya dan orang yang menggunakannya.

Sebagai contoh sarung tenun motif Sikka. Utang Jarang Atabi’ang memiliki motif pasangan manusia berkuda. Simbol ini melambangkan manusia menuju alam baka sehingga hanya digunakan pada saat kematian. Utang Mawarani dipakai oleh para pemimpin. Motif kain tenun ini berupa bintang kejora sebagai pedoman arah dan media penolak bala. Utang Merak bermotif burung merak dari corak warna yang menarik dan indah. Kain tenun ini hanya dipakai pengantin wanita (Elvida, 2015).

Namun, sejak Surat Edaran Gubernur NTT ini diberlakukan, penulis masih menyaksikan beberapa ASN belum memahami dan menggunakan sarung tenun secara tepat sesuai dengan jenis, asal dan peruntukkan kain tenun yang digunakannya. ASN cenderung ‘asal’ memakai sarung tenun. Misalkan ASN mengenakan kain Sumba, tetapi cara menggunakannya seperti melilit  selimut tenun Timor. Ada pula ASN yang mengenakan sarung Sikka dengan cara melilit di pinggangnya, padahal yang namanya sarung tenun Sikka atau sarung tenun asal manapun digunakan dengan cara berbeda seperti halnya  selimut tenun Timor,   Sumba, Rote dan Sabu.  Dan, bahkan ada pula ASN yang tidak mampu membedakan sarung pria dan sarung wanita sehingga penulis menjumpai ASN pria yang mengenakan sarung wanita etnis Ende. Pada kesempatan lain, penulis menjumpai ASN pria mengenakan sarung Sikka khusus untuk wanita.

Baca Juga:  Antisipasi Covid-19 di NTT, Karo Humas: Pemeriksaan Klinis Demi Kebaikan Bersama

Pemahaman ASN yang rendah terhadap sarung tenun  berdampak pada perilaku salah kaprah yang disebutkan diatas. ASN perlu meningkatkan pengetahuannya tentang sarung, makna dan nilai kandungannya serta tata cara menggunakannya.  Sejauh ini pengetahuan tata cara penggunaan sarung tenun  hanya mengikuti dan mengamati kebiasaan orang mengenakan busana tanpa memahami lebih dalam. Sementara dunia sarung tenun atau tenun ikat sangat kompleks. Persoalannya bukan hanya pada selembar kain yang membalut tubuh kita melainkan kandungan nilai, makna dan momentum penggunaan yang melekat pada setiap motif yang tertenun.

Keragaman motif dan corak serta makna tenun ikat tersebut merupakan bagian dari nilai budaya. Koentjaraningrat dalam Elvida (2015) nilai budaya meliputi konsepsi–konsepsi yang hidup dalam alam fikiran sebagian besar warga masyarakat terhadap sesuatu hal dianggap sangat mulia. Sistem nilai kemudian menjadi orientasi dan rujukan dalam aktivitas sehari-hari.

Dengan demikian setiap aktivitas individu selalu bersumber  pada nilai–nilai atau sistem nilai dalam masyarakat. Nilai–nilai itu tersebut berpengaruh terhadap tindakan dan perilaku manusia secara induvidual maupun berkelompok. Sebagai produk kebudayaan yang berorientasi pada nilai budaya, sarung tenun ikat atau tenun ikat memiliki nilai dan makna yang dalam merujuk pada motif, teknik, proses pembuatan dan asalnya. Nilai- nilai itu meliputi nilai spritual, nilai politis dan nilai sosial-ekonomis (Elvida, 2015).

Baca Juga:  Literasi, Pintu Utama Menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera

Karena kaya akan nilai-nilai maka  sarung tenun ikat berpotensi memberikan peluang peningkatan ekonomi, pula memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia pariwisata dimana pariwisata budaya (cultural tourism) menjadi industri pariwisata yang trending di abad ini dan Provinsi NTT memiliki potensi ekonomi kreatif berbasis budaya. Menurut Evaluasi Public Social Investment for Empowering The Women’s Movement (2015), menenun adalah mata pencaharian yang dilakukan kebanyakan kelompok perempuan di NTT.  Junaid (2016) meyakini pariwisata dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan ekonomi masyarakat NTT. Pariwisata budaya terdiri-dari tiga unsur yang bertalian, yaitu pemanfaatan budaya (aset warisan atau pusaka), konsumsi pengalaman dan produk wisata serta wisatawan sebagai faktor utama (main factor).

Sebagai aset warisan, sarung tenun harus dilestarikan dan dipertahankan keasliannya  produk budaya (wisata).  Salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi sarung tenun, digunakannya dalam harian kerja selain hari raya besar dan atau seremonial adat. Dengan demikian, penggunaan sarung tenun pada hari kerja dipandang sebagai upaya pelestarian (preservation) dan mempertahankan keaslian (authenticity) budaya (sarung tenun). Dan, penggunaan sarung tenun harus mengikuti nilai, makna dan tatcara yang benar. Hal ini menjadi bentuk dari promosi budaya yang benar agar generasi mudah dan orang luar tidak melakukan kesalahan secara berjemaah.

Oleh: Gergorius Babo, S.Kom, Kasubid Penilaian Kompetensi dan Kinerja BKD Provinsi NTT. Tulisan ini dilombakan pada HUT Korpri ke-57 Tahun 2019 (Juara III) dan telah disederhanakan sesuai tuntutan format penulisan opini di media.