Tersangka Korupsi di Malaka, Kemana Arah Perjuangan Mahasiswa?

oleh -766 views
Jho Kapitan (Mantan Ketua Itakanrai Kupang 2019/2020, juga seorang Jurnalis)

OPINI, suluhdesa.com – Tulisan ini tidak menyinggung siapapun. Saya hanya mencoba menulis untuk menjadikan ini sebagai bahan refleksi mahasiswa kekinian dan arah perjuangan. Pemekaran Kabupaten Malaka tidak terlepas dari pergerakan elemen mahasiswa asal Malaka pada zaman itu. Kabupaten bungsu yang baru saja terpisah dari Kabupaten Belu tahun 2013, tentu melalui perjuangan panjang sehingga bisa ditetapkan sebagai DOB Malaka.

Banyak persoalan sosial yang terjadi di Masyarakat Malaka hari ini,sudah seharusnya menjadi perhatian kaum intelek (mahasiswa) yang berkecimpung di berbagai Organisasi Daerah Malaka yang berkedudukan di NTT maupun di luar NTT.

Ini perlu menjadi refleksi mahasiswa dengan arah gerak setiap organisasi Daerah Malaka di NTT. Apakah organisasi itu hadir sebagai perkumpulan hanya sebatas bereuforia atau kah berorientasi pada perjuangan Rakyat?

Baca Juga:  Pemda Malaka Rencana Tata Tempat Wisata Hasan Maubesi

Hal ini kemudian muncul pertanyaan netizen, dimana daya kritis Mahasiswa yang identik dengan agen perubahan atau agent of change yang selalu di banggakan masyarakat.

Gerakan mahasiswa seakan terkikis oleh zaman. Perkumpulan mahasiswa yang seharusnya jadi mitra kristisnya pemerintah seakan menjadi slogan semata lalu kepada siapakah masyakat mengadu? Apakah ini yang di namakan beda zaman beda cerita? Ataukah mahasiswa hanya menjadikan organisasi sebagai basis politik praktis?

Wakil rakyat yang duduk di kursi empuk ruangan ber ‘AC’ katanya mewakili rakyat tetapi ketika rakyat ditipu, dikuras dan dibohongi dengan segala macam cara oleh elite politik, mereka diam seribu bahasa.

Malaka merupakan Kota kecil yang hijau nan subur, kota kecil yang melingkup 12 Kecamatan dan 127 Desa sangat menjujung tinggi budaya wese wehali sebagai identitas diri.

Baca Juga:  Operator SDK Kada Diduga Lakukan Pungli, Kepsek; Tidak Ada Instruksi

Pilkada 2015 melalui dinamika politik yang keras dan cerdas telah menjawab mimpi rakyat Malaka dengan pemimpin baru demi mensejahterakan masyarakat Malaka. Akan tetapi pasca pelantikan dr. Stef Bria Seran (SBS) banyak pejabat yang dimutasi bahkan beberapa Kepala Desa terindikasi kasus korupsi Dana Desa. Tidak hanya Kepala Desa yang terindikasi korupsi,tetapi belakangan ini masyarakat NTT pada umumnya dan Malaka pada khususnya dihebohkan dengan penahanan 9 orang tersangka atas kasus bawang merah brebes Kabupaten Malaka yang merupakan program primadona Bupati Malaka Stef Bria Seran (SBS).

Program primadona Bupati Malaka yang identik dengan Revolusi Pertanian Malaka(RPM) mencakup 8 Komoditi, salah satunya bawang merah Brebes saat ini menjadi perbincangan publik.

 Lebih menarik saya ingin menyampaikan bahwa, beberapa bulan kemarin pasca pembentukan Polres Malaka dan syukuran pelantikan Kapolres  Malaka di pantai Motadikin, dalam sambutan Bupati Malaka menegaskan, Kabupaten Malaka tidak ada korupsi dan lebih di tekankan kepada Polres Malaka untuk membrantas kasus korupsi di Malaka jika.

Baca Juga:  Gandeng IMMALA Kupang, CD Bethesda YAKKUM Malaka Gelar Penyemprotan Desinfektan

Yang menjadi pertanyaan saya, jika demikian yang disampaikan Bupati Malaka bahwa Malaka tidak ada Korupsi,namun mengapa Polda NTT menetapkan 9 orang menjadi tersangka kasus bawang merah dan saat ini menjadi perbincangan hangat netizen? Diantara 9 tersangka ada nama yang muncul dipublik yang mengagetkan Masyarakat Malaka atas nama Kepala Dinas Pertanian Kabuten Malaka berinisial YN.

Malaka merupakan tanah terjanji bagi orang-orang muda Malaka yang sementara mengikuti perkuliahan di NTT maupun di luar NTT, kini telah dinodai oleh oknum-oknum yang tidak mampu menjaga,merawat dan melestarikan tanah kelahiran.

Akhirnya saya memberikan apresiasi kepada Polda NTT atas progress penetapan 9 tersangka korupsi bawang merah Brebes Kabupaten Malaka.  (*)

Oleh; Jho Kapitan (Mantan Ketua Itakanrai Kupang 2019/2020, juga seorang Jurnalis)